Apa sih Sebenarnya Manfaat LinkedIn buat Microsoft?

Apa sih Sebenarnya Manfaat LinkedIn buat Microsoft?

0

Microsoft Membeli LinkedIn Seharga 349 Triliun Rupiah, Tunai!

Pada tanggal 13 Juni 2016 yang lalu, Microsoft mengakuisisi jejaring sosial khusus untuk para profesional, LinkedIn dengan nilai yang fantastis, yaitu USD 26,2 miliar atau sekitar beberapa triliun rupiah. Nilai ini lebih dari akuisisi dua kali departemen mobile tech Nokia dan tercatat sebagai akuisisi terbesar Microsoft sepanjang sejarah. Pembelian ini seakan mengingatkan kita bahwa Microsoft tetap merupakan salah satu kekuatan teknologi yang paling diperhitungkan di dunia. Kalau awal tahun kemarin, Microsoft dipuji karena akuisisinya terhadap Xamarin, serta bagaimana Microsoft memanfaatkan akuisisi itu, kali ini langkah Microsoft menjadikan banyak analis bisnis mengernyitkan kening saking bingungnya.

Apa itu LinkedIn? Laman Wikipedia menyebutkan bahwa LinkedIn adalah situs web jaringan sosial berorientasi bisnis, terutama digunakan oleh jaringan profesional. Mungkin untuk kita yang lebih sering mengakrabi Facebook, Twitter, dan Path, situs jejaring sosial ini mungkin tidak begitu familiar. Isinya adalah berbagai profil kalangan profesional lengkap dengan keahliannya. Traffic jejaring sosial ini tentu saja jauh jika dibandingkan dengan Facebook, Twitter, dan semacamnya. Untuk yang mencari sesuatu yang ‘asyik’, LinkedIn juga kelihatannya kurang mendukung karena yang ada melulu tentang dunia kerja dan profesional. Lalu kenapa Microsoft ‘ngotot’ mengakuisisi LinkedIn dengan nilai fantastis?

Berdasarkan riset saya di berbagai sumber dan analisis bisnis, berikut ini jawabannya:

 

Microsoft Memantapkan Posisi sebagai Perusahaan Layanan Bisnis

Waduh... Salah Merespon Pertanyaan, Cortana Berhasil Permalukan Satya Nadella (Video)

Saat ini sulit dibantah bahwa Microsoft tengah memimpin di ranah bisnis. Secara tradisional, produk-produk software Microsoft merupakan ‘acuan utama’ di dunia bisnis dan militer. Fakta yang dapat kita lihat sekilas secara sederhana: hampir seluruh ATM di dunia menggunakan software Windows, Microsoft Office digunakan secara umum sebagai standar di dunia bisnis dan pendidikan, selain itu Windows juga memegang peranan penting di seluruh teknologi militer dan ruang angkasa milik Amerika Serikat.

Baca juga:  Twitter Akan Menggunakan 'Algorithm Timeline' Minggu Depan? #RIPTwitter

Memiliki LinkedIn, berarti Microsoft menambahkan portofolionya di dunia bisnis, yaitu juga sebagai pemilik sebuah jejaring sosial profesional dan bisnis yang terkemuka di seluruh dunia. Mungkin di sini LinkedIn tidak populer, tapi fakta di Amerika menunjukkan bahwa hampir seluruh perusahaan di sana memiliki anggaran khusus untuk memelihara profil perusahaannya di LinkedIn serta juga memanfaatkan berbagai fitur di LinkedIn untuk mencari karyawan terbaik bagi perusahaannya. Para profesional muda di AS bahkan menganggap bahwa LinkedIn merupakan ‘kartu nama bisnis’ bagi mereka. Secara berkala mereka akan memoles akun mereka di LinkedIn, berharap untuk mendapatkan kontak dari perusahaan-perusahaan terkemuka guna mengembangkan karir.

Jika di Amerika ini dapat dikatakan sukses dan membudaya, dengan dukungan Microsoft, bukan mustahil LinkedIn bisa menciptakan budaya semacam itu ke ranah global, seperti halnya Facebook berhasil mengubah cara kita berinteraksi di seluruh dunia. Microsoft sendiri akan medapatkan keuntungan dalam hal ini. Secara kasar dapat dikatakan: Apa pun yang terkait bisnis, Microsoft memiliki solusinya. Ini akan meningkatkan kemungkinan penggunaan berbagai produk yang dijual oleh Microsoft ke seluruh dunia.

Baca juga:  Facebook Memamerkan Fitur Video untuk Instagram

 

Dukungan bagi software Customer Relationship Management Microsoft

LinkedIn_2

Apa itu Customer Relationship Management (Manajemen Hubungan Pelanggan)? Secara sederhana, ini adalah software terintegrasi cloud yang memungkinkan kita memantau prospek bisnis, melakukan kampanye pemasaran, dan akhirnya menutup deal dengan perusahaan tertentu. Secara sederhananya seperti ini: CRM memberikan gambaran tren bagi perusahaan yang menggunakannya, serta kemungkinan konsumen yang akan membeli produk perusahaan tersebut. Dengan mengetahui data ini, maka sebuah perusahaan dapat melakukan kampanye penjualan secara lebih spesifik terhadap perusahaan yang memerlukan.

Sebagai perusahaan yang memimpin di ranah Cloud, Microsoft berada di peringkat keempat dalam hal software Customer Relationship Management. Peringkat pertama masih dikuasai Salesforce (yang sebenarnya oleh para analis bisnis lebih diunggulkan agar dibeli Microsoft dan diserap teknologinya ke produk CRM Microsoft – Dynamics). Untuk lebih memantapkan posisinya di bisnis CRM ini, dukungan dari LinkedIn bisa membantu Microsoft. Mengapa? LinkedIn tentu saja memiliki database berlimpah (sekitar 400 juta perusahaan) yang kemudian dapat diintegrasikan ke dalam database Microsoft dan meningkatkan peluang keberhasilan model bisnis CRM miliknya.

 

Perhitungan Keuntungan Saham

LinkedIn_3

Hingga Januari 2016 lalu, LinkedIn berada dalam titik nadir dalam hal nilai saham. Saham mereka melorot sebesar 40%. Padahal, LinkedIn merupakan sedikit di antara perusahaan unik yang membayar karyawan mereka dengan opsi saham (Ini juga yang menjadikan nilai saham mereka menjadi tidak stabil menurut para analis bisnis). Dengan demikian, menurunnya saham ini tentu saja menjadikan perusahaan ini terancam kolaps meskipun lucunya, sebenarnya perusahaan ini memiliki profit yang stabil setiap tahun. Masuknya dana segar dari Microsoft mengembalikan nilai saham LinkedIn ke posisi idealnya. Dengan demikian, prospek bisnis LinkedIn sendiri cukup cerah (setidaknya dalam beberapa tahun ke depan jika Microsoft mampu menjaga hal ini).

Baca juga:  Aplikasi Twitter Windows 8

Meningkatnya nilai saham LinkedIn ini diharapkan memberikan profit juga bagi Microsoft, karena dengan pembelian LinkedIn, tentu saja Microsoft juga menerima opsi saham yang tidak kecil dengan penyesuaian nilai yang menguntungkan.

 

Kesimpulan

Dengan membeli LinkedIn, rezim Nadella berperang melawan stigma “pembelian besar berujung gagal” yang beberapa kali dilakukan di era Ballmer (aQuantive dan Nokia).  Jika Nadella terbukti benar dengan visinya, berarti CEO berdarah India ini mengecewakan para analis yang sudah memvonis bahwa pembelian LinkedIn merupakan ‘flop’ terbesar tahun ini. Seperti juga beberapa langkah tak populer yang diambil Nadella terkait kurang optimalnya support ke divisi mobile dan penyebaran layanan Microsoft di banyak platform, hasil tindakan ini baru bisa kita  lihat hasilnya, minimal dua tahun mendatang.

Punya analisis sendiri mengenai langkah Microsoft membeli LinkedIn? Sumbangkan pendapatmu di kolom komentar.

 

Referensi:

Wall Street Journal

New York Times

Vox

InvestorPlace

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta