Munich Jerman Sangat Menyesal Menggunakan Linux dan Kembali Lagi Ke Windows

Munich Jerman Sangat Menyesal Menggunakan Linux dan Kembali Lagi Ke Windows

22

Munich Jerman Sangat Menyesal Menggunakan Linux dan Kembali Lagi Ke Windows

10 tahun sudah Munich Jerman menggunakan Linux. Ya..tepat pada 2004 lalu Munich memutuskan untuk tidak lagi menggunakan Windows di pemerintahan dan fasilitas publik. Mereka memutuskan bermigrasi ke Linux dan mengembangkan LiMux, distro Linux yang berbasis Ubuntu. Tujuan utamanya adalah untuk menghemat biaya agar tidak perlu lagi membayar lisensi Windows yang harganya memang mahal.

Munich Jerman Sangat Menyesal Menggunakan Linux dan Kembali Lagi Ke Windows
Limux – Distro Linux Berbasis Ubuntu yang Digunakan di Munich

Sejak saat itu tidak kurang dari 9000 mesin ATM di Munich telah menggunakan Linux, begitu pula di berbagai kantor pemerintahan dan fasilitas umum lainnya. Namun setelah 10 tahun berjalan, pemerintah kota Munich menyatakan menyesal telah bermigrasi ke Linux. Kini mereka memutuskan untuk tidak lagi menggunakan Linux dan akan bermigrasi ke Windows lagi.

Lalu apa alasan Munich menyesal menggunakan Linux dan memutuskan untuk bermigrasi lagi ke Windows setelah 10 tahun berjalan?

 

Linux Sangat Mahal

Awalnya pemerintah Munich mengira bahwa mereka akan menghemat banyak biaya. Mereka tidak lagi harus membayar lisensi Windows karena menggunakan Linux yang gratis dan open source. Namun ternyata dugaan itu salah. Munich merasa bahwa menggunakan Linux ternyata jauh lebih mahal daripada menggunakan Windows karena mereka harus membayar banyak programmer untuk membuat custom software dan memaintenance OS tersebut.

 

Banyak Komplain Warga

Beberapa tahun terakhir ini banyak warga Munich yang komplain dan merasa tidak puas dengan layanan masyarakat disana. Warga merasa kesulitan dengan berbagai fasilitas publik yang ada disana bahkan kesulitan untuk membuka file dari kantor pemerintahan.

 

Karyawan Kesulitan

Karyawan juga banyak yang kesulitan untuk menggunakan sistem di kantor mereka. Misalkan saja untuk sinkronisasi email ke smartphone karyawan, administrator harus melakukan setting mail server eksternal terlebih dahulu dan cukup memakan waktu. Sulitnya mencari program yang terintegrasi seperti email, contact, dan jadwal kerja juga menjadi kesulitan tersendiri.

 

Karena beberapa hal tersebut akhirnya pemerintah kota Munich memutuskan untuk kembali lagi menggunakan Windows. ATM dan berbagai komputer di kantor pemerintahan serta fasilitas umum juga akan kembali dimigrasikan ke Windows. Hal ini dilakukan untuk memastikan agar fasilitas umum dan pelayanan publik bisa menjadi produktif lagi seperti dulu.

Bagaimana pendapat kamu?

via sueddeutsche.de

NB: Dapatkan Phablet Windows 10 Mobile GRATIS (Giveaway) | Beli (1.7 Jutaan)

Untuk Review & Giveaway Kepoin Tekno, Subscribe!
Productivity addict. Geek by nature. Platform Agnostic.
  • Om kayak’y typo lagi tuh. :/
    Muksud om mungkin 2004.

    • Febian

      ya benar..2004 maksudku :D
      thanks bwt koreksinya

    • komen ente juga typo gan :v

  • Hamada Undetected

    Linux gratis n biaya lebih murah hanya bagi yang tau make :v

  • Janoko Lintang Pratama

    SDM-nya gabisa make :3
    dan belum terbiasa pake linux :3

  • agusw

    memang betul. linux nya siap, usernya belum siap. jadi musti siap keduanya

  • Muhammad Subair

    Minta referensi pernyataan sangat menyesalnya dari pemerintah Munich dong :D

    • Firdaus Putra
      • Muhammad Subair

        Makasih infonya Mas Firdaus, walaupun saya gak menemukan makna “sangat menyesal” disitu :D. Yang kedua info selanjutnya dari diskusi Pak Harry Sufehmi https://www.facebook.com/sufehmi/posts/10152196456526594;

        Berita bahwa Munich akan kembali menggunakan software Microsoft nampaknya hanya hoax :

        Reports about the city of Munich authorities that are considering the replacement of Linux with Microsoft products mostly comes from one man, the Deputy Mayor of Munich, who is also a long-term self-declared Windows fan.

        Numerous anonymous blogs were created to attack Munich over this and provocateurs of Microsoft loved citing them, only to be repeatedly proven wrong. Microsoft is trying to make an example out of Munich in all sorts of nefarious ways.

        ———–
        Bagi yang sudah lama mengamati Microsoft, hal-hal seperti ini tidak mengejutkan. Melakukan lobi (bekerjasama dengan politisi / pejabat) adalah hal yang sering dilakukannya. Dikutip :

        Under his leadership Brazil was attacked by proxy for its ODF policy and many other nations that are cheap to bribe or corrupt suffered from Microsoft intervention.

        In 2008 we wrote about what Microsoft had done in the Philippines to derail a Free software policy and bill.

        In 2008 we wrote about what Microsoft had done in Chile and Ernesto Manríquez tells us that it is happening again. “Microsoft bought local politician Daniel Farcas to neutralize a resolution forcing Chilean gov’t to use FLOSS,” he told me

        ———–
        Kutipan paling menarik : “It is digital imperialism.”

        MERDEKA !

        http://techrights.org/2014/08/20/microsoft-corruption-watch/

  • kalo usernya belum siap jangan salahkan systemnya

    • betul coy, dan usernya pun harus didukung jg dengan diadakannya pelatihan linux skala kecil misalnya. :D

  • Akbarifkie

    “Linux ternyata jauh lebih mahal daripada menggunakan Windows karena mereka harus membayar banyak programmer untuk membuat custom software dan memaintenance OS tersebut.”
    Berarti di Windows nggak perlu custom software dan maintenance lagi?
    Hebaaaatt..

  • ArieL FX

    salah sendiri pake linux yang gak di support oleh komunitas seperti ubuntu atau centos :D

  • aghi

    ini judul e keras banget..
    untuk yang awam biasanya akan menelan bulat2 makna dari judul e.. bahkan isi ne.. mbok bikin berita tu jangan cenderung provokasi mas bro..
    ckckck.. media macam ini yg bisa memecah belah persatuan.. tobat bro..

    • Randhika

      banci ente bro…ente bilang “provokasi”, tapi ngomongnya sambil mem-private akun disqus ente…kesannya kaya kloningan yang merasa panas gitu ya… :D

  • Abdul Chacink

    yang gak pake linux jangan komen, karena gak tau apa – apa tentang linux… wkwk

    • jodieisme

      Yoi gan, googling aja: “The Munich 10 Year Transition to Linux”, “How Munich rejected Steve Ballmer and kicked Microsoft out of the city”, ato silakan liat laman LiMux di wikipedia.

      Dan setau ane, Munich bukannya balik lagi ke Windows setelah 10 tahun, tapi Munich butuh 10 tahun utk mengintegrasikan kotanya dengan Linux. Initial groundbreakingnya dimulai dari taun 2003 saat voting utk migrasi dari Windows ke Linux dicanangkan oleh dewan kota Munich karena Microsoft mutusin ngeberhentiin support Windows NT 4 di taun yg sama.

      Keputusan ini bukannya gak ngedapetin halangan. Even Microsoft CEO Steve Ballmer rela ninggalin liburan musim dinginnya dan ngebujuk walikota Munich saat itu, Christian Ude, utk tetep stay with us dg berbagai macam bonus & kemudahan. Balmer bahkan ngasi diskon khusus utk Munich s.d. 35%, dari 31.9 juta USD jadi cuma 23.7 juta USD dan berjanji akan ngebantu ngeyakinin pemerintah pusat Jerman bahwa dealnya adalah 31.9 USD jadi selisihnya itu bisa bebas dipake Ude dan koleganya. Kalo yg ditawarin pemerintah Indonesia, pasti mau tuh. Logika ane, kalo Microsoft bisa ngasi diskon sebesar 35% dan tetep ngedapetin profit dari marjin komoditinya, kenapa produk-produk yg lain gak dikasi diskon serupa..? Unless, they’re too greedy to do that.

      Bahkan pd saat itu, Microsoft sendiri sadar akan kekuatan potensial dari open-source software. Ungkapan yg terkenal dari Ballmer ttg linux “A cancer that attaches itself in an intellectual property sense to everything it touches”. Andaikata pemerintah Munich remigrasi ke Windows, biaya upgrade hardwarenya bakal membengkak, sebagai perbandingan, Windows 10 minimum requirementsnya, 1 GB RAM (32bit) ato 2 GB RAM (64bit), HDD space 16 GB (32 bit) ato 20 GB (64 bit), chipset 1.0 GHz, display res. 1024*600 sedangkan Ubuntu cuma butuh 512Mib RAM, HDD space 7 GB, chipset 700 MHz, diplay res. 800*600 doang.

      Dan artikel hoax di atas, sampe 2015 ini masi belum diralat. Ane ga tau cara ngembed vidio di disqus, but here it goes, http://caesar.acc.umu.se/pub/debian-meetings/2015/debconf15/Linux_in_the_City_of_Munich_AKA_LiMux.webm?_=1
      Copas link di atas di chrome bakal ngebuka video DebConf 2015 dan nasib LiMux di Munich as of 2015. Munich’s still using LiMux.

  • Tulisan ini cukup aneh, ya..
    Banyak warga dan karyawan kesulitan, tapi kok bisa awet sampai 10 tahun make Linux??

  • Firdaus Putra

    Saya bisa memahami kondisi ini “Munich merasa bahwa menggunakan Linux ternyata jauh lebih mahal daripada
    menggunakan Windows karena mereka harus membayar banyak programmer
    untuk membuat custom software dan memaintenance OS tersebut”.

    Penjelasan ekonomi-nya, Windows sudah sampai skala ekonomi tertentu, sehingga dia punya tingkat efisiensi yang tinggi. Ini berbeda dengan pengembangan Linux yang berbasis komunitas/ open source sulit mencapai critical point antara: tuntutan user, free time dia buat ngoprek, insentif (money) dari hasil oprekannya.

  • yudie

    Ada yang lebih murah lagi yaitu Windows Bajakan kaya di Indonesia

  • ܓܛܟܓܛܟܓܛܟܛܟܓܛܟ ܛܟܓܛܟܓܛܟ ܛܟܓܛܟܓ

    Website

    Windows >_<