via dw

“Begitu banyak hal yang membuat kami hampir-hampir saja mundur dari upaya merilis ponsel ini. Begitu banyak masalah fundamental yang tidak bisa kami pecahkan,” ujar Jony Ive dalam sebuah konferensi bisnis di London mengenai rilis iPhone original. “Kami harus mendeteksi segala macam bentuk telinga, bentuk dagu, warna kulit, model rambut.. untuk memastikan bahwa sistem sensor ponsel ini bekerja. Ini hanya sedikit saja dari banyak hal yang menjadikan kami waktu itu merasa bahwa proyek ini tidak akan sukses.” Namun dunia kemudian menyaksikan bahwa Apple mampu mengatasi semua hambatan tersebut untuk merilis iPhone original!

Kerumitan soal Layar iPhone

Proses pembuatan iPhone terus menerus mengalami bongkar pasang, karena Jony Ive tidak mudah puas dengan satu bentuk. Selalu ada kekurangan ketika mereka ingin memasangkan antena, layar, atau komponen lainnya. Contoh yang paling menggambarkan hal ini adalah bahan layar. Pada saat itu, sebagian besar perangkat sentuh menggunakan layar resistive touch, yang mana terbuat dari dua lembar bahan konduktif tipis yang dipisahkan oleh celah udara yang sangat tipis. Ketika layar disentuh, maka dua lapisan ini akan saling menyentuh dan ‘mendaftarkan’ sentuhan yang akan dibaca oleh UI. layar resistive ini biasanya terbuat dari plastik dan sangat umum pada perangkat seperti Palm Pilot yang merupakan perangkat layar sentuh generasi awal. Tim desainer yang dipimpin Jony Ive berusaha menggunakan layar resistive ini untuk iPhone, tapi terus tidak puas dengan hasilnya. Ketika dipasangkan dengan UI, saat menyetuh bagian tertentu, ini akan mengganggu gambar dan jari mudah capek karena layar harus ditekan agak keras. Tentu saja ini tidak sesuai dengan nama ‘touch screen‘ alias layar sentuh yang kesannya kita hanya harus menyentuh layar tersebut untuk menjalankan perangkat.

Tim engineering yang mengembangkan hardware mendadak muncul dengan solusi yang mengejutkan, yaitu layar berbasis kapasitif, yang mana ‘mendaftarkan’ sentuhan pada layar berdasarkan perubahan aliran listrik (atau kapasitansi) di seluruh permukaannya. Kulit manusia secara umum konduktif terhadap listrik, dan layar kapasitif ini menggunakan karakteristik tersebut untuk mendeteksi sentuhan ringan (Ini juga alasan mengapa layar ponsel atau tangan yang basah akan kesulitan untuk mengoperasikan smartphone). Apple sebenarnya sudah menggunakan teknologi layar kapasitif ini pada scroll wheel milik iPod, namun teknologi ini belum pernah diterapkan pada layar transparan. Masalah lainnya, tidak ada pasokan layar kapasitif karena memang belum ada perusahaan yang membuat layar seperti ini pada saat itu.

via ft

Setelah pencarian yang intensif, Apple menemukan perusahaan kecil di Taiwan bernama TPK, yang bisa memproduksi layar semacam ini. Steve Jobs tanpa membuang-buang waktu lagi langsung mengamankan deal dengan perusahaan ini, yang mana mewajibkan TPK untuk memproduksi layar kapasitif untuk Apple. Karena minim pesaing, tercatat TPK memproduksi sekitar 80% untuk iPhone generasi pertama, dan ini menjadikan perusahaan ini, dari perusahaan medioker, menjadi perusahaan teknologi senilai USD 3 miliar pada tahun 2013!

Berhasil memproduksi layar kapasitif tidak menjadikan kerumitan soal layar iPhone ini berhenti sampai di sini. Tentu saja diperlukan satu lapisan lagi agar tangan tidak langsung menyentuh layar kapasitif yang rentan tersebut. Sebelumnya, Jony Ive mengusulkan plastik dengan alasan bahwa plastik tidak akan bisa pecah. “Prototype iPhone dengan layar plastik memiliki fleksibilitas yang aneh. Kesan saya terhadap layar tersebut, terlihat murahan sekali,” ujar Satzger mengenang pengejaran kualitas layar pada saat itu.

Jony Ive sudah bereksperimen bersama timnya untuk menggunakan plastik keras, namun ini juga tidak bekerja dengan baik. Kemudian mereka juga bereksperimen dengan kaca, namun hasilnya tidak berjalan dengan baik. Kaca sangat mudah pecah, dan bahkan tanpa diapa-apakan, kaca ini mudah sekali tergoles. “Aku tidak akan menjual produk yang gampang tergores!” Jobs menegaskan dengan nada tinggi ketika melihat hasil eksperimen tim desainnya. “Kaca boleh, tapi aku ingin ini kaca sempurna.”

via Forbes

Apple beruntung karena di New York, ada sebuah perusahaan yang memiliki spesialisasi dalam memproduksi kaca keras. Corning Incorporated, memiliki sejarah memproduksi kaca yang sulit pecah sejak tahun 1960. Konsumen utama mereka biasanya adalah produsen aviasi atau pesawat terbang. Perusahaan ini menyebut produknya sebagai “muscled glass” alias kaca berotot. Rahasia pengolahan kaca ini adalah proses kimia yang terjadi ketika kaca direndam dalam larutan garam kalium mendidih. Atom sodium akan meninggalkan kaca dan digantikan dengan atom kalium dari garam. Ketika kaca menjadi dingin, atom kalium yang lebih besar menjadikan kaca sulit pecah. Pada saat itu, prestasi Corning adalah menciptakan kaca yang tahan tekanan hingga 46.000 kg per inci persegi (kaca normal hanya bisa menahan tekanan sekitar 7000 kg). Steve Jobs sendiri yang menelepon eksekutif di Corning untuk meminta mereka memasok kaca super untuk sebuah ‘peralatan elektronik yang berukuran sekitar 3-4 inci’. Ketika kesepakatan tercapai, Jony Ive secara langsung mengunjungi Corning untuk menyampaikan spesifikasi kaca yang mereka inginkan. Wendel Weeks, CEO Corning, kaget ketika Steve Jobs meminta untuk membuat produk tersebut dalam volume besar hanya dalam 6 minggu. “Pabrik kami sedang tidak aktif, ini tidak mungkin,” keluhnya. Tapi Jobs dengan persuasif memengaruhi CEO perusahaan spesialis kaca ini. “Kalian hanya perlu fokus. Aku tahu kalian bisa melakukan ini,” ujar Jobs.

Akibat desakan Apple (dan karena Apple tidak segan-segan dalam mengucurkan biaya), Corning berhasil menghidupkan pabrik produksinya yang terletak di Kentucky. Mereka menciptakan LCD dengan teknik pembuatan muscled glass andalan mereka. Corning kemudian mendaftarkan produk ini dengan nama Gorilla Glass.

Kaca dari Corning ini nyatanya bukan hanya menjadi solusi dari permasalahan iPhone yang sebelumnya menyusahkan tim desain Jony Ive, bahkan mempercantiknya dan memberikan kesan minimalis seperti yang sering diimpikan Ive.

Kelanjutan dari prosedur pemasangan kaca ini, tim desain Apple kemudian menciptakan rangka untuk ‘mengikat’ lapisan kaca tersebut pada perangkat. Jony Ive mengusulkan stainless steel yang selain harus menjadi rangka utama, juga harus menjadikan perangkat ini kelihatan cantik. “Kami membingkai kaca dengan logam keras,” ujar Satzger. “Sampai-sampai kami khawatir bahwa kalian tidak akan khawatir bahwa kaca yang terbentur tanah akan rusak. Tapi ketika besi ini membentur tanah, maka dia akan merusak kaca yang seharusnya dilindunginya.”

Untuk mengatasi hal ini, tim desain dan engineer kemudian menambahkan karet tipis di antara kaca dan stainless steel yang mengikatnya. Namun ini menambah masalah baru karena karet tersebut mudah aus, dan kemudian muncul semacam celah antara kaca dengan frame.

Pameran iPhone di Macworld

Macworld 2007

Pada musim gugur 2006, Jobs mengumpulkan para pimpinan proyek iPhone di ruang rapat Apple untuk membahas perkembangan iPhone. Meskipun dibilang rapat, faktanya ini adalah saat para pimpinan proyek harus mendengarkan keluhan non-stop Jobs mengenai produk ini selama hampir dua jam. “Jelas sekali bahwa prototype kita ini sebuah bencana besar. Bukan hanya banyak bug, ini jelas-jelas tidak bisa bekerja! Kualitas telepon terus jatuh secara konstan, baterai berhenti charging sebelum penuh, data dan aplikasi rusak.” Jobs terus mengomel hingga para pimpinan proyek ini berkeringat dingin dan berpikir: “Kita betul-betul belum punya produk.”

Meskipun begitu, Jobs pada saat itu kelihatan cukup tenang dibanding biasanya, yang mana dia pasti akan mulai melempar barang dan berteriak-teriak histeris. Apalagi fakta bahwa pengumuman iPhone akan menjadi ‘acara utama’ di Macworld beberapa minggu lagi. “Aku ingin daftar permasalahan itu diatasi dengan segera. Yang penting, kita bisa memamerkan pencapaian kita di Macworld.” Ujar Jobs dengan tenang.

Jobs mungkin maklum bahwa perangkat ini adalah sesuatu yang benar-benar baru. Karena ini semua teknologi baru, wajar jika belum bekerja sebagaimana seharusnya. iPhone pada saat itu sudah menanamkan sensor accelerometer dan proximity yang memungkinkan layar mati ketika diangkat ke telinga untuk menelepon. Masalahnya, sensor ini tidak bekerja sebagaimana seharusnya. Perbedaan karakteristik orang yang menggunakan perangkat ini juga memengaruhi sensor. Misalnya, sensor bekerja baik pada orang botak, namun macet ketika orang yang mengangkat telepon memiliki rambut panjang hitam.

Sambil terus melakukan pembenahan, Jony dan timnya terlibat dalam negosiasi berat ke AT&T, salah satu operator seluler terbesar di AS. Dia mendemonstrasikan perangkat yang dibuat Apple tersebut untuk mendapatkan ‘jalur telekomunikasi’ sehingga iPhone bisa bekerja dengan saluran seluler dan internet dari perusahaan ini. Ketika AT&T terlihat agak berhati-hati dalam mempertimbangkan keputusan, Jobs sendiri menuju Las Vegas untuk menemui CEO AT&T saat itu, Stan Sigman. Dia meyakinkan Sigman bahwa ‘iPhone adalah perangkat terhebat yang akan disaksikan orang di seluruh dunia’.

Steve Jobs & Stan Sigman via CultofMac

Fakta bahwa beberapa minggu lagi Macworld akan diadakan dan Apple masih sibuk dengan perundingan ini itu membawa perangkat yang masih belum bekerja dengan baik menjadikan banyak eksekutif Apple pesimis dengan perkembangan proyek ini. “Semuanya betul-betul perjuangan.” kata salah seorang eksekutif. “Benar-benar semua hal adalah perjuangan keras selama dua setengah tahun belakangan ini.”

Ketika hari peluncuran tiba di pertengahan musim panas 2007, Stringer dan seluruh tim desain Apple merasakan emosi yang campur aduk. “Kami benar-benar bangga. Kami sudah bekerja sangat keras. Kini saatnya kami memamerkan prestasi kami di hadapan orang di seluruh dunia. Benar-benar hari yang indah!”

Gelombang Reaksi Peluncuran iPhone

iPod selalu dianggap oleh banyak analis sebagai ‘keberuntungan’ alias one-shot. Ketika Apple mengumumkan bahwa mereka masuk pasar ponsel, hujan prediksi berhamburan bahwa iPhone akan flop. Paling terkenal adalah Steve Ballmer yang langsung ngakak mendengar Apple meluncurkan smartphone. Dia menyatakan bahwa Apple tidak akan mendapatkan market share di bidang ini karena ini adalah bidang yang hanya bisa dilakukan oleh ‘pihak-pihak berpengalaman’.

Apple merilis iPhone di pertengahan 2007. Pada akhir tahun, 3,7 juta iPhone sudah terjual. Pada kuartal pertama 2008, penjualan iPhone sudah melebihi penjualan keseluruhan lini Mac. Kemudian pada akhir tahun 2008, Apple menjual tiga kali lipat iPhone dibandingkan Mac! Profit dan pendapatan mereka menembus awan. Ini sudah jadi jawaban atas prediksi para pakar ekonomi dan pemasaran tersebut!

Flashback, ketika memperkenalkan iPhone di Macworld, Steve Jobs mengundang teman lamanya, Alan Kay. Mereka sudah berteman sejak Jobs bekerja di Xerox PARC. Kay ini adalah relasi Jobs yang menunjukkan temuan Xerox yang waktu itu dianggap Xerox tidak berguna: GUI (Selanjutnya kita tahu bahwa Apple mengimplementasikan konsep GUI ini tanpa izin dari Xerox untuk Macintosh). Jobs dengan santai bertanya kepada Kay mengenai iPhone, “Bagaimana pendapatmu Alan? Ada kritik untuk perangkat ini?” Sebetulnya ini adalah sindiran Jobs untuk Kay karena pada peluncuran Macintosh original, Kay menyebutnya sebagai “Komputer pertama yang layak untuk dikritik”

Steve Jobs & Alan Kay via Allaboutstevejobs

Kay berpikir sejenak, lalu dia berkata, “Buat layarnya paling tidak lima inci kali delapan inci – Kau akan jadi raja dunia,”

Well, kita tahu perangkat apa yang ukurannya seperti itu kemudian.


Kisah selanjutnya dari Silicon Valley akan membahas perjuangan Apple berikutnya meluncurkan perangkat yang di kemudian hari menjadi ‘raja tablet’ hingga saat ini!

Referensi:

Kahney, Leander. (2013). Jony Ive: The Genius Behind Apple’s Greatest Products. Amazon.

Arlidge, John. (2014). Jonathan Ive, Designs Tomorrow. Time

Griggs, Brandon, and Leopold, Todd. (2013). How iTunes changed music and the worldCNN

Rosoff, Matt. (2015). Jony Ive carried a resignation letter in his pocket the first time he met Steve Jobs. Business Insider

Phelan, David. (2018). Jony Ive Interview: Apple Design Guru on How He Created the New iPad and The Philosophy Behind ItIndependent.

Rossignol, Joe. (2019). iBook Turns 20: Watch Steve Jobs Unveil the World’s First Notebook with Wireless Internet. Macrumors

  Keyboard Seharga Laptop, Dimana Magic-nya..?? 🔥🔥  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.