via Business Insider

“Saya akan memberi tahu Anda sebuah ide yang disebut ‘metode Seinfeld‘ (Catatan penulis: Jerry Seinfeld adalah komedian terkenal AS).” Ujar Chris Wanstrath ketika ditanya dalam sebuah wawancara mengenai apa yang paling memengaruhi sistem kerjanya sehingga sukses. “Seseorang pernah bertanya kepada Seinfeld tentang bagaimana caranya Seinfeld bisa menjadi penulis yang hebat atau bagaimana dia bisa begitu lucu. Seinfeld kemudian mengambil kalender dan menceritakan bahwa setiap hari dia akan menulis sebuah lawakan dan menandainya di kalender. Tujuannya adalah terus menulis tanpa terputus satu kali pun dan minimal menulis satu lelucon sehari – dan setelah 10 tahun, Anda akan jadi lucu.” Wanstrath menghela napas sebelum melanjutkan, “Jika ada suatu bidang yang saya ingin agar saya jadi lebih baik di situ, maka saya akan meluangkan waktu setiap hari. Paksa diri Anda melakukannya! Jangan tunggu diri Anda terinspirasi.”

Nampaknya konsep tersebut memang mendarah daging dalam diri Wanstrath, karena di GitHub, startup yang menjadikannya sukses, Wanstrath menyertakan grafik kontribusi yang menunjukkan jumlah hari saat seseorang berkontribusi terhadap suatu proyek. Grafik ini memang tidak bertujuan memberikan penilaian, tapi tentu saja ini akan menunjukkan pola kontribusi seseorang dan akhirnya bisa memacu seseorang untuk memberikan kontribusi secara konsisten hari demi hari.

Penggemar Komputer yang Memilih Jurusan Sastra Inggris

Wanstranth menghabiskan masa kanak-kanak di kota kelahirannya, Ohio, dengan menyaksikan dunia komputer yang melaju kencang dengan Apple dan Microsoft sebagai pionir terdepannya. “Saya selalu ingin menjadi developer, membuat video game dan website. Saya selalu ingin menjadi bagian tim yang mengembangkan hal-hal yang dicintai semua orang.” Demikian ujarnya dalam wawancara dengan Entrepreneur pada tahun 2017.

Pada awal 2000-an, wanstrath masih anak yang sama dengan cita-cita membara untuk menjadi seorang programmer komputer. Meskipun demikian, dia akhirnya memutuskan untuk menempuh kuliah di Jurusan Sastra Inggris di University of Cincinnati. “Saya menyadari bahwa dalam apa pun yang ingin saya lakukan dalam hidup, saya harus berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris. Itulah yang menjadikan saya memilih jurusan ini.”

Wanstrath tetap mengejar cita-citanya untuk menjadi seorang programmer. Dia mengambil kursus kelas pemrograman yang sangat membantunya untuk memahami coding secara pro. “Menurut saya, gelar tidak akan dibutuhkan dalam pemrograman. Skill tentu saja adalah hal yang utama. Yang paling ingin saya lakukan hanya belajar lebih giat dan lebih banyak lagi.”

Pergaulannya dengan komunitas pemrograman juga sangat membantu untuk mencapai tujuan yang diidam-idamkannya tersebut. Komunitas developer online yang menggunakan bahasa pemrograman komputer PHP bahkan menyukai rasa hausnya akan ilmu pengetahuan seputar coding dan menawarkan bantuan dan dorongan saat dia baru saja belajar menulis kode pemrograman. “Mereka membantu membagikan pengetahuan dan mengajarkan banyak hal kepada saya.

Ini membawa efek buruk terhadap studi utamanya di universitas. Wanstrath terlalu asyik melakukan coding daripada belajar. Teman-temannya menjadi saksi betapa Wanstrath begitu sering absen dari pelajaran karena terlalu asyik dengan dunia pemrograman. “Bukannya nge-drugs atau semacamnya, saya ‘kecanduan’ pemrograman. Lucunya, orangtua saya marah besar kepada saya dengan tingkat kemarahan yang sama (seperti seakan saya kecanduan drugs).”

Kesempatan dari CNET

Satu hal yang paling dikenang oleh Wanstrath adalah, di tahun ketiga kuliahnya, dan seiring popularitasnya sebagai programmer otodidak yang meningkat, CNET, website khusus teknologi yang dimiliki CBS menawarkan pekerjaan kepada Wanstrath. Pada saat itu Wanstrath sangat minder karena dia merasa belajar sendiri dan ilmunya masih belum cukup. Dia khawatir tidak akan bisa sukses di CNET. Namun dia memutuskan untuk ‘melompat’. Wanstrath membulatkan tekad berhenti kuliah dan pindah ke San Francisco untuk memenuhi tawaran dari CNET.

Tom Preston

“Memangnya pemuda 20 tahun memikirkan risiko..” ungkap Wanstrath sambil tertawa saat ditanya mengenai apakah ada saat itu dia sudah memikirkan risiko dropout dari kampusnya.

Di CNET, Wanstrath bekerja sebagai developer pada proyek-proyek terkait website GameSpot dan Chowhound, yang mana keduanya juga dimiliki oleh CBS. Pekerjaan yang berat dengan tanggung jawab yang besar, namun Wanstrath memutuskan untuk mengemban semua ini dengan maksimal.

Pada Oktober 2007, Wanstrath akrab dengan Tom Preston-Werner yang dikenalnya dari sebuah pertemuan komunitas developer. Preston-Werner saat itu sedang mengerjakan bahasa pemrograman Ruby on Rails. Seperti halnya Wanstrath, Preston-Werner juga memutuskan dropout dari tempat kuliahnya (Preston-Werner mengikuti pendidikan di Harvey Mudd College sebelum dropout pada tahun 1999). Dia mendirikan sebuah startup avatar digital yang disebut Gravatar. Startup ini kemudian diakuisisi oleh Automattic pada tahun 2007 dengan jumlah akuisisi yang dirahasiakan.

Hobi saling bertukar ide dengan Preston-Werner, Wanstrath kemudian membahas bahwa komunitas developer software memerlukan sebuah layanan di mana sejumlah besar source code bisa disimpan sementara pengguna berkolaborasi satu sama lain di proyek software-nya. Ini adalah cikal bakal GitHub!

Sebuah Disruptor

“Selama sekitar tiga bulan, Chris dan saya menghabiskan berjam-jam untuk merencanakan dan coding GitHub,” ujar Preston-Werner di website pribadinya di tahun 2008.

Wanstrath dan Preston-Werner kemudian meluncurkan versi private beta GitHub pada Januari 2008. Bulan berikutnya, mereka memutuskan untuk menyertakan P.J. Hyett sebagai mitra pendiri. Hyett adalah sosok yang juga bekerja di CNET bersama Wanstrath sebagai senior software engineer di proyek Chowhound. Baru dua bulan, yaitu Maret 2008, Wanstrath mengungkapkan dalam sebuah postingan blog bahwa GitHub sudah memiliki 2000 pengguna untuk versi betanya. Bulan berikutnya, yaitu April 2008, ketiga pendiri ini meluncurkan GitHub untuk dapat digunakan secara publik.

Popularitas GitHub di kalangan software developer sangat dahsyat. GitHub bahkan mampu bertahan ‘hidup’ tanpa pembiayaan dari luar dalam bentuk apa pun. Ini adalah karena kekompakan para programmer yang patungan biaya untuk kelangsungan hidup GitHub. Namun nampaknya ini masih belum memenuhi kebutuhan GitHub secara utuh.

Pada tahun 2012, GitHub akhirnya mengumumkan pendanaan dari luar untuk pertama kalinya. Firma venture capital Andreesen Horowitz memberikan dana kepada GitHub sebesar USD 100 juta. Sepanjang karir Horowitz, ini adalah investasi terbesarnya – dan mereka beruntung sekali karena GitHub berhasil menumbuhkan pemasukannya sekitar 300 persen setiap tahun mulai saat peluncuran. Kekuatannya yang luar biasa ini menjadikan GitHub selama lima tahun berturut-turut kemudian masuk ke dalam daftar Disruptor List dari CNBC. Perusahaan ini memang dikenal sangat mapan sehingga benar-benar mengganggu dominasi startup yang aslinya didanai perusahaan-perusahaan teknologi besar. Dalam artikel yang membahas tentang GitHub, CNBC mendeskripsikannya sebagai berikut: “GitHub sering digambarkan sebagai Facebook untuk developer karena GitHub mendorong kolaborasi dan interaksi seputar Kode.”

Bukan hanya developer yang memanfaatkan GitHub. Tercatat bahwa organisasi-organisasi besar seperti NASA, juga Airbnb, IBM, dan Spotify juga memanfaatkan GitHub. Wanstrath sangat bangga pada startup rintisannya ini.

“Sangat keren mengetahui bahwa orang-orang menyukai GitHub,” ujarnya dengan antusias. “Untuk saya pribadi, setiap orang sering menyapa saya, dan bahkan Anda tidak akan sempat mengkhawatirkan kecemasan sosial.”

Berkat GitHub ini, memang banyak penyuka pemrograman bergabung. Coding profesional berkembang dari sesuatu yang membosankan menjadi sesuatu yang dipandang keren. Semua orang menikmati pekerjaannya. Wanstrath berhasil meniupkan napas baru dalam lingkup pekerjaan sebagai coder dan menyederhanakan proses ini bagi orang di seluruh dunia.


Dalam Kisah Silicon Valley minggu depan, Wanstrath akan menghadapi skandal yang menjadikannya mundur dari GitHub, dan ikut menyukseskan transaksi dengan raksasa komputer dunia: Microsoft!

Referensi

Huddleston, Tom. (2018). How this 33-year-old college dropout co-founded GitHub, which just sold to Microsoft for $7.5 billion. CNBC

Weinberger, Matt, (2015). $2 billion startup GitHub’s next mission: Turn you into a programmer. Business Insider.

Whitaker, Marisa. (2014). Former UC student establishes a celebrated website in GitHub that simplifies coding collaboration for millions of users. UC Magazine, University of Cincinnati.

Zipkin, Nina. (2017). This Founder believes He Found the Answer for Burnout. Entrepreneur.

  Selamat Jalan Android Q  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.