Home Editorial Kisah Silicon Valley #27: Tablet – Evolusi Puncak Laptop?

Kisah Silicon Valley #27: Tablet – Evolusi Puncak Laptop?

via Cult of Mac

“Dalam waktu lima tahun ke depan, saya memprediksi bahwa ini akan menjadi jenis PC paling populer yang dijual di Amerika,” Bill Gates mengangkat sebuah perangkat unik berupa sebuah PC dengan layar sentuh untuk input data. “Kami baru saja menyelesaikan beberapa prototip perangkat ini, dan memang banyak perdebatan mengenai siapa yang akan menggunakan alat ini. Saya rasa ini adalah pertanda bagus. Desain PC ini adalah ‘evolusi puncak laptop’!”

Audiens bergemuruh bertepuk tangan. Perangkat yang dipegang oleh Bill Gates tersebut memang terlihat seperti sebuah perangkat futuristik masa depan, dan di masa kita harus menggunakan keyboard untuk memberikan perintah kepada PC, maka layar sentuh benar-benar sebuah metoda yang gila dan revolusioner. CEO Microsoft yang akan segera menapak turun dari singgasananya untuk memberi peluang kepada Steve Ballmer ini pun sangat yakin bahwa perangkat yang digagas Microsoft pada tahun 2000 ini bakal menjadi sebuah ‘gelombang baru’ di dunia teknologi!

 

Kategori Ketiga

via Lifewire

“Kami ingin mengawali 2010 dengan memperkenalkan sebuah produk yang ajaib dan revolusioner hari ini.”

Pembukaan Steve Jobs tersebut memang seolah sudah menjadi template untuk setiap kali dia memperkenalkan sebuah produk. Akan tetapi tak dapat disangkal bahwa setiap kali dia mengucapkannya, maka hadirin akan berdebar-debar menantikan sesuatu yang menakjubkan diproduksi oleh Apple saat itu.

Jobs membuka presentasinya dengan memainkan sebuah perangkat yang berukuran seperti layar laptop kecil.. atau iPhone dengan ukuran lebih besar. Dia terlihat santai, namun sekaligus memberikan kesan serius dan produktif. Jobs kemudian menjelaskan bahwa ini adalah perangkat ‘kategori ketiga’.

“Jika harus ada perangkat kategori ketiga, perangkat itu harus lebih baik dari laptop atau smartphone dalam mengeksekusi aktivitas-aktivitas seperti e-mail, mendengarkan musik, bermain game, dan membaca e-book. Jika tidak, maka tidak ada alasan untuk membuatnya.” Jobs menjelaskan. “Beberapa orang mengira itu adalah netbook. Masalahnya adalah: netbook tidak unggul dalam hal apa pun. Netbook itu lamban, kualitas tampilannya rendah, dan menjalankan perangkat lunak PC lawas yang kaku. Jadi, netbook itu tidak lebih baik dari laptop dalam hal apa pun – netbook hanya lebih murah. Netbook hanya laptop murah. Dan kami pikir netbook bukanlah perangkat kategori ketiga. Sebaliknya, kami pikir kami memiliki sesuatu yang hari ini akan kami tunjukkan kepada Anda untuk pertama kalinya… Dan kami menyebutnya… iPad.”

Tanggapan terhadap perangkat baru ini sangat beragam. Anders Bylund, seorang blogger tekno berpendapat bahwa iPad buatan Apple ini tidak istimewa, bukan pula jenis terbaik dalam media tablet. Namun Horace Dediu, mantan eksekutif Nokia memuji perangkat ini dan memperkirakan bahwa akan ada 6 juta unit iPad terjual dalam tahun pertamanya. Pada akhir Mei 2010, Apple mengumumkan bahwa mereka telah menjual 2 juta iPad – dan itu belum ada 60 hari sejak peluncurannya!

 

Perusahaan Lain Mengekor

via Wired

Setahun setelah rilis iPad, pada acara Consumer Electronic Show pada Januari 2011, lebih dari 80 tablet baru diumumkan untuk bersaing dengan iPad. Yang paling memorable dalam acara tersebut antara lain adalah Dell Streak Tablet (Windows 7), dan sisanya didominasi oleh Android seperti Motorola Xoom Tablet yang bersenjatakan Android 3.0, Samsung Galaxy Tab ber-OS Android 2.2, Toshiba Thrive dengan Android 3.0 dan juga beberapa perusahaan pede menggunakan OS yang berbeda seperti BlackBerry yang mengadu peruntungan dengan BlackBerry PlayBook ber-OS BlackBerry serta Hewlett-Packard dengan perangkatnya TouchPad yang ber-OS WebOS.

Meskipun Apple mendominasi pasar Tablet, perangkat yang ber-OS Android juga mendapatkan ‘bagian kue’ yang cukup lumayan. Untuk Android, selain Samsung yang memang memiliki keunggulan dalam hal pemasaran dan teknologi, perangkat Tablet yang cukup mendapat tempat di hati konsumen adalah Kindle Fire dari Amazon yang menjalankan Android 2.3. Keistimewaan perangkat ini adalah fokusnya pada niche tertentu. Tablet milik Amazon ini hanya diperuntukkan untuk membaca ebook, dengan fitur layar yang menjadikan pengguna nyaman membaca. Apalagi ini didukung dengan bisnis Amazon sebagai ‘penjual buku’.

via Softpedia

 

Redmond Terlecut

via Mashable

Saat Apple merilis iPad, Microsoft sedang dalam pengembangan perangkat yang disebut Courier. Allard yang sukses dengan Xbox pada awalnya memimpin pengembangan Courier. Tapi begitu banyak tekanan dan masalah dalam pengembangan tablet Microsoft ini sehingga akhirnya Ballmer memutuskan agar Steve Sinofsky, Kepala Divisi Windows yang sukses dengan Windows 7 mengambil alih penyelesaian Courier. Ballmer menginginkan agar Microsoft memberikan ‘jawaban instan’ terhadap iPad yang populer di pasar. Tablet Windows 7 bukanlah jawabannya, karena ikon di Windows 7 terlalu kecil untuk dikendalikan jari, dan lagi softwarenya sangat tidak ramah untuk dijalankan dengan sentuhan. Allard marah besar atas keputusan Ballmer tersebut. Dia dan istrinya (yang juga salah satu eksekutif Microsoft), Rebecca Norlander, mengundurkan diri dari Microsoft.

“Keputusan Ballmer terlalu terburu-buru. Jika Anda ingin hasil yang bagus, Anda harus menyerahkan proyek ini kepada Sinofsky sejak awal. Tak ada artinya menyuruh seorang yang sistematis dan terstruktur untuk mengambil alih proyek yang bukan dia yang meletakkan dasarnya.” Seorang anggota tim Courier mengungkapkan pendapat jujurnya tentang pergantian ini. Memang benar, seperti yang dibahas dalam Kisah Silicon Valley minggu lalu, Sinofsky sukses dengan Windows 7 karena dia membangun dasar yang kuat dan tidak dapat diintervensi. Proyek Microsoft Courier yang akan menggunakan Windows 8 ini berjalan setengah jalan. Bukan keahlian Sinofsky untuk melakukan tambal sulam.

Meskipun demikian, Sinofsky berhasil menyelesaikan Windows 8. Dia menunda proyek Courier dan mengambil intinya untuk menciptakan perangkat tablet baru yang kemudian oleh Microsoft diberi nama: Surface.

 

2-in-1 Berjaya

via Windows Central

Butuh waktu sepanjang tiga generasi Surface sebelum akhirnya perangkat ini menjadi tren. Konsepnya cukup sederhana, namun tidak sederhana (bingung kan): Sebuah perangkat yang dapat menjadi tablet dan PC – Bisa melakukan apa saja yang Anda butuhkan. Perangkat ini berupa sebuah tablet yang dilengkapi dengan keyboard sekaligus kickstand, yang bila dipasangkan akan langsung mengubahnya menjadi PC. Perangkat ini dapat menjalankan software PC secara penuh, sehingga pengguna mendapat keuntungan dari mode Tablet (menjalankan aplikasi ringan berbasis ARM) dan mode PC penuh yang bisa menjalankan seluruh aplikasi. Surface terasa futuristik dengan pemanfaatan yang luwes dan andal untuk berbagai kebutuhan.

via TechCrunch

Keberhasilan Microsoft ini memicu banyak manufaktur untuk mengeluarkan produk bertipe serupa. Apalagi setelah era Windows 10, yang mana merupakan OS dengan sistem ‘luwes’, mampu beradaptasi digunakan sebagai desktop, maupun sebagai tablet.

Sementara itu muncul pula tren perangkat ‘phablet’. Ini merupakan sebutan untuk kategori perangkat berukuran di atas 5,2 inci yang masuk wilayah abu-abu: terlalu besar untuk smartphone, namun terlalu kecil untuk tablet. Samsung Galaxy Note adalah badai yang menciptakan tren ini. Apple sendiri tidak mampu menghindar dari tren untuk ‘membuat perangkat yang lebih besar’ alih-alih mempertahankan rasio ideal 3,5 inci yang dicetuskan Steve Jobs. iPhone 6 yang dirilis pada tahun 2014 memperkenalkan seri iPhone 6 Plus yang kemudian pada tahun-tahun berikutnya menjadi reguler, menjadikan Apple sendiri masuk ke wilayah Phablet, sebuah perangkat yang tidak dapat dihindari bersaing dengan iPad (terutama seri iPad mini). Perlahan tapi pasti, akhirnya iPad mencapai titik stagnan dalam penjualan, dan sejak 2015, angka penjualannya terus berkurang. Rilis iPad Pro dan iPad (tanpa embel-embel seri apa pun) pada tahun 2016 tidak menciptakan histeria seperti biasa, menunjukkan bahwa Apple mulai menemui titik jenuh dalam penjualan tablet.

Apakah yang akan terjadi pada penjualan tablet di masa mendatang? Apple enggan membahas teknologi baru atau ‘rencana pembalik keadaan’ yang bisa menjadikan tablet laris kembali, sedangkan Microsoft dengan antusias membocorkan teaser untuk menghidupkan kembali proyek Microsoft Courier dan juga sebuah perangkat seukuran tablet mini yang bakal dapat melakukan aktivitas seluler – konon akan disebut Surface Phone!

Setelah disalip oleh Steve Jobs dalam hal teknologi tablet di tahun 2010, setidaknya Bill Gates kini benar-benar dapat menyebut tablet (merujuk pada Surface series) sebagai ‘Evolusi Puncak Laptop’!

 

 

Referensi:

Arthur, Charles. (2013). Digital Wars – Apple, Google, Microsoft, dan Pertempuran Meraih Kekuasaan atas Internet. PT. Elex Media Komputindo

 

  Buka Bungkus Kartu Perdana Jaman Old!  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta