via The New York Times

“Kami sudah bekerja super keras,” demikian jawab Bill Gates saat ditanya apakah benar Office, khususnya Word, adalah upaya Microsoft melakukan monopoli software lain dengan memanfaatkan dominasi OS yang dimilikinya. “Itu (Office) adalah proyek yang paling menantang dan penuh cobaan yang pernah kami selesaikan.” Demikian pernyataan Bill Gates saat seorang wartawan berusaha menggiringnya pada pertanyaan apakah benar Microsoft memanfaatkan dominasi OS untuk menjatuhkan para pesaingnya: antara lain WordPerfect dan Netscape!

 

Tekanan Dahsyat selama Persidangan

via CBS

Temuan fakta selama persidangan menunjukkan bahwa Microsoft telah melakukan monopoli terhadap Operating System yang dijualnya. Microsoft bahkan bisa saja melakukan rekayasa sehingga harga lisensi tidak dapat ditolak oleh siapa pun. Hakim Thomas Penfield Jackson yang memimpin persidangan merujuk pada sebuah bukti bahwa penetapan harga sebesar USD 49 untuk upgrade Windows 98 akan menghasilkan laba investasi yang wajar, akan tetapi Microsoft menentukan harga USD 89 yang cukup tinggi dan dalam hitungan ekonomi ini merupakan tindakan yang terlalu jauh. Permasalahannya adalah? Orang akan tetap membeli dengan harga tersebut karena sudah terlalu tergantung pada ekosistem Windows. Mereka tidak dapat menolak harga tersebut, dan inilah yang dianggap publik sebagai ‘memanfaatkan monopoli’.

Tindakan selanjutnya yang dianggap pemerintah ‘memanfaatkan monopoli’ dan ‘mematikan kompetitor’ adalah mewajibkan browser buatan Microsoft sendiri, yaitu Internet Explorer, sebagai upaya untuk mematikan Netscape. Sebagai bagian dari upaya ini, Microsoft menolak akses Netscape ke beberapa bagian API Windows, dengan tujuan memberikan keunggulan fitur pada Internet Explorer. Upaya yang dilakukan dengan sengaja ini tentu saja bertujuan untuk menghancurkan sang kompetitor dan menyalahi undang-undang antimonopoli.

Bersamaan dengan itu, sidang juga mengundang pihak-pihak yang pernah ‘ditekan’ oleh Microsoft sehingga akhirnya perusahaannya merugi, antara lain Intel, Sun Microsystem, Real Networks, IBM – kesemua perusahaan ini pernah ditolak mendapatkan lisensi OEM Windows 95 hingga seperempat jam sebelum peluncuran resminya – Yang mana menimbulkan kehilangan potensi penjualan PC.

Apple juga hadir sebagai saksi kunci dalam persidangan ini. Secara khusus Apple pernah ditawari sebuah kesepakatan untuk berhenti mengembangkan sistem music player dan video player dan membiarkan Windows yang menanganinya menggunakan sistem DirectX. Jika Apple setuju, maka Microsoft akan berhenti menghambat QuickTime buatan Apple untuk beroperasi di platform Windows. Steve Jobs yang bernegosiasi dengan Microsoft secara langsung pada waktu itu menolak usulan tersebut karena itu dapat membatasi kemampuan pihak ketiga dalam mengembangkan konten yang akan beroperasi dalam Windows PC.

Di kemudian hari, keputusan Jobs menolak hal ini mungkin menjadi salah satu kesuksesan Apple. Karena dengan penolakan itu, Microsoft tidak dapat mengontrol cara memutar musik yang dikembangkan oleh Apple pada Windows.

Di antara semua tuntutan yang saling bersilangan diarahkan kepada Microsoft tersebut, fokus utama persidangan ini adalah Internet Explorer. Terhitung dari 1995 hingga 1999, Microsoft telah menggunakan lebih dari seribu orang sumber dayanya untuk mengembangkan Internet Explorer, namun berikutnya sengaja disertakan gratis pada Windows hanya sekedar untuk menciptakan monopoli yang efektif dan menjadikan konsumen tidak lagi perlu untuk membeli software lain (Netscape) untuk mengakses internet.

Cita-cita Microsoft memang tercapai. Dengan upaya masif untuk mendorong pemakaian Internet Explorer tersebut, nilai saham Microsoft melonjak dan mencapai puncak kapitalisasi pasar sebesar USD 612,5 miliar pada penutupan hari kerja di bulan Desember 1999!

 

Dampak Persidangan 

Bill Gates mungkin menghadapi sidang antimonopoli dengan gagah berani, namun itu tidak menghindarkan liputan pers (yang sebagian besar buruk) terhadap tingkah laku Microsoft dalam menancapkan kukunya di dunia teknologi. Dalam sebuah rapat tahun 1999, saat Gates dan Ballmer ingin mendiskusikan kondisi keuangan perusahaan, memeriksa kinerja, dan menetapkan ragam produk selanjutnya yang berupa roadmap, Kepala Penjualan Microsoft, Orlando Ayala, menyela rapat dan mengatakan bahwa dia tidak ingin membahas roadmap.

“Kita harus membahas mengenai nilai-nilai perusahaan ini. Saya tidak bisa lagi bekerja di sini jika saudara saya yang lain terus menentang pekerjaan yang saya lakukan,” Tukas Ayala berapi-api. “Kami disebut penjahat hanya karena bekerja di sini. Kebanyakan keluarga kami di luar sana dihujani pertanyaan oleh publik: Untuk apa bekerja di Microsoft jika perusahaan itu memang busuk?”

Ini menjadi bahasan serius di kalangan eksekutif Microsoft, “Kita semua mengakui kemampuan Microsoft untuk mengembangkan perangkat lunak andal yang dapat mengubah dunia. Masalahnya adalah, di luar sana orang-orang memandang Microsoft seperti sekelompok gangster, yang mengancam orang lain yang seolah-olah ingin membuka lahan yang berdekatan dengan wilayahnya.”

Citra ini semakin buruk karena selama masa persidangan, Hakim Jackson yang memegang peran utama dalam sidang Microsoft, saat diwawancara wartawan mengisyaratkan bahwa tindakan Microsoft tersebut tidak ada bedanya dengan tindakan yang dilakukan oleh para pengedar narkoba atau geng pembunuh. Media menjadikan publik membenci Microsoft dengan sangat dahsyat pada masa tersebut. Di kemudian hari, Hakim Jackson juga dituntut dalam sidang kode etik karena percakapannya dengan jurnalis tersebut telah melanggar etika peradilan karena dianggap ‘sudah menarik kesimpulan’ padahal sidang masih berlangsung.

Sidang Kode Etik Thomas Penfield Jackson ini merembet pada hal lain: Putusan Jackson terhadap Microsoft, serta hukuman yang dijatuhkannya pada Microsoft, termasuk perintah agar Microsoft memecah divisi perusahaannya menjadi dua (satu khusus OS, sedang satunya lagi untuk software – untuk menghindarkan tindakan monopoli) dianggap cacat hukum karena bias, sehingga akhirnya dibatalkan. Jackson sangat murka atas keputusan negara terhadap kasus Microsoft ini, saat diwawancara mengenai pembatalan putusan hukuman terhadap Microsoft, dia kembali membuat pernyataan kontroversial, “dari waktu ke waktu, Microsoft terbukti memberikan fakta yang tidak akurat, memperdaya, mengelak, dan jelas-jelas telah berbohong… Microsoft adalah perusahaan yang telah melakukan penghinaan institusional, baik bagi kebenaran maupun peraturan perundang-undangan yang harus dihormati oleh semua entitas di bawahnya. Microsoft juga merupakan sebuah perusahaan yang manajemen seniornya bersedia untuk memberikan kesaksian palsu, demi bisa mendukung pembelaan palsu atas klaim kesalahan perusahaannya.

Meskipun terhindar dari hukuman yang ‘parah’ yaitu kewajiban memecah perusahaan (yang tentu saja akan berpengaruh terhadap kinerja saham Microsoft), namun raksasa software ini tetap harus menjalani hukuman. Ada panelis eksternal yang memiliki akses penuh terhadap source code Microsoft untuk memastikan bahwa Microsoft tidak akan menyembunyikan sistem yang dapat dimanfaatkan untuk monopoli. Microsoft menjalani hukuman ini hingga Juni 2011. Pada bulan itu, hukuman bagi Microsoft resmi dicabut karena dianggap ‘berkelakuan baik’.

Mary Jo Foley, seorang wartawati senior yang sudah menjadi kolega Microsoft selama bertahun-tahun menyatakan bahwa, “Persidangan itu memiliki dampak besar, dan bahkan sampai satu dekade ke depan, dampaknya masih akan terasa. Ketika mereka akan menambahkan fitur baru pada beberapa produk, atau memikirkan cara untuk meyakinkan produknya bisa bekerja secara bersamaan, selalu ada pemikiran panjang dan pertanyaan-pertanyaan semacam ini: jika kita melakukannya, apakah kita akan dituntut si ini dan si itu karena pelanggaran undang-undang antimonopoli? Pola pikir semacam ini terus memengaruhi Microsoft dalam pengembangan produknya dan mau tidak mau berdampak pada tipikal produk Microsoft mendatang.”

Mark Anderson, CEO  Strategic News Service di Friday Harbor mengungkapkan hal yang kurang lebih sama dengan Jo Foley, “Microsoft telah kehilangan kemampuan visionarisnya terhadap dunia teknologi.” Ujar Anderson. “Microsoft tidak lagi terasa seperti Apple. Tidak terasa kreatif. Microsoft kini berubah menjadi perusahaan ‘pengikut’ dan kehilangan orang-orang yang antusias terhadap produknya, antusias terhadap teknologinya – dan siapa yang kita dapatkan? Kita hanya tinggal bersama orang-orang yang sekedar mengoperasikannya.”

Setelah Bill Gates berhasil mempertahankan Microsoft terhadap tuntutan pemerintah senilai USD 1 miliar atas tindakan antimonopoli Microsoft, pendiri Microsoft tersebut melangkah turun dari posisinya sebagai CEO dan menyerahkannya kepada Steve Ballmer. Gates sendiri meyakini bahwa tindakannya melangkah turun dari posisi puncak Microsoft ini akan membawa Microsoft pada citra yang lebih baik. Karena pada masa kepemimpinannyalah Microsoft dianggap arogan dan ‘menghalalkan segala cara untuk menang’.

 

 

Referensi

Arthur, Charles. (2013). Digital Wars – Apple, Google, Microsoft, dan Pertempuran Meraih Kekuasaan atas Internet. PT. Elex Media Komputindo

  OnePlus 6 vs OnePlus 5T  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.