Home Editorial Kisah Silicon Valley #7 – Balas Dendam Paling Manis di Silicon Valley...

Kisah Silicon Valley #7 – Balas Dendam Paling Manis di Silicon Valley – PIXAR

via Playbuzz

Beberapa bulan menjelang kejatuhannya di Apple, Steve Jobs berjalan-jalan dengan Alan Kay yang saat itu masih bekerja di Xerox PARC (Nantinya Kay juga akan menjadi bagian keluarga besar Apple). Kay sangat memahami betapa Jobs tertarik pada kombinasi antara seni dan teknologi. Saat itu mereka bertujuan untuk mengunjungi teman Kay, Ed Catmull, yang bekerja di divisi komputer studio film milik George Lucas (kamu lebih mengenalnya sebagai sutradara Star Wars yang fenomenal itu). Kay dan Catmull memberi Steve Jobs semacam tur mengelilingi fasilitas studio tersebut. Komentar Jobs: “Saya sangat takjub, beberapa hari kemudian saya kembali ke sini dan mencoba meyakinkan Sculley untuk membelinya bagi Apple.” Sculley menolak hal tersebut!

 

Akuisisi Pixar

Steve Jobs dan George Lucas via FastCompany

Secara umum, studio ini digunakan oleh Lucasfilm untuk menciptakan hardware dan software untuk merender gambar-gambar digital. Selain itu divisi ini juga memiliki kelompok animator sendiri, dipimpin oleh John Lasseter yang sangat mencintai kartun. George Lucas sangat ingin menjual divisi ini karena dia butuh biaya untuk perceraiannya. Ed Catmull dan rekannya, Alvy Ray Smith – yang bekerja di divisi tersebut – mencari beberapa investor dengan harapan bahwa mereka dapat membelinya sendiri dari George Lucas dan menjalankannya sesuai visi mereka. Saat itulah Jobs mengajukan penawaran. Jobs yang saat itu masih menjadi boss di Apple ingin membeli divisi tersebut. Tentu saja Catmull dan Smith menolak keras karena harapan awal mereka adalah Jobs mau berinvestasi, bukan membeli. Mereka khawatir kalau berganti pemilik, maka mereka tidak akan dapat mewujudkan visinya dengan divisi tersebut. Namun kemudian tercapai kesepakatan: Jobs tetap membeli divisi tersebut dari George Lucas – Operasional harian dipercayakan sepenuhnya kepada Catmull dan Smith.

“Saya sangat mencintai computer graphic,” kenang Jobs dalam sebuah wawancaranya. “Saya menyadari bahwa divisi kecil ini sangat jauh di depan yang lain dalam mengombinasikan seni dan teknologi, hal yang tentu saja menjadikan saya tertarik.” Jobs menawarkan USD 5 juta kepada George Lucas untuk membeli divisi kecil tersebut ditambah lagi USD 5 juta sebagai bagian investasi. Jumlah itu luar biasa jauh dari yang diinginkan Lucas, tapi maklumlah sedang BU – Akhirnya divisi komputer dan animasi mungil itu jatuh juga ke tangan Steve Jobs! Pada persetujuan akhir di bulan Januari 1986, dengan investasi USD 10 juta, Jobs akan memiliki 70% perusahaan, dengan sisa saham merupakan milik Catmull, Smith, dan karyawan perusahaan lainnya.

Untuk sementara, divisi yang kemudian beralih nama menjadi Pixar Image Computer tersebut berjalan tanpa banyak intervensi dari Steve Jobs. Saat itu Jobs sangat sibuk mengejar impiannya mendirikan NeXT, sehingga Catmull dan Smith bebas menjalankan perusahaan tersebut sebagaimana yang mereka impikan. Pendapatan Pixar saat itu berasal dari komputer yang dijual seharga USD 125.000 kepada para animator dan pekerja desain grafis. Komputer produksi Pixar yang mampu merender grafik tiga dimensi ini juga cukup laris di kalangan perusahaan penerbangan, satelit, medis, dan juga organisasi pemerintah seperti NSA, FBI, dan CIA.

Meskipun menguntungkan, Jobs tetap berupaya mendorong Pixar lebih jauh. Dia meminta agar Pixar dapat membuat versi komputer yang lebih ringkas dan murah untuk konsumen dengan harga kisaran USD 30.000 saja. Di sisi software, Pixar memiliki program andalan bernama Reyes (Renders everything you ever saw) untuk membuat grafik dan gambar 3-D. Program ini kemudian bernama RenderMan, dan cukup menjadi standar rendering grafik 3-D pada saat itu.

 

Divisi Animasi Pixar

John Lasseter via Variety

Pada awalnya, animasi hanya ‘proyek sampingan’ saja di Pixar. Seperti yang saya singgung sebelumnya, John Lasseter, pimpinan animator Pixar sangat mencintai kartun. Keahliannya dalam desain dan seni sangat menarik perhatian Steve Jobs. Lasseter cepat dikenali di antara karyawan Pixar lain, karena dia berkeliaran dengan kemeja Hawaii bermotif bunga-bunga, rajin menenteng burger, dan selalu kelihatan riang. Mejanya dipenuhi aneka mainan dan figur berbagai model. Lasseter memimpin para animator Pixar membuat film-film pendek yang umumnya ditawarkan untuk iklan, termasuk salah satunya ditawarkan kepada Intel. Karena menggunakan teknologi tinggi, karya animasi divisi Pixar ini luar biasa menakjubkan bagi Steve Jobs. Komentarnya: “Film-film kami adalah satu-satunya yang memiliki seni di dalamnya, bukan hanya teknologi yang hebat. Pixar membuat kombinasi sempurna seperti halnya Macintosh!”

Salah satu film pendek Pixar yang menggunakan teknologi terbaru mereka, Luxo Jr (kamu mengenalnya sebagai si lampu yang menjadi maskot Pixar di film-film bioskop karya Pixar mendatang), masuk nominasi Academy Award. Steve Jobs sangat bangga dan meluangkan waktu untuk terbang ke Los Angeles untuk upacara penghargaan. Luxo Jr. tidak memenangkan penghargaan utama, namun itu sudah cukup untuk menjadikan Steve berkomitmen lebih fokus pada karya film animasi!

 

Hidup dalam dunia Disney

via Quartsoft

Jobs menepati ucapannya. Bahkan di saat-saat berat, dia lebih mengutamakan Pixar. Kesulitan yang dialaminya di NeXT, di mana produksi terus memerlukan biaya namun profit belum kunjung tiba, menjadikan Jobs banyak berhemat. Dia menunda banyak proyek Pixar terkait produksi, namun bila Lasseter meminta dana untuk membuat film animasi, Jobs dengan senang hati memberinya, nyaris tanpa batas. Jobs bahkan sudah menghabiskan uangnya pribadi, lebih dari USD 50 juta atau separuh seluruh kekayaannya untuk mendanai NeXT dan Pixar.

Namun itu semua terbayar, karena karya-karya Pixar berhasil menarik perhatian Disney yang saat itu (sampai sekarang) merupakan penghasil animasi dan kartun tersukses di dunia. Disney menawarkan kesepakatan bahwa Pixar menjadi opsi pertama mereka untuk pengolahan animasi film-film mereka. Ini kesepakatan yang saling menguntungkan, karena secara teknologi, Pixar adalah yang terbaik di dunia pada saat itu, sementara secara komersial, tak ada yang meragukan kedigdayaan Disney!

Jobs pada awalnya senang dengan kesepakatan itu. Dia memuji obsesi Disney akan detail dan desain, sehingga kedua perusahaan itu secara alamiah sangat berjodoh. Namun Jobs memiliki ambisi yang lebih tinggi lagi. Saat Jeffrey Katzenberg, kepala divisi film Disney melihat-lihat aktivitas Pixar, Jobs mengajukan pertanyaan jebakan, “Apakah Disney bahagia dengan Pixar?” Katzenberg spontan mengangguk. Sembari berbasa-basi, dia membalas pertanyaan Jobs, “Apakah Pixar bahagia dengan Disney?” Jobs menatap Katzenberg dengan serius, “Kami tidak bahagia,” ujarnya. “Kami ingin membuat sebuah film dengan Anda. Itu akan menjadikan kami bahagia!”

Sentilan itu bergulir menjadi negosiasi alot berbulan-bulan. Jobs memiliki senjata andalan: ide film dari John Lasseter, berupa kisah mainan-mainan yang hidup dan akan diwujudkan dalam sebuah film animasi bergaya 3-D. Steve Jobs memperjuangkan ide itu mati-matian beserta sistem pembagian keuntungannya dengan Disney. Lasseter bahkan sudah mencetuskan judul untuk calon karyanya itu: Toy Story!

Negosiasi dan proses produksi melelahkan tersebut akhirnya menuai hasilnya. Toy Story akhirnya ditayangkan premiere pada November 1995. Lebih dari itu: Toy Story menjadi film berpendapatan tertinggi tahun itu dengan USD 192 juta menyalip Batman Forever dan Apollo 13. Bahkan mungkin menjadi film pertama dengan 100% review positif dari Rotten Tomatoes (rekor yang belum berulang lagi hingga sekarang). Jobs sangat bangga atas pencapaian ini. Dia merasa berada di puncak dunia.

Toy Story juga menjadi gerbang bagi Pixar untuk mendapatkan kontrak eksklusif dari Disney bagi film-film selanjutnya. Bahkan dalam kontrak tersebut Pixar ‘wajib’ memproduksi film setiap jangka waktu tertentu dengan dukungan finansial penuh dari Disney. Film dari Pixar juga menjadi sumber keuntungan baru bagi Steve Jobs. Ini periode yang sangat membahagiakan bagi Jobs yang berjuang mengatasi kesulitan keuangan dari NeXT Computer.

via Boxofficemojo

Kelak Steve Jobs bakal lebih bahagia lagi karena Disney pada akhirnya di tahun 2006 memutuskan membeli Pixar dengan nilai USD 7,4 miliar (Bayangkan perkembangan nilainya saat Steve Jobs membeli dari George Lucas ‘hanya’ USD 5 juta plus USD 10 juta investasi).

 

Kejatuhan Apple

Steve Jobs & Gil Amelio via Forbes

Sementara itu, awan gelap memayungi Cupertino. Setelah sempat menikmati posisi dominan di dunia desktop saat Steve Jobs keluar dari Apple, Microsoft perlahan-lahan mengejar ketertinggalannya dalam hal GUI (Graphical User Interface) dengan Windows 3.0 yang dirilis di tahun 1990. Saat itu PC yang menggunakan program Windows lebih bersahabat bagi konsumen dan harganya lebih murah. Selain itu Microsoft banyak memiliki fitur baru yang sangat membantu konsumen biasa.

Pada tahun 1996, saham Apple jatuh ke angka 4% setelah sempat menikmati 16% di akhir era 80-an. Apple merugi hingga lebih dari USD 1 miliar di bursa saham, bahkan sempat ditawarkan ke perusahaan teknologi lain seperti Sun, IBM, dan Hewlett Packard.

John Sculley yang menjabat CEO Apple setelah ‘menang’ atas perselisihan dengan Steve Jobs saat itu mungkin akan malu jika membaca tulisannya sendiri yang jumawa pada tahun 1987 – Saat Apple menikmati posisi profit tertinggi: “Steve Jobs selalu ingin agar Apple menjadi perusahaan produk konsumen yang hebat. Ini adalah rencana gila. Apple tidak akan pernah bisa menjadi perusahaan produk konsumen. Kami tidak dapat membengkokkan realita demi impian kami mengubah dunia. Teknologi tinggi tidak mungkin dapat dirancang dan dijual sebagai produk konsumen!”

Kemerosotan Apple ini menjadikan John Sculley akhirnya didepak dari posisinya sebagai CEO dan digantikan oleh Michael Spindler. Mantan Kepala operasi Eropa Apple inilah yang memprakarsai penawaran Apple untuk dijual kepada perusahaan teknologi lain. Tindakan ini tentu saja tidak dikehendaki oleh para pemegang saham Apple, sehingga Splinder diganti lagi oleh Gil Amelio pada Februari 1996.

Sepanjang tahun 1996, di Silicon Valley muncul wacana gila dari para kolumnis teknologi. Guy Kawasaki dari Macworld menulis ‘lelucon serius’ (yang sebenarnya prediksi masuk akal) bahwa ada kemungkinan Apple membeli NeXT untuk mendapatkan sumber daya dari perusahaan yang sedang berkembang ini, lalu kembali menjadikan Jobs sebagai CEO. Diam-diam ternyata Garrett Rice, Product Marketer dari NeXT menindaklanjuti ramalan ini. Dia menghubungi Apple menanyakan minatnya untuk membeli OS dari mereka (karena saat itu Apple memerlukan OS yang mumpuni untuk ‘menghidupkan’ peluang mereka kembali di produk desktop) – tanpa sepengetahuan Jobs. Masalah penawaran OS ini berkembang menjadi penawaran yang lebih serius dari Apple kepada NeXT.

Pada Thanksgiving 1996, Jobs menemui Gil Amelio dan membahas kesepakatan tentang kembalinya Jobs sebagai CEO Apple. “Hanya ada satu orang yang dapat memimpin pasukan Apple,” ujar Jobs. “Hanya satu orang yang dapat meluruskan arah perusahaan. Era Macintosh sudah berlalu, dan sekarang saatnya Apple untuk menciptakan hal baru yang inovatif!”

 

 


Steve Jobs semakin dekat dengan ‘jalan kembali’ ke Apple. Mampukah dia menyelamatkan perusahaan yang ‘memecatnya’ sendiri? Arc ini akan selesai pada episode berikutnya: Balas Dendam Paling Manis di Silicon Valley – Sang Juru Selamat

 

 

Referensi:

 Arthur, Charles. (2013). Digital Wars – Apple, Google, Microsoft, dan Pertempuran Meraih Kekuasaan atas Internet. PT. Elex Media Komputindo

Isaacson, Walter. (2011). Steve Jobs. Simon & Schuster.

  Review Lengkap Windows 10 Fall Creators Update  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta