Home Editorial Kisah Silicon Valley #9 – Konspirasi Post-PC Era

Kisah Silicon Valley #9 – Konspirasi Post-PC Era

via Wikipedia

Pada tanggal 1 Juni 2010, Steve Jobs dalam wawancaranya dengan Walt Mossberg dan Kara Swisher dari Wall Street journal mengungkapkan hal yang dianggap kontroversial bagi penyuka teknologi hingga sekarang: Post PC Era atau Era Pasca-PC.

“Saya mencoba memikirkan analogi yang bagus. Saat kita menjadi bangsa agraris, semua mobil adalah truk. Akan tetapi manusia kemudian melangkah maju ke pusat-pusat kota, orang mulai memanfaatkan mobil. Menurut saya, PC akan menjadi seperti truk. Makin sedikit orang yang memerlukannya. Dan transformasi ini akan mengganggu banyak orang… Karena PC sudah membantu kita sejauh ini. PC luar biasa, tapi ini akan berubah. Minat yang tertanam akan berubah. Dan, menurut saya, kita akan memeluk perubahan tersebut. Apakah ini iPad? Siapa yang tahu? Apakah tahun depan atau lima tahun ke depan?.. Kita seperti membicarakan sebuah era pasca-PC, tapi ketika ini mulai terjadi, maka ini tidak akan nyaman.”

 

iPhone – Induk perubahan gaya konsumsi konten digital

via Mashable

Pada saat itu, Jobs tengah menikmati status Apple sebagai pencetus revolusi digital. Tanggal 9 Januari 2007, Apple dan Jobs sebagai tokoh utamanya mengumumkan sebuah perangkat yang disebutnya sebagai ‘perangkat three-in-one, sebuah ponsel, iPod, dan internet communicator’. Penjualan iPhone mungkin belum meledak pada tahun itu, dunia masih dikuasai oleh Nokia dengan berbagai ponselnya yang inovatif – sementara BlackBerry sedang menggeliat dan merangkak menuju puncak dunia dengan perangkat komunikasi canggihnya yang memudahkan orang berkirim email dan pesan instan. Akan tetapi jelas iPhone tidak dapat diabaikan. Perangkat ini begitu inovatif dan seolah menunjukkan kepada dunia sebuah ‘cara baru’ dalam berkomunikasi. Penggunaan touchscreen pada sebuah perangkat komunikasi juga mungkin bukan yang pertama, tapi Steve Jobs menunjukkan sebuah cara yang mudah, yang terlihat begitu sederhana sehingga seseorang yang gaptek pun dapat dengan mudah melakukannya.

Rilis iPhone menjadikan  Chris DeSalvo, teknisi Google yang menyaksikan langsung acara itu terpana. Google tengah menyiapkan sebuah revolusi di dunia mobile dengan proyek yang mereka sebut Android. Dia langsung menelepon Andy Rubin yang saat itu menjabat direktur tim Android untuk meminta pendapatnya tentang iPhone. Rubin saat itu sedang berada di Vegas, 600 mil dari lokasi peluncuran iPhone. Tapi nyatanya dia juga menyaksikan presentasi Jobs tersebut dari layar televisi. Dengan suara serak, dia berkata pada DeSalvo, “Chris, kita harus merombak total dan memulai ulang proyek kita.”

Memulai dengan tertatih-tatih, Google dan tim Android berupaya keras untuk mencapai apa yang sudah ditunjukkan oleh iPhone. Sebuah perangkat seluler yang mampu melakukan banyak fungsi. Selain sebuah telepon juga berfungsi sebagai komunikator internet dan konsumsi media. Sementara itu Microsoft… Oke, kurang relevan menyebut Microsoft di sini karena Steve Ballmer yang saat itu menonton presentasi Jobs justru menertawakan produk baru Apple tersebut. Microsoft sedang terlena oleh Windows Mobile yang mendapat posisi bagus di pasar, memang kecil jika dibandingkan dengan Nokia, namun cukup sebanding dengan BlackBerry yang berorientasi bisnis. “iPhone tidak mungkin akan mendapatkan pangsa pasar yang signifikan. Ini adalah barang seharga USD 500 dengan subsidi” Ballmer tertawa, “… Membayar USD 500 untuk sebuah logo? Menurut saya itu usulan yang sangat menantang bagi kebanyakan orang.”

via iOS Guide

Apple tidak berhenti sampai di situ saja. Pada tanggal 3 April 2010, Apple mengumumkan sebuah perangkat baru yang memudahkan orang mengonsumsi konten digital seperti ebook, video, dan artikel internet – yaitu iPad. Meskipun dikritik sebagai ‘iPhone dengan ukuran lebih besar’, iPad terbukti mendapatkan pasar baru yang signifikan. Di tahun yang sama, Android mulai merangkak dan mendapatkan pasar yang signifikan. Strategi menggratiskan Android OS sehingga mendapat dukungan banyak OEM, berbuah menjamurnya perangkat dengan fungsi telepon seluler dan komunikator internet (oya, tentu saja dengan layar sentuh) dengan harga terjangkau di masyarakat. Perlahan tapi pasti, keberadaan perangkat-perangkat ini mengubah gaya konsumsi masyarakat. Kalau dulu masyarakat mengonsumsi konten internet melalui PC dan laptop, kini ada solusi yang lebih praktis, yaitu menggunakan perangkat seluler!

Saat diminta komentarnya tentang Android, Steve Jobs langsung menggebrak meja dengan mata melotot, “Aku akan menghabiskan napas terakhirku, jika perlu, dan aku akan menghabiskan setiap sen dari 40 miliar dolar harta Apple di bank, untuk membetulkan hal yang salah ini! Aku akan menghancurkan Android, karena Android adalah produk curian! Aku bersedia memulai perang nuklir untuk hal ini!”

 

Benarkah Kita Masuk Era Pasca-PC?

via NBC News

Setahun setelah Steve Jobs meninggal karena kanker pankreas, Tim Cook kembali menggaungkan masalah post-pc era ini dalam rilisan iPad tahun 2012. “Momentum di balik iPad sangat luar biasa dan mengejutkan semua orang,” ujar Tim Cook, lalu dia menambahkan, “penjualan kami melebihi prediksi terliar sekali pun.”

Cook menjabarkan bahwa Apple berhasil menjual 172 juta perangkat “pasca-PC” di tahun lalu, gabungan antara iPod, iPhone, dan iPad. Cook menyatakan bahwa dalam triwulan terakhir 2011, 85 persen pendapatan Apple datang dari perangkat itu.

Seakan belum lelah dengan jargon tersebut, Tim Cook mengulang glorifikasinya terhadap ‘era pasca-PC’ ini saat pengumuman iPad Pro pada tahun 2015. “Mengapa Anda harus membeli PC lagi?”

Jelas sekali Apple sangat bersemangat dalam hal ini. Tujuannya jelas: Mereka ingin sekali agar perangkat mereka disebut sebagai ‘pengganti PC’. Tim Cook di berbagai kesempatan (dan iklan Apple) terus berupaya mengemukakan bahwa PC sudah tidak lagi relevan karena perangkat (milik Apple) dapat melakukan semua yang dilakukan sebuah PC.

Fokus marketing ini menjadikan Apple sendiri terkesan kebingungan dalam menempatkan Macbook yang sebenarnya merupakan produk inti Apple. Mungkin Apple bisa membodohi beberapa orang dengan mengumumkan bahwa “Mac bukan PC”, tapi tentu saja di kalangan terpelajar, ungkapan tersebut sangat konyol dan akhirnya berbenturan dengan promo ‘perangkat pasca-PC’ milik Apple sendiri. “Saya mencintai Mac” ujar Tim Cook sambil tersenyum malu-malu saat perilisan Macbook 2016 – Kali ini tanpa menyinggung soal ‘Post-PC Era’.

Michael Dell, pemilik Dell Company, saat ditanya tentang ‘Post-PC era’ tersenyum kalem sambil menjawab, “Post-PC era ini luar biasa untuk PC. Saat post-PC era dimulai, hanya 180 juta dari PC saya yang terjual dalam setahun, dan sekarang, lebih dari 300 juta, jadi saya sangat cinta post-PC era ini,”

 

Era yang Ternyata Tak Kunjung Tiba

via Emaze

Michael Dell mungkin setengah menyindir, namun poin yang dia tekankan (dan didukung statistik) sangat tepat. Di antara gembar-gembor ‘ponsel menggantikan PC’, ‘tablet adalah pengganti laptop’, penjualan laptop dan PC sebenarnya tidak lesu. Peningkatannya stabil meskipun pelan – Dan meskipun jika dibandingkan, tingkat penjualan ponsel mungkin sudah melebihi penjualan laptop dan PC di seluruh dunia, namun tetap saja angka penjualan PC tidak menurun signifikan!

via AWS Amazon
Infrastruktur Global industri gaming

Industri gaming PC masih merupakan daya tarik utama ‘rutin’-nya orang membeli PC. Bermain game di ponsel maupun iPad memang merupakan pengalaman baru, akan tetapi konsol dan PC game tetap memiliki massa tersendiri dan ada kecenderungan meningkat. Dalam laporannya, Intel bahkan memperkirakan hardware untuk gaming akan tumbuh sebesar 26% setiap tahun. Seorang peneliti meyakini bahwa hardware gaming PC akan segera mencapai keuntungan USD 30 miliar pada tahun 2018 mendatang.

Selain itu, tetap maraknya PC/laptop juga didukung oleh inovasi yang dilakukan oleh Microsoft. Ketika masyarakat sedang demam smartphone dan tablet, penjualan PC sempat mencatatkan penurunan sepanjang enam triwulan terus menerus menurut data dari Canalys, dalam masa itu, sebuah perangkat terus menanjak, hingga 13%! Yaitu perangkat yang disebut two-in-one atau hybrid. Tablet berbasis Windows yang dapat menjalankan fungsi PC penuh dengan tambahan keyboard cover, atau dengan keyboard yang dapat dilepaskan (detachable). Dengan segera OEM berpaling pada arus baru ini.

via CultofMac

Microsoft sebenarnya sudah memulai proyek ini sejak tahun 2000-an. Ini merupakan perangkat berbasis Windows XP yang disebut Tablet PC. Pada saat itu memang masih belum begitu laris karena keterbatasan kemampuan perangkat, apalagi budaya masyarakat saat itu masih belum berpaling ke arah perangkat unik tersebut. Pada tahun 2012, Microsoft mencoba kembali dengan lini Surface. Perangkat ini menggunakan chip hemat daya, layar sentuh yang cukup lebar – sebagaimana tren tablet yang dimulai oleh iPad.

Butuh beberapa tahun pengembangan bagi Microsoft memperoleh profit untuk kategori ini. Windows 8 sebenarnya dimaksudkan secara spesifik untuk perangkat ini. Namun penggunaannya begitu tak populer untuk PC dan laptop biasa, sehingga akhirnya Microsoft menemukan ‘jalan tengah’ dengan Windows 10. Baru ketika inilah perangkat hybrid berkembang pesat. OEM seperti Dell, HP, Lenovo, dan Acer mulai mereguk keuntungan besar dari penjualan perangkat setipe ini.

via Politico

Meskipun masih mendapatkan profit yang menggiurkan, namun terlihat bahwa sejak naiknya popularitas kategori hybrid, dasar-dasar pemasaran Apple mulai terguncang. Sejak 2013, penjualan iPad terus menurun, bahkan mencapai 16% dari tahun ke tahun. Seorang blogger teknologi, Sammy the Walrus, mengungkapkan analisisnya yang menarik:

Apple kini mengalami kesulitan dalam penjualan iPad. Mengapa Anda membeli iPad jika Anda dapat memiliki iPhone dengan layar yang selisihnya tidak terlalu besar dengan iPad mini? Mengapa harus membeli iPad jika bisa membeli Macbook Air yang lebih powerful? Ruang antara ponsel dan PC makin kecil dibandingkan tahun 2010 yang lalu, terutama saat ponsel semakin powerful dan besar – Sementara tablet semakin mengecil.

Analisis Sammy ini merujuk pada tindakan Apple yang ‘mengikuti tren’ phablet yang dipopulerkan Samsung. Ini adalah kata turunan dari Phone dan tablet – Yang menanjak popularitasnya ketika Samsung merilis Galaxy Note – Sebuah perangkat yang terlihat ‘raksasa’ pada masa itu (5,2 inchi) dibandingkan dengan ukuran iPhone yang hanya 3,5 inchi. Galaxy Note menjadi pemicu ‘membesar’-nya ukuran smartphone, sampai di titik pada tahun 2017 ini, orang terbiasa menggenggam perangkat seperti Galaxy S8 atau LG G6 yang berdiagonal 6″ namun dengan rasio bersahabat dan mudah dipegang tangan. Tren perangkat yang makin besar membuat Tim Cook seolah ‘menghianati’ perkataan Steve Jobs yang menyebut ukuran ideal sebuah smartphone adalah 3,5 inchi (produk paling sesuai dengan filosofi Jobs ini adalah Apple 4S yang sering diplesetkan sebagai Apple for Steve).

via Mobilesyrup

Pasca meninggalnya Steve, Apple memang kurang punya kekuatan untuk ‘memaksakan’ filosofinya – Salah satu hal mengagumkan yang dapat dilakukan Steve Jobs. Apple kini terlihat lebih kompromistis terhadap pasar (sebagaimana memang karakter Tim Cook yang gigih mempertahankan stabilitas) – dan terkesan mencari-cari alasan untuk setiap produk baru yang dirilis. ‘Courage‘ (keberanian) yang disebut Tim Cook saat merilis iPhone 7 dalam menghapus headphone jack menunjukkan salah satu tindakan konyol Apple dalam ‘mencari alasan’ – Karena setahun sesudahnya Apple melupakan kata ‘courage‘ tersebut dengan merilis Macbook 2016 yang masih menggunakan headphone jack (dan lucunya harus menggunakan dongle agar bisa terhubung dengan iPhone). Langkah Apple kini sangat bisa ditebak dengan melihat tren pemasaran – Jika kamu melihat hal yang kemungkinan bakal laris di pasaran, itulah ceruk yang kemungkinan diincar Apple!

Apple memang masih digdaya dalam hal pendapatan dan nilai. Perusahaan ini masih menikmati status sebagai unit usaha paling berharga di dunia saat ini. Namun jelas bahwa inovasi – bukanlah kata yang dicari di Apple. Microsoft yang pada tahun 2017 dinahkodai oleh Satya Nadella banyak melakukan berbagai langkah berani, sekaligus mencengkeram erat basis kekuatan mereka di corporate consumer. Sementara Apple masih rajin menggaungkan istilah post PC-era setiap kali merilis iPad dan iPhone, Tom Warren, jurnalis senior The Verge memprotes: “Tidak ada Era Pasca-PC! Mungkin ini waktunya kita berhenti mengatakan bahwa kita ada di era Pasca-PC. PC masih ada di sana dan masih belum akan ke mana-mana dalam waktu dekat ini! Lagipula, smartphone, PC, dan tablet – Semuanya adalah personal computer (PC)”

Hal yang menarik untuk disaksikan juga tren pendekatan yang unik dari dua raksasa hardware tersebut. Apple (dengan tetap mempertahankan istilah post PC era), kelihatan berupaya menjadikan iOS di iPhone dan iPad mendekati kemampuan desktop (Macbook) – Sementara Microsoft lebih berupaya membawa desktop PC ke ranah mobile dengan inovasi hybrid-nya, dan konon setelah ini menyiapkan perangkat smartphone yang dapat melakukan pekerjaan PC secara penuh!

Mana yang akan lebih diterima masyarakat pengguna teknologi? Ini menarik untuk kita saksikan!

 

Referensi

Arthur, Charles. 2012. History of Smartphone Timeline. The Guardian.

Bajarin, Tim. 2014. Why Steve Jobs Went ‘Thermonuclear’ on Android, PCMag.

Boxer, Benjy. 2017. PC Gaming, A $ 32 billion Industry, Is Going to Change Dramatically Due To New Cloud Technology. Forbes.

Curtis, Sophie. 2015. Michael Dell: The Post-PC Era has been great for PC. The Telegraph

Gibbs, Samuel, 2016. Your Next Computer Should be Laptop Tablet Hybrid – Really. The Guardian.

Hilner, Jason, 2010. Steve Jobs Proclaims the Post-PC Era has Arrived. Tech Republic

Vogelstein, Fred. 2013. The Day Google Had to ‘Start Over’ Android.

Warren, Tom. 2015. There’s no such thing as Post-PC. The Verge.

 

  Video: Review DJI Osmo Mobile Indonesia  

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta