Dampak AI, Harga Laptop Bisa Naik Hingga 40%

Pasar laptop kabarnya akan menghadapi kenaikan harga yang cukup signifikan dalam waktu dekat, di mana menurut analisis TrendForce, harga laptop mainstream berpotensi meningkat hingga 40% akibat tekanan pada rantai pasokan komponen, terutama memori dan prosesor.

Nah fenomena ini tampaknya merupakan dampak lanjutan dari ledakan industri AI yang saat ini menyerap sebagian besar kapasitas produksi chip di seluruh dunia.

Dan dikarenakan situasi pasar hardware kini berubah cukup drastis, jika tren kenaikan harga komponen terus berlanjut, laptop mainstream dengan harga sekitar $900 bisa mengalami kenaikan sekitar 30% hingga 40% dalam waktu dekat. Hal ini tentu terjadi karena meningkatnya biaya produksi yang harus ditanggung oleh produsen.

Nah salah satu penyebab utama kenaikan harga adalah lonjakan biaya memori, termasuk DRAM dan SSD karena sebelum booming AI, komponen memori hanya menyumbang sekitar 15% dari total biaya produksi laptop atau Bill of Materials / BOM, namun seperti yang kita tahu, dalam satu tahun terakhir, angka tersebut diperkirakan melonjak menjadi lebih dari 30%.

TONTON JUGA:

Baca Juga : Harga RAM Melonjak Tajam, DDR5 Naik Hingga 440 Persen Sejak Juli 2025

Bahkan berdasarkan laporan dari Toms Hardware, perusahaan seperti HP menyebut bahwa RAM kini bisa mencapai sekitar 35% dari total biaya produksi sebuah PC baru dan jika produsen ingin mempertahankan margin keuntungan mereka, jelas kenaikan biaya ini hampir pasti akan diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga jual yang lebih tinggi.

Harga CPU Juga Akan Ikut Naik

Nah masalahnya tidak berhenti disana guys, karena berdasarkan laporan dari TrendForce, harga prosesor juga tampaknya mulai mengalami kenaikan.

Beberapa CPU entry-level yang diproduksi oleh Intel disebut telah mengalami kenaikan harga lebih dari 15%, selain itu, harga prosesor kelas menengah hingga high-end juga diperkirakan akan meningkat pada kuartal kedua tahun ini.

Penyebab utama tekanan ini jelas tentu adalah perubahan fokus industri semikonduktor yang kini semakin berpusat pada AI dan Data Center berskala besar, sementara itu konsumen biasa akan jadi korban terbesar karena kapasitas produksi chip di berbagai pabrik semikonduktor lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan AI tersebut.

Namun hingga saat ini masih belum jelas apakah lonjakan harga ini hanya bersifat sementara atau akan menjadi tren jangka panjang, jika chip untuk AI terus meningkat, kemungkinan tekanan pada industri juga akan terus berlanjut.

Nah mari kita lihat nanti, untuk sementara jika tidak benar benar dibutuhkan, mungkin kita harus bertahan dengan spesifikasi yang ada dan menunda upgrade untuk menghemat biaya.

Tapi bagaimana menurutmu? komen dibawah guys.

Via : TrendForce


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya bergantung pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berkualitas secara gratis — jadi jika kamu menikmati artikel dan panduan di situs ini, mohon whitelist halaman ini di AdBlock kamu sebagai bentuk dukungan agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui dukungan di Saweria. Terima kasih.

Gylang Satria

Tech writer yang sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux Ubuntu, dan Samsung S24. Punya pertanyaan atau butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

Post navigation