via Mashable

“Produk ini, sejujurnya dibuat untuk orang biasa. Ini tidak secara khusus ditujukan bagi pelaku bisnis. Kami sudah mengambil keputusan. Sayangnya, saya tidak membuat ‘pintu khusus’ di belakang. Anda tidak akan dapat mengganti hard drive, Anda tidak bisa mengganti baterai. Ini dirancang agar lancar digunakan orang biasa.” Demikian jelas Panos Panay saat wawancara mengenai Surface Pro 3. Secara mengejutkan, Panay membandingkan perangkat ini dengan sebuah Macbook Air, bukan iPad – yang mana merupakan produk yang sangat ingin disaingi Surface pada awalnya. Surface Pro 3 menandai sebuah era baru karena Microsoft mulai dengan benar menempatkan posisinya sebagai PC yang secara kasual bisa dimanfaatkan sebagai tablet, bukan sebaliknya seperti saat mengumumkan seri-seri Surface sebelumnya!

Mengejar Kesuksesan dengan Generasi Kedua

via ZDNet

Kegagalan Surface RT menyebabkan semangat dalam perusahaan turun. Mereka yang mengerjakan perangkat lunak dan perangkat keras untuk Surface merasa ikut bertanggungjawab atas tidak lakunya perangkat yang mereka jual. Namun Ballmer yang saat itu masih menjabat CEO menegaskan, “Kita telah melakukan apa yang harus kita lakukan, kita tidak bisa mundur – Belum bisa mundur tepatnya.”

Sekali lagi Panay diminta untuk mendesain perangkat penerus Surface RT. Tim bekerja keras dengan harapan yang tidak begitu tinggi: Mereka hanya ingin perangkat kali ini terjual lebih baik dari sebelumnya, karena itu menunjukkan kesuksesan mereka dalam mencipta. Pada akhir September 2013, Microsoft mengumumkan generasi kedua Surface Pro dan Surface RT. Agak berbeda dengan suasana perilisan sebelumnya, atmosfer perilisan perangkat generasi kedua ini lebih tenang. Tidak ada histeria atau semangat membara yang terlihat seperti rilis Surface original.

Seperti rilis Surface original, Panay melakukan persiapan yang sangat metodis. Dia menghitung jumlah langkahnya ke arah panggung, bagaimana dia harus mengangkat produk untuk dipresentasikan, dan sebagainya. Kali ini latihan yang dilakukannya cukup terbuka sehingga wartawan-wartawan mulai memperbincangkan hal ini. Jika sebelumnya Sinofsky adalah bintang acara, maka kali ini Panay seorang dirilah yang menentukan kesuksesan acara ini.

Kali ini, Panay memulai presentasi dengan rilis Surface Pro 2, bukan dengan Surface RT seperti sebelumnya. Ini memang disengaja karena Panay berpendapat hal yang menarik harus ditampilkan terlebih dahulu untuk menjadikan audiens bersemangat. Surface RT adalah perangkat yang flop, oleh karena itu jika mereka memulai dengan Surface RT, pasti banyak yang tidak akan tertarik untuk menyaksikan lanjutannya.

Panay memilih kata dengan cermat. Dia menekankan bahwa Surface Pro adalah perangkat yang terjual paling laris di kelasnya (dia tidak bohong karena perangkat pesaing Surface Pro hanya Surface RT). Panay kemudian menekankan perbaikan-perbaikan pada Surface Pro 2 dibandingkan dengan yang pertama. Perangkat ini sudah merombak kickstand pada Surface Pro original yang hanya memiliki dua ketinggian. Kini orang dapat menyesuaikan kickstand pada Surface Pro 2 lebih luwes dan lebih baik. Selain itu Panay menjelaskan betapa baterai pada Surface Pro 2 sudah dioptimalkan dengan lebih baik sehingga perangkat ini bisa bertahan dalam pemakaian lebih lama.

Sebuah presentasi yang meyakinkan. Audiens yang tenang cukup tergugah oleh perangkat ini, tapi memang kesannya tidak cukup. Ini bukan kelas presentasi ala Apple yang selalu menawarkan ‘keajaiban’. Para penggemar teknologi sama-sama paham bahwa perangkat ini adalah ‘perbaikan’ dari versi sebelumnya, bukan menawarkan sesuatu yang revolusioner.

Namun ada yang unik dari Surface Pro 2. Panay nampaknya mengharapkan Surface memiliki energi yang sama dengan iPad. Ketika iPad diperkenalkan, Steve Jobs sudah menunjukkan manfaat perangkat ini bagi komunitas niche atau khusus. iPad diharapkan bisa mendukung kinerja musisi atau fotografer. Musisi bisa mengolah musik atau menggantikan buku not balok dengan iPad, sementara fotografer bisa memeriksa foto-foto yang dia ambil dengan memanfaatkan tablet ini. Dengan semangat seperti itu, Panay menjalin kerja sama dengan manufaktur Touch Cover untuk membuat Music Kit. Ini adalah sebuah touch cover khusus yang membantu musisi untuk mengolah audio di Surface Pro 2.

Sayangnya, proyek ini gagal. Music Kit tidak pernah dirilis meskipun Panay mempresentasikannya. Namun satu aksesori lain berhasil menarik perhatian pengguna. Aksesori tersebut adalah Surface Dock.

Keberadaan Surface Dock ini memberikan ‘bentuk ketiga’ bagi Surface. Jika sebelumnya Surface hanya dijanjikan bisa berfungsi sebagai tablet dan laptop, maka dengan menambahkan dock, Surface Pro 2 sepadan dengan sebuah desktop. Dock memberikan port tambahan dan memungkinkan pengguna untuk memasang Surface seperti layaknya sebuah komputer desktop. Internal Surface memberikan tenaga yang cukup sehingga pengguna bisa melakukan pekerjaan yang lebih berat dengan bantuan Surface Dock ini.

Sambutan terhadap Surface Pro 2 memang tidak begitu menggembirakan. Namun Panay dan tim sudah mulai terbiasa, dan sadar bahwa mereka cukup ‘merelakan’ saja dan langsung berfokus untuk mengkreasikan perangkat generasi selanjutnya.

Surface Pro 3 Muncul ke Permukaan

via Techradar

Setelah rilis Surface 2 dan Surface Pro 2, tim diberikan satu tujuan. Mereka harus menciptakan produk yang akan dicintai dunia. Surface Pro 2 dan Surface 2 sudah memberikan sedikit arah menuju ke sana. Mungkin sambutan yang diterima tidak fenomenal, namun tim mulai memiliki keyakinan.

Pada saat menjelang rilis Surface Pro 3 ini, banyak hal terjadi di Microsoft. Steve Ballmer mengumumkan bahwa dia akan mengundurkan diri sebagai CEO. Keseluruhan perusahaan juga sudah menerima bahwa Windows 8 merupakan produk yang flop. Surface generasi berikutnya ini diharapkan untuk menyelamatkan Microsoft secara keseluruhan dari kekacauan yang ditimbulkan oleh Windows 8.

Untungnya Panay menyadari beberapa hal kunci yang mengubah arah Surface secara keseluruhan. Jika pada produk sebelumnya, Microsoft menempatkan Surface sebagai sebuah ‘tablet’ dengan kekuatan PC, maka kali ini Panay menegaskan bahwa Surface Pro 3 harus diposisikan sebagai perangkat yang mendukung produktivitas. Sedikit pergeseran perspektif ini akan mengubah arah Surface selamanya.

Karena berfokus pada produktivitas, maka tidak seperti versi sebelumnya yang mana Surface diiklankan sebagai sebuah perangkat tren dan modis untuk konsumen (yang mana merupakan wilayah Apple – dan semua orang paham betapa luar biasanya Apple menguasai wilayah ini), maka kali ini Surface Pro 3 ditujukan untuk menunjang produktivitas. Panay sudah menerima kenyataan bahwa Surface mungkin bukan perangkat yang pas untuk menonton video secara kasual atau bermain game mobile, akan tetapi dengan Surface, pengguna bisa menyelesaikan pekerjaan apa pun. Baik pelajar atau kalangan profesional, bisa memanfaatkan perangkat ini untuk produktif!

Pemikiran ini juga yang melandasi perubahan rasio Surface. Jika pada Surface generasi pertama dan kedua, perangkat ini memiliki rasio 16:9 yang ideal untuk menonton film, maka Panay keluar dengan ide baru untuk mengubah rasio menjadi 3:2 yang lebih cocok untuk melakukan hal-hal produktif, ideal untuk bekerja!

Microsoft Office bersinar dengan rasio baru ini. Jika dengan penataan 16:9, maka pengguna hanya bisa melihat beberapa email, maka dengan rasio 3:2, lebih banyak email yang bisa dilihat dan ditangani. Perubahan rasio ini mungkin terdengar remeh, tapi ternyata sangat berpengaruh pada perubahan arah Surface.

Panay semakin bersemangat dengan ‘arah baru’ ini. Dia terus-menerus menggali banyak hal yang bisa mendukung cita-citanya untuk menjadikan Surface sebagai perangkat produktif. Sementara itu, terjadi perubahan besar juga di Microsoft. Pada tanggal 4 Februari 2014, Satya Nadella ditunjuk sebagai pimpinan baru perusahaan!

Presentasi Surface Pro 3

Pada tanggal 4 Mei 2014, Microsoft mengirimkan undangan kepada media mengenai pengumuman ‘generasi Surface selanjutnya’. Undangan tersebut sederhana dan terlihat merakyat. Mengajak untuk ‘bergabung dalam sebuah pertemuan kecil’.

Karena berbagai rumor sebelumnya, banyak media berspekulasi bahwa di pertemuan ini mereka akan melihat ‘Surface Mini’ yang digosipkan sebagai pengganti Windows Phone yang terlihat gagal. Meskipun pengumuman ini sederhana, banyak media yang tertarik karena ‘arah baru’ Microsoft yang diciptakan Satya Nadella. CEO baru ini terlihat sangat pragmatis dengan langkah-langkah yang tidak akan diambil selama Ballmer menjabat, misalnya, merilis Microsoft Office untuk iOS dan Android. Dengan adanya CEO baru, banyak yang menduga bahwa pengumuman Microsoft kali ini bakal seru, dan mereka tidak sepenuhnya salah.

Panay membuka acara dengan menarasikan sebuah argumen: Membeli tablet atau laptop seringkali merupakan kompromi, apakah perangkat ini nantinya akan digunakan untuk konsumsi, ataukah untuk bekerja? Panay menyatakan bahwa dia sering mendengar itu dari orang yang menuju ke Apple Store. Orang sering merasa bimbang, ingin beli tablet, atau laptop – karena mereka khawatir membeli tablet tidak akan bisa digunakan untuk bekerja. Inilah permasalahan yang ingin dipecahkan oleh Microsoft. “Inilah, tablet yang bisa menggantikan laptop Anda!” ujar Panay dengan percaya diri.

Panay kemudian membahas berbagai pengembangan yang sudah dilakukan untuk Surface Pro 3, termasuk perubahan rasio layar menjadi 3:2. “Saya tahu produktivitas bukan kata yang seksi, tapi inilah fokus baru perusahaan yang sangat penting: Kami mendukung dan memberdayakan produktivitas!”

Panay bahkan dengan berani membandingkan Surface Pro 3 dengan perangkat yang diklaim Apple sebagai komputer teringan untuk produktivitas: Macbook Air. Dengan timbangan di panggung, Panay membuktikan bahwa Surface Pro 3 lebih ringan, dan bakal bisa digunakan untuk lebih banyak pekerjaan.

Sebagai kejutan tambahan, Panay juga memperkenalkan Surface Pen, perangkat yang bisa digunakan untuk ‘mencorat-coret’ Surface dan tentu saja akan membantu pekerjaan para kreator yang sedang tidak berada di depan desktopnya. Audiens cukup terkejut oleh langkah ini. Memang ini bukan pertama kalinya sebuah laptop dilengkapi stylus untuk menulis atau menggambar. Tapi Microsoft kini telah memperbaiki software-software andalannya untuk berinteraksi dengan sangat baik dengan Surface Pen. Presentasi Surface Pro 3 secara keseluruhan berlangsung 30 menit, dan Surface Pro 3 adalah satu-satunya perangkat yang diperkenalkan (tidak seperti generasi sebelumnya yang selalu memperkenalkan Surface Pro bersama Surface RT). Para jurnalis merasa ini kurang! Semua tak sabar untuk merasakan sendiri Surface Pro 3 dan membahas setiap detail yang ada di perangkat ini!


Surface Pro 3 menjadi sensasi baru. Setelah dua generasi Surface yang mengecewakan, Microsoft pada akhirnya siap dengan perubahan arah baru besar-besaran di dunia komputasi! Ikuti di Kisah Silicon Valley selanjutnya!

Referensi

Sams, Brad. (2018). Beneath a Surface. Lean Publishing.

Bort, Julie. (2013). Microsoft Invented A Tablet A Decade Before Apple And Totally Blew It. Business Insider

Osborne, Joe. (2014). Microsoft: ‘Surface Pro 3 is made for people, not for businesses’. Tech Radar

Weinberger, Matt. (2016). How Microsoft built a computer so good, even Apple wanted to copy it. Business Insider.

  Secepat Apa Smartfren 5G..??  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.