via TheVerge

“Pengembangan produk seperti ini makan waktu bertahun-tahun,” Jelas Panay dalam sebuah wawancara dengan The Verge. “Surface Book hadir untuk menjawab banyak hal yang diinginkan orang-orang. Meskipun banyak yang menginginkan Surface Laptop, termasuk saya, Microsoft masih belum akan membuat ‘laptop biasa’. Kami masih ingin memamerkan keluwesan yang dimiliki perangkat Surface untuk menunjukkan kepada dunia hal optimal yang dapat kami lakukan, baik dengan Surface maupun Windows”

Alasan Panay ini nampaknya menjadi landasan Microsoft untuk tidak membuat produk laptop dulu (kita tahu nantinya Microsoft juga akan merilis Surface laptop). Apalagi tensi dengan para mitra produsen laptop Microsoft seperti Dell, Lenovo, HP, ASUS, dan lain-lain sedang tinggi karena tindakan Microsoft yang ikut terjun ke bidang penjualan hardware.

Semua marah pada Microsoft

JT Wang via WSJ

“Kami bukannya ingin bersaing dengan para mitra kami dalam kaitannya dengan hardware,” demikian ungkap Nadella di atas panggung saat peluncuran Surface Pro 3. Namun pada saat itu, dunia PC yang sudah begitu padat oleh persaingan antara Dell, HP, Lenovo, Asus, Acer, Razer, dan banyak lagi tidak berpendapat demikian. Mereka tersinggung oleh tindakan Microsoft. Terkadang itu diungkapkan secara terbuka, kadang ini hanya jadi bisik-bisik dalam lingkungan internal.

“Coba pikirkan,” ujar CEO Acer JT Wang pada bulan Agustus 2012 dalam wawancaranya dengan The Financial Times. “Ini akan menciptakan dampak negatif untuk ekosistem, dan merek lain jelas akan mendapatkan kesan negatif. Coba pikirkan!” Dalam wawancara itu, Wang menekankan betapa Microsoft masuk ke teritori Acer dalam berjualan hardware dan seolah mengatakan kepada manufaktur lain ‘kalian tidak begitu bagus dalam memproduksi hardware‘.

Meskipun demikian, ada juga yang cukup mendukung tindakan Microsoft ini. Senior Vice President Hewlett-Packard, John Solomon, saat diwawancara oleh CRN menyatakan, “Hubungan kami belum berubah sama sekali hanya karena pengumuman dari Microsoft. Saya bahkan memuji mereka – Sangat bagus karena mereka menunjukkan sebuah langkah ke depan dan menunjukkan kepada kami apa yang mungkin dilakukan.”

Meskipun demikian, di dalam tembok-tembok perusahaan, para mitra membicarakan ini dengan lebih kasar. Mereka juga mengkritisi bagaimana Microsoft dengan begitu mudahnya merilis perangkat yang belum teruji baik (Surface generasi pertama dan kedua), lalu menyebutnya sebagai arah masa depan. Ini menunjukkan ketidakmatangan Microsoft dalam mengembangkan hardware PC.

Namun sebenarnya para mitra produsen PC masih bersyukur, Microsoft hanya memutuskan untuk membangun PC premium. Di atas sana, masih ada banyak ruang tersisa untuk para pemain kelas premium. Persaingan yang keras sebenarnya adalah pada kelas low end dan mid-range yang disesaki para kompetitor seperti Lenovo, Acer, ASUS, dan HP. Di atas sana, Microsoft utamanya hanya bersaing dengan Apple, dan memang itulah tujuan Microsoft. Dell, HP, dan Lenovo yang juga memiliki pangsa pasar kelas premium, tinggal sedikit ‘menyesuaikan harga’ agar dapat bersaing dengan Surface. Para produsen juga dengan cepat bereksperimen untuk menyesuaikan diri dengan form factor baru yang disebut two-in-one ini. Mereka juga bersiap untuk meluncurkan produk-produk baru dengan memanfaatkan kapabilitas OS yang dikembangkan Microsoft. Misalnya, Lenovo dengan Lenovo Yoga yang sangat inovatif.

Meskipun para produsen PC mulai menyadari bagaimana lanskap PC baru bergerak nantinya, semua yang dilakukan Microsoft ini secara politis sangat sensitif. Ini mendorong timbulnya sesuatu yang baru di dunia PC: Menciptakan hardware yang tidak perlu melibatkan Microsoft.

Para produsen PC mulai memanfaatkan Chrome OS yang dikembangkan Google. Dengan menggempur pangsa low end, Microsoft menghadapi sebuah dampak yang tidak mereka perkirakan sebelumnya: Penjualan Chromebook meledak! Di AS, terutama di kalangan pelajar dan kelas pekerja, Chromebook menjadi alternatif terbaik untuk melakukan komputasi. Google menang besar di sini.

Surface Book, Inovasi lanjutan Microsoft

via Patently Mobile

Di luar kontroversi tersebut, Surface Pro 3 terjual dengan sangat baik. Inilah pertama kalinya orang-orang menerima ‘inovasi terbaru’ Microsoft tersebut dengan tangan terbuka. Review berbagai blog teknologi menyambutnya positif. Salah satu sisi buruknya hanyalah karena begitu presisi dan rapatnya desain Surface Pro 3, sekali memilih, tidak mungkin untuk melakukan upgrade. Penggantian baterai pun bahkan harus dilakukan oleh Microsoft sendiri. Namun di luar itu, Surface Pro 3 membuktikan diri sebagai perangkat komputasi yang andal dan dengan durabilitas yang sangat baik. Type Cover yang merupakan pelengkap Surface Pro 3 juga sering disanjung sebagai keyboard berkualitas tinggi, tidak kalah dengan produk laptop premium yang sudah terkenal sejak dahulu kala, Thinkpad. Dari segi fungsi, presentasi yang dilakukan oleh Panay, yang membandingkannya dengan Macbook Air, nampaknya beroleh legitimasi dari para pengguna. Surface Pro 3 diakui lebih baik dibandingkan Macbook Air, terutama dalam hal fungsi guna. Namun diam-diam, Panay menyimpan ambisi yang lebih tinggi. Dia ingin mengejar Macbook Pro!

Laptop premium Apple ini sudah menjadi tolok ukur industri laptop. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bagi profesional di bidang kreatif, pilihannya hampir pasti adalah Macbook Pro. Microsoft berusaha menghapus adagium yang sudah bertahan lebih dari satu dekade di dunia komputer ini dengan produk baru yang disiapkan Panos Panay: Surface Book!

Produk yang disiapkan Microsoft kali ini tidak dikembangkan secara rahasia. Panay dengan senang hati akan mengungkapkan perkembangan produksi Surface Book kepada media, dan Microsoft di bawah kepemimpinan Nadella sangat mendukungnya. Kesuksesan Surface Pro 3 menjadikan Microsoft lebih santai dan percaya diri.

Sebenarnya kategorisasi Surface Book lebih membingungkan dibandingkan Surface Pro. Jika pada produk Surface Pro, Microsoft mengembangkan tablet yang bisa menggantikan PC, maka pada Surface Book, Microsoft mengutamakan ‘bentuk laptop’ pada produk tersebut, dan sebagai ‘sampingan’-nya, produk ini akan bisa dimanfaatkan sebagai tablet. Apakah perbedaan sedikit pergeseran paradigma ini bisa terlihat jelas? Panay nampaknya ingin menjawab kritik yang sering dialamatkan pada produk Surface Pro. Orang-orang menyatakan bahwa produk ini memang enak difungsikan jika diletakkan di atas meja, namun benar-benar seperti neraka jika harus dijadikan ‘laptop yang benar’ – dalam artian digunakan untuk mengetik di atas pangkuan paha (ingat asal kata laptop, lap dan top yang berarti di atas pangkuan). Desain Surface Book dibuat dengan upaya untuk menjawab permasalahan ini.

Karena berfokus pada fungsi laptop, serta diarahkan untuk mengejar kemampuan Macbook Pro, tentu saja Panay mendesain perangkat ini dengan VGA kedua dan support untuk GPU eksternal yang dijalankan secara mulus dengan Windows. Ini mengharuskan penyesuaian desain yang sedikit rumit.

Di internal Microsoft, ada masalah lain. Setelah akuisisi aset Nokia oleh Ballmer, Microsoft menghadapi masalah berkurangnya market share Windows Phone dengan pesat. OS ini terlihat tidak mampu bersaing dengan iOS dan Android. Microsoft sendiri bahkan tidak yakin dengan masa depan OS mobile miliknya tersebut. Memanfaatkan momentum Surface Pro 3, jajaran petinggi Microsoft ingin agar Panay mengumumkan perangkat terbaru Lumia yang diharapkan dapat mengubah peruntungan OS mobile milik Microsoft tersebut. Akan tetapi dalam rapat yang membahas hal tersebut, Panay secara tegas menolak bahwa dia tidak ingin menjadi orang yang mengumumkan Lumia karena dia tidak ingin perangkat ini diasosiasikan dengan tim Surface yang tengah mereguk kesuksesan tersebut. Citra Surface akan jatuh jika sampai perangkat seluler Microsoft ini gagal, dan Panay jelas tidak yakin bahwa misi ini akan sukses. Setelah negosiasi yang alot, akhirnya Panay menyetujui bahwa Lumia 950 dan 950XL akan diumumkan bersamaan dengan Surface Book dan Surface Pro 4, sekedar untuk memberikannya sedikit traksi popularitas. Untuk hal ini, Panay tidak bisa menolak.

Menyelamatkan Windows

Bukan rahasia lagi jika Windows 8 gagal, dan Microsoft merilis Windows 8.1 untuk menyelamatkannya. Meskipun demikian, popularitas Windows 8.1 tergolong buruk untuk OS yang paling dominan di dunia ini. Para pengguna bersikap wait and see dengan tetap memeluk Windows 7. Terry Myerson, engineer yang bertanggung jawab memimpin pengembangan Windows kemudian hadir dengan sebuah ide brilian, yaitu kembali ke dasar. Kembali ke unsur-unsur yang dicintai pengguna dari sebuah Windows. Microsoft melangkah lebih jauh dari yang mereka cita-citakan, sebuah OS baru yang memiliki kompatibilitas terhadap semua perangkat produk Microsoft, Windows 10!

Microsoft mengembangkan Windows 10 dalam jangka waktu yang terbilang singkat, namun lebih hati-hati dibandingkan saat mengembangkan Windows 8 dulu. Dalam OS ini terdapat sebuah cita-cita yang besar. Sebuah source code inti yang nantinya menjadi DNA semua OS yang diperuntukkan bagi semua perangkat produk Microsoft, serta kompatibilitas yang menggiurkan baik bagi developer maupun pengguna. Microsoft menjanjikan bahwa developer tidak akan susah lagi melakukan porting jika membuat aplikasi untuk PC – aplikasi ini akan sekaligus diporting ke OS mobile milik Microsoft. Bagi pengguna, ini juga akan menghemat biaya karena jika mereka telah membeli versi PC aplikasi tersebut, maka mereka tidak perlu lagi membeli versi mobile-nya. Satya Nadella menyebut visi ini sebagai ‘One’ Windows!

Impian “tulis sekali, jalankan di mana saja” ini sebenarnya bukan hal baru. Sun Corporation pernah mempopulerkannya untuk teknologi Java. Developer yang sudah pernah mendengar hal ini langsung paham bahwa Microsoft telah menyempurnakan visi ini, dan ini merupakan petualangan yang seru.

Dengan dikepalai oleh Gabe Aul dan Bill Karagounis, program Windows Insider mulai mengirimkan versi pre-release Windows 10 kepada siapa saja yang tertarik ingin menyaksikan visi Microsoft tersebut. Setahun setelah meluncurkan program Insider, lebih dari 7 juta orang telah mendaftar untuk menguji Windows 10! Sebuah angka yang sangat memuaskan.

Pada 6 Oktober 2015, Microsoft memberikan bukti atas apa yang dijanjikannya dalam serangkaian wawancara dalam sebuah event bertajuk Microsoft Windows 10 Event. Windows 10 memang sudah mulai dirilis sejak 29 Juli 2015, namun Microsoft belum merilis perangkat yang mewakili kekuatan Windows 10. Di acara inilah kemudian mereka memukau mata dunia. Event yang diramaikan tagar #Windows10devices tersebut memamerkan serangkaian perangkat baru: HoloLens, Surface Pro 4, Surface Book, dan dua smartphone baru Microsoft pasca akuisisi divisi ponsel Lumia, yaitu Lumia 950 dan Lumia 950XL! Acara ini sukses besar dan kelak tercatat sebagai acara pengenalan perangkat terbaik yang pernah dilakukan Microsoft.

Seluruh blog teknologi mengulas acara ini dengan sangat positif. Banyak yang menilai bahwa Microsoft telah kembali pada singgasananya sebagai perusahaan teknologi yang inovatif dan tak takut mengambil risiko. Dunia berdecak kagum menyaksikan Surface Book yang dapat dengan mulus berubah menjadi tablet saat dilepaskan dari keyboardnya, banyak yang terheran-heran menyaksikan pencapaian HoloLens yang terasa seperti teknologi Alien, menampilkan hologram yang bercampur dengan dunia nyata menggunakan komputer mini yang terpasang seperti sebuah helm di kepala. Para penggemar ponsel juga heboh menyaksikan ada smartphone yang dapat berfungsi sebagai PC!

Windows 10 Mobile, menjadi evolusi nama baru dari Windows Phone. Microsoft memutuskan untuk mengembalikan nama Windows Mobile dengan menambahkan elemen Windows 10 ke dalamnya. Microsoft ingin agar penggunanya memiliki identifikasi yang sama dengan Windows 10, sebuah pesan tersirat bahwa Windows 10 Mobile dan Windows 10 menjalankan inti OS yang sama! Dari hasil review beberapa blogger dan pengamat tekno, memang OS yang dijalankan di ponsel kali ini sangat konsisten dengan tampilan Windows 10 di PC. Dari perspektif estetika, untuk pertama kalinya inilah sebuah smartphone memiliki UI yang begitu selaras dengan OS pada PC. Hal yang tidak dapat dicapai oleh Apple dengan iOS dan MacOS ataupun Google yang menguasai hampir 90% pangsa pasar smartphone sekalipun!

Belum turun rasa penasaran terhadap ponsel baru tersebut, Juha Arkalahu, Director camera for phone Nokia (yang kini juga berstatus sebagai karyawan Microsoft) kembali memanaskan suasana dengan memposting ‘hal-hal ajaib yang dapat dilakukan kamera Lumia 950’ di Blog milik Microsoft. Di dunia kamera ponsel, Nokia memiliki tempat yang spesial. Teknologi mereka yang inovatif selalu dinantikan oleh orang-orang di seluruh dunia, dan memang Nokia selalu mampu memenuhi harapan tersebut. Tak terkecuali pada Lumia 950! Smartphone pertama Microsoft setelah akuisisi divisi ponsel Nokia tersebut memiliki beberapa kelebihan yang menakjubkan seperti hasil warna yang alamiah dan detail yang sangat jernih, peningkatan PureView dalam mengambil gambar di situasi minim cahaya, dan juga lampu flash inovatif yang memungkinkan pengguna mengambil gambar yang terang, tapi tidak terlalu terpapar cahaya putih flash. Ini dimungkinkan karena flash milik Lumia 950 (dan 950XL) memiliki tiga warna yang dapat digabungkan untuk memperoleh hasil terbaik!

via TheVerge

Mengulangi kesuksesan Surface Pro 3, Panos Panay sekali lagi menantang Apple dengan membandingkan Surface Book dan Macbook Pro dalam satu lini. “Ini bukan tentang mengejar siapa pun, dan tidak harus demikian,” ujar Panay mengelak ketika ditanya mengenai perbandingan tersebut. “Ini adalah masalah framing. Kita harus meletakkan produk tersebut pada sisi produk lain yang sebanding dan menunjukkannya lebih baik.” Jelas sekali bahwa Microsoft ingin bertanding satu lawan satu dengan perangkat premium Apple tersebut. Perbandingan yang sebenarnya relevan karena produk premium Apple ini bagaimana pun juga menggiurkan bagi produsen PC mana pun. Meskipun terjualnya perbandingan Macbook vs PC adalah satu perangkat Macbook terjual di setiap 100 laptop di pasaran, namun Apple tercatat mencetak keuntungan tertinggi dibandingkan produsen PC dan laptop mana pun. Ini berkat strategi pemosisian dan penyematan harga premium Apple yang sangat sukses.


Edisi Kisah Silicon Valley selanjutnya akan mengungkap kesuksesan Surface Book (meskipun ada banyak kritik terhadap perangkat ini) yang menjadikan Microsoft makin percaya diri untuk menghadirkan perangkat Surface selanjutnya: Surface Studio!

Referensi

Sams, Brad. (2018). Beneath a Surface. Lean Publishing.

Bort, Julie. (2013). Microsoft Invented A Tablet A Decade Before Apple And Totally Blew It. Business Insider

Osborne, Joe. (2014). Microsoft: ‘Surface Pro 3 is made for people, not for businesses’. Tech Radar

Weinberger, Matt. (2016). How Microsoft built a computer so good, even Apple wanted to copy it. Business Insider.

  Selamat Jalan Android Q  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.