Home Editorial Kisah Silicon Valley #13 – CEO Termuda di Daftar Fortune 500

Kisah Silicon Valley #13 – CEO Termuda di Daftar Fortune 500

via Billionaire Bio

Mengikuti ayahnya yang seorang orthodontist, Michael masuk ke jurusan kedokteran di University of Texas di Austin – Tetap di kampung halamannya. Dell muda nampaknya tetap tidak ingin jauh dari kedua orangtuanya yang memang sangat mendukungnya dalam berbagai keputusan dan tindakannya dalam hidup. Namun ucapan dari temannya pada saat SMA, yaitu bahwa dia berbakat dalam merakit komputer, tidak pernah hilang dari benaknya. Michael terus menerus berpikir bagaimana caranya untuk menyalurkan hobi tersebut tanpa mengganggu pendidikannya – Karena sebagaimana keyakinan orangtuanya, dia juga yakin bahwa pendidikan adalah hal yang paling penting untuk masa depan.

Hari itu, Michael sedang merenung di kamar asramanya saat terdengar ketukan di pintu. Saat membuka pintu, dia melihat seorang mahasiswa baru yang tidak ia kenal, “Aku dengar kau bisa merakitkan PC dengan baik. Bisakah kau membantuku?”

Senyum merekah di bibir Michael, “Tentu saja. Masuklah. Mari kita bicarakan lebih lanjut..”

 

Si Penjual PC Kamar Asrama

via Business Insider

Reputasi Michael sebagai perakit PC dengan cepat meroket. Di era 1980-an, sebagian besar Universitas dipenuhi oleh mahasiswa generasi bunga – sebutan untuk kelompok pemimpi yang mendambakan kedamaian dunia, hobi berdemo, mengusung gaya hidup ala hippie, dan tentu saja banyak merokok mariyuana (Steve Jobs juga masuk ke golongan ini) – Teknologi adalah hal banyak menarik minat mereka. Pada saat itu, PC ‘jadi’ yang populer adalah dari IBM dan Apple, namun harganya selangit. Oleh karena itu banyak mahasiswa yang bereksperimen dengan membeli komponen komputer, lalu merakitnya. Keberadaan Michael dengan cepat menarik perhatian karena itu berarti mereka bisa meminta bantuan Michael untuk membuat PC rakitan sesuai keinginan mereka – Tentu saja dengan dana yang bisa disesuaikan.

Michael bekerja seperti kesetanan. Permintaan begitu tinggi hingga dia terpaksa meminta bantuan teman-teman asramanya untuk merakit komputer – Tentu saja dengan upah yang menarik. Kelompok kecil ini bekerja dengan antusias, siang dan malam untuk memenuhi permintaan pelanggan. Namun di antara hari-hari yang melelahkan itu, mata mereka berbinar menyaksikan bahwa dalam satu bulan saja, keuntungan mereka dalam ‘bisnis’ ini ternyata mencapai USD 180.000!

Angka itu sangat fantastis bagi kelompok mahasiswa penuh semangat ini. Namun seperti biasa, Michael mengincar tujuan yang lebih besar lagi. Berbekal pengetahuannya masalah pengelolaan keuangan, Dell menyadari bahwa mereka bisa tumbuh lebih besar lagi. Michael pun mengajukan akta pendirian perusahaan kepada pemerintah lokal. Dengan ‘hanya’ bermodalkan USD 1000 untuk mengurus pendirian perusahaan, berdirilah PC’s Limited!

Sementara kelompok asrama Michael masih melayani permintaan perakitan PC yang tetap membludak (Michael kemudian menyewa sebuah kondominium untuk mengakomodasi para ‘karyawan’-nya bekerja), Michael wira-wiri mengajukan proposal tender kepada pemerintah dan perusahaan. Pengalamannya merakit komputer untuk pelanggan sekitar menjadikannya percaya diri dan memiliki sesuatu untuk ditawarkan. Pada zaman itu, prosedur sebuah PC untuk sampai ke tangan konsumen sangat panjang. Perusahaan besar akan melakukan penjualan dengan melibatkan wholesaler dan retailer. Ini sistem yang sangat umum dalam sebuah rantai produksi. Namun terlalu banyak middle men alias orang yang bermain di tengah rantai produksi PC ini sampai akhirnya ke tangan konsumen. Ini menyebabkan harga PC meroket jika dibandingkan dengan harga dasarnya. Michael yang menyadari hal ini mendapatkan ide untuk memangkas hal tersebut. Jika dia membeli PC berupa komponen, maka harganya akan jauh lebih murah dibanding assembly dari perusahaan. Sementara itu, dari fase perakitan, dia bergerak langsung ke fase penjualan. Di sini banyak sekali rantai yang bisa dipotong.

Berbekal ide tersebut, Michael dapat mengajukan tender dengan harga yang luar biasa murahnya, dengan tetap menjamin kualitas pengadaan PC tersebut. Tak diduga, anak bau kencur itu justru mendapatkan kepercayaan untuk melakukan pengadaan komputer bagi Pemerintah Kota Austin, Texas. Dell pun dengan berbinar menyambutnya! Pada akhir tahun pertamanya berdiri, menjelang tahun 1985, PC’s Limited berhasil meraih keuntungan penjualan sebesar USD 6 juta!

Apa yang membedakan Michael dari para pesaingnya? Anak asli Texas ini ternyata tetap setia pada inti bisnisnya, yaitu build-to-order. Intinya, PC’s Limited menerima pesanan, lalu mengantarkan sebuah PC jadi ke tangan pelanggan. Pada praktiknya, perusahaan membeli komponen PC, merakitnya, melakukan pengujian, lalu mengirimkan ke pelanggan. Waktu yang diperlukan sejak pelanggan mengajukan pemesanan hanya 5-7 hari. Pada saat itu belum ada yang memikirkan strategi ini. Bisnis PC sedang naik daun, semua orang berebut menjadi ‘makelar’ atau ‘salesman’ – Terlalu banyak orang yang menjadi perantara inilah yang menjadikan harga sebuah PC mahal saat sampai ke tangan konsumen, sementara Dell dengan berani meniadakan peran orang-orang di tengah ini.

Kecepatan sirkulasi komponen, mulai dari mentah hingga menjadi produk jadi, juga merupakan salah satu keunggulan perusahaan rintisan Dell ini. “Dalam bisnis ini, yang penting bukan inventaris (barang) yang Anda miliki, karena ini akan menjadi usang dengan cepat. Dengan model bisnis kami, maka kami memulai dengan pelanggan yang memesan, sedang kami langsung mengambil komponen yang dibutuhkan ke perusahaan pembuatnya. Hasilnya, adalah kemampuan kami untuk memberikan komputer desktop dalam 3 hari yang mana merupakan hal yang benar-benar diinginkan pelanggan. Inilah nilai lebih kami!”

Kehebatan Michael yang lain adalah memotivasi timnya untuk bekerjasama dengan baik. Seperti yang pernah diucapkannya, “Semua strategi ini membantu meningkatkan kerjasama tim dan akuntabilitas individu, keduanya adalah kunci untuk memelihara semangat kewirausahaan. Kami di sini lebih suka menganggap bahwa kami adalah sekelompok wirausahawan, yang bekerjasama sebagai sebuah tim.”

Dell Computer Corp

via Business Insider

Kesuksesan PC’s Limited tentu saja berefek terhadap kehidupan pendidikan Michael. Minatnya untuk melanjutkan pendidikan di jurusan kedokteran semakin menurun, sementara itu ambisinya untuk membesarkan perusahaan tersebut semakin membara. Dell tidak melanjutkan kuliahnya dan berfokus pada perusahaan bentukannya. Seperti biasa, kedua orangtuanya mendukung penuh keputusan putranya tersebut.

Pada tahun 1987, PC’s Limited mengubah namanya menjadi Dell Computer Corp. Penawaran saham publik (IPO) dilakukan pada tahun 1988 dan mengumpulkan dana sebesar USD 30 juta. Dell sendiri mendapatkan keuntungan sebesar USD 18 juta dari hal tersebut. Saat itu karyawan Michael berjumlah 650 orang, sebagian besar adalah anak muda (serta teman-temannya dari asrama) namun profit mereka bahkan melebihi Apple yang sedang dalam fase menurun.

Reputasi Dell Computer semakin menanjak sebagai perusahaan yang mampu menjual PC dengan harga murah, namun kualitas andal!

Pada tahun 1992, Michael Dell berusia 27 tahun. Perusahaannya: Dell Computer Corp, masuk ke daftar Fortune 500 – sebuah daftar prestisius yang berisi perusahaan-perusahaan dengan keuntungan dan pertumbuhan terbaik. Michael adalah CEO termuda yang berada dalam daftar tersebut!

 

 

REFERENSI

Dell, Michael. 1999. Direct from Dell: Strategies that Revolutionized an Industry. Collins Business Essentials

Pearlson, Keri & Yeh, Raymond, 1999. Dell Computer Corporation: A Zero-Time Organization. University of Texas at Austin – Graduate School of Business

Kreamer, Kenneth L., Dedrick, Jason, & Yamashiro, Sandra. 2000. Refining and Extending the Business Model with Information Technology: Dell Computer Corporation. The Information Society, 16:5-21.

Tsotsis, Alexia. (2011). Michael Dell on His Infamous ‘I’d Shut Down Apple’ Quote: “My Answer was Largely Miscontrued. Tech Crunch.

  Buka Bungkus Kartu Perdana Jaman Old!  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta