Bill Hewlett & David Packard via booksnstars

Pada tahun baru 1939, David Packard dan William R. Hewlett menyatukan tekad untuk mendirikan sebuah startup IT di garasi rumah mereka yang terletak di Palo Alto. Mereka sepakat untuk menggunakan gabungan nama mereka sebagai nama perusahaan. Masalah yang timbul: Nama siapa yang bakal ditulis terlebih dahulu? David menghela napas memandang sahabatnya, “Ayo kita undi dengan koin. Siapa pun yang kalah, tidak boleh sakit hati dengan penulisan nama perusahaan.” Bill (panggilan akrab William R. Hewlett) mengangguk setuju dengan usul sahabatnya. David pun melempar koin ke udara, lalu menangkapnya dengan telapak tangannya. Kamu pasti bisa menebak siapa yang kalah dalam undian koin itu dengan melihat nama perusahaan mereka sekarang.

 

Melawan Depresi Ekonomi

Garasi tempat Hewlett dan Packard memulai startupnya via myHero

Ketika dua sahabat lulusan Stanford University tersebut memulai startupnya, Amerika sedang mengalami kemunduran ekonomi yang terkenal dengan sebutan The Great Depression. Namun justru adanya kesulitan ekonomi yang melanda negara tersebutlah yang menjadikan mereka berdua terinspirasi untuk mengembangkan sebuah startup. “Bill dan saya sudah sepakat, bahwa jika kami tidak bisa mendapatkan pekerjaan, maka kami harus memulai mendirikan perusahaan sendiri. Fred mendukung kami untuk melakukan itu.” Fred yang dimaksud oleh David adalah dosen mereka di program Radio Engineering Stanford University, tempat mereka berdua kuliah.

Produk pertama perusahaan mereka adalah sebuah perangkat indikator otomatis yang menentukan ‘foul’ pada permainan bowling. Produk ini bekerja dengan sangat baik. Bill dan David sangat menaruh harapan pada perangkat unik ini. Namun nyatanya, mereka gagal total. Tidak ada yang membeli perangkat itu sama sekali. Kedua sahabat ini pantang menyerah. Produk berikutnya dibuat berdasarkan tesis gelar master Bill, yaitu sebuah oscillator audio, yang kemudian diberi nama HP200A. Penamaan ini juga memiliki perhitungan tersendiri. Tadinya Bill ingin memberinya nama dengan angka satu digit, menandakan bahwa ini produk kedua mereka, namun David tidak setuju. Jika mereka memberinya nama HP2A seperti yang disarankan Bill, maka orang akan mengira mereka perusahaan yang baru berdiri dan tidak berpengalaman (meskipun memang demikian). Angka 200 tersebut memberi kesan bahwa produk mereka sudah cukup banyak. HP200A ini dirancang untuk menguji peralatan suara dan juga menyetel harmonika. Kemampuannya sebagai alat uji menarik minat Disney yang saat itu sedang mengerjakan film “Fantasia”. Disney membeli delapan perangkat tersebut.

 

HP200A – Oscillator audio produksi HP via HPMuseum

Terinspirasi oleh kesuksesan penjualannya ke Disney, Hewlett-Packard kemudian mencoba untuk menjual produknya melalui surat pesanan. Praktiknya, mereka mengirimkan surat penawaran ke perusahaan-perusahaan, sebagian besar juga ke laboratorium universitas untuk menawarkan produk-produknya. “Kami mendapati bahwa banyak orang memerlukan HP200A untuk menguji dan mengukur audio,” jelas Bill dalam sebuah wawancara dengan Electronic News.

Selama Perang Dunia II, Hewlett-Packard justru makin berkembang karena mereka menerima order dari militer AS. Banyak peralatan unik yang diminta oleh militer, sebagian besar dimanfaatkan untuk penunjang perang. Hewlett-Packard tidak sendirian. Pada masa itu, IBM juga ikut serta dalam Perang Dunia II sebagai penyedia peralatan komunikasi dan komputasi yang terbukti mampu mendukung AS memenangkan perang. Pada tahun 1943, penjualan perusahaan Hewlett-Packard mencapai USD 1 juta. Sebuah jumlah yang sangat besar pada masa itu. HP juga terkenal karena konsep kerjanya: The HP Way, ini merupakan seperangkat praktik dan kebijakan yang menawarkan keuntungan bagi para pekerja pada masa itu. HP merupakan sedikit di antara perusahaan yang pertama kali menawarkan asuransi medis, kompensasi saham, liburan, dan banyak fasilitas lain yang selama periode waktu itu belum banyak ditawarkan oleh pelaku bisnis.

Pasca Perang Dunia II, pesanan menurun drastis, namun kedua sahabat ini sudah cukup senang menyambut masa-masa damai (lagipula rekening mereka sudah penuh terisi keuntungan). Tak diduga, perkembangan elektronik segera mengisi kekosongan tersebut. Seiring dengan makin mapannya Amerika, HP kemudian memutuskan untuk Go Public pada tahun 1957. HP Way tetap menjadi landasan kebijakan mereka. Ini menjadi sebuah filosofi manajemen yang terkenal. Ekonom terkenal Peter Drucker, bahkan sampai melakukan penelitian dan wawancara khusus di perusahaan ini demi merumuskan manajemen ekonomi sebagai sebuah ilmu (pada saat itu ilmu manajemen belum dikenal. Drucker adalah orang angkatan pertama yang merumuskan konsep ini).

Banyak inovasi yang dilakukan oleh kedua sahabat ini dalam ‘memanusiakan’ karyawannya. Misalnya, HP menawarkan jam yang fleksibel untuk para pekerjanya. Ini membantu para ibu rumah tangga yang memiliki kewajiban untuk menyiapkan makan malam bagi keluarga. Mereka juga memperkenalkan profit-sharing bagi seluruh karyawan dan juga sistem kantor yang terbuka. HP menjadi contoh perusahaan di AS yang terdepan dalam hal manajemen.

Seiring dengan berkembangnya jumlah karyawan menjadi ribuan, untuk mempertahankan atmosfir ‘bisnis kecil’, HP memecah perusahaannya sesuai dengan tipe produk dan fungsi. Misalnya, penelitian dan pengembangan, dijadikan perusahaan tersendiri dengan target dan sistem yang berbeda dengan unit usaha HP lainnya, misalnya bagian penjualan dan pemasaran. Sistem ini terbukti menjadikan setiap divisi lebih luwes dalam melakukan inovasi dan justru malah saling bersinergi dalam meningkatkan profit perusahaan.

 

Terjun dalam Bisnis Komputer

via HPMuseum

Pada tahun 1957, seiring dengan mulainya HP Go Public di lantai saham, perusahaan ini melirik sasaran baru: Komputer! Jenis bisnis ini sedang berkembang dengan IBM yang aktif membuat chip processor sebagai ‘raja’-nya. Perpindahan ke bisnis komputer ini dikerjakan secara berhati-hati oleh Bill dan David. “Jika Anda ingin memiliki processor baru, maka Anda harus menyiapkan terminal dan disk yang beroperasi dengannya.” Jelas Bill pada harian Industry Week. HP juga tetap mementingkan otonomi antar divisi sebagaimana yang mereka canangkan sejak awal perusahaan ini berdiri. Contohnya, alih-alih meminta divisi produksi disk untuk membuat tipe disk tertentu, Bill dan David hanya akan memberikan gambaran umum tentang disk yang mereka inginkan, dan meminta divisi tersebut untuk membuat disk secara inovatif.

Untuk memfasilitasi bisnis komputer ini, HP mendirikan pusat penelitian dan pabrik di Jenewa, Swiss, juga di Boblingen, Jerman. Pada tahun 1966, HP Laboratory dikenal sebagai laboratorium dengan teknologi paling canggih di dunia. Produk komputer pertama HP yang dijual untuk umum juga diproduksi pada tahun ini!

Ketika krisis ekonomi kembali melanda Amerika pada tahun 1970-an, HP kembali menunjukkan inovasi manajemen yang menarik. Alih-alih mengurangi karyawan, Bill dan David meminta karyawannya untuk bersedia agar dipotong gajinya serta menambah jam kerja. Penghematan diperlukan demi mempertahankan perusahaan. Jika krisis ekonomi usai, Bill dan David berjanji untuk kembali menaikkan gaji para karyawannya. Kebijakan ini diterima nyaris tanpa resistensi. Semua orang menyimpan respek yang sangat dalam pada bossnya ini, dan mereka sadar bahwa hanya dengan menerima pemotongan gaji, maka tidak perlu ada karyawan yang dikorbankan dengan cara dipecat. Ketika perusahaan lain banyak ‘merumahkan’ karyawannya, HP mampu bertahan dan bahkan tetap menghasilkan keuntungan selama masa krisis.

HP-35 via HPMuseum

Pada dekade 70-an tersebut, HP dikenal dengan produknya, kalkulator genggam HP-35 dan mini komputer HP 3000. Dua produk ini mampu menjadi produk yang mempertahankan ‘nyawa’ perusahaan selama masa krisis.

HP 3000 via HPMuseum

Tahun 1977, HP mampu membukukan penjualan sebesar USD 1 miliar! Bill dan David menepati janji dengan mengembalikan gaji karyawan-karyawannya seperti semula meskipun krisis di AS belum berlalu. HP menjadi satu-satunya perusahaan yang seakan ‘kebal krisis’ pada masa tersebut!


Meskipun terjadi pergantian kepemimpinan, HP tetap mampu menunjukkan jatidiri sebagai salah satu perusahaan tersukses AS. Bagaimana dengan perjalanan Hewlett-Packard di era komputer 80-an dan modern yang penuh gejolak dengan hadirnya dua raksasa baru: Apple dan Microsoft? Simak kisah selanjutnya di Kisah Silicon Valley #63 – Upaya Menguasai Dunia Komputer Modern.

 

 

Referensi

Silicon Valley Historical Association, Hewlett-Packard, Silicon Valley Historical

Managers, Maverick. (2008). William Hewlett & David PackardEntrepreneur.

Michelle. David PackardMyHero.

  Stop Kontak Pintar, Sepintar Apa?  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.