via Stereo Museum

Pada awal pengembangan Compact Disc, Sony sempat mengundang semua perusahaan audio, termasuk praktisi rekaman musik. Tuan rumah acara tersebut adalah Sony dan Philips yang memang terlibat sejak awal terlibat dalam penelitian CD. Pada saat itu, format umum yang dipakai untuk merekam audio adalah LP (Vinyl). Hampir semua orang menolak keras upaya Sony saat itu. ”Kami sudah nyaman dengan LP dan ini menciptakan hasil yang berkualitas. Kenapa harus terus menerus berganti format?”

Ohga yang hadir bersama Akio Morita saat demonstrasi mati-matian meyakinkan audiens bahwa CD adalah format masa depan. ”CD akan menjadi medium generasi selanjutnya dalam industri ini. Mari kita bersatu mengembangkannya.” Namun banyak pelaku industri audio menyatakan tidak tertarik. Namun pada akhirnya Sony kembali terbukti benar dalam hal ini.

 

Mengubah Dunia Audio Lewat CD

Philips Sony Prototype via Stereo Museum

Pada tanggal 31 Agustus 1982, empat perusahaan besar: Sony, CBS/Sony, Philips, dan Polygram mengumumkan sesuatu yang mengubah sejarah. Keempat perusahaan besar ini bergabung untuk mengembangkan sistem Compact Disc yang pertama di dunia. Koran-koran Jepang, bahkan dunia, memberitakan ini sebagai “Hadirnya Era Digital”. CD yang berdiameter 12 cm ini sangat ringan dan kompak, menawarkan fungsi pilihan satu sentuhan, dan memanfaatkan media yang tahan kerusakan secara permanen. Ini merupakan impian para penggemar audio. Sistem CD ini merupakan angin segar setelah permasalahan pada pita kaset yang setelah beberapa waktu bisa rusak atau terbelit di dalam tape recorder.

100 tahun lalu, Edison menemukan phonograph, sebuah teknologi rekaman yang merevolusi dunia musik. Pemutar CD mendasarkan sistemnya pada cara kerja phonograph. Sistem silinder diubah menjadi sistem disc. Ini adalah sistem audio digital pertama di dunia.

Sony memproduksi pemutar CD yang disebut CDP-101. Kode 0101 merupakan numeral biner yang mengacu ke media digital. Bukan hanya pemutar CD, tentu saja Sony menjadi penjual CD pertama di dunia. Untuk awalnya, Sony merilis 50 CD untuk diputar. Salah satu lagu barat populer yang masuk pada daftar CD tersebut adalah 52nd Street dari Billy Joel. Meskipun harga pemutar CD-nya cukup mahal, yaitu 168.000 yen, namun dengan segera sistem baru ini menarik minat konsumen. Memang pada awalnya perangkat baru ini hanya mengakuisisi sekitar 5% penggemar audio. Namun pada akhir tahun, jumlah lagu yang sudah dikonversi menjadi CD telah mencapai 100 lagu.

Langkah perkembangan CD ini memang tidak cepat, namun menunjukkan peningkatan yang gradual. Pada ulang tahun peluncuran perangkat di tahun 1984, Sony meluncurkan perangkat pemutar CD baru dengan chip yang memungkinkan perangkat ini dikendalikan dengan remote control. Selain lebih canggih, yang mengejutkan adalah: Harganya lebih murah! Dengan 49.800 yen, kurang dari sepertiga harga perangkat generasi pertama, perangkat ini jauh lebih canggih dan fungsional. Kali ini perangkat tersebut mulai laris terjual, terutama versi Portable CD Player D-50.

via Sony

Namun Sony tidak tanggung-tanggung untuk mempopulerkan penjualan pemutar CD-nya. Sony mendukung Toshitada Doi, orang di balik gagasan produksi Compact Disc (Doi adalah Engineer yang mengusulkan kepada Sony dan Philips untuk menyatukan kekuatan dalam memproduksi CD), untuk melakukan revolusi teknologi digital ke studio rekaman. Dengan didukung 30 peneliti muda dari Audio Technology Center, Doi mengembangkan dan mengomersialkan digital audio untuk penggunaan profesional.

Mesin yang digunakan untuk kebutuhan profesional studio ini berkode PCM-1600 yang menggunakan mesin U-Matic. Pada awalnya, para teknisi studio menentang teknologi ini. Apalagi selain teknologi digital menghasilkan audio yang lebih buruk dibandingkan analog, harganya juga lebih mahal. Beberapa orang di industri rekaman bahkan membentuk kelompok yang disebut MAD (Musicians Against Digital) dan mereka mulai melakukan kampanye untuk menentang peralihan audio ke digital.

via Sony

Doi beralasan peralihan ke audio digital ini sangat penting untuk konsumen. Rekaman digital memungkinkan konsumen menggunakan perangkat yang ringkas dan mudah dibawa ke mana-mana. Kerja keras Doi akhirnya menghasilkan produk yang setidaknya mampu menghasilkan rekaman yang mendekati kemampuan rekaman analog, yaitu PCM-3324, sebuah multi-track recorder digital dengan 24-channel yang segera meraih popularitas di kalangan seniman.

 

Masuk ke Bisnis yang Sangat Kompetitif

Sony NEWS

Awal tahun 80-an merupakan tonggak perkembangan sebuah bisnis yang bakal sangat kompetitif dan padat di ranah konsumen: Komputer! Diawali dengan Apple yang membuat hardware komputer bagi pengguna rumah tangga dan Microsoft yang memungkinkan komputer umum menggunakan perangkat lunak yang lebih sederhana untuk beroperasi, bisnis komputer menjadi sebuah ladang emas baru. Pasar komputer memang sangat dipengaruhi oleh pengembangan microprocessor oleh Intel Corp. Sony mulai meneliti berbagai kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dari teknologi ini. Sayangnya, manajemen bersikeras bahwa bisnis Sony bukanlah di sini, melainkan pada penyediaan audio dan visual bagi pasar. Iwama yang saat itu menjabat presiden Sony (sejak 1976), sebaliknya memiliki perasaan yang kuat bahwa perusahaan yang tidak memiliki pengetahuan dalam komputer tidak akan dapat bertahan pada dekade 90-an nanti. Iwama meramalkan bahwa komputer akan mengambil alih banyak aspek kehidupan (dan memang waktu akan membuktikan bahwa dia tidak salah).

Iwama diam-diam memberikan dukungan pada 12 orang Engineer Sony yang tergila-gila pada komputer dan Silicon Valley. Hasilnya, eksperimen dan jerih payah mereka menghasilkan sebuah prototype desktop yang kemudian nantinya akan dijual. Perangkat tersebut diberi nama: NEWS (Network Engineering Workstation System). Perangkat ini sangat hemat energi dan biaya, memiliki kinerja yang tinggi untuk desain, editing, dan pengembangan perangkat lunak. Pemerintah Jepang pada saat itu sedang mendukung pengembangan workstation untuk tujuan tersebut karena memang mereka meyakini bahwa komputer adalah masa depan dunia. NEWS sebagai salah satu model pertama di pasar komputer Jepang menjadi produk yang cukup populer, terutama di kalangan perusahaan.

Sistem NEWS resmi diluncurkan pada tahun 1986 dan pada bulan Januari tahun berikutnya, NEWS menggunakan OS UNIX (OS serupa yang digunakan oleh perangkat komputer Apple) dan mampu memberikan kinerja seperti super komputer di zaman tersebut. Harganya antara 950.000 dan 2.750.000 yen, terbilang murah jika dibandingkan dengan sistem desktop lain di zaman tersebut. Salah satu komputer populer di tahun tersebut, EWS (Engineering Workstation) memiliki harga mencapai 10 juta Yen. Fokus kinerja NEWS adalah pada DTP (Dekstop Publishing) dan CAD/CAM (Computer Aided Manufacturing). Keduanya merupakan industri yang populer di Jepang. DTP tentu saja di percetakan buku dan surat kabar, sementara CAD/CAM merupakan sistem yang dibutuhkan dalam industri umum. NEWS menjadi perangkat yang sangat laris tahun tersebut di Jepang.

 

Total Terjun ke Bisnis Komputer

via Sony

“Perusahaan yang tidak memahami komputer tidak akan bertahan hidup pada tahun 1990-an”. Kalimat yang diucapkan oleh Iwama ini menjadi slogan setelah kesuksesan NEWS. Keberhasilan NEWS menjadikan Iwama mendapatkan ide selanjutnya. “Kita bisa membuat floppy disk dari teknologi yang ada di Sony. Jika kita bisa membuat lebih dari lima megabyte, maka disk ini akan bisa menyimpan teks dan grafik”.

Pengembangan floppy disk Sony dimulai sebagai sebuah proyek untuk membuat media penyimpanan untuk software pengolah kata berbahasa Inggris yang sedang populer. Floppy disk umum terdiri atas film magnetik yang ditempatkan pada penutup dari plastik tipis berwarna hitam. Disk 5.25 inci dikembangkan oleh Alan Shugart pada tahun 1976 menggantikan disk 8 inci yang dikembangkan IBM.

Floppy Disk IBM (hitam) vs versi Alan Shugart (merah)

Sony mengikuti ukuran Alan Shugart ini karena yakin model ini akan menjadi populer, namun tetap menyiapkan versi yang lebih ringkas dan kecil. “Kami menginginkan sesuatu yang lebih kecil dan mudah digunakan dengan kapasitas penyimpanan yang lebih besar. Penutup plastik sangat bagus karena akan melindungi film magnetik dari kemungkinan kerusakan dan debu.”

Karena mendapati bahwa plastik yang membungkus floppy disk ini semakin menurun daya tahannya seiring waktu, para Engineer di Sony Corp berupaya membuat pelapis yang lebih keras dan kuat agar menghindarkan kerusakan dari situasi sehari-hari seperti terlipat atau tertumpuk barang-barang lain. Solusinya justru adalah lapisan film yang dapat merekam data dan dibungkus oleh plastik keras. Bagaimana cara desktop membaca disk ini? Sebuah solusi brilian hadir dengan menjadikan bagian atas disk dapat dibuka dengan sebuah pegas untuk memungkinkan terbaca oleh alat pembaca floppy. Inilah bagaimana Floppy Disk 3.5 inci tercipta!

Solusi Sony ini begitu menariknya sehingga menjadikan banyak manufaktur komputer lain mengikuti langkah Sony. Akhirnya Floppy Disk 3.5 inci dijadikan standar internasional yang dipertimbangkan dan disertakan dalam pembuatan sebuah komputer desktop. Hewlett-Packard menjadi perusahaan produsen PC pertama yang memesan langsung tipe floppy disk ini kepada Sony sebagai pelengkap komputer desktopnya.

 

Inovasi di Bidang Baterai

Sony sudah mendirikan manufaktur baterai sejak Februari 1975 sebagai joint venture dengan Carbide Corp, sebuah perusahaan berbasis AS. Baterai dengan merek Sony-Eveready tersebut pada awalnya tidak populer. Namun Sony mempertahankan manufaktur ini mengingat banyak produknya yang memerlukan baterai, seperti misalnya tape recorder portabel andalannya.

Tozawa, kepala Sony-Eveready mendapati bahwa Lithium adalah bahan yang menjanjikan untuk baterai. Hanya saja saat itu pemerintah Jepang sangat cerewet dalam upaya penggunaan sel lithium ini, karena kontaminasi merkuri dapat membahayakan. Di sisi lain, metallic lithium sangat gampang meledak jika bersentuhan dengan air. Divisi penelitian pusing menghadapi banyak masalalah dalam pengembangan ini, namun mereka menolak menyerah.

Sayangnya, Union Carbide, mitra Sony dalam pengembangan baterai, menyerah di bidang ini. Terjadi ledakan pada pabrik mereka di India yang menyebabkan kerugian besar. Union Carbide ingin keluar dari bisnis baterai. Ini menjadikan Sony harus menegosiasikan banyak hal. Akhirnya, Sony membeli saham bagian mereka di Union Carbide dan mematuhi perjanjian bahwa Sony tidak akan lagi menggunakan merek Eveready. (PS: Selanjutnya kita tahu bahwa merek ini akhirnya dijual oleh Union Carbide dan digunakan oleh Alkaline)

Tozawa kemudian memimpin pengembangan baterai lithium yang dapat diisi ulang dengan cabang perusahaan Sony-Energytec. Inc. Ibuka mendukung penuh Tozawa dan sempat menggodanya dengan mengatakan, “Nama yang Anda pilih ambisius sekali. Apakah Anda mengerjakan pembuatan energi atom atau semacamnya?”

Gaya manajemen Tozawa diceritakan mirip dengan meriam kapal perang Jepang: Menembakkan tiga meriam pada satu sasaran. Tozawa selalu memiliki minimal dua tim yang mengerjakan proyek untuk mencapai tujuan yang sama. Dengan demikian, dia dapat menjamin tujuan tercapai lebih cepat. Setelah penelitian dalam jangka waktu panjang, akhirnya salah satu tim perusahaan berhasil menemukan baterai berbahan lithium yang tidak meledak meskipun bersentuhan dengan air. Ini merupakan temuan besar pada waktu itu.

Pengembangan selanjutnya menjadikan Sony berhasil menciptakan sebuah baterai lithium isi ulang yang aman, kuat, dan tahan lama!


Sony terus melakukan diversifikasi, pengembangan portofolio produk yang berbeda, mencakup berbagai macam teknologi, namun pada dasarnya saling mendukung. Misalnya, transistor untuk radio, kemudian dimanfaatkan untuk kalkulator dan televisi, produk baterai yang digunakan untuk menunjang Walkman, dan semakin lama rentang produk Sony semakin luas. Pada tahun 90-an, Sony dikenal sebagai salah satu ‘raja elektronik’ dari Jepang yang bermain di tingkat dunia! Ini semakin membuka berbagai peluang bisnis lain pada Sony. Episode berikutnya mungkin akan dinantikan teman-teman gamer: Kisah Silicon Valley #76 – Stasiun untuk Bermain dari Sony.

 

Referensi

Hayashi, Nobuyuki. 2014. The tales of Steve Jobs & Japan: Casual friendship with SonyNobi.

Kahney, Leander. 2010. Steve Jobs’ Sony Envy [Sculley Interview]CultofMac.

Sony Corporate Info. Sony.

  Path Resmi Ditutup, RIP!  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.