Home Editorial Kisah Silicon Valley #8 – Balas Dendam Paling Manis di Silicon Valley...

Kisah Silicon Valley #8 – Balas Dendam Paling Manis di Silicon Valley – Sang Juru Selamat

via KNKX

Tanggal 2 Desember 1996, Steve Jobs terlihat mencorat-coret whiteboard di Cupertino. Dengan gaya khasnya yang persuasif, Jobs menerangkan empat gelombang Operating System yang populer di masa itu, tentu saja yang digunakan NeXT adalah salah satunya, dan bagaimana Apple akan mendapatkan keuntungan bila memanfaatkan ‘kecanggihan’ dan ‘kekuatan teknologi’ yang dimiliki NeXT. Di ruangan itu, Ellen Hancock, salah satu petinggi Apple di masa itu, beserta Gil Amelio, CEO Apple, seolah terhipnotis oleh presentasi Jobs. Bukan rahasia bahwa Steve Jobs tidak menyukai kedua orang itu, namun memang setiap kata yang keluar dari mulutnya manis, memikat, dan meyakinkan. Sebagai penutup, Jobs dengan senyum penuh percaya diri mengatakan, “Aku bisa mengatur apa pun jenis perjanjian kerjasama yang kalian inginkan, lisensi software, divisi perusahaan… Apa saja.. tapi jujur saja…” Jobs menarik napas dalam sebuah jeda yang dramatis, “Kalian menginginkan lebih dari sekedar software. Kalian memerlukan NeXT, beserta seluruh sumber dayanya.”

 

Sang Pendiri Kembali Mencengkeram Apel

via Jablickar

Sejak pertemuan mereka yang bertujuan ‘membuka jalan’ untuk kemungkinan ‘kerja sama’ antara Apple dan NeXT, Jobs dengan agresif tapi elegan terus mengintensifkan pembicaraan bisnis antara kedua perusahaan tersebut. Hasratnya untuk kembali ‘memiliki’ perusahaannya yang dulu terlihat sangat jelas, akan tetapi tidak ada yang menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang negatif. Semua nampak ‘serba kebetulan’. Apple tengah memerlukan sumber daya untuk bangkit, dan Jobs memiliki semua itu!

Jobs mengundang Amelio ke rumahnya di Palo Alto. Dalam waktu satu dekade sejak ‘kepergian’-nya dari Apple, Jobs telah menikah dengan Laurene Powell serta berdamai dengan putri yang pernah tidak dia akui, Lisa Brennan (Lisa tinggal bersama Jobs di Palo Alto). Kini dia lebih matang. Aura family man terpancar dari ketenangan sikapnya. Dengan santai, dia menawarkan kepada Amelio untuk membeli NeXT senilai USD 500 juta. Amelio berupaya ‘menawar’ jumlah tersebut. Pada Jobs, dia mengajukan angka USD 400 juta. Sebenarnya, untuk nilai NeXT pada saat itu, bahkan USD 400 juta adalah jumlah yang terlalu besar mengingat NeXT punya banyak beban keuangan. Terlihat jelas bahwa sasaran Apple memang bukan perusahaan tersebut, melainkan resource yang dimilikinya – termasuk Steve Jobs sendiri! Tentu saja Jobs dengan sumringah menerima penawaran tersebut. Mereka berjabat tangan dalam sebuah kesepakatan yang nantinya mengubah jalan hidup semua orang yang terlibat – juga Apple – untuk selamanya.

 

Reaksi Bill Gates

via Business Insider

Gil Amelio mulai berkeliling melaporkan kesepakatannya dengan Steve Jobs kepada para kolega Apple, termasuk Bill Gates. Seperti yang diduganya, Gates langsung mencela keputusan Amelio tersebut. “Apakah menurutmu Steve punya ‘sesuatu’ untuk dijual?” Ujar Gates sinis. “Aku tahu teknologinya. Itu cuma modifikasi UNIX, dan kau tidak akan dapat menggunakannya untuk mesinmu!” Pimpinan Microsoft itu berkali-kali menghela napas seakan sungguh-sungguh menyesalkan keputusan Amelio, “Apa kau tidak tahu, Steve sama sekali tidak tahu soal teknologi. Dia cuma super salesman. Kenapa kau bisa mengambil keputusan bodoh begini… Dia itu tidak tahu apa pun soal teknik komputer, dan 99% yang dia katakan dan pikirkan salah. Untuk apa kau membeli sampah seperti NeXT?” Amelio hanya bisa terdiam ‘diomeli’ oleh Gates.

Bertahun-tahun setelah insiden tersebut, Gates dikonfirmasi oleh seorang wartawan soal insiden dengan Amelio, dan dia mengatakan dengan nada yang lebih halus, “Amelio membayar sangat besar untuk NeXT, dan kalau kita jujur, NeXT OS  sebenarnya tidak digunakan sama sekali kan?” Gates sudah tahu sejak awal bahwa deal itu memang tujuannya adalah ‘mengembalikan kuasa’ pada Steve Jobs, “Memang takdir… Pada akhirnya mereka ‘membeli’ seorang pria yang waktu itu kita belum tahu bahwa dia akan jadi CEO yang hebat, karena memang dia tidak berpengalaman. Dia cuma pria dengan selera desain dan citarasa teknik komputer yang bagus. Dia juga cukup gila untuk mengupayakan agar dirinya ditunjuk sebagai CEO ad interim pada saat itu..”

Bagaimana dengan Jobs sendiri? Setelah kesepakatan dengan Amelio, dia mengaku tidak bisa tidur berhari-hari karena semangatnya. Pada tanggal 20 Desember 1996, kesepakatan itu diumumkan di hadapan 250 karyawan Apple di markas besarnya. Seperti permintaan Jobs, Amelio memperkenalkan Jobs sebagai ‘penasihat perusahaan’. Para karyawan tersebut menyambut orang yang pernah berdiri di puncak tertinggi perusahaan mereka dengan tepuk tangan menggemuruh dan antusias. Jobs tetap tenang, meskipun hatinya penuh dengan gelora.

Hari berikutnya, Jobs berkendara sendiri ke Pixar. Dia menemui John Lasseter, sosok yang paling disayanginya di Pixar. Jobs mengungkapkan kepada Lasseter bahwa dia menginginkan restunya, “Aku mencintai keluarga di NeXT dan Pixar. Mungkin setelah ini aku bakal lebih jarang berada di Pixar, tapi aku tetap ingin melakukannya, karena menurutku dunia bakal lebih baik dengan Apple di dalamnya.” John Lasseter tersenyum, “Aku merestuimu.”

 

Misi ‘Penyelamatan’ Apple

via Mac-History

Dalam posisinya sebagai ‘penasihat teknis’ di Apple, Steve Jobs bergerak cepat. Langkah pertamanya, tentu saja memastikan orang-orang kepercayaannya seperti Avie Tevanian dan Jon Rubinstein, masuk dalam jajaran inti struktur Apple. Jobs juga aktif merekrut sosok-sosok baru untuk memastikan ‘cengkeramannya’ kali ini benar-benar kuat di Apple.

Pada saat itu, hubungan Apple dan Microsoft seperti tali rafia di atas danau berapi. Kapan saja bisa putus. Bill Gates membuat Windows 1.0 sangat mirip dengan GUI (Graphical User Interface) Macintosh yang pernah ditunjukkan oleh Jobs secara pribadi – Jobs mengata-ngatai Bill Gates sebagai penjiplak, penipu, dan sampah masyarakat karena itu (Padahal saat itu Jobs sendiri meniru GUI Xerox – dan membenarkan tindakannya dengan kalimatnya yang populer: “Good artist imitate, but great artist steal (Seniman yang baik meniru, tapi seniman yang hebat mencuri)”). Saat Jobs tak lagi berkuasa di Apple, Sculley membuat kesepakatan dengan Bill Gates bahwa Microsoft boleh menggunakan paten Apple atas GUI tersebut untuk waktu ‘sementara’. Beberapa tahun kemudian, ketika Microsoft mengeluarkan Windows 2.0, Apple berupaya menuntut haknya atas dasar bahwa perjanjian tersebut tidak berlaku untuk Windows 2.0. Akan tetapi Bill Gates saat itu sudah terlalu kuat (dari segi finansial dan koneksi hukum). Apple tunggang langgang setelah Pengadilan menyatakan Microsoft sah untuk menggunakan GUI mereka. Bill yang tersinggung oleh tuntutan Apple membalas dengan menolak mengembangkan Word dan Excel, software primadona pada saat itu, untuk OS milik Apple. Ini sangat efektif menjadikan pelanggan meninggalkan Apple. Mesin mereka mahal dan tidak berguna. Penjualan pun terus menurun.

Jobs yang baru menjabat melihat kesempatan setelah mendapatkan informasi bahwa Departemen Kehakiman yang saat itu berada di bawah Pemerintahan Presiden Clinton, sedang berupaya melancarkan tuntutan Antimonopoli besar-besaran terhadap Microsoft. Dia menelepon Bill Gates dan berbicara dengan nada lembut serta persuasif, “Bill, aku perlu bantuan…” Bill Gates sendiri tidak menyangka bahwa Steve Jobs akan ‘merendah’, sehingga dia mau mendengarkan pendiri Apple itu. “Kau tahu Bill, Apple saat ini bisa mengajukan tuntutan atas paten yang dilangkahi oleh Microsoft. Kalau kami beruntung, beberapa tahun ke depan kami akan mendapatkan beberapa miliar dolar sebagai ganti rugi… Tapi kau juga tahu kan, Apple tidak akan bertahan selama itu… Jadi menurutku lebih baik begini saja, kami tidak akan mengajukan tuntutan itu, sebagai gantinya, Microsoft tetap mengembangkan software populer untuk Mac… Ini juga akan meringankan bebanmu untuk tuntutan Antimonopoli.” Jobs benar, pada saat itu, jika Microsoft ngotot menahan seluruh softwarenya untuk mereka sendiri, maka ini berarti dominasi total di pasar PC, dan tentu saja merupakan fakta yang memberatkan untuk tuntutan antimonopoli yang dihadapi oleh Microsoft. Meskipun tidak langsung menyetujui tawaran Jobs, Bill Gates akhirnya (setelah sekian lama), mengunjungi Palo Alto bersama Kepala Keuangannya, Greg Maffei, untuk pembicaraan lebih serius dengan Steve Jobs seputar hal tersebut.

Detail pertemuan itu diumumkan oleh Steve Jobs dalam acara Macworld di Boston tahun 1997. Steve Jobs berdehem dan batuk-batuk kecil sebelum mengucapkan, “Apple telah memutuskan untuk menjadikan Internet Explorer sebagai browser default di Macintosh,” Hadirin langsung memotong dengan boo yang brutal. Jobs langsung melanjutkan, “Tapi karena kami percaya pada pilihan, maka akan ada browser internet lain juga di Mac.” Hadirin bertepuk tangan dan tertawa. Namun sunyi sesaat ketika Steve Jobs mengumumkan hal yang mungkin tak mereka duga: Microsoft memberikan investasi kepada Apple sebesar USD 150 juta dan sebagai gantinya mendapatkan saham, namun tanpa hak suara di Rapat Umum Pemegang Saham. Kebanyakan fanboy Apple menganggap Microsoft sebagai ‘musuh bersama’, sehingga momen ketika Microsoft ternyata menjadi penyelamat mereka (dan diumumkan langsung oleh Steve Jobs) begitu mengejutkan.

 

Think Different!

Ketika mengevaluasi produk yang dijual Apple, Steve Jobs geleng-geleng kepala karena banyaknya produk yang ditawarkan, tapi tidak satu pun yang laku. Dia mengumpulkan para pimpinan dari divisi produksi, pemasaran dan Humas, lalu dengan gaya khasnya mengajukan pertanyaan, “Di antara semua produk Apple ini, mana yang harus aku sarankan untuk dibeli kalau ada teman bertanya padaku?” Para peserta rapat pun ramai menjawab dengan mengunggulkan produk masing-masing. Steve memotong, “Yang mana produk unggulan kalian yang bisa aku rekomendasikan? Aku tidak ingin mendengar daftar produk yang tidak berguna!” Ruang rapat mulai sunyi. Semua mulai takut salah menjawab di hadapan sang pendiri ini. Steve menghela napas.

Setelah kejadian di ruang rapat itu, Steve Jobs mengambil keputusan untuk mengurangi produk Apple hingga 70%. Ini juga berdampak pada pengurangan tenaga kerja Apple hingga 3.000 karyawan. “Memutuskan apa yang tidak usah dilakukan, sama pentingnya dengan memutuskan apa yang harus dilakukan,” ujar Jobs. “Ini terbukti pada perusahaan, dan juga bagi produk.” Dan memang Jobs tahu bagaimana harus menetapkan fokus.

via All About Steve Jobs

Dia memutuskan hanya memproduksi empat produk: satu desktop dan satu perangkat portabel yang ditujukan baik untuk konsumen maupun profesional. Untuk para profesional, Apple memproduksi Power Macintosh G3 desktop dan PowerBook G3 portable. Untuk konsumen umum, ada iMac desktop dan iBook portable. Ini juga pertama kali Jobs menggunakan huruf “i” yang nantinya jadi sebutan khas untuk perangkat produksi Apple – Itu diilhami bahwa perangkat tersebut akan terintegrasi langsung dengan Internet.

Keputusan Apple untuk berfokus pada lini produk yang lebih kecil, serta mengutamakan kualitas serta inovasi akhirnya terbayar. Jika pada tahun fiskal pertama sejak kembalinya Jobs ke Apple, yaitu hingga September 1997, Apple mengalami kerugian USD 1,04 miliar, setahun kemudian Apple mencatatkan profit USD 309 juta. Ini sebuah comeback luar biasa jika melihat setahun lalu perusahaan tersebut masih merugi.

Marketing Apple difokuskan pada satu pesan tunggal yang menjadi legenda hingga kini – kampanye “Think Different” – yang tetap menggunakan agensi iklan serupa dengan “1984” ketika mereka meluncurkan Mac dulu.

Here’s to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. The round pegs in the square holes. The ones who see things differently. They’re not fond of rules. And they have no respect for the status quo. You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them. About the only thing you can’t do is ignore them. Because they change things. They push the human race forward. And while some may see them as the crazy ones, we see genius. Because the people who are crazy enough to think they can change the world are the ones who do.

Ini bentuk hormat kami bagi mereka yang gila. Mereka yang berbeda. Para pemberontak. Biang kerok. Pasak bulat di lubang persegi. Mereka yang melihat segala sesuatu dengan berbeda. Mereka bukan pengikut peraturan. Dan mereka tak menaruh hormat pada status quo. Anda bisa mengutip mereka, tidak setuju dengan mereka, memuliakan, atau menghina mereka. Tapi jelas Anda tidak dapat mengabaikan mereka. Karena mereka mengubah berbagai hal. Mereka mendorong umat manusia ke depan. Dan meskipun banyak orang melihat mereka sebagai orang gila, namun yang kami saksikan adalah para jenius. Karena orang yang cukup gila berpikir bahwa mereka mampu mengubah dunia, adalah orang yang akan melakukannya!

Think Different menjadi magi baru Apple! Ungkapan sederhana ini viral dan dengan segera diasosiasikan masyarakat dunia dengan Apple. Iklan tersebut menginspirasi banyak orang untuk berani berbeda (dan tentu saja bangga memakai produk Apple) – Serta menjadi alasan munculnya kultus terhadap produk-produk Apple.

Pada tanggal 4 Juli 1997, Steve Jobs meyakinkan direksi untuk ‘menurunkan’ Gil Amelio sebagai CEO. Meskipun saat itu dia dengan sok jaim tetap menjabat sebagai ‘penasihat’ dan iCEO (interim CEO) – Tidak buru-buru mengambil alih jabatan CEO – Jobs yakin bahwa posisi itu tidak akan kemana-mana. Dalam posisi tersebut, Jobs menolak menerima gaji sebagai CEO, dia hanya bersedia menerima pembagian keuntungan dan saham untuk menunjukkan solidaritasnya karena saat itu Apple masih dalam kondisi merugi.

via The Register

Dan memang benar, pada tahun 2000, Apple melejit dari salah satu perusahaan teknologi dengan kerugian paling besar di tahun 1997, menjadi salah satu perusahaan dengan profit tertinggi di AS – Meskipun masih jauh di bawah Microsoft yang saat itu tengah menikmati status sebagai perusahaan paling berharga di dunia. Tahun itu pula Jobs resmi menjabat sebagai CEO (tanpa interim). Terpilihnya dia sebagai CEO-pun tanpa saingan sama sekali. Pengumuman tersebut dilakukan di acara Macworld 2000 – Steve Jobs dengan sumringah mengumumkan bahwa dia ‘menanggalkan’ gelar interim, dan dengan resmi menjadi CEO Apple sembari mengumumkan banyak prestasi Apple setahun belakangan, mencakup penjualan 1.350.000 Mac, melejitnya layanan internet yang digagas Apple, dan banyak lagi.

Di bawah ‘kepemimpinan kedua’ Jobs, Apple menghasilkan banyak produk yang kita kenang hingga sekarang: iPod, iTunes, iPhone, dan iPad!


 

Referensi:

 Arthur, Charles. (2013). Digital Wars – Apple, Google, Microsoft, dan Pertempuran Meraih Kekuasaan atas Internet. PT. Elex Media Komputindo

Isaacson, Walter. (2011). Steve Jobs. Simon & Schuster.

Fell, Jason. (2011). How Steve Jobs Saved Apple. Entrepreneur

Rose, Frank. (2011). The End of Innocence: How Steve Jobs Was Able to Save Apple. Wired.

  Review Lengkap Windows 10 Fall Creators Update  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta