Sekitar tahun 2009, Mark Zuckerberg mengirimi Drew Houston pesan melalui Facebook. Perlu waktu lama bagi Houston untuk membalas pesan tersebut secara resmi lewat email, karena dia mengira ada seseorang yang mencoba mengerjainya (Houston sudah mewaspadai tipu-tipu lewat media sosial sejak lama).

Meskipun agak lama berselang setelah pesan dari Zuckerberg, kedua CEO muda ini makan malam bersama dengan daging bison yang konon diburu sendiri oleh Zuckerberg. Pendiri Facebook itu berupaya mengakrabkan diri dengan Houston, sambil merujuk bahwa mereka berdua punya kesamaan, yaitu sama-sama ditawar oleh perusahaan besar (Facebook pernah ditawar oleh Google, Yahoo, dan Microsoft, namun Zuckerberg menolak semua tawaran itu dengan alasan ingin mengembangkan Facebook sendiri). Karena itu mereka perlu bersatu untuk bekerjasama. Pada akhirnya, Zuck menyatakan bahwa dia tertarik dengan bisnis Houston dan menyatakan bahwa Facebook juga memiliki ‘dana yang cukup’ jika Houston ingin ‘menjadi bagian dari korporasi Facebook’.

Houston menolak dengan halus. Dia mengatakan karena mereka ‘sama’, pasti Zuckerberg juga memahami bahwa dia ingin mengembangkan Dropbox. Kesamaan umur dan pandangan di banyak hal mungkin menjadikan pertemuan dengan Zuckerberg sangat berbeda dengan Steve Jobs, berlangsung dengan nyaris tanpa ketegangan. Zuckerberg bisa menerima argumen Houston dan mereka memutuskan untuk bekerjasama di bidang-bidang yang memungkinkan.

Saat keluar dari rumah Zuckerberg, satu hal yang paling dikenang oleh Houston adalah pengamanannya. Mark Zuckerberg selalu mengesankan diri sebagai ‘pria biasa yang sederhana’, namun pengamanan terhadap penggagas aplikasi media sosial dengan pengguna terbesar itu sangat masif. Ada banyak petugas keamanan yang berusaha untuk tidak terlihat mencolok jika ada tamu, namun dari segi jumlah, tentu saja ini standar keamanan yang luar biasa. Ketika melangkah menuju mobilnya, bahkan Houston menyadari bahwa petugas keamanan yang menjaga mobilnya berdiri dengan posisi yang sama persis seperti sebelum dia datang. “Saya tidak yakin bahwa saya ingin hidup seperti itu,” ujar Houston mengisahkan pengalamannya bertemu Mark Zuckerberg.

 

iCloud: Bentuk Kemarahan Jobs pada Dropbox

via Venturebeat

Dalam episode sebelumnya, dikisahkan Drew Houston menolak untuk menjual Dropbox ke Apple, juga menolak untuk ‘bergabung dengan jajaran elit developer Apple’ sebagai pribadi. Namun kelihatannya Jobs belum menyerah. Dia mengajak Houston untuk bertemu sekali lagi di kantor Dropbox di San Fransisco.

“Maaf, tapi sebaiknya kita bertemu di Silicon Valley. Saya tahu sebuah tempat yang bagus,” ujar Houston dengan halus. Ini bukan tanpa alasan. Meskipun menolak semua minat Steve Jobs terhadap Dropbox, Drew Houston adalah pengagum berat Jobs. Dia tahu apa yang terjadi beberapa puluh tahun lalu saat Steve jobs ‘mengunjungi’ Xerox dan akhirnya membuat sebuah perangkat yang dipamerkan Xerox kepadanya: Mouse. (Bahkan Drew berkata pada teman-temannya, “Mengapa kita harus membiarkan musuh ‘mencicipi masakan kita’?”)

Firasat Houston tepat. Bulan Juni 2011, Steve Jobs naik ke panggung dan memperkenalkan iCloud. Pendiri Apple ini bahkan sempat nyinyir dan menyinggung Dropbox sebagai ‘upaya setengah-setengah’ untuk memecahkan dilema kekacauan internet: Bagaimana kita mendapatkan semua file kita, dari semua perangkat kita, dan menyatukannya dalam satu tempat.

Ketika menyaksikan presentasi Jobs, hanya satu kata yang terbersit dari bibir Houston, “Oh, shit!”

Houston tahu bahwa ini tidak dapat dipandang remeh. Besoknya dia langsung mengumpulkan stafnya seolah menghadapi sebuah pertempuran. “Kita adalah salah satu perusahaan dengan pertumbuhan paling cepat di dunia, jadi kita akan membuktikan itu!”

 

Mempertahankan Dropbox

Kantor Dropbox di San Francisco via Assets.Yellowtrace

Dropbox hanya berfokus pada hal-hal sederhana. Meningkatkan support pada semua perangkat, memastikan aplikasi yang dirilisnya minim bug, serta memastikan sistem bekerja seperti yang diinginkan. Fitur dan kemampuan-kemampuan baru ditambahkan sesuai kebutuhan pemakaian dunia modern yang terhubung dengan internet. Perkembangan Dropbox sungguh mencengangkan. Tahun berikutnya mereka berhasil mencapai 50 juta pengguna, tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu. Semakin banyak orang yang ingin mendapatkan ‘hadiah’ dari layanan freemium khas Dropbox. Hal yang unik, pendapatan Dropbox pada akhir 2011 mencapai USD 240 juta, padahal 96% penggunanya adalah pengguna gratisan. 4% pengguna berbayar Dropbox saja sudah memberikan pendapatan sebesar itu, ini merupakan fakta yang sangat mengejutkan. Lebih mencengangkan lagi, pada saat itu staf Dropbox hanya 70 orang dan sebagian besar adalah engineer. Setelah kesuksesan besar tahun 2011 itulah baru Houston mempertimbangkan untuk merekrut pegawai baru.

Tahun berikutnya, terjadi perkembangan yang lebih spektakuler. 96% pengguna yang tidak berbayar tersebut ‘kecanduan’ menyimpan file-filenya di Dropbox sehingga akhirnya mereka bersedia membayar langganan dengan skema USD 10 per bulan untuk 50 giga dan USD 20 per bulan untuk 100 giga. Meskipun pada tahun 2012 pengguna Dropbox tidak banyak bertambah, namun penjualannya meningkat dua kali lipat.

Popularitas Dropbox bahkan menjadikan kata “Dropbox” menjadi sebuah kata kerja (seperti halnya “googling”). Para pengguna (yang didominasi kaum muda), biasa mengucapkan ke teman-temannya, “Dropbox saja file itu ke aku”. Ini tentu saja menjadikan Dropbox sebagai pusat perhatian di Silicon Valley. Investor mulai berbondong-bondong berebut ingin menanamkan uang ke perusahaan yang sedang ‘hot’ ini.

 

 

Alasan Kesuksesan Dropbox

Para analis membahas bahwa ini dikarenakan Dropbox sukses menjawab sebuah permasalahan yang mendasar. Orang-orang mulai hobi membawa ponsel, tablet, dan bahkan beberapa perangkat mobile sekaligus. Namun tidak ada yang ‘telaten’ untuk memindah-mindahkan file dari satu perangkat ke perangkat lain menggunakan flashdisk atau fasilitas copy data seperti ‘cara lama’. Dropbox memberikan solusi bagaimana file akan tersimpan di Cloud seakan menjadi bagian dari storage perangkat itu sendiri. “Perangkat kini semakin cerdas, televisi Anda, mobil Anda, dan ini berarti lebih banyak data yang tersebar.” ujar Houston. “Perlu ada ‘penjahit’ yang menghubungkan semua perangkat itu. Dan itulah yang kami lakukan.”

Setelah download aplikasi Dropbox, maka file orang tersebut yang berada di cloud akan dapat dengan mudah diakses dari perangkat apa saja (berkat dukungan Dropbox yang sangat luas dan kompatibel untuk semua OS dan perangkat). Bukan itu saja, orang-orang juga dapat mengundang orang lain untuk mengambil atau men-download file tersebut. Update file di perangkat yang satu akan secara otomatis meng-update file di perangkat yang lain juga. Sebuah skema yang menjadikan pemanfaatan file lintas perangkat sangat mudah!

Bagaimana pendapat pengguna tentang ini? Seorang mahasiswa hukum menulis di laman media sosialnya: “Tanpa Dropbox, saya mungkin akan gagal ujian universitas hukum saya dan tinggal di bawah jembatan.” – Sang mahasiswa menuturkan bahwa Dropbox menyelamatkan ketika terjadi kerusakan pada laptopnya yang mengakibatkan seluruh data tesisnya kandas. Untunglah data tersebut sudah tersimpan di Dropbox, sehingga dia dapat melanjutkan mengerjakan tesis dan lulus dengan gemilang.

Sebuah perusahaan jam dari Venezia, Italian Soul, menggunakan Dropbox untuk membuat karya baru dengan seorang desainer Argentina. Kerjasama ini mengharuskan mereka bersama-sama mengerjakan desain jam yang terdiri dari file 3D berukuran raksasa. Meskipun kedua desainer terpisah, satu di Italia dan satunya di Argentina, berkat Dropbox mereka dengan mudah mengerjakan file desain tersebut bersama-sama dan akhirnya meraih kesuksesan.

Houston pun dengan bangga mempromosikan Dropbox sebagai “Fasilitas yang memungkinkan data Anda mengikuti.”

 

Pesaing datang silih berganti, namun Dropbox tetap yang terbaik

Dalam menghadapi persaingan, Houston dapat dengan cepat menyebut sebuah daftar panjang: “Apple, Google, Microsoft, Amazon, sudah lama bermain di bisnis ini, lalu ada juga IDrive, YouSendIt, Box, belasan startup lain yang menjadi pesaing Dropbox. Bahkan mungkin juga pelanggan menggunakan beberapa penyimpanan cloud ini untuk memastikan datanya tersimpan dengan baik lintas perangkat.” Namun secara khusus, Houston mengatakan bahwa iCloud-lah yang dia takuti. Siapa pun yang membeli iPhone, pasti akan menggunakan iCloud. Sistem Apple juga ‘menarik’ orang-orang yang tadinya hanya memiliki satu perangkat, kemudian membeli perangkat Apple lainnya seperti iPod, iPad, dan Macbook, yang mana akhirnya menjadikan penggunaan iCloud sangat relevan karena ini akan memudahkan mereka membuka data lintas perangkat. Houston juga menyebut ide Google (pada saat itu) untuk merancang sebuah perangkat bernama Drive yang khusus bisa digunakan untuk menyimpan data baik offline dan online, merupakan ide brilian. Pada saat Drew Houston mengatakan ini, ada 1 miliar orang mengunjungi Google setiap bulan, dan 190 juta orang di seluruh dunia menggunakan Android (angka ini sudah berkembang di tahun 2018, dengan satu pengecualian kecil: Google batal merilis perangkat Drive yang direncanakannya).

Ketika ditanya visi Dropbox ke depannya, Houston mengungkap imajinasinya. Dia membayangkan bahwa data tidak hanya mengikuti kita di laptop, ponsel dan tablet. Data itu akan berada di mobil, kulkas, jam tangan dan banyak lagi. Di sinilah peran Dropbox, yaitu menautkan semua perangkat itu untuk dapat mengakses data yang sama. Mungkin suatu hari layanan seperti Dropbox akan seperti layanan publik, infrastruktur dasar untuk data pervasif yang tidak banyak dilihat orang, tapi ada dan tidak tergantikan!

 

 

 

 

Referensi

Barret, Victoria. (2011). Dropbox: The Inside Story of Tech’s Hottest Startup. Forbes.

Bernard, Zoe. (2018). The rise of Dropbox CEO Drew Houston, who just made the Forbes 400 after taking his company publicBusiness Insider.

Wohlsen, Marcus. (2013). Inside Dropbox Quest to Burry the Hard Drive. Wired.

 

 

  Xiaomi Baru Lawan Pixel Lama  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.