Bulan ini genap tiga tahun Microsoft sudah mengakuisisi Wunderlist. Startup yang tenar karena aplikasi to-do list atau manajemen proyek ini merupakan salah satu yang terbaik dulunya. Namun semua berubah setelah Microsoft mengakuisisi Wunderlist. Microsoft memutuskan untuk tidak melanjutkan pengembangan aplikasi Wunderlist dan mengerahkan sumber daya Wunderlist untuk membuat aplikasi baru: Microsoft To-Do.

Pada awal rilis To-Do, Microsoft mengumumkan bahwa aplikasi ini akan menggantikan Wunderlist dan menyertakan sebagian besar fitur-fitur terbaiknya. Sudah tiga tahun berlalu, dan hal ini belum juga terjadi. Penggemar Wunderlist melabeli To-Do sebagai “masakan setengah matang”. Christian Reber yang mendirikan Wunderlist diketahui meninggalkan perusahaan tersebut beberapa bulan setelah Microsoft To-Do diluncurkan. Nampaknya dia tidak setuju dengan arah perkembangan aplikasi tersebut meskipun diberikan jabatan yang bagus di Microsoft.

“Ada tantangan teknis dalam melakukan porting,” ungkap Reber. “API Wunderlist berjalan di Layanan Web Amazon, dan seharusnya diporting ke Azure. Tapi hal ini makan banyak waktu, sehingga lebih mudah untuk menulis ulang.” Microsoft memilih jalur yang kedua: menulis ulang. Tapi proses menulis ulang ini pun cukup rumit. Reber menyatakan bahwa sebelumnya Microsoft merencanakan untuk menjalankan Wunderlist selama setahun (setelah akuisisi) sampai Microsoft To-Do siap. Tapi entah mengapa Microsoft buru-buru merilis Microsoft To-Do sehingga semuanya menjadi rumit.

Reber sendiri mendoakan kesuksesan tim Microsoft To-Do. “Aplikasi baru itu bukan pengalaman yang menyenangkan,” tanggapnya saat dimintai pendapat tentang Microsoft To-Do. Jelas bahwa akuisis Wunderlist dan integrasinya ke Microsoft sedikit bermasalah. Sebenarnya akuisisi ini sangat potensial di atas kertas, karena sebagai perusahaan yang memiliki tujuan ‘memberdayakan’ dan ‘meningkatkan produktivitas’, maka memiliki Wunderlist merupakan ‘jalan tol’ untuk menciptakan sebuah aplikasi produktif yang powerful.

Para blogger teknologi menyebutkan bahwa kemungkinan peristiwa yang sama dengan Skype akan terulang. Setelah membeli Skype, Microsoft kesulitan mengurus infrastruktur backend Skype dan menjadikan mereka harus menulis ulang kode aplikasi Skype berkali-kali. Jika memang demikian, masih panjang jalan kita untuk menikmati aplikasi To-Do list yang berkualitas dari Microsoft (meskipun Microsoft To-Do tidak jelek-jelek amat sih).

 

Sumber: The Verge

  Resiko Beli Nokia 8 di 2018  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.