Akhirnya saya beli RAM bekas. Harga RAM baru yang makin gak masuk akal, ketemu dengan kebutuhan untuk upgrade RAM, membuat RAM bekas jadi pilihan menarik untuk menekan budget. Nah disini saya mau share pengalaman saya beli RAM bekas, yang mungkin bisa jadi catatan dan pertimbangan buat teman2 — karena ternyata, banyak sekali hal baru yang saya dapatkan dari pengalaman kali ini.
Kenapa Beli RAM Bekas?
Nah pada prinsipnya, saat ini kondisi memang sedang tidak ideal untuk upgrade RAM, karena ya harganya sedang mahal-mahalnya. Kalo teman2 nekat upgrade sekarang, bisa berakhir membayar 2 – 5x lipat lebih mahal dari harga sebelumnya.
Sebagai gambaran bulan Mei 2025 lalu, saya sempat membeli memory kit Kingston DDR4 32GB 3200Mhz baru untuk workstation PC saya seharga 1.059.000 rupiah, hanya beberapa bulan sebelum kegilaan AI yang bikin harga melonjak seperti sekarang.


Teman2 tahu berapa harganya sekarang? Ada yang 4 Juta, 3 juta, 2.6 juta! Harga yang sangat liar dan bisa berbeda-beda tergantung dari sellernya. Dengan budget 1 jutaan yang sama kalau beli sekarang, untuk bisa dapat 16GB GB saja rasanya sudah susah.

Ini mengingatkan saya momen di awal pandemi, saat harga masker juga mahal banget, atau saat booming crypto mining yang bikin harga GPU meroket sampai gak masuk akal. Dan dari dua kejadian itu ada satu hal yang sama — ada masanya harga kembali normal. Turun lagi. Seiring dengan kembali melimpahnya stock, pecahnya bubble, dan berakhirnya hype.
Karena itu sebelum saya bagikan pengalaman beli RAM bekas, teman2 harus pikirkan dulu, perlu nggak sih upgrade RAM sekarang? Apakah memang se-urgent itu, ataukah bisa menunggu sampai kondisi harga mulai kondusif. Karena menurut para analis, harga RAM memang bakal lebih gila di tahun 2026 dan akan terus bertahan sampai 2027. Tetapi di tahun 2028 ada kemungkinan harga akan mulai kembali turun.
Jadi ya kalo memang specs PC temen2 saat ini, masih mampu memenuhi kebutuhan harian, teman2 bisa bertahan dulu — dan baru upgrade setelah harga RAM kembali normal. Tapi kalo memang perlu banget upgrade karena kebutuhan, ya apa boleh buat, beli RAM bekas bisa jadi pilihan buat yang butuh tapi budgetnya minim.
Mini PC yang saya upgrade adalah GEEKOM A5 ini. Ini Mini PC yang sebenarnya support sampai 64GB RAM DDR4 3200Mhz, tapi hadir dengan RAM bawaan 16GB DDR4 2666Mhz aja. Ini yang jadi PC kerja utama saya untuk beberapa tahun kedepan, dan sebenarnya dengan optimasi software saja tanpa upgrade RAM, buat kerja harian saya seperti edit video sudah bisa cukup. Timeline preview berjalan lancar, proses render juga cepat. Tetapi ada satu workflow yang sulit diatasi oleh 16GB RAM bawaan — dimana saya sering buka lebih dari satu Kdenlive Project untuk copy klip dari beberapa project lama ke project yang baru. Tanpa upgrade RAM memang bisa lancar edit dan buka satu project, tapi kalo udah buka dua atau tiga project Kdenlive sekaligus, kernel seringkali otomatis menutup salah satu project yang terbuka karena terlalu menghabiskan RAM, membuat copy paste clip antar project jadi terganggu.
Karena itu saya memutuskan untuk mencoba beli RAM bekas yang selain untuk mengupgrade mini PC ini dari 16GB RAM menjadi 32GB RAM — sekaligus juga untuk dibagikan pengalamannya ke teman2 semua.
Kelebihan Beli RAM Bekas
Nah saya harus jujur, satu-satunya kelebihan beli RAM bekas di kondisi yang tidak ideal seperti sekarang hanyalah harganya yang jauh lebih murah dari harga RAM baru saat ini. Saya beli dua keping RAM 16GB DDR4 SODIMM 3200Mhz bekas ini dengan harga 675 ribu rupiah per kepingnya. Kalau dibandingkan dengan harga baru saat ini yang banyak dijual di angka 1.4 – 1.7 jutaan rupiah per keping — membeli RAM bekas ini membuat saya bisa menghemat sampai 2 juta rupiah untuk total 32GB RAM.
Bahkan kalo teman2 ulet hunting2 di marketplace, bisa saja menemukan seller yang jualnya masih lebih murah dari harga pasar saat ini. Tetapi pertanyaannya, aman nggak sih beli RAM bekas?
Amankah Beli RAM Bekas?
Secara teknis, jawabannya: aman. Kenapa? Karena RAM itu solid state murni. Dia nggak punya komponen mekanik yang bergerak seperti hardisk yang bisa aus. Dia juga nggak punya batasan write cycle kayak SSD — karena DRAM memang volatile dan sifatnya non-destruktif. Dan di dunia hardware ada istilah Bathtub Curve. Dimana kalo RAM itu bermasalah, biasanya bakal trouble sejak di awal pemakaian — bisa karena cacat produksi atau alasan lainnya. Jadi kalau dari awal bisa berjalan normal tanpa masalah, ya kemungkinan besar bakal awet dalam waktu yang sangat lama. Makanya banyak produsen RAM yang berani memberikan garansi lifetime, karena RAM memang bisa se-awet itu.
Jadi RAM bekas yang masih berjalan normal setelah beberapa tahun pemakaian, malah bisa dibilang udah lolos seleksi alam, dan bisa dipake sampai bertahun2 kemudian.
Tapi tetap ada resikonya, baik dari sisi human error atau kompatibilitas. Misalnya RAM pernah terjatuh, terkena listrik statis saat lepas pasang, ada kerusakan fisik saat pengiriman, atau sekedar gak kompatibel sama PC kita — yang mana sempat saya alami juga.
Pengalaman Beli RAM Bekas
Jadi RAM bekas yang saya beli merknya AOSNKE. Saya pilih ini karena diantara sekian banyak RAM bekas yang saya temukan waktu itu, ini yang punya kondisi fisik paling mulus seperti baru. Memang secara branding, terdengar cukup asing ya — beda dengan Crucial, Samsung, Kingston, dsb yang lebih populer. Tapi karena secara kondisi fisik ini yang paling menggoda, akhirnya saya mencoba peruntungan memilih ini siapa tahu bisa dapet RAM yang masih mulus dengan harga yang cukup bagus.

Begitu sampai, hal pertama yang saya lakukan tentu melakukan cek fisik dari kedua RAM ini. Saya perhatikan semua bagian board, memory, pin konektor, dll — memang masih sangat mulus seperti baru. Sayangnya begitu saya pasang dua-duanya, ternyata tidak bisa booting ke OS nya, bahkan di beberapa momen, tidak bisa booting juga ke BIOS juga.
Saat saya investigasi dengan pasang RAM satu per satu di slot memory paling atas, ternyata ini yang sering gagal. Tapi kalo saya pasang satu per satu di slot yang paling bawah, malah berhasil jalan. Hipotesa saya ada masalah kompatibilitas, dimana mini PC ini kesulitan menjalankan RAM AOSNKE di slot yang paling atas. Karena meskipun secara kecepatan dan voltase sesuai dengan yang disupport, tetapi RAM AOSNKE ini menggunakan chip high density, terlihat dari chip memori yang gak banyak dan cuman ada di satu sisi aja.

Untuk investigasi lebih lanjut saya coba gunakan satu per satu memori nya di slot yang disupport. Dan ternyata, meskipun masing-masing RAM bisa digunakan di slot paling bawah, saya mendapati salah satu keping memory terasa kurang stabil daripada yang lainnya.

Jadinya saya kontak ke seller, dan sellernya sangat suportif. Saya bisa retur salah satu keping RAM yang di mini PC saya terasa kurang begitu stabil — untuk diganti dengan keping RAM yang lain.
Tidak lama dari pihak seller mengkonfirmasi kalo penggantinya bakal coba dikirim dengan merek yang berbeda, karena dari pengecekan mereka disana, RAM nya terlihat baik2 saja. Ditakutkan masalah kompatibilitas yang jadi penyebab utama.
Nah memory penggantinya merknya Neo Forza, yang secara specs sama 1.2V dan 3200Mhz. Saya cek secara fisik, memang tidak semulus AOSNKE. Kalo AOSNKE terlihat seperti baru, Neo Forza ini lebih terlihat sensasi bekas nya.

Densitas chip nya juga berbeda, AOSNKE ini model baru yang pake high density chip, sedangkan Neo Forza lebih lawas dengan low density chip, terlihat chip memory ada di kedua sisinya. Biasanya yang begini malah punya kompatibilitas yang lebih luas. Dan benar saja, begitu Neo Forza ini saya pasang di slot atas dikombinasikan dengan AOSNKE di slot bawah, keduanya langsung terdeteksi tanpa drama. Masuk BIOS lancar, booting CachyOS juga lancar. Saya test untuk tugas berat seperti edit, render video, main game, dsb — berjalan dengan lancar dan stabil.
Dan untuk lebih memastikan lagi, saya melakukan stress test menggunakan memtest86+ yang hasilnya sangat memuaskan. Setup kedua RAM ini lolos stress test dengan 0 error — dan kalo kita lihat di bandwidth nya, kecepatannya tembus 33.7 GB/s — yang mengkonfirmasi kalo RAM ini berjalan di mode dual channel. Jadi meskipun merknya berbeda, densitas chipnya juga berbeda berbeda — tapi kedua RAM bekas ini bisa jalan bareng dengan lancar di timing standar CL22.

Satu hal yang menarik, saat di cek dengan CPU-X, di kolom manufacturer terlihat unknown, yang ternyata ini umum terjadi untuk RAM budget dari brand tier 3 atau rebrander, yang biasanya tidak mendaftarkan ID brand mereka untuk menghemat biaya.
Nah disinilah letak sedikit penyesalan saya. Saya baru sadar untuk RAM bekas, selisih harga antara RAM tier 3 kayak gini dengan RAM tier 1 sekelas Samsung, Crucial, atau Kingston, itu gak jauh beda. Kalau bisa mengulang waktu, saya mungkin bakal beli RAM bekas dari brand tier 1 sekalian. Selisihnya mungkin cuman 100 ribu, tapi bisa dapet RAM yang secara kualitas dan kompatibilitas bisa lebih baik. Tapi karena udah terlanjur, ya sudah. Bisa jadi pengalaman buat kedepannya.
Untuk RAM dari brand tier 3 seperti ini sih, kuncinya ada di kinerja nya. Selama memory berjalan normal, lolos stress test tanpa error, dan stabil di dual channel — ya nggak ada masalah juga sebenarnya.
Adakah Peningkatan Performa?
Peningkatan performa sangat terasa. Waktu masih pake 16GB RAM bawaan, mini PC ini memang sudah berjalan dengan sangat mulus di CachyOS. Tetapi saat buka dua atau tiga project Kdenlive sekaligus, salah satunya bisa ditutup oleh Kernel karena kehabisan memory. Tapi sejak upgrade ke 32GB RAM ini, saya bisa dengan santai buka dua bahkan tiga project Kdenlive sekaligus, berpindah2 antara project, copy clip dari satu project ke project lain, dengan sangat responsif. Tidak ada lagi project yang ditutup oleh kernel saat kehabisan memory.
Dan karena memory nya sudah berkapasitas besar, saya naikkan alokasi VRAM untuk GPU melalui BIOS, dari yang sebelumnya hanya 512GB, menjadi 4GB — menyisakan 27.3 GB untuk dipake sistem. Dan naiknya VRAM GPU ini membuat timeline preview saat edit video multilayer di kdenlive berjalan lebih mulus dari sebelumnya, dan proses render juga jadi lebih cepat.

Kapasitas ZRAM di CachyOS juga jadi naik, membuat mini PC ini semakin jarang kehabisan RAM meskipun dipake untuk berbagai tugas yang sangat berat.
Tips dan Catatan Penting
Dan sekarang apa tips dan catatan penting yang bisa saya bagikan dari pengalaman beli RAM bekas ini?
Pertama, sebelum memutuskan beli RAM bekas, pastikan dulu ke diri sendiri, apakah memang benar2 perlu untuk upgrade RAM sekarang — ataukah masih bisa menunggu sampai harga RAM kembali normal — yang oleh analis banyak diprediksi mulai turun di 2028.
Kedua, kalo memang butuh upgrade RAM sekarang, beli RAM bekas sangat menarik, karena menghemat banyak biaya. Disini saya menghemat budget upgrade sampai 50% — dengan hasil akhir yang sama saja seperti saat upgrade beli RAM baru.
Ketiga, tidak perlu takut beli RAM bekas, karena diantara banyak part PC, RAM menjadi salah satu part yang paling aman untuk dibeli bekas. Kalo sudah dapet RAM bekas yang berjalan normal, bisa dipastikan akan awet dan bisa dipake terus dalam jangka waktu yang sangat lama. Dan sebenarnya, performa RAM bekas atau RAM baru ya sama aja.
Tetapi kuncinya memang bagaimana bisa dapet RAM bekas yang kondisinya masih bagus, dan bisa berjalan normal.
Jadi tips keempat, saat memilih RAM bekas, pastikan beli yang secara spesifikasi disupport sama motherboard PC kita. Pilih tipe DDR yang sesuai — kapasitas, voltase, dan kecepatan yang disupport, serta sesuaikan dengan jumlah slot memory yang tersedia.
Tips kelima, sekalian beli RAM yang dari brand tier 1 saja, karena di market bekas, selisih harganya gak jauh berbeda dari brand tier 2 atau tier 3. Kalo sudah terlanjur beli RAM dari brand tier 3, fokus pada performa. Stress test dan cek, pastikan semua dalam kondisi prima.
Tips keenam jangan hanya melihat kondisi fisiknya. Dari pengalaman saya, kondisi fisik yang masih bagus seperti baru, ternyata bukan jaminan. Bisa jadi malah gak bisa jalan di PC kita entah karena kompatibilitas, dsb. Untuk RAM bekas, tampilan terlihat lawas gak ada masalah, yang penting bisa jalan lancar, normal, dan lolos semua stress test yang ada.
Tips ketujuh, begitu RAM datang pastikan langsung ditest dan benchmark. Pertama cek kondisi fisiknya, pastikan secara fisik tidak ada kerusakan — cek dengan hati2 — kalo pinnya kotor bisa dibersihkan dengan penghapus sebelum dipasang. Terus kedua setelah dipasang pastikan terdeteksi semua. Cek di BIOS kecepatannya. Coba dipake buat kerja yang berat. Dan lakukan stress test dengan memtest86+ untuk memastikan performa dan kualitasnya prima. Kalo gak lolos atau ada error yang muncul, gak ada kompromi..langsung minta retur aja. Kalo lolos stress test tanpa error, cek kecepatan bandwidth nya, apakah jalan optimal di dual channel, serta punya timing yang sama.
Tips kedelapan, idealnya saat beli RAM memang dari paket memory kit yang sama, atau setidaknya keping memory dari merk dan seri yang sama. Jadi kalo memang ada, beli yang sama. Tapi kalo tidak ada, setidaknya, beli yang masing-masing keping RAM punya kapasitas sama, kecepatan sama, voltase dan CL yang sama, dan keduanya bisa jalan di standar JEDEC. Karena RAM gado2 kayak gini biasanya cuman bisa akur di kecepatan JEDEC standar, bukan mode ngebut di kecepatan XMP misalnya.

Lalu tips kesembilan, pastikan beli RAM bekas dari seller yang responsif dan supportif. Tanya2 dulu kalo misal RAM gak bisa jalan di PC kita boleh diretur apa enggak, apa syarat returnya, dan berapa lama masa returnya. Karena beli RAM bekas belum tentu langsung berjalan lancar. Jadi kalau mengalami masalah kompatibilitas atau trouble di RAM bekasnya, bisa langsung kontak sellernya.
Kesimpulan
Dan itu sedikit pengalaman saya saat beli RAM bekas, serta beberapa tips dan catatan yang mungkin bisa bermanfaat buat teman2 yang tertarik untuk upgrade RAM bekas juga. Pada akhirnya, ini pengalaman saya pribadi dan banyak sekali hal baru yang saya pelajari disini. Pengalaman teman2 bisa berbeda.
Tapi sejauh ini saya senang sekali dengan kinerja RAM bekas ini. Meskipun awalnya sempat ada drama kompatibilitas yang akhirnya di-retur dan bikin mini PC saya isinya RAM gado2 seperti ini, tetapi pada akhirnya stress test 0 error, dual channelnya jalan, dan yang paling penting dompet saya aman karena, hemat hampir 2 juta untuk upgrade performa yang hasilnya luar biasa. Sekarang saya jadi bisa melakukan worflow kerja dengan lebih lancar, buka dua sampai tiga project tetap lancar, berkat dua RAM bekas yang saya beli ini.
Hanya satu penyesalan saya: kenapa kok tidak membeli lebih awal saja. Saat harga baru per kepingnya masih 400 ribu rupiah. Tapi bagaimana lagi. Itulah kondisi yang harus kita hadapi di era boomingnya AI seperti ini.
