Dulu Disebut Seperti Toaster dan Kulkas, Kini Apple Jual MacBook Touchscreen Mulai Rp40 Jutaan

Apple akhirnya menghadirkan MacBook Pro dengan layar sentuh melalui teknologi PROLED XDR. Namun, ada satu hal menarik dari peluncuran ini, Apple seolah-olah baru menemukan teknologi touchscreen, padahal laptop Windows sudah menggunakannya sejak bertahun-tahun lalu.

Bahkan, CEO Apple saat ini, John Ternus, ikut mempromosikan fitur tersebut dengan mengatakan, “You’ve gotta touch it to believe it.” Sepertinya pengguna Windows sudah lebih dulu percaya sejak 2009.

Apple Menjelaskan Touchscreen Seperti Teknologi Masa Depan

Nah dalam materi promosinya, Apple memperkenalkan kemampuan tap, swipe, scroll, hingga pinch-to-zoom sebagai cara baru berinteraksi dengan Mac.

TONTON JUGA:

Bahkan, halaman produknya menjelaskan fungsi setiap gestur tersebut, misalkan Scroll dijelaskan sebagai menggeser jari untuk berpindah konten, sementara pinch digunakan untuk memperbesar atau memperkecil tampilan.

Apple menyebutnya sebagai Magic on tap, padahal, bagi pengguna laptop Windows touchscreen, fitur seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Selain itu, teknologi sensor sentuh yang terintegrasi langsung ke panel layar juga bukan sesuatu yang benar-benar baru.

Misalkan saja Samsung Display bahkan sudah memperkenalkan panel OLED laptop dengan teknologi tersebut pada Januari 2023, meski begitu, harus diakui bahwa layar MacBook Pro terbaru memang menawarkan spesifikasi menarik, termasuk tingkat kecerahan hingga 2.000 nits dan contrast rasio hingga 10.000.000:1.

Tim Cook Pernah Menyebutnya Seperti Toaster dan Kulkas

Nah ini bagian paling menarik nih, yaitu pada tahun 2012 lalu, Tim Cook pernah membandingkan upaya menggabungkan tablet dan laptop dengan menyatukan toaster dan kulkas.

“You can converge a toaster and a refrigerator, but those aren’t going to be pleasing to the user.”

Menurutnya, keduanya mungkin bisa digabungkan, tetapi hasilnya belum tentu menyenangkan untuk pengguna, selain itu bahkan Steve Jobs juga pernah menyatakan bahwa layar sentuh vertikal bukan pengalaman ideal karena pengguna harus terus mengangkat tangan hingga terasa lelah.

Pernyataan serupa juga datang dari Craig Federighi dan Phil Schiller, dimana mereka sebelumnya berpendapat bahwa menggabungkan touch control dengan keyboard dan trackpad justru bisa mengorbankan pengalaman penggunaan Mac.

Bahkan, pada 2021, John Ternus masih menegaskan bahwa Mac dirancang untuk input tidak langsung melalui trackpad dan keyboard, sementara iPad sudah menjadi perangkat sentuh yang optimal.

Namun, sekarang ceritanya berubah. MacBook Pro touchscreen akhirnya hadir, dan fitur yang dulu dianggap kurang ideal kini disebut nyaman serta praktis.

Windows Sudah Melakukannya Sejak Lama

Nah meskipun teknologi ini dianggap baru oleh Apple, tapi Microsoft sebenarnya sudah membawa dukungan multitouch ke Windows 7 pada 2009, yang kemudian dengan hadirnya Windows 8 dan lini Surface semakin mendorong penggunaan layar sentuh pada perangkat PC.

Bahkan, pada peluncuran Surface Pro 4 tahun 2015, Panos Panay sempat menyindir komentar Tim Cook dengan menampilkan konsep gabungan toaster dan kulkas, yang akhirnya, kini touchscreen sudah menjadi fitur umum di berbagai laptop Windows, mulai dari perangkat 2-in-1 hingga laptop konvensional.

Jadi, ketika Apple memperkenalkan fitur tersebut sebagai pengalaman baru di Mac, pengguna Windows mungkin hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Welcome to the club guys.”

Harga Premium, Fitur Lama, dan Strategi Apple

Nah ini sih bukan hal aneh lagi, karena perangkat ini tentu dijual dengan harga yang waw. MacBook Pro touchscreen terbaru dibanderol mulai US$2.899 atau sekitar Rp47 jutaan sebelum pajak dan biaya lainnya.

Menurut laporan yang dari Bloomberg, Apple berharap fitur premium dapat membantu perusahaan mematok harga lebih tinggi, dan tentu, MacBook Pro terbaru bukan sekadar laptop touchscreen. Apple juga menawarkan panel OLED, speaker dengan force-cancelling woofers, serta kamera 12MP Center Stage.

Namun, ada ironi tersendiri ketika fitur yang selama bertahun-tahun dianggap tidak cocok untuk Mac akhirnya dijual sebagai pengalaman baru dengan harga premium.

Disisi lain, mungkin Tim Cook benar, menggabungkan toaster dan kulkas memang belum tentu menyenangkan, namun menggabungkan laptop dan touchscreen? ternyata bisa juga loh, asal sudah waktunya masuk ke strategi produk Apple.

Nah bagaimana menurutmu guys? coba komen dibawah apakah kamu punya pendapat?

Via : Windows Latest, Windows Central


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya bergantung pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berkualitas secara gratis — jadi jika kamu menikmati artikel dan panduan di situs ini, mohon whitelist halaman ini di AdBlock kamu sebagai bentuk dukungan agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui dukungan di Saweria. Terima kasih.

Gylang Satria

Tech writer yang sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux, dan Samsung S24. Punya pertanyaan atau butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

Post navigation

Komentar

Memuat komentar…