
Sedikit kita bahas masalah game, baru baru ini Fortnite kembali menghadapi masalah hukum, dimana kali ini, kelompok konsumen Belanda Stichting Massaschade & Consument (SMC) menggugat Epic Games dan menuntut kompensasi lebih dari €100 juta, atau sekitar Rp2 triliun.
Jadi SMC menilai Fortnite menggunakan mekanisme tertentu yang dapat memberikan tekanan kepada pemain muda untuk melakukan pembelian microtransaction, terutama melalui konsep Fear of Missing Out (FOMO).

Nah salah satu hal yang dipermasalahkan adalah penggunaan hitung mundur atau penawaran terbatas yang dapat membuat pemain merasa harus segera membeli sebuah item sebelum kesempatan tersebut berakhir.
SMC juga mengklaim telah melakukan penelitian terhadap lebih dari 1.000 remaja di Belanda, dan menurut mereka, sekitar enam dari 10 pembeli mata uang virtual seperti V-Bucks tidak merasa sedang mengeluarkan uang sungguhan, sementara sekitar separuh responden pernah menyesali pembelian yang dilakukan karena tekanan waktu.
Epic Games Membantah Tuduhan
Nah mengenai hal tersebut, Epic Games membantah tuduhan dan mengatakan Fortnite sudah memiliki berbagai perlindungan untuk pemain muda.
Epic menyebut Item Shop Fortnite tidak menggunakan timer, sementara pemain di bawah 18 tahun di Belanda tidak dapat melihat atau membeli item yang tersedia kurang dari 48 jam.
Untuk pemain di bawah 16 tahun, akun Fortnite juga masuk kategori Cabined Account, sehingga pembelian menggunakan uang sungguhan membutuhkan persetujuan orang tua atau wali.
Selain itu, Epic juga menyediakan fitur seperti PIN pembelian, verifikasi dua langkah, pembatalan pembelian, pengembalian item, serta opsi untuk menyimpan informasi pembayaran.
"Epic has protections and tools so parents can control how their child makes purchases and set limits for how long they can play. The Fortnite Item Shop does not have a timer, parents can require a PIN to make real money purchases and players under 18 in the Netherlands cannot see or purchase items that are available in the Shop for less than 48 hours.
Bukan Pertama Kalinya Fortnite Bermasalah
Nah kasus ini juga sebenarnya bukan pertama kalinya terjadi di Fortnite, dimana pada tahun 2024, regulator konsumen Belanda menjatuhkan denda €1,2 juta kepada Epic terkait praktik komersial di Fortnite yang dinilai tidak adil terhadap anak. Denda tersebut kemudian dipertahankan oleh Pengadilan Rotterdam pada Januari 2026.
Epic sebelumnya juga telah menyelesaikan kasus dengan FTC Amerika Serikat pada 2022 dengan total pembayaran US$520 juta, yang mencakup persoalan sistem pembayaran, refund, dan privasi anak.
Untuk kasus terbaru ini, SMC sudah memberikan pemberitahuan resmi kepada Epic dan membuka kemungkinan penyelesaian, dan jika negosiasi gagal, perkara tersebut dapat dilanjutkan ke pengadilan.
Nah kasus ini nantinya menarik untuk melihat sejauh mana desain microtransaction dalam game dapat dianggap sebagai bentuk tekanan terhadap pemain muda, terutama ketika mekanisme seperti FOMO ikut digunakan.
Dan saya rasa sih, metode FOMO seperti ini mungkin tidak akan terlalu difikirkan oleh orang dewasa, tapi bagi anak muda yang tidak ingin ketinggalan skin baru, atau hal baru lain dengan waktu terbatas, jelas bisa menjadi faktor yang membuat mereka lebih mudah terdorong untuk melakukan pembelian secara impulsif. Apalagi kalau item yang ditawarkan terlihat eksklusif dan hanya tersedia dalam waktu tertentu.
Nah bagaimana menurutmu mengenai hal ini? komen dibawah guys.
Via : GamesIndustry
Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya bergantung pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berkualitas secara gratis — jadi jika kamu menikmati artikel dan panduan di situs ini, mohon whitelist halaman ini di AdBlock kamu sebagai bentuk dukungan agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui dukungan di Saweria. Terima kasih.

Komentar