FILE- 11 Mei 2017, anggota tim Cirque du Soleil mendemonstrasikan perangkat HoloLens Microsoft untuk keperluan desain di acara konferensi developer Microsoft Build 2017 di Seattle. (AP Photo/Elaine Thompson, File)

Lanjutan dari berita beberapa waktu lalu, yang mana Microsoft berhasil mendapatkan kontrak senilai USD 480 juta untuk memasok headset HoloLens bagi prajurit militer AS. Ini akan dimanfaatkan untuk menampilkan augmented reality medan pertempuran yang akan menjadikan militer Amerika dengan mudah melakukan simulasi pertempuran di berbagai macam medan dan membantu para tentara untuk memberi informasi guna mengambil keputusan lebih baik.

Sekelompok karyawan Microsoft, khususnya yang menangani HoloLens, kurang berkenan dengan pemanfaatan teknologi ini dan meminta perusahaan untuk membatalkan kontrak tersebut. Sebuah surat yang ditandatangani oleh lebih dari 50 karyawan Microsoft diajukan secara internal. Intinya mereka meminta agar teknologi tidak digunakan untuk kepentingan membunuh orang, khususnya di medan perang. Para karyawan menyatakan bahwa mereka menolak menciptakan teknologi untuk peperangan dan penindasan.

“Kami tidak melamar ke Microsoft untuk mengembangkan senjata, dan kami ingin agar ada pemberitahuan bagaimana hasil kerja kami akan digunakan,” demikian tertulis dalam surat tersebut. Surat ini meminta CEO Microsoft, Satya Nadella, dan Presiden HoloLens Brad Smith untuk membatalkan kontrak senilai USD 480 juta dengan militer AS yang diumumkan November lalu itu.

Microsoft sendiri sudah menyatakan bahwa mereka berkomitmen untuk bekerja bersama militer AS, sebagaimana tercantum dalam kontrak yang ditandatangani terkait HoloLens tersebut.

Microsoft membela diri dengan sebuah postingan blog dari Brad Smith yang menyatakan bahwa orang-orang yang mempertahankan AS harus memiliki ‘akses terhadap teknologi anak Bangsa terbaik’. Ini merupakan salah satu cara Microsoft ‘berbakti kepada negara’. Tentu saja mereka juga menjanjikan untuk tetap memperhatikan masalah etika dan kebijakan publik yang penting terkait penggunaan teknologinya oleh militer.

via Medium
Dokumen militer sendiri menyatakan bahwa teknologi baru tersebut – yang disebut militer AS sebagai Integrated Visual Augmentation System, akan digunakan baik untuk latihan maupun pertempuran. Tentara AS akan diberikan pengetahuan dan kesadaran situasional sehingga mereka dapat dengan cepat mengambil keputusan dalam situasi perang yang sesungguhnya.

Satya Nadella sendiri belum menanggapi hal ini. CEO Microsoft tersebut sedang berada di Mobile World Conference di Barcelona, Spanyol, untuk mengumumkan headset HoloLens generasi terbaru yang sudah dikembangkan oleh Microsoft.

 

 

Sumber: Hufftington Post

  11+ Hal yang Perlu Kamu Tahu Tentang Realme 3 Pro 

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.