Ketika ditanya dari mana ide untuk membuat serial Final Fantasy yang legendaris itu, Hironobu Sakaguchi menjawab dengan sederhana, “Saya selalu merasa bahwa saya tidak berbakat membuat game action, meskipun saya selalu suka memainkan game semacam itu sejak era Apple II. Jadi pilihan saya hanya keluar dari bisnis ini… atau bersaing di genre yang merupakan kelebihan saya: sebuah game petualangan berbasis narasi.”

Dan sepertinya, Sakaguchi memilih yang kedua.

 

Menggemari Game sejak Kecil

Sakaguchi pertama kali bersentuhan dengan dunia video game tepat di era awal berkembangnya industri ini. Game populer saat itu, Pong (dan beberapa game lain yang dia lupa karena sudah terlalu lawas). Saat remaja, dia meminta orangtuanya untuk membelikannya Apple II, PC rumahan yang saat itu masih belum umum, apalagi bagi Jepang. Di sana dia bermain beberapa game bertipe RPG (role-playing game), seperti Ultima, Wizardry, dan kemudian juga ikut antusias saat Transylvania booming.

Selain itu, seperti halnya anak-anak Jepang lainnya, Sakaguchi tergila-gila pada manga dan anime. Akira Toriyama (kreator Dragon Ball) merupakan salah satu mangaka favoritnya. Secara otomatis, ketika Dragon Quest, sebuah game yang karakternya didesain oleh Akira Toriyama, dirilis ke pasaran, Sakaguchi langsung membeli game itu dan tergila-gila padanya. Ini terungkap dalam sebuah wawancara dengan Forbes  tahun 2017 lalu. “Kalau membahas Dragon Quest, rasanya begitu besar respek saya terhadap game itu. saya sendiri secara pribadi adalah penggemar sensei Toriyama, dan saya membaca majalah Jump (majalah manga yang terbit di Jepang) setiap minggu. Ketika saya mulai membuat Final Fantasy, saya selalu punya harapan bahwa saya bisa sedikit menyamai kualitas Dragon Quest.” Sakaguchi menambahkan. “Tim developer kemudian bercanda dengan mengatakan kepada saya: Kita tidak akan pernah mengalahkan Dragon Quest, jadi paling tidak ayo kita rilis game ini lebih cepat, jadi nanti kalau game ini laris dan jadi serial, kita bakal punya lebih banyak seri.”

 

Karir Membuat Game

via a90skids

Sakaguchi bergabung dengan Square (ke depannya perusahaan ini akan bergabung dengan rivalnya, Enix, dan akhirnya menyandang nama Square Enix) pada tahun 1983 dan proyek mereka utamanya adalah game PC. Namun proyek terbesar Square adalah ketika mereka mengembangkan game untuk Famicom dari Nintendo. Judul-judul seperti Highway StarKing’s Knight, dan World Runner menjadi game laris di Famicom.

“Saya merasa hari-hari saya menyenangkan di Square,” ungkap Sakaguchi ketika ditanya kesannya saat bekerja di Square, hari-hari di mana game masih di tahap awal popularitas. “Selama hari-hari itu, studio yang melakukan pengembangan game biasanya menyewa sebuah apartemen. Karena saya sangat miskin, waktu itu saya lebih suka tidur di studio karena di sana saya bisa mandi dengan enak dan merasakan ruangan nyaman ber-AC. Saya jarang sekali pulang.”

Boss Square pada saat itu meminta Sakaguchi untuk berfokus mendesain sebuah game model 3D. Alasannya adalah karena belum banyak tipe game seperti itu di pasaran, dan kebetulan Square memiliki seorang programmer yang luar biasa ahli dalam koding 3D graphic, Nasir Gebelli.

Sakaguchi kemudian mencoba merancang game RPG – tipe game yang akrab dengannya – tapi dengan sentuhan 3D. Dia kemudian mendesain dokumen untuk Final Fantasy. Judul yang dipilihnya tersebut mencerminkan suasana hatinya saat merancang game tersebut. Sebelum ini game rancangan Sakaguchi tidak terjual dengan baik. Lagipula pada saat itu, game action sedang laris-larisnya. Karena tidak yakin karirnya panjang (Sakaguchi selalu merasa bahwa dirinya tidak berbakat, hanya suka bekerja keras), dia membayangkan bahwa proyek ini merupakan proyek pertama dan terakhir yang akan dikerjakannya. Dari situlah asal nama ‘Final Fantasy’.

Pada saat Final Fantasy pertama dirilis, Dragon Quest merupakan game yang sangat populer. Sedangkan di bidang RPG, Black Onyx merupakan game RPG pertama Jepang yang saat itu sedang laris. Tidak diduga, penceritaan yang baik serta skema 3D yang unik dari Final Fantasy menjadikan game ini sangat laris. Penjualan Final Fantasy langsung menelan Black Onyx yang dibesut oleh Bulletproof Software. Kali ini Sakaguchi keliru. Ini bukan ‘final’ untuknya, karena kemudian boss Square meminta Sakaguchi untuk segera menyiapkan sekuel Final Fantasy untuk menanggapi permintaan yang membludak.

Kesuksesan Final Fantasy bahkan mengubah nasib Square. Perusahaan developer game yang berkantor di apartemen ini kemudian mampu menyewa kantor di lokasi yang elit. Sakaguchi diberikan sokongan dana yang nyaris tanpa batas oleh Square untuk mempekerjakan bakat-bakat cemerlang di Jepang pada masa itu. Antara lain Tetsuya Nomura, chara designer yang nantinya mendesain karakter Cloud dan Aeris, yang mana gaya art-nya di kemudian hari dianggap sebagai ciri khas Square. Tetsuya Takahashi, desainer Xenogear dan Xenoblade, serta Yasumi Matsuno, kreator game laris seperti Ogre Battle, Final Fantasy Tactics, dan Vagrant Story.

via aminoapps

Namun para gamer mungkin ke depannya akan terus mengingat kerjasama Sakaguchi dengan Nobuo Uematsu, komposer lagu tema dan BGM game-game besutan Square. Meskipun tadinya Uematsu bekerja menangani game-game umum dari Square, namun Square meminta Uematsu untuk mengutamakan karya Sakaguchi (tentu saja karena Final Fantasy adalah pundi-pundi uang mereka). Kolaborasi mereka berdua melahirkan lagu-lagu tema yang digemari, bahkan bukan hanya oleh penggemar game.

Eyes on Me yang dinyanyikan Faye Wong menjadi hits, bahkan orang mungkin pernah mendengarnya meskipun belum pernah memainkan Final Fantasy VIII yang berfokus pada kisah cinta Squall Leonheart dan Rinoa.

Suteki da ne, lagu tema Final Fantasy X juga populer dan sering diputar di banyak acara anime manga.

Ini adalah zaman keemasan bagi Square. Mereka bahkan dengan mudah mencari keuntungan dengan membuat spinoff (serial terpisah) dari karakter-karakter yang ada di Final Fantasy seperti Bahamut Lagoon, Brave Fencer Musashi, Racing Lagoon, dan Dew Prism. Square bahkan membuat anak perusahaan tersendiri untuk merilis serial-serial non-JRPG agar tidak ‘melukai’ citra perusahaan sebagai pembuat game RPG terbaik.

Salah satu milestone Square adalah mengkreasi film layar lebar dengan dukungan Hollywood, Final Fantasy: The Spirits Within – tentu saja tetap melibatkan Sakaguchi. Gaya animasi CGI seperti itu merupakan hal baru pada tahun rilisnya, 2001. Film ini menjadi perbincangan besar para kritikus dan sineas, sayangnya tidak diiringi dengan keuntungan. Film berbiaya USD 137 juta ini hanya mengumpulkan uang sebesar USD 85 juta dari pemutarannya.

Pada tahun 2004, Sakaguchi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatannya sebagai Executive vice president. Sayangnya, manajemen baru sepeninggal Sakaguchi kurang disukai oleh talenta-talenta yang dulu bekerja bersama Sakaguchi. Yasumi Matsuno, salah satu talenta utama Square akhirnya ikut mengundurkan diri dari perusahaan dengan alasan kesehatan, dan dia tidak pernah mau kembali ke Square.


 

Sakaguchi kemudian pindah ke Hawaii, tempat yang memberikan ketenangan baginya. Dia menghabiskan waktu berselancar dan dengan santai membuat desain game-game baru yang kemudian dijual kepada perusahaan game, termasuk tempatnya dulu bekerja, Square, yang sudah mengakuisisi Enix dan menjadi Square Enix. Namun entah berapa lama Sakaguchi bisa mempertahankan kehidupan santainya, karena perusahaan-perusahaan besar rutin menggodanya untuk kembali bekerja, termasuk Microsoft yang mengajaknya terlibat dalam pengembangan game eksklusif Xbox 360: Blue Dragon dan Lost Odyssey.

Satu hal yang dapat dipelajari dari kreator game legendaris ini, Sakaguchi selalu merasa sebagai ‘orang biasa’ – bukan seorang jenius atau istimewa. Proses kreatif, baginya bukan merupakan ambisi, ini adalah tugas, sebuah tanggung jawab. Dia berupaya menyelesaikan game tersebut bukan didorong oleh ambisi, namun karena dia memang menganggap itu adalah kewajibannya. Tidak ada batas akhir dalam menyelesaikan kewajiban ini, dia terus melakukannya, lagi dan lagi, dan demikianlah serial Final Fantasy baru terus menerus keluar.

 

 

 

Referensi

Barder, Ollie. (2017). Hironobu Sakaguchi Talks About His Admiration For ‘Dragon Quest’ And Upcoming Projects. Forbes.

Boxer, Steve. (2012). JRPG legend Hironobu Sakaguchi – interview. The Guardian.

Parkin, Simon. (2012). Hironobu Sakaguchi – Fantasy ManEurogamer

  Ada yang Aneh di Xiaomi Mi A3  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.