Home Editorial Kisah Silicon Valley #11 – Ballmer, Menjabat Karena Cinta, Mundur Juga Karena...

Kisah Silicon Valley #11 – Ballmer, Menjabat Karena Cinta, Mundur Juga Karena Cinta

via Softpedia

“Bisa bicara sebentar?” Itulah yang dikatakan Steve Ballmer pada Chairman Nokia, Risto Siilasma. Ajakan itu berlangsung pada pagi hari hingga sore, dari markas besar Microsoft di Redmond, hingga menjelang senja di Finlandia, markas besar Nokia. Akhirnya mereka setuju untuk bertemu lagi di Mobile World Congress di Barcelona. Tiga kata yang dilontarkan Ballmer itu menentukan nasib kedua perusahaan ke depannya!

 

Luput Melihat Masa Depan

via Complex

Satu dekade setelah ‘diserahi’ posisi CEO oleh Bill Gates, Ballmer memang sukses dalam menjaga neraca keuangan perusahaan. Pundi-pundi Microsoft menggelembung dengan meningkatnya pendapatan yang terjadi nyaris setiap tahun. Ballmer sukses menjadikan ‘sapi perah’ Microsoft, yaitu Windows dan Microsoft Office – Semakin berkibar di kalangan korporat. Pada saat itu, meskipun Microsoft terkenal lebih ‘terbuka’ dibandingkan Apple dalam hal ekosistem, namun Ballmer yang jelas merupakan ‘pemuda kipas’ Microsoft nomor satu, tenar akan kebijakannya dalam mengutamakan Microsoft dalam segala aspek. Microsoft membuatkan Office untuk Mac, tapi jelas dari segi user experience, menggunakan Office di perangkat Windows terasa lebih baik sehingga pengguna Mac stres. Menggunakan Office suite di Mac terasa buruk dan boros storage (juga mahal) – Tapi menggunakan iWork malah lebih buruk lagi. Productivity suite milik Apple ini sama sekali tidak sebanding dengan software dari Microsoft. Ballmer juga terkenal naik darah jika mengetahui ada karyawan Microsoft yang menggunakan perangkat produksi kompetitor. Dia tak segan-segan memberi peringatan pada karyawan tersebut. Jangankan  dengan karyawan, dalam salah satu wawancaranya di tahun 2006, Ballmer bahkan menyatakan: “Anak-anak saya mungkin di banyak dimensi berperilaku sama buruknya dengan anak-anak lain, tapi paling tidak dalam dimensi ini saya berhasil ‘mencuci otak’ anak-anak saya: Kau tidak menggunakan Google, dan kau tidak menggunakan iPod!”

Dalam hal kecintaan terhadap Microsoft, Ballmer bahkan lebih ekspresif dibandingkan Bill Gates sekalipun. Kultur yang dikembangkan oleh Ballmer di perusahaan pada saat itu cenderung ke arah Microsoft First.

Namun dibalik kesuksesan tersebut, Ballmer didera gelisah. Dibandingkan para kompetitor, Microsoft memang terlihat tegar dan gagah, namun mandek. Pada tahun 2001, Steve Jobs ‘merevolusi’ dunia musik yang diganggu oleh pembajakan secara digital. Solusi yang ditawarkan oleh Jobs waktu itu sangat elegan. Sebuah perangkat musik digital dengan enkripsi sehingga tidak bisa dikopi atau dibajak. Musik pada perangkat tersebut dijual melalui iTunes – Dalam sistem ini Jobs bekerja sama dengan industri musik secara luas. Perusahaan rekaman dan musisi bisa menjual langsung karyanya lewat iTunes. Yup, iPod! Saat ‘benda aneh mungil’ ini mendunia, Ballmer bersikukuh bahwa Microsoft tidak perlu mengikuti langkah Apple tersebut, karena Microsoft sudah memiliki ‘lahan’-nya sendiri. Lagipula, seni dan musik, memang kurang sinonim dengan Microsoft saat itu. Namun melihat keuntungan yang diperoleh Apple (yang bahkan jauh lebih tinggi dari penjualan Mac – sehingga menyelamatkan Apple dari neraca defisit), Microsoft pun tergiur dan akhirnya latah mengeluarkan perangkat yang bernama Zune. Tentu saja sangat terlambat ketika Zune mulai dipasarkan – Apalagi terkesan malu-malu dan tidak disertai dengan marketing yang bagus. Meskipun Zune mendapatkan penggemar tersendiri, tapi tentu saja iPod menggilas angka penjualan Zune dengan mutlak.

via Cult of Mac

Kemudian pada sekitar awal pergantian milenium, Microsoft luput melihat peluang pada mesin pencari. Ballmer melewatkan kesempatan untuk membeli Overture, sebuah mesin pencari yang sudah matang untuk melawan Google yang masih baru tahap awal berkembang. Sebelum itu juga Ballmer hanya memandang sebelah mata mesin pencari karena tidak mendatangkan keuntungan. Dalam periode ini, hanya Bill Gates yang sadar pentingnya mesin pencari di masa mendatang. Oleh karena itu, meskipun tidak ingin menjilat ludahnya sendiri (dengan tidak ikut campur dalam pengambilan keputusan Microsoft), Bill Gates mengajukan diri untuk mengepalai sebuah tim tangguh dalam program underdog untuk mengembangkan mesin pencari bagi Microsoft. Ballmer sebagai CEO merestui ini, namun hal ini tidak membantu Gates yang susah payah memperjuangkan mesin pencari sejak era MSN Search hingga era Bing yang mulai matang pada tahun 2009.

Saat Steve Jobs meluncurkan iPhone generasi pertama, dunia tersentak. Semuanya kagum dan melihat arah baru dalam hal smartphone. Tentu saja Ballmer tidak segampang itu dibuat kagum.

Dalam sebuah wawancara yang meminta tanggapannya atas rilis iPhone, Ballmer tertawa. Dia bahkan menyebut iPhone tidak akan sukses karena ‘tidak memiliki keyboard’ dan perangkat Microsoft yang saat itu menggunakan Windows Mobile bersaing dengan BlackBerry di kalangan korporat. Ballmer tetap merasa bahwa Microsoft harus tetap pada ‘jalannya sendiri’ dan tidak perlu mengikuti iPhone. Kelak pemasukan iPhone dari Apple mengubah perusahaan tersebut menjadi perusahaan paling bernilai di dunia pada tahun 2012 – Bahkan pendapatan hanya dari iPhone saja jauh lebih besar dari seluruh penjualan produk dan jasa Microsoft!

via Geek

Ballmer sebenarnya tidak tinggal diam. Dengan tetap mendorong dan mengembangkan produknya sendiri, serangan demi serangan balasan dirancang oleh Ballmer. Setelah Zune gagal bersaing dengan iPod, meskipun Ballmer secara eksplisit menyatakan bahwa target Zune memang bukan bersaing dengan iPod, melainkan mengakuisisi para orang-orang yang tidak memilih iPod (a.k.a pembenci Apple) – yang jumlahnya cukup signifikan – dan memberikan mereka sebuah perangkat yang dapat berfungsi sama dengan iPod, Ballmer berfokus pada perangkat mobile yang dapat menyaingi iPhone. Windows Mobile yang dinilai sinonim dengan perangkat ‘kuno’ ala BlackBerry, disegarkan dengan OS Windows Phone yang lebih modern! Perangkat ini memiliki karakteristik ala Windows 8 yang direncanakan Microsoft touch friendly. Riwayat peluncuran Windows 8 juga sebenarnya ada kaitannya dengan ‘jawaban’ Microsoft terhadap Apple. Jika Apple dapat menciptakan sebuah perangkat mungil yang dapat dioperasikan dengan sentuhan, maka mengapa tidak sebuah desktop yang dapat beroperasi dengan sentuhan? Percobaan ini kurang berjalan mulus karena pasar menolaknya. Meskipun dipuji sebagai ide yang sangat futuristik, pengguna desktop yang tradisional menolak habis-habisan ide perangkat desktop ramah sentuhan. Mereka merasa kesulitan bekerja menggunakan perangkat semacam itu. Di antara generasi Windows, Windows 8 adalah versi yang paling kontroversial. Jumlah penggemar dan pembencinya nyaris sama banyaknya. Meskipun demikian, dengan mengambil karakteristik Windows 8, Windows Phone versi 7 yang pertama kali diluncurkan secara internasional pada tahun 2010 memberikan kesegaran bagi pasar ponsel. Android yang saat itu mulai menggeliat, tapi memiliki performa yang buruk, memperoleh pesaing kuat. Windows Phone menjadi kuda hitam yang bahkan terus melejit selama penjualan BlackBerry menurun. Kunci kesuksesan perangkat ini adalah pada antarmuka yang mudah dioperasikan, pengoperasian yang halus dan cepat, serta integrasi yang baik dengan desktop. Nokia, raja ponsel asal Finlandia yang berupaya menggapai kejayaannya kembali di tengah gempuran Android, melihat keberadaan Windows Phone sebagai peluang. Sebagai veteran dunia ponsel, Nokia menambahkan fitur-fitur yang kemudian menjadi identik dengan Windows Phone seperti kamera yang di atas rata-rata dan kemampuan peta yang unik pada HERE Maps. Selain itu, ‘legenda’ Nokia seperti ponsel yang tangguh dengan penerimaan yang baik, juga turut mendorong penjualan Windows Phone. Bahkan setelah beberapa kali pergantian dan refresh Windows Phone, seperti versi 7.5 Mango yang kemudian ‘disegarkan’ menjadi Windows Phone 8, Nokia terbukti menjadi ‘adopter paling sukses’ dengan mencatatkan pangsa pasar hingga 90% dari seluruh Windows Phone yang terjual (Catatan tambahan: Jika dibandingkan dengan seluruh OS, maka catatan terbaik Windows Phone adalah pada 2013 dengan mencapai 3% market share di seluruh dunia).

via Business Insider

Pencapaian Nokia tersebut menjadikan Ballmer berpikir untuk menjadikan Nokia lebih dari sekedar mitra, melainkan juga bagian dari Microsoft! Apalagi pada saat itu internal Microsoft mulai menggaungkan visi One Microsoft. Slogan ini dicetuskan karena Microsoft mulai memiliki terlalu banyak divisi yang tidak terkait dengan bisnis intinya: Software. Pada periode 2012-2013, Microsoft mulai meraup keuntungan besar dari Xbox, sebuah eksperimen yang tidak disangka berjalan sinergis dengan divisi Gaming Microsoft. Selain itu Microsoft Azure – Perkembangan dari Windows Cloud – yang diresmikan Ballmer pada tahun 2008, menjadi sapi perah baru bagi Microsoft. Di bawah kepemimpinan Satya Nadella, divisi Azure mencatatkan pencapaian pemasukan dan laba bersih yang terus meningkat. Ini menjadikan Microsoft memiliki terlalu banyak divisi dan terpecah-pecah. Oleh karena itulah ide One Microsoft mulai digemakan. Konkritnya semua divisi tersebut akan menyatu dan saling tertaut dalam sebuah skema besar. Dalam visi inilah Ballmer mengupayakan agar smartphone produksi Microsoft juga menjadi bagian dari visi besar Microsoft!

Mungkin jika menilik situasi saat itu, di mana iOS dan Android mendominasi nyaris seluruh pangsa pasar OS ponsel, maka visi ini terlihat muluk. Namun Microsoft jelas memiliki semua modal untuk mewujudkan hal tersebut. Hanya saja, sifat Ballmer yang terlalu konvensional dalam bisnis sekali lagi justru menjadi hambatan. Google mampu menyukseskan Android karena mereka menganggap Android merupakan perpanjangan bisnis intinya: Mesin pencari. Ini mendorong Google berani melisensikan OS tersebut secara gratis kepada OEM yang berminat bermitra dengan mereka. Microsoft sama sekali buta dengan skema bisnis ini. Ballmer menganggap bahwa membuat sebuah karya lalu membagikannya secara gratis adalah hal yang ‘gila’. Microsoft tentu saja menolak dan tetap menjadikan Windows Phone berbayar bagi mitra maupun developer yang berminat. Solusi yang dipikirkan Ballmer adalah meniru gaya Apple – Membuat hardware sendiri untuk ‘memintas’ prosedur penjualan sekaligus memastikan kontrol terhadap pengalaman pengguna. Permasalahannya: Microsoft tidak memiliki divisi hardware ponsel. Di sinilah Ballmer kemudian melihat peluang mengakuisisi Nokia untuk dijadikan ‘divisi ponsel’ milik Microsoft!

Namun saat berupaya mewujudkan visi tersebut, dewan direksi sudah merasa gerah oleh ‘kekalahan-kekalahan’ Ballmer dalam mengamankan posisi Microsoft di pasar dan dunia teknologi. Mereka mendesak ‘penyegaran’ di posisi CEO untuk memastikan Microsoft tidak lagi mengulang berbagai kesalahan ini. Sebenarnya beberapa kali mereka melobi Bill Gates untuk mewujudkan hal ini. Namun Bill tetap pada keputusannya untuk tidak ikut campur pada politik internal Microsoft. Hanya saja dia merestui jika memang direksi ingin ‘menunjuk’ pengganti Ballmer.

 

Mundur Karena Cinta

Saat Microsoft menunjukkan arah perubahan yang positif, secara mengejutkan pada September 2013, Steve Ballmer memutuskan untuk ‘pensiun’ sebagai CEO. Kabar tersebut memang tidak begitu mengejutkan karena tekanan pada Ballmer begitu intens. Meskipun demikian banyak yang penasaran dan mengajukan pertanyaan pada Ballmer seputar kemundurannya. Komentar Ballmer, “Memang tidak pernah mudah mencari waktu untuk melakukan transisi seperti ini, tapi kita harus melakukannya.” Ballmer menambahkan, “Pemikiran awal saya tentang waktu pensiun semestinya adalah di tengah transformasi perangkat dan layanan perusahaan berfokus pada tindakan memberdayakan pelanggan pada aktivitas yang penting untuk mereka.”

Secara implisit dengan kalimat tersebut Ballmer menyatakan bahwa ini adalah saat terbaik. Pada saat Ballmer mengumumkan ini, belum ada pembahasan tentang siapa CEO selanjutnya. Namun saat pensiunnya direalisasikan pada medio 2014, Microsoft menunjuk sosok dibalik kesuksesan Cloud milik Microsoft, Azure dan OneDrive: Satya Nadella.

Ballmer tidak menganggur sia-sia saat memutuskan untuk ‘penisun’. Seperti halnya saat dia menghabiskan waktunya demi Microsoft (Ballmer bahkan menyebut aktivitasnya di Microsoft sebagai ‘life’s work’ – kerja demi kehidupan), saat pensiun Ballmer membeli sebuah klub bolah basket: LA Clippers. Pada saat kuliah, Ballmer adalah anggota tim basket universitas spesialis pertahanan. Sekali lagi dia memilih untuk mengerjakan sesuatu yang dia cintai! Kamu bisa menyaksikan sendiri Ballmer berseru histeris, tertawa, dan melompat-lompat bersama para penonton di tribun menyaksikan pertandingan bola basket, intensitas kecintaan yang sama seperti halnya saat dulu dia memilih untuk ‘mengikuti’ Bill Gates sahabat sekaligus saingannya semasa kuliah.

via Daily Mail

Referensi

Arthur, Charles. (2013). Digital Wars – Apple, Google, Microsoft, dan Pertempuran Meraih Kekuasaan atas Internet. PT. Elex Media Komputindo

Maxwell, Fredric. (2002). Bad Boy Ballmer – The Man Who Rules Microsoft. Harper Collins

Callaham, John. (2015). Peter Moore: Xbox One Wouldn’t Had Happened if Steve Ballmer Had Not Saved the Xbox 360. Windows Central.

Eichenwald, Kurt. (2012). Microsoft’s Lost Decades. The Vanity Fair.

Fried, Ina. (2014). From “Can We Talk?” to a Coffee-Table Mishap — The Inside Story of Microsoft’s Nokia Deal. AllThingsD

Guth, Robert. (2008). Gates-Ballmer Clash Shaped Microsoft’s Coming Handover. The Wall Street Journal.

Josefowitz, Nicholas F., (2002). Personable Ballmer Leads College Extracurriculars, Microsoft. The Hardvard Crimson.

Parr, Ben. (2011). Microsoft’s Steve Ballmer Conundrum. Mashable.

  Video: Review DJI Osmo Mobile Indonesia  

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta