Home Editorial Kisah Silicon Valley #12 – Entrepreneur Cilik

Kisah Silicon Valley #12 – Entrepreneur Cilik

via Business Insider

Ketika Steve Jobs memperkenalkan Apple II pada tahun 1977, seorang remaja berusia 15 tahun merengek kepada Ibunya, seorang broker saham yang cukup ternama di Texas, untuk dibelikan PC yang mempesona dan terlihat jauh melebihi zamannya tersebut. Sang ibu, Lorraine, hanya geleng-geleng kepala menyaksikan sikap kolokan anaknya. Tapi dia menuruti permintaan tersebut. Bukan, bukan karena memanjakan anaknya. Di usia 15 tahun, si kecil itu sudah cukup terkenal sebagai remaja mandiri di Austin. Semua tetangga mengenalnya sebagai pebisnis perangko langka dan penjual langganan koran yang cukup sukses untuk ukuran siswa Junior High (setingkat SMP). Tapi Apple II yang diinginkan si kecil itu tentu saja berada jauh di luar jangkauannya – mengingat harganya mencapai USD 3000! Lorraine mengabulkan permohonan putranya, karena dia yakin yang dia belikan ini adalah ‘investasi’ yang pasti berharga bagi anaknya di masa mendatang.

Tepat 20 tahun kemudian, sang anak yang sudah beranjak dewasa, menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi, diminta komentarnya tentang sikap Steve Jobs (yang merupakan idolanya semasa remaja) – yang saat itu ‘dipensiunkan’ oleh Apple dan akhirnya memilih mendirikan perusahaan baru, Next Computer dan berlanjut dengan Pixar. Dia dengan lugas menjawab, “Jika saya adalah Steve Jobs, saya akan menutup Apple dan memberikan uang semua pemegang saham.”

Audiens tertawa mendengar jawaban itu, karena saat itu Steve Jobs saat itu adalah paria, sementara sang anak yang kini dewasa tersebut adalah pemilik sebuah perusahaan penjual PC terbesar di dunia pada saat itu, dalam usia yang relatif muda. Dunia saat itu berada di genggamannya! Steve Jobs yang membaca komentar tersebut di koran murka dan digambarkan dalam satu kalimat pendek tajam yang menjadi pembuka untuk dendam selama puluhan tahun kemudian: “FUCK MICHAEL DELL!”

 

Pionir Direct Selling

via Emaze

Michael Saul Dell beruntung dibesarkan dalam keluarga yang melek finansial. Lorraine, ibunya adalah seorang broker saham populer di Austin, sementara ayahnya adalah orthodontist (spesialis gigi yang khusus merawat ketidakwajaran gigi dan gusi). Sejak anak-anak, kedua orangtuanya sudah melatih Michael untuk bertanggung jawab secara finansial, minimal mengelola uang jajannya. Michael melebihi harapan tersebut!

Pada usia 12 tahun, meskipun berasal dari keluarga terpandang, Michael tidak malu-malu menawarkan jasanya kepada restoran lokal. Dia pun mendapatkan kerja sambilan sebagai tukang cuci piring. Uang yang dia peroleh dari kerja sambilan tersebut ditabungnya sebagai bagian dari ‘latihan investasi’. Menyaksikan tekad anaknya tersebut, kedua orang tuanya sangat bangga dan sangat mendukung. Mereka bahkan beberapa kali mengajak koleganya makan di restoran tempat Michael bekerja (tentu saja untuk membanggakan kemandirian sang anak) untuk menunjukkan pada Michael bahwa mereka bangga akan ‘profesi’ dan pemikiran anaknya itu.

Berkat pengetahuannya masalah keuangan, Michael dalam usia sangat dini juga sudah melihat peluang dari hobinya sendiri: mengumpulkan perangko. Setelah beberapa kali menjual perangko koleksinya melalui semacam lembaga Filateli, Michael menemukan fakta bahwa dia dapat menjual perangko koleksinya lebih mahal jika berhasil berkenalan dengan kolektor secara langsung. Bagaimana bisa mengetahui siapa saja kolektor yang bisa membayar mahal? Dell kecil ini menemukan solusinya! Dia hadir dan memantau acara lelang perangko, kemudian mencatat siapa saja yang hadir. Dell berkenalan dengan orang-orang yang jauh lebih tua darinya tersebut, kemudian menawarkan perangko koleksinya. Sebelum lulus dari Junior High, Michael Dell sudah berhasil mengumpulkan USD 20.000 dari ‘bisnis’ tersebut! (Trivia: jumlah tersebut bahkan jauh lebih besar dari pendapatan guru-guru SMP Michael selama tiga tahun!)

Lalu untuk apakah uang tersebut? Tak diduga, Dell meminta saran ibunya untuk berinvestasi ke saham dan logam mulia. Karena masih terlalu kecill, dia terpaksa menggunakan nama ibunya untuk membuka akun. Keuntungan dari investasi tersebut mencukupi uang sakunya sendiri mulai Junior High hingga High School!

Pada saat belajar di Memorial High School di Houston, Dell tertarik untuk menghasilkan uang melalui bisnis menjual langganan koran. Secara umum, prosedur bisnis ini adalah: mencari pelanggan lewat telepon ataupun survei langsung. Paket langganan yang dijual biasanya bulanan atau tahunan. Ini kemudian bisa ‘diuangkan’ langsung melalui agen koran setempat. Agen selanjutnya akan bertanggungjawab mengirimkan koran tersebut sesuai dengan lama langganan orang bersangkutan. Bisnis ini cukup menguntungkan karena ‘makelar’ yang menjualkan langganan tidak perlu terlibat dalam jangka waktu panjang, sehingga bisa dilakukan paruh waktu dan cocok untuk pelajar. Setelah mencoba sistem telepon dan keliling menawarkan paket langganan, Michael mendapati bahwa cara ini tidak efektif. Selain menghabiskan banyak waktu dan biaya, persaingannya juga ketat dengan para ‘makelar’ lain. Michael kemudian mengubah pendekatannya dengan berupaya menjawab pertanyaan: “Siapa yang akan membeli sebuah langganan koran?”

Melalui penelitian yang sebenarnya cukup alakadarnya, Michael mendapati bahwa sebagian besar pembeli langganan koran ternyata adalah pasangan yang baru saja menikah dan baru pindah rumah (kemungkinan karena mereka memerlukan banyak informasi terkait daerah setempat – yang mana pada tahun 60-an hanya bisa didapat melalui koran). Setelah mengetahui fakta ini, Michael mengubah pendekatannya. Dia meminta bantuan temannya untuk mendata siapa saja pasangan yang baru menikah dan baru saja menempati rumah baru. Setiap minggu Michael menagih daftar yang dibuat temannya tersebut (tentu saja dengan kompensasi beberapa dolar), kemudian dia sendiri langsung mendatangi profil spesifik yang sudah disusun, untuk lalu menawarkan langganan koran. Ternyata trik ini berhasil dan menjadikan Michael sebagai salah satu ‘makelar agen koran’ paling sukses di Houston!

Michael muda saat itu belum sadar bahwa kepiawaiannya ‘menjual langsung’ kepada pelanggan seperti pada kasus perangko serta langganan koran itu akan berpengaruh sangat besar terhadap konsep bisnisnya di masa mendatang!

 

Magnet PC

via Retroland

Seperti halnya remaja seusianya yang terpukau oleh dunia teknologi, Michael Dell juga terkesima oleh PC yang pada akhir 70-an itu disebut-sebut sebagai ‘jendela masa depan’. Steve Jobs pada masa itu adalah dewa bagi anak-anak muda. Kharismanya yang tak terbantahkan menjadikannya idola. IBM mungkin membuat komputer yang terkesan reliabel, tapi semangat pemberontakan Jobs merupakan tren tersendiri. Michael pun meminta kepada orangtuanya untuk membelikannya satu unit PC.  Saat itu Apple II baru saja dirilis, dan tentu saja Michael sangat ingin menyentuhkan tangannya ke perangkat mutakhir tersebut.

Saat membelikan PC canggih tersebut, Lorraine memang merasa bahwa ini investasi bagi masa depan Michael. Tapi dia sama sekali tidak menduga bahwa beberapa hari setelah Apple II bertengger anggun di kamar putranya, perangkat futuristik seharga USD 3000 tersebut sudah terpisah-pisah menjadi komponen-komponen kecil. Sebelum ibunya histeris menyaksikan nasib ‘investasi’-nya, Michael buru-buru menjelaskan bahwa dia penasaran cara kerja PC tersebut. Dia ingin tahu detail komponen yang menyusunnya dan bagaimana perangkat tersebut bekerja. Lorraine mengangkat tangan.

Berbulan-bulan Michael sibuk dengan ‘mainan’ barunya. Butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya dia memahami cara kerja seluruh komponen, bahkan mampu menyoldernya ulang untuk memasang kembali perangkat tersebut satu demi satu dan menjadikannya bekerja seperti semula. “Man, kau berbakat dalam hal ini. Kau juga harus membuat dan menjual komputer!” Kata temannya yang menyaksikan hasil perjuangan Michael dengan kagum. Kata-kata ini terus menancap di benak Michael Dell!

 

 

 

REFERENSI

Dell, Michael. 1999. Direct from Dell: Strategies that Revolutionized an Industry. Collins Business Essentials

Pearlson, Keri & Yeh, Raymond, 1999. Dell Computer Corporation: A Zero-Time Organization. University of Texas at Austin – Graduate School of Business

Kreamer, Kenneth L., Dedrick, Jason, & Yamashiro, Sandra. 2000. Refining and Extending the Business Model with Information Technology: Dell Computer Corporation. The Information Society, 16:5-21.

Tsotsis, Alexia. (2011). Michael Dell on His Infamous ‘I’d Shut Down Apple’ Quote: “My Answer was Largely Miscontrued. Tech Crunch.

  Cara Mematikan Update Windows 10  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta