Andy Rubin via Rakuten

Sebelum menyajikan konsepnya kepada Google, Andy Rubin ternyata pernah mempresentasikan idenya kepada Samsung di Seoul. Kisahnya tidak berakhir indah tentu saja, namun ini merupakan salah satu kenangan manisnya karena pada akhirnya Android berhasil ‘memaksa’ Samsung untuk menggunakan sistem operasi yang dirintisnya ini. Dia mengisahkan ini dengan kata-katanya sendiri sebagai berikut:

“saya berjalan masuk ruangan rapat dengan seluruh tim saya, yaitu saya sendiri dan enam orang lainnya. Kemudian dua puluh eksekutif melangkah masuk dan berdiri di seberang sisi meja ruang rapat ini. Saya langsung duduk, sementara mereka berdiri. Saya sempat heran karena tidak terbiasa dengan ‘adat Asia’, namun kemudian saya melihat CEO mereka melangkah masuk, dan barulah mereka duduk setelah CEO mereka duduk – persis seperti penghormatan ala militer. Saya kemudian mempresentasikan visi Android kepada mereka dan memosisikan mereka sebagai kapitalis pemberi modal yang akan menyokong kami. Setelah saya melakukan presentasi, ruangan itu sepi. Tidak ada yang berbicara sampai akhirnya CEO mereka angkat bicara, ‘Apa kalian sedang mimpi?’ – seakan dia ingin mengatakan, kalian cuma enam orang dan ingin mewujudkan ini? Apa kalian mimpi? Setelah sang CEO mengatakan itu, semua eksekutif mulai tertawa terbahak-bahak. Suara tawa memenuhi ruangan itu dan masih saya ingat dengan jelas. Dua minggu kemudian, saya melakukan presentasi yang sama di depan Google, dan Larry Page langsung menawarkan untuk membeli Android.” Rubin tertawa saat menceritakan itu, “Cerita ini masih ada lagi lanjutannya loh,” ungkap Rubin sambil tersenyum “Ketika akuisisi Android diumumkan, besoknya salah seorang eksekutif Samsung yang saya kenal menelepon saya dan berkata, ‘saya ingin bertemu dengan Anda segera untuk membahas proposal menarik yang Anda tawarkan kepada kami [waktu di Seoul kemarin],”

Sooner yang Gugur Lebih Cepat

Googleplex via Tripsavvy

Googleplex mungkin merupakan bangunan paling megah dan mencolok di Silicon Valley. Bangunan luas milik Google ini terletak tiga puluh lima mil sebelah tenggara San Francisco. Kemiripannya dengan kampus, mungkin untuk mengenang bahwa Google berawal di sebuah asrama Stanford University di tahun 1998, dan kini telah berkembang menjadi salah satu perusahaan paling penting di dunia. Pada lahan milik Google di Mountain View tersebut, Google memiliki enam puluh lima bangunan dan menampung sekitar lima puluh lima ribu pekerja di sana. Lahannya yang super luas tidak menjadikannya lambat atau terkesan tidak terhubung satu sama lain. Para karyawan Google berkeliling gedung dengan sepeda yang didominasi warna merah, hijau dan biru, atau skuter dari gedung ke gedung. Google menggunakan begitu banyak panel surya di perusahaan tersebut, bahkan sampai mereka menempati peringkat pertama untuk perusahaan dengan panel surya terbanyak untuk memastikan mereka selalu memiliki sumber energi yang andal dan melimpah.

Di luar segala kecanggihannya, desain gedung-gedung Google yang menyerupai kampus tersebut dimaksudkan untuk menjaga kualitas para engineer yang dipekerjakan. Sepertinya Larry Page dan Sergey Brin meyakini bahwa atmosfer kuliahan adalah yang terbaik untuk mengeluarkan potensi terbaik para engineer yang dipekerjakannya. Bahkan dari pengakuan sebagian besar karyawan, mereka merasa seakan tidak pernah meninggalkan kampus. Ini menjaga mereka tetap kreatif dan penuh semangat mengejar inovasi baru.

“Kami dengan sengaja mengambil keputusan untuk menjadikan gedung-gedung ini padat,” ungkap mantan chairman Google, Eric Schmidt, dalam sebuah wawancara. “Jenis ‘keramaian’ seperti ini mendorong semua orang untuk terus bekerja dengan penuh semangat. Kami membuatnya berdasarkan suasana kerja yang disukai para lulusan ilmu komputer. Model ini adalah salah satu yang paling populer dan akrab bagi programmer kami dan menjaga mereka tetap produktif.”

Pada awal-awal berdiri, Googleplex terasa aneh dan berbeda, menjadikannya menonjol di antara perusahaan lain yang modelnya lebih formal. Namun kemudian lama kelamaan bentuknya diikuti oleh perusahaan-perusahaan Silicon Valley lainnya, termasuk Facebook. Kembali ke tahun 2005, saat Google masih menonjol sebagai perusahaan yang lebih mirip taman bermain raksasa, sebuah proyek rahasia nan ambisius berlangsung di lantai pertama Gedung 44 Google: sebuah upaya menciptakan smartphone yang disebut Android Project. Lebih dari empat puluh engineer mondar-mandir di gedung itu, mencurahkan segala upayanya untuk menciptakan perangkat seluler yang diharapkan akan mengubah industri ponsel untuk selamanya. Terhitung sejak 2005 hingga 2007, semua orang di sana telah bekerja masing-masing 60 hingga 80 jam setiap minggu selama lima belas bulan, bahkan ada yang sudah dua tahun penuh menulis dan menguji kode, menegosiasikan lisensi perangkat lunak, dan mencari komponen, pemasok, dan produsen untuk perangkatnya. Mereka sudah hampir siap dengan prototype yang mereka yakini bisa mengubah tatanan dunia smartphone sampai Steve Jobs naik panggung dan memperkenalkan iPhone pada Januari 2007!

Chris deSalvo, yang bersama Andy Rubin memimpin arah pembuatan Android, bukan orang yang mudah panik. Dia cenderung tenang dan dingin. Pengalamannya dalam menulis perangkat lunak lebih dari dua puluh tahun menjadikannya sosok yang andal dan tidak mudah goyah. Namun ketika menyaksikan presentasi Steve Jobs melalui webcast dalam perjalanannya mengendarai mobil ke Las Vegas, deSalvo terguncang hebat. “Sepertinya kita tidak akan memproduksi ponsel kita” ujarnya lesu.

Tim Android, Saat itu sedang mengerjakan sebuah ponsel yang diberi kode Sooner, sebuah ponsel yang memiliki sistem operasi yang diyakini Google akan merevolusi dunia smartphone. Ponsel ini direncanakan untuk memiliki browser Internet yang utuh dan menjalankan sebmua aplikasi web milik Google saat itu, seperti Search, Maps, dan Youtube. Lebih ambisius lagi, OS yang ditanamkan pada Sooner rencananya tidak akan hanya bisa berjalan di Sooner, tetapi di smartphone, tablet, atau perangkat portabel apa pun di masa mendatang! OS ini akan memungkinkan beberapa aplikasi berjalan di saat yang bersamaan, dan akan dengan mudah terhubung dengan toko online yang nantinya dikelola oleh Google! Tapi perlu diakui, setelah munculnya iPhone, Sooner jadi terlihat sangat buruk! Tampilan ponsel ini mirip dengan BlackBerry, dengan keyboard tradisional, beserta layar kecil yang bukan layar sentuh.

HTC Sooner via Android Central

Andy Rubin bersama timnya, bersama mitra mereka, HTC dan T-Mobile, meyakini bahwa konsumen akan lebih mementingkan software yang bagus daripada sekedar tampilan ponsel. Ini pemikiran yang sangat wajar. Namun iPhone merontokkan paradigma ini. Saat diperkenalkan, iPhone terlihat sangat keren dari segi tampilan, dan bahkan memperkenalkan cara baru berinteraksi dengan sebuah ponsel – Cara yang bahkan tidak terpikirkan oleh para engineer Android pada saat itu. Menggunakan keyboard virtual dan menggantikan tombol fisik dengan tombol dari software pada layar sentuh yang besar (untuk ukuran masa itu), bahkan ponsel ini bisa bekerja dalam posisi landscape maupun portrait yang terlihat keren sekali!

Setelah kemunculan iPhone, Chris deSalvo memimpin tim Android untuk mengubah dan mengonfigurasi ulang tujuan mereka. Mereka harus bisa membuat OS yang kompatibel dengan layar sentuh! Tim Android pun merancang sebuah ponsel dengan kode Dream dengan kemampuan layar sentuh yang sama seperti iPhone. PR tambahan bagi engineer Google pada saat itu adalah menemukan faktor pembeda, yaitu hal-hal yang tidak bisa dilakukan iPhone, yang mana harus bisa dilakukan oleh perangkat baru ini. Eric Schmidt sendiri berkomentar pada ‘pembatalan’ proyek Sooner, “Saya sebetulnya tidak pernah berpikir bahwa kami harus membangun lagi semuanya dari awal, bahwa iPhone berarti game over untuk proyek kami. Tapi perlu diakui bahwa iPhone menetapkan standar yang tinggi, dan apa pun yang kami putuskan untuk diluncurkan nantinya, harus bisa melampaui standar itu!”

Rubin dan Android Project

Hanya sedikit orang yang bisa mengirim email ke Larry Page secara langsung dan lebih sedikit lagi yang bakal dibalas atau dikabulkan permintaannya. Andy Rubin adalah salah satu di antara yang sedikit itu, bahkan sebelum dia secara resmi menjadi bagian dari Google. Prestasi yang menjadikannya ‘dilirik’ oleh Page adalah keberhasilannya menjadikan Google sebagai search engine default di T-Mobile Sidekick. Ini adalah perangkat smartphone yang sebelumnya bernama Danger Hiptop, dirancang dan dikembangkan Rubin sendiri bersama T-Mobile. Inovasi ini membuka peluang bagi Google untuk menambah traffic yang pada awal 2000 itu masih sangat mereka butuhkan. Sebelumnya, Sidekick sudah menjadi perangkat yang cukup populer. Anak sekolahan yang melek teknologi menykainya karena inilah perangkat seluler pertama yang memiliki aplikasi instant-messaging. Sementara itu engineer seperti Rubin menyukainya karena perangkat ini memungkinkan mereka menelusuri internet dari mana saja. Meskipun demikian, pada masa itu browser untuk ponsel semacam ini sangat buruk dan lambat. Inilah yang kemudian mendorong Rubin untuk mengajukan konsep pengembangan baru pada T-Mobile.

Danger Hiptop via Wikipedia

Suatu hari, Rubin mengirim email kepada Page dan menyatakan bahwa dia ingin mempresentasikan sebuah ide baru. Page menyanggupi datang ke presentasi itu. Seperti biasa, Larry Page datang terlambat (dia hampir tidak pernah datang tepat waktu dalam rapat yang seharusnya dia hadiri) dan Rubin serta banyak orang dalam ruangan sudah menunggunya. Begitu Page muncul, Rubin langsung melompat ke depan whiteboard dan mempresentasikan idenya. Dia mengusulkan proyek yang sangat ambisius: Ponsel dengan kapabilitas komputasi, bukan laptop atau desktop. Rubin menyebut bahwa hal ini adalah masa depan teknologi. Ini merupakan ceruk pasar yang sangat besar. Lebih dari 700 juta ponsel dijual di seluruh dunia setiap tahunnya, sementara komputer hanya terjual 200 juta setiap tahunnya. Gap ini semakin lebar. Namun bisnis ponsel seakan macet dan terkesan setiap tahun hanya merilis teknologi yang itu-itu saja. Android akan mengubah hal itu dengan cara meyakinkan operator dan produsen ponsel bahwa mereka tidak perlu menghabiskan uang untuk perangkat lunak. Google akan membuatkan perangkat lunak GRATIS. Konsumen akan menyerbu ponsel yang bekerja lebih baik, pengembang software akan menuliskan aplikasi untuk platform yang memiliki permintaan tinggi semacam ini. Sebuah ekosistem software yang akan terus menguat setiap tahunnya akan tercipta! Lalu dari mana keuntungan Google? Seperti biasa: traffic yang lebih tinggi, dominasi software, dan ini berarti lebih banyak iklan!

Larry Page via Wired

Page mendengarkan dengan antusias. Dia mempelajari prototype dan skema yang dipresentasikan Rubin. Page bahkan berpikir sangat jauh ke depan: Bagaimana kalau Google membeli Android saja? Page mengatakan kepada Steven Levy, yang menulis buku In the Plex, “Kami punya visi tentang bagaimana perangkat mobile di masa mendatang nanti, dan Andy datang menghadirkan caranya, jadi kami langsung saja yakin bahwa dialah orang yang kami cari.” Nyaris instan, Page memutuskan untuk membeli Android senilai USD 50 juta plus insentif. Kebiasaan Page yang membeli sesuatu secara impulsif ini memang sering menjadikan Eric Schmidt sebagai CEO Google pusing tujuh keliling. Page pernah nyaris menghabiskan cadangan uang tunai Google di awal tahun 2000-an untuk membeli server menganggur yang dijual banyak perusahaan teknologi yang bangkrut akibat dot-com bubble. Namun kali ini, keputusan Page merupakan landasan legenda di masa depan!


Kisah Silicon Valley mendatang akan mengungkap bagaimana Tim Android pada akhirnya berhasil menghadirkan sesuatu yang menimbulkan keresahan di kalangan pemegang saham dan engineer Apple, dan lebih dari itu: Memicu murka Steve Jobs!

Referensi

Vogelstein, Fred. (2013). Dogfight: How Apple and Google Went to War and Started a Revolution. Sarah Crichton Books

  Noise Cancelling Earphone Terbaik! Review Bose QuietComfort Earbuds Indonesia  

SUBSCRIBE CHANNEL KEPOIN TEKNO

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.