Home Editorial Kisah Silicon Valley #29: Suka Duka Karyawan di Silicon Valley

Kisah Silicon Valley #29: Suka Duka Karyawan di Silicon Valley

via Daily Mail

Seorang pemuda pernah mengungkapkan cita-citanya untuk menjadi penulis hebat. “Aku ingin membuat orang menangis, marah, bahkan merasa gila karena tulisan-tulisanku!” Demikian tekadnya.

Kini pemuda itu bekerja di Microsoft – Sebagai penulis pesan error Windows.

Di serial Silicon Valley sebelumnya, saya sudah mengulas beberapa sosok inspiratif, pendiri dan CEO perusahaan-perusahaan besar Silicon Valley, mereka yang memberontak terhadap kemapanan, serta keunikan eksekutif-eksekutif dari perusahaan teknologi terkemuka dunia. Namun sebenarnya salah satu landasan dari kesuksesan perusahaan-perusahaan tersebut, tidak dipungkiri lagi adalah: Karyawan! Inilah para pejuang yang kadang kurang mendapatkan sorotan cahaya dibalik hingar bingar kesuksesan Silicon Valley. Saya tertarik mengulas berbagai kisah sehari-hari kehidupan karyawan perusahaan teknologi dalam episode kali ini.

 

Upah Tinggi di Silicon Valley

Website SalaryTalk.org mengumpulkan data tentang perusahaan yang membayar paling mahal bagi rata-rata karyawan di Silicon Valley. Per 2016, inilah 7 besar perusahaan yang membayar tinggi karyawannya:

  1. Netflix (rata-rata USD 165.000)
  2. Roku (rata-rata USD 151.000)
  3. Walmart Labs (rata-rata USD 134.000)
  4. Ubiquiti Networks (rata-rata USD 134.220)
  5. Twitter (rata-rata USD 128.000)
  6. Google (rata-rata USD 124.000)
  7. Facebook (rata-rata USD 125.000)

Oya, hitungan tersebut adalah untuk rata-rata per tahun, sehingga jika dijadikan per bulan, maka karyawan di Silicon Valley adalah sekitar USD 10.000. Dengan kurs sedolar sama dengan tiga belas ribu rupiah, maka jika kamu adalah karyawan di Silicon Valley, maka kamu akan mendapatkan gaji sekitar 130 juta setiap bulannya.

Tapi jangan senang dulu! Jumlah tersebut ternyata belum dipotong pajak. Jumlah pajak berbeda-beda tergantung pada kota tempat perusahaan tersebut berada. Namun demikian, jumlah tersebut sudah termasuk fantastis, bahkan untuk sebagian besar warga di AS sendiri.

 

Fasilitas Unik Perusahaan

via Office Snapshot

Di antara berbagai fasilitas unik perusahaan di Silicon Valley, Netflix terkenal sebagai perusahaan paling ‘murah hati’. Perusahaan ini menyertakan klausul ‘wajib cuti’ setiap tahun bagi karyawannya, dalam artian karyawan setiap tahun harus pernah mengambil cuti (di banyak perusahaan, banyak karyawan yang tidak memanfaatkan fasilitas ini, hanya mengikuti libur bersama yang diberikan perusahaan). Lebih menyenangkan lagi, jika berumah tangga dan memiliki anak, maka orang tua dapat mengambil ‘cuti orangtua’ (disebut demikian, karena bukan hanya ‘cuti hamil’, tapi Bapak juga boleh mengambil cuti ini), dan jangka waktunya adalah tanpa batas sampai karyawan tersebut merasa siap bekerja lagi. Luar biasa bukan?

via Reuters

Google juga dikenal memiliki banyak fasilitas unik bagi karyawan di tempat kerjanya. Yang paling populer di antaranya adalah makanan gratis. Sebagai karyawan Google, kamu bebas makan kapan saja dan sebanyak apa pun. Ada koki khusus yang siap menghidangkan makanan, pojok donat dan kue-kue, serta bir gratis yang boleh diminum kapan saja. Google juga menyediakan transportasi gratis yang siap mengantar karyawan Google ke mana saja di wilayah Silicon Valley California. Kalau kamu punya rumah di sana, maka kamu akan menikmati antar jemput gratis tiap hari. Selain itu juga karyawan Google dianggap ‘keluarga’ sehingga tidak perlu izin khusus untuk masuk ke kantor Google lain di seluruh dunia. Kamu bisa memanfaatkan semua fasilitas Google di seluruh dunia tanpa memandang di wilayah mana kamu direkrut atau bekerja.

via Business Insider

Dropbox memiliki fasilitas yang cukup unik. Perusahaan ini memberikan karyawannya kredit di aplikasi Exec sebesar USD 100 per bulan. Exec adalah semacam layanan yang mana seseorang akan memberikan bantuan remeh temeh kepada kamu saat kamu memesannya melalui aplikasi. Bantuan yang diberikan beragam sepanjang ada yang mau melakukannya, misalnya mencuci sepatu, mengambilkan pesanan yang tertinggal di toko, membunuh kecoak yang mondar-mandir di dapur, atau membuangkan sampah karena kamu tidak sempat melakukannya – Bayangkan saja semacam Gojek, hanya saja dengan varian layanan yang kamu tentukan sendiri dan ‘pemberi jasa’ akan dibayar melalui kredit aplikasi Exec ini (semacam Gopay jika di tempat kita). Dengan demikian, Dropbox berharap karyawannya akan terbantu dalam melakukan berbagai hal remeh temeh yang mereka tidak mau melakukannya. Sangat cocok jika kamu sudah bekerja, jomblo, dan malas melakukan hal lain selain bekerja!

Untuk penggemar teknologi seluler, Yahoo sepertinya bakal menjadi favorit kamu. Raksasa teknologi yang kini sudah terpuruk tersebut mengizinkan karyawannya untuk memilih smartphone sendiri, baik iOS maupun Android, serta membayar paket berlangganan data serta juga biaya tagihan bicaranya. Selain itu karyawan juga mendapatkan 15 hari liburan (cuti) tapi tetap dibayar penuh oleh perusahaan!

 

Microsoft = Etalase karyawan elit

Pada saat Google naik daun, Apple tengah berjuang untuk kembali ke jajaran perusahaan elite Silicon Valley, dan Microsoft – Di luar status raksasanya – adalah perusahaan yang dicitrakan sebagai perusahaan rakus dan tiran. Begitu parahnya citra Microsoft, sampai-sampai karyawan akan dicibir begitu memperkenalkan diri sebagai ‘karyawan Microsoft’. “Kenapa kalian mau saja bekerja di sana” – Begitu tanggapan publik secara umum. Ini menjadikan banyak karyawan Microsoft merasa tertekan. Uang dan jaminan kesejahteraan terasa tidak lagi menyenangkan selama bekerja di Microsoft. Pada era itulah Google sangat aktif membajak karyawan di perusahaan Silicon Valley. Microsoft menjadi primadona mereka.

Di era kepemimpinan Ballmer, tanggal 11 November 2004, seorang Software Engineer, Mark Lucovsky, meminta izin menemui Ballmer untuk meminta izin untuk mengundurkan diri dari Microsoft. Lucovsky mengatakan dengan jujur bahwa dia ingin bergabung dengan Google yang tahun itu sedang naik daun. Reaksi Ballmer tak terduga. CEO Microsoft itu berteriak marah, mengangkat kursi dan melemparkannya hingga sampai ke ujung ruangan. “Keparat si pengecut Eric Schmidt! Aku akan mengubur orang itu! Aku pernah melakukannya, dan aku akan melakukannya lagi! Aku akan membunuh Google!”

Insiden kursi itu menjadi salah satu yang paling dikenang dari sejarah kepemimpinan Ballmer. Tapi perlu digarisbawahi: Ballmer tidak melakukan apa-apa untuk mencegah keluarnya karyawan dari Microsoft. Dia akan marah, mengamuk, lalu besoknya sudah move on dan melakukan hal lain yang menjadi prioritasnya. Bagaimana dengan Apple? Steve Jobs sejak awal sudah mengatakan kepada Eric Schmidt, CEO Google saat itu bahwa dia tidak akan menoleransi tindakan Google untuk ‘merayu’ karyawannya. Apple sendiri memiliki semacam klausul dalam kontraknya untuk melarang karyawan Apple pindah ke perusahaan teknologi lain. Memang ada beberapa mantan karyawan Apple yang bekerja di perusahaan Silicon Valley lain, tapi mereka harus meminta izin secara khusus kepada Steve Jobs untuk melakukannya.

Pernah suatu ketika Steve Jobs mendapatkan ‘bocoran’ bahwa ada salah seorang mantan karyawan Apple yang lolos tes wawancara di Google. Dia dengan berang langsung mengirim email kepada Eric Schmidt. Terjemahan email tersebut kurang lebih sebagai berikut:

Eric,

Aku akan sangat berterimakasih jika departemen rekruitmenmu berhenti melakukan ini.

Terima kasih.

Steve

Schmidt dengan tanpa membuang waktu langsung mengirim email ke Human Resource Department Google sebagai berikut:

Setahu saya kita punya kebijakan untuk tidak merekrut mantan karyawan Apple dan ini adalah permintaan langsung. Dapatkah kalian menghentikan ini dan melapor kepada saya kenapa ini bisa terjadi? Saya perlu mengirim balasan kepada Apple secepatnya, jadi tolong beri tahu saya sesegera mungkin.

Terima kasih,

Eric

Senior Staffing Strategist Google, Arnnon Geshuri membalas hampir seketika dengan memastikan kepada Schmidt bahwa karyawan tersebut akan dipecat dengan segera, dan bahwa HR Google akan berupaya ‘lebih teliti’ lagi dalam proses perekrutan, terutama dalam persetujuan dengan perusahaan tertentu di Silicon Valley. Untuk memastikan Steve Jobs mengetahui dan memaklumi bahwa ini adalah ketidaksengajaan dan tidak akan terulang lagi, Schmidt mengirim email ‘follow up’ kepada Steve Jobs.

Steve, sebagai tindak lanjut kami telah meneliti tindakan perekrut kami dan dia telah melanggar kebijakan kami. Mohon maaf sekali lagi dan saya menyertakan bagian dari email yang saya terima dari kepala perekrutan kami [Arnnon Geshuri]. Seandainya ini terjadi lagi, harap beri tahu kami dengan segera dan kami akan menanganinya.

Terima kasih,

Eric

Sejam kemudian, Steve membalas dengan hanya satu emoticon untuk menyatakan kepuasannya atas tindakan Schmidt.

:)

Steve

Jadi perusahaan Silicon Valley lain harus melupakan ide untuk merekrut mantan karyawan Apple, kecuali jika mereka berani berhadapan dengan Steve Jobs. Ini menjadikan karyawan Microsoft sebagai target empuk. Sama sekali tidak ada konsekuensi jika ‘membajak’ karyawan dari Microsoft. Selain itu juga karyawan Microsoft memiliki citra cerdas, rajin, tidak banyak menuntut, dan loyal. Ini menjadikan Microsoft sebagai primadona dan target untuk ‘berbelanja karyawan’.


Perusahaan di Silicon Valley memiliki banyak cerita unik dalam kaitannya dengan karyawan. Kisah ini akan disambung pada edisi minggu depan: Kisah Silicon Valley #30: Suka Duka Karyawan di Silicon Valley – Konflik dan Berbagai Sengketa.

  Menggabungkan Banyak File PDF Menjadi Satu  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta