Home Editorial Kisah Silicon Valley #31 – ‘Kejatuhan’ Kerajaan PC IBM

Kisah Silicon Valley #31 – ‘Kejatuhan’ Kerajaan PC IBM

via South China Morning Post

“Sebagai pendiri Lenovo, saya sangat bersemangat oleh terobosan dalam perjalanan Lenovo ini untuk menjadi perusahaan internasional,” ujar Chuanzi Liu, chairman dan pendiri Lenovo.

“Pengumuman hari ini akan lebih lanjut memperkuat kemampuan IBM untuk menangkap peluang dengan nilai tertinggi dalam informasi yang berubah dengan sangat pesat di industri teknologi,” sambung Sam Palmisano, chairman IBM sekaligus CEO perusahaan yang dijuluki Steve Jobs sebagai ‘The Big Blue’ itu.

Saat itu Desember 2004. Dunia teknologi dihebohkan oleh peristiwa yang seakan ‘mustahil’ tersebut. IBM, perusahaan yang berbasis di negara adidaya Amerika Serikat, penguasa pangsa PC dunia yang nyaris tak terkalahkan sepanjang dekade 80-an, menjual divisi komputernya kepada Lenovo, sebuah perusahaan ‘kecil’ asal Taiwan dengan nilai USD 1.75 miliar!

 

Untung atau Rugi?

via Getty Images

Langkah IBM ini banyak disesalkan oleh warga dan perusahaan-perusahaan teknologi di AS. Harga diri dan gengsi menjadi alasan utama. IBM adalah salah satu lambang kedigdayaan teknologi AS. ‘Diakuisisi Cina’ merupakan headline yang menjadi momok publik pada saat itu. Sedikit di antara mereka yang bersedia mengulik fakta: IBM tidak lagi tertarik memproduksi komputer!

Lenovo merupakan perusahaan ‘anak bawang’ jika dibandingkan dengan sejarah kekaisaran IBM. Saat IBM menguasai PC dunia pada tahun 1984, Lenovo baru saja resmi didirikan. Berangkat dari 11 orang saja yang menjalankan perusahaan tersebut, perusahaan ini kemudian berkembang dalam bisnis ekspor impor televisi dan kemudian merambah ke bidang komputer yang sedang booming pada saat itu.

Peluang muncul bagi Lenovo saat perusahaan-perusahaan teknologi di AS mendapati bahwa ternyata lebih murah jika melakukan outsourcing ke negara lain dalam proses produksi dibandingkan di AS sendiri. Teknologi AS digunakan dalam proses produksi, sementara perakitan dan penyediaan komponen, dilakukan oleh perusahaan mitra di luar negeri. Tiongkok waktu itu merupakan negara yang paling agresif dalam mencaplok peluang ini. Selain peluang kemitraan dalam hal industri, pemerintah Tiongkok tentu saja juga mendapatkan keuntungan dari alih teknologi yang diberikan perusahaan-perusahaan AS. Dengan perjuangan gigih, Lenovo berhasil memenangkan tender dan akhirnya menjadi perusahaan subkontraktor IBM.

Untuk para raksasa teknologi AS, sebenarnya ini merupakan sebuah dilema. Di satu sisi, tentu saja mereka mendapatkan profit dahsyat karena dapat menekan tenaga kerja dan biaya pengoperasian manufaktur. Namun di sisi lain, ini berarti ‘memberikan cuma-cuma’ teknologi AS yang superior kepada negara-negara luar. Alih teknologi ini memang tidak dapat dilakukan separuh-separuh. Jika tidak mengungkapkan teknologinya seutuhnya, maka hasilnya adalah produk nanggung yang besar kemungkinan bakal tidak laku di pasaran. Namun dengan alih teknologi sepenuhnya, AS sendiri menyadari bahwa mereka tengah memelihara anak macan yang jika sudah dewasa bisa menggigit mereka.

Taiwan sendiri, yang lebih sedikit dikontrol oleh pemerintah Tiongkok dibandingkan Daratan, memang merupakan pusat industri di era 90-an. Perusahaan-perusahaan teknologi Taiwan langsung menjadi rising star setelah mendapatkan peluang outsourcing dari AS. Asustek, Mitac, Quanta, dan Lenovo adalah perusahaan yang beruntung mendapatkan kemitraan dengan Apple, Dell, HP, dan IBM!

Dengan adanya alih teknologi dan pemusatan manufaktur ke Taiwan, ini menjadikan IBM dapat menekan biaya produksi dan tenaga kerja di AS. IBM tinggal melaksanakan proses Research & Development, kemudian mengirim tenaga ahlinya untuk melatih karyawan di pabrik Lenovo Taiwan. Ini sangat efisien biaya, namun pada akhirnya setelah beberapa lama, IBM menyadari beberapa hal: ada beberapa peluang bisnis lain yang lebih menggiurkan profitnya dan memiliki biaya lebih murah berkat kekuatan Research & Development milik IBM  (infrastruktur teknologi dan Cloud) dan dengan prosedur outsourcing maka IBM di AS seperti ‘cangkang kosong’.

Ini kemudian memicu pada pemikiran selanjutnya bagi IBM: akan lebih murah jika menyerahkan divisi produksi PC kepada subkontraktor. Toh, mereka yang mengolah produksi. IBM tidak akan lagi harus bertanggungjawab atas pemeliharaan dan segala biaya yang ditimbulkan oleh divisi produksi PC.

Gayung bersambut, Lenovo yang menerima tawaran tersebut tentu saja bersemangat. Pemerintah Tiongkok pun memberikan dukungan besar berupa pinjaman dana lunak dari bank-bank milik mereka. Masa depan ekonomi yang cerah dengan menguasai pangsa pasar PC menjadi salah satu pertimbangan dari pemerintah pada saat itu!

 

Pasca Akuisisi

via Business Pundit

Salah seorang eksekutif senior IBM mengungkapkan kepada wartawan tentang motivasi IBM melakukan transaksi dengan Lenovo, “Kami tentu saja akan memiliki lebih sedikit pengeluaran, dengan demikian performa finansial kami akan meningkat.”

Perhitungan ini seratus persen benar. IBM tidak lagi harus menanggung beban untuk produksi PC. Selain itu perjanjian dengan Lenovo juga menjadikan IBM masih menahan saham sebesar 18.9%. Jika Lenovo menangguk untung, tentu saja IBM mendapatkan uang besar, bahkan cukup hanya ongkang-ongkang kaki. Ini murni kalkulasi ekonomi!

Meskipun status sebagai ‘pembuat PC terbesar dunia’ telah dialihkan IBM kepada Lenovo, The Big Blue sebenarnya sama sekali tidak ‘jatuh’. Mereka tetap konsisten berada di daftar sepuluh besar perusahaan IT terbaik dunia, hanya saja fokus mereka telah berubah. Kini IBM memanfaatkan teknologi dan kecakapannya di bidang IT untuk memberikan layanan jasa konsultasi seputar IT bagi banyak perusahaan. Selain itu mereka juga menyediakan infrastruktur teknologi dan layanan Cloud. Seperti apa infrastruktur teknologi yang dimaksud? Dalam hal ini, IBM menangkap peluang boomingnya penggunaan internet. Bubble Dot Com (Jatuhnya nilai perusahaan berbasis web karena kurangnya sokongan finansial dan penilaian yang berlebihan) yang baru saja berlalu di awal milenium dijadikan pelajaran bagi IBM. Tren bisa datang dan pergi, tapi kesemuanya akan memerlukan satu hal: infrastruktur! IBM menyediakan server, kabel, dan semua penunjang yang diperlukan untuk berdirinya perusahaan berbasis web. Sebagai sebuah perusahaan ‘tua’, IBM memiliki keuntungan dari koneksi yang telah lama terjalin. Jasa dan infrastruktur IBM ini digunakan oleh pemerintah AS, industri raksasa AS lain, dan bahkan oleh perusahaan asing. Layanan IBM tidak lagi berfokus pada konsumen seperti halnya saat berfokus pada jualan PC, akan tetapi pada kalangan enterprise.

Tentu saja tidak semuanya menanggapi hal ini dengan positif. IBM mengalami kerugian dalam hal ‘citra’. Masyarakat awam memandang IBM sudah dibeli oleh pihak asing, bahkan mengira IBM telah jatuh dan hilang dari peredaran. Namun sebenarnya IBM justru menjadi tulang punggung sebagian besar perusahaan di AS berkat kekuatan infrastruktur dan servernya. Dalam hal penyediaan IT perusahaan, bahkan hampir semua perusahaan kelas A menunjuk IBM sebagai konsultannya.

Lalu bagaimana dengan Lenovo? Sang raksasa kecil dari Taiwan ini berhasil melanjutkan langkah IBM. Mereka konsisten di daftar lima besar penjual PC terbanyak di dunia, bahkan pada akhir 2016 yang lalu, Lenovo menempati peringkat pertama untuk penjual PC terbesar dunia!

Lenovo (dengan resource dari IBM) juga terkenal sebagai pembuat PC berkarakter. Sejak era IBM, memang produk-produk mereka dikenal memiliki build quality hebat serta keyboard kelas A untuk urusan mengetik. Lenovo meningkatkan inovasi tersebut dengan produk yang mendobrak kemapanan, seperti misalnya laptop convertible (memiliki layar yang bisa dilipat) seperti seri Lenovo Yoga, Flex, dan Edge.

via Pocket Lint

Untuk kalangan penyuka tablet, mungkin juga masih teringat inovasi Lenovo tahun lalu: Yoga Book yang nyaman digunakan untuk menggambar, serta memiliki keyboard Halo, sebuah keyboard penuh di atas layar yang sangat inovatif.

via Tech Radar

Lenovo masih seambisius dulu. Perusahaan ini bahkan baru saja ‘mencaplok’ raksasa Amerika lainnya, Motorola. Sang raksasa kecil ini mengungkapkan ambisinya untuk menciptakan ekosistem PC dan mobile dengan sebuah layanan menyeluruh yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh dunia. Mungkin jika kita dapat meneladani Lenovo, sepertinya ‘menaklukkan Amerika’ sebenarnya bukan hal yang mustahil. Fokus dan dukungan pemerintah memberikan hasil yang sebelumnya bahkan tidak pernah dibayangkan oleh dunia.

 

 

Referensi

Dignan, Larry. (2015). Lenovo bought IBM’s PC Business 10 years ago: Jury out on broader ambitions. ZDNet.

Shih-fen S. Chen, (2005). Dire Consequence of Outsourcing — IBM’s Fall to Lenovo. Industry Week

Spooner, John G. (2004). IBM Sells PC group to LenovoCnet

  Memindahkan Foto dari Smartphone ke Laptop, Tanpa Kabel!  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta