Home Editorial Kisah Silicon Valley #32 – Investasi Paling Brilian Google: Akuisisi YouTube

Kisah Silicon Valley #32 – Investasi Paling Brilian Google: Akuisisi YouTube

via Mashable

“Ini adalah langkah selanjutnya dari evolusi Internet,” ujar CEO Google, Eric Schmidt dalam sebuah telekonferensi dengan NBC guna mengonfirmasi kabar akuisisi YouTube oleh Google. “Saya yakin dengan kemitraan ini, kami tetap memilki fleksibilitas dan sumber daya yang diperlukan guna mengejar tujuan kami membangun platform untuk media sajian generasi selanjutnya di seluruh dunia,” ujar Hurley, CEO YouTube yang saat itu baru berusia 29 tahun. Schmidt pada saat itu memuji Hurley dan Chen, founder YouTube dan membandingkannya dengan Sergey Brin dan Larry Page (yang usianya kurang lebih sebaya), “Mereka memiliki banyak kesamaan dan pasti sukses di masa mendatang.” Brin setuju dan menyatakan, “Sulit untuk melihat perusahaan lain yang lebih cocok dengan YouTube dibandingkan Google” ujarnya saat telekonferensi yang sama dengan NBC. “YouTube benar-benar mengingatkan saya dengan Google beberapa tahun yang lalu. Ucapan para petinggi Google tersebut ternyata tidak berlebihan. YouTube seolah menjadi penguasa tunggal meskipun banyak video dan platform siaran lain. Menjadi sumber kreativitas dan inspirasi masyarakat dunia – dan tentu saja sumber pemasukan juga – sampai-sampai bakal masuk akal jika kamu mendengar anak-anak tetangga kamu bercita-cita untuk jadi YouTuber.

 

Awal sejarah YouTube

YouTube didirikan oleh mantan karyawan PayPal: Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim. Domain YouTube didaftarkan pada tanggal 15 Februari 2005. Akan tetapi rencana awal mereka sebenarnya lebih mirip visi awal Facebook: sebuah situs kencan untuk menilai seberapa menarik seseorang. Ini mirip HotorNot, sebuah situs kencan yang terkenal pada tahun 2005. Tidak percaya? Coba lihat versi awal situs ini. Ada kolom untuk memperkenalkan diri dan tipe orang yang ingin dicari.

via VentureBeat

“Saya sangat terkesan pada HotorNot karena itu adalah pertama kalinya seseorang merancang sebuah website tempat orang dapat mengunggah konten untuk dilihat semua orang,” jelas Karim pada tahun 2006, saat wawancara dengan Time. “Itu adalah sebuah konsep baru karena hingga saat itu, biasanya orang yang memiliki website adalah yang menjadi penyedia kontennya. Video yang pertama kali diunggah adalah dari Karim sendiri pada 23 April 2005. Judulnya adalah “Me at the zoo”. Karena statusnya sebagai ‘video pertama’, unggahan ini mengumpulkan viewer hingga 30 juta meskipun panjang videonya sendiri hanya 19 detik.

Setelah dibuka untuk publik sebagai produk beta pada Mei 2005, YouTube segera mendapatkan popularitas. Sebuah video dari Nike dengan megabintang sepakbola Brasil, Ronaldinho, menjadi video pertama yang melewati satu juta views pada bulan September 2005. Sayang konten asli yang bersejarah ini sudah dihapus.

Platform ini dengan segera melejit, menjadi populer. Dilaporkan ada 8 juta view setiap hari semenjak diluncurkan secara publik pada bulan Desember 2005, yang mana menjadikan perusahaan ini kemudian berhasil mengumpulkan investasi sebesar USD 3,5 juta dari Sequoia Capital. Pada bulan Maret 2006, YouTube telah meraih investasi sebesar USD 8 juta lagi. Rekor semakin meningkat: Pada musim panas, lebih dari 100 juta video telah ditonton oleh 20 juta pengguna setiap bulan!

 

Gerak Cepat Google

Kesuksesan yang seolah instan dari YouTube ini (hanya dalam rentang kurang dari satu tahun), menjadikan banyak raksasa teknologi bergerak untuk menjajaki kemungkinan akuisisi. Di antaranya adalah Microsoft Corp, Yahoo Inc., dan News Corp. Saat itu Google sudah menjalin kemitraan dengan YouTube, utamanya dalam hal pemasangan iklan. Penyedia konten di YouTube memanfaatkan platform Adsense milik Google untuk mendapatkan keuntungan. Di antara para pemangsa tersebut, Yahoo adalah yang paling tertarik untuk mengakuisisi platform video ini. “Yahoo benar-benar harus mengambil langkah,” ujar Roger Aguinaldo, seorang bankir investasi yang memberikan tinjauan keuangan. “Mereka kini semakin tidak relevan bagi publik dan kurang inovatif”.

Bukan hanya YouTube, Yahoo yang masih kaya pada saat itu juga sedang berancang-ancang membeli Facebook di Palo Alto dengan tawaran sebesar USD 1 miliar. Namun Mark Zuckerberg bersikukuh untuk tidak melepas Facebook karena dia yakin dapat mengembangkannya sendiri. Sayang saat energi Yahoo terkuras untuk melakukan tawar menawar dengan Facebook, Google mengambil langkah cepat (yang sebenarnya sudah diduga juga oleh para pesaingnya), Eric Schmidt memberikan tawaran senilai USD 1,65 miliar. Dengan berpatokan pada tawaran Yahoo terhadap Facebook yang sudah dianggap sebagai ‘sebuah tawaran besar’ pada saat itu, maka Google seakan menghargai YouTube hampir dua kali lipat nilai Facebook. Tentu saja para pendiri YouTube panas dingin mendengar nilai tawaran tersebut. Apalagi fakta pada saat itu bahwa YouTube tidak menghasilkan uang bagi para pemiliknya. Mereka kurang paham bagaimana cara ‘mendulang dolar’ dari platform video ini meskipun mereka disebut-sebut sebagai ‘yang terbaik’ di dunia. Tak ingin bertele-tele, Hurley langsung mengiyakan tawaran Schmidt dan Brin!

 

Pasca Akuisisi

Akuisisi tersebut menjadikan investor kedua belah pihak bertepuk tangan. YouTube langsung mendapatkan kemitraan baru dengan Universal Music Group, CBS Corp, dan Sony BMG Music Entertainment. Aliansi tersebut semakin dahsyat dengan bergabungnya Warner Music Group Inc. Sementara itu akuisisi YouTube dianggap brilian oleh invetor Google sendiri. Nilai saham Google Inc merangkak ke USD 8.50 hingga mendekati nilai pasar USD 429 di Nasdaq Stock Market. Chad Hurley, founder YouTube mendapatkan keuntungan pembagian sekitar USD 400 juta dari penjualan tersebut, sekaligus tetap menjabat sebagai CEO YouTube hingga tahun 2010. Setelah itu dia dan Steve Chen mendirikan Avos Systems, semacam sistem inkubator internet yang membeli banyak startup yang baru berkembang lainnya, berharap dapat menemukan kesuksesan baru. Sejauh ini akuisisi mereka yang paling berhasil hanyalah Delicious, sebuah perusahaan aplikasi makanan yang populer. Steve Chen mendapatkan pembagian sekitar USD 300 juta, bertindak sebagai Chief Technology Officer di YouTube hingga 2008. Kini Chen bergabung dengan Google sebagai karyawan. Jawed Karim tidak begitu terdengar kabarnya. Media bahkan tidak berhasil mengonfirmasi berapa besar pendapatan Karim dari YouTube. Terungkap fakta bahwa dia sebenarnya bukan karyawan formal dan hanya bertindak sebagai penasihat di YouTube. Ini menjadikannya mendapatkan bagian paling sedikit dibandingkan Hurley dan Chen. Google terbukti berhasil menjadi ‘nahkoda’ baru Youtube. Platform video ini semakin populer dan menjadi penguasa di ranah media sosial video. Platform ini juga sangat populer di Indonesia. Berkat YouTubelah kita mendapatkan banyak wawasan, termasuk kebahagiaan menyaksikan Awkarin dan kudanya.

 

 

Referensi

Arrington, Michael. (2006). Google has acquired YouTubeTechCrunch

Sawers, Paul. (2016). Google acquired YouTube 10 years ago todayVenturebeat.

Googley buys YouTube for $1.65 billion. NBC

  Pake PopBox Locker, Enak Nggak Sih?  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta