Andy Grove 2008 via New York Times

“Takutlah, jadilah benar-benar takut,” ujar Andrew Grove saat reporter memintanya menjelaskan apa resep yang menjadikannya berhasil mengibarkan Intel di puncak Silicon Valley. “Dalam kesuksesan bisnis, terdapat bibit kehancurannya sendiri. Sukses menghasilkan kepuasan. Kepuasan menghasilkan kegagalan. Hanya mereka yang paranoid akan bertahan hidup.”

Prinsip orang yang disebut-sebut sebagai ‘Bapaknya Silicon Valley’ ini kemudian dijadikan panutan oleh perusahaan-perusahaan yang ingin berkembang meraih impian, terutama di dunia teknologi!

 

Masa Kecil di Hungaria

Andrew S. Grove lahir dengan nama Andras Grof pada tanggal 2 September 1936 di Budapest dalam sebuah keluarga Yahudi. Ayahnya memiliki bisnis produk ternak kecil, dan ibunya bertugas mengurus pembukuan untuk usaha rumah tangga tersebut. Pada saat balita, Grove terkena demam tinggi yang akhirnya menjadikan telinganya hampir tuli. Saat invasi Jerman ke Hungaria, ayahnya sempat tertangkap dan dikirim ke kamp kerja paksa, namun sang kepala keluarga berhasil selamat meskipun menderita typhoid dan pneumonia.

Keluarga Grove selamat selama masa perang karena disembunyikan oleh keluarga Kristen yang baik hati. Karena khawatir akan tekanan Nazi, keluarga Grof mengubah nama keluarga mereka menjadi Grove yang lebih umum (dan berasosiasi Kristiani) di masyarakat Hungaria. “Ibu saya menjelaskan bahwa saya tidak boleh membuat kesalahan. Saya harus melupakan nama saya yang lama.” Ujar Grove mengenang saat sebuah wawancara.

Setelah masa perang berlalu, Hungaria dikuasai oleh Partai Komunis. Di masa ini, Grove berkembang karirnya sebagai seorang ahli Kimia. Sayangnya, pemerintahan komunis sering secara mendadak melakukan penahanan dan penculikan terhadap ilmuwan-ilmuwan sains dan ini sangat menakutkan bagi Grove. Setelah seorang koleganya tertangkap, Grove memutuskan untuk meninggalkan negaranya. Dia menyeberang ke Austria, menyelinap di antara penjagaan tentara Uni Soviet yang saat itu menguasai Hungaria. Setelah menghabiskan waktu beberapa minggu dalam pelarian, akhirnya Grove mendapati dirinya dalam kapal menuju New York. Amerika, tanah impian dan kebebasan!

“Di negara-negara Soviet, beredar propaganda bahwa Amerika adalah negara liberal yang bersifat totalitarian, well, inilah yang saya cari,” ujar Grove saat ditanya oleh majalah Fortune di tahun 1995 tentang kesan-kesannya waktu itu terhadap Amerika.

 

Fairchild Semiconductor: Cinta Pertama Grove

via Computer History

Pada awal 1960-ann, Grove bergabung dengan Fairchild Semiconductor, sebuah perusahaan sains komputer. Dia memimpin tim penelitian untuk berupaya ‘menempelkan’ transistor pada silikon, sebuah elemen penghantar panas rendah yang umum didapati di pasir. Chip Silicon seiring perkembangannya menurunkan biaya dan ukuran komputer, mulai dari tabung vakum raksasa yang dengan mudah kepanasan, hingga menjadi sebuah transistor mungil. Tim yang dipimpin Grove ini jugalah yang berjasa mengurangi ketidakstabilan transistor dengan menghilangkan ketidakmurnian kandungan sodium dari chip silicon ini. Seiring dengan makin besarnya perusahaan komputer ini, banyak perusahaan lain berdiri di sekitarnya untuk mendukung bisnis chip silikon milik Fairchild Semiconductor. Ya! Dari sinilah sebutan Silicon Valley berasal!

Pada tahun 1968, Grove bergabung dengan Intel, sebuah manufaktur semikonduktor baru yang sedang meroket menjadi pimpinan di Silicon Valley. Intel sebenarnya juga didirikan oleh mantan rekanan yang bekerja di Fairchild, Robert Noyce dan Gordon Moore. Perusahaan ini memasok chip memori untuk komputer mainframe (Pada saat itu komputer disebut sebagai Mainframe karena terdiri atas kerangka besar yang bisa memakan satu kamar). Grove diberikan tanggung jawab di departemen produksi, dan segera mendapatkan reputasi sebagai seorang manager yang keras dan mendorong kemampuan hingga titik batas.

Popularitas Intel saat itu adalah berkat kehebatan Gordon Moore dalam ‘berjualan’ dan ‘mengendus peluang’. Bahkan sampai populer disebut “Hukum Moore” yang menyatakan bahwa microchip akan terus menggandakan kekuatannya sehingga menjadikan microchip yang berada di pasar saat ini menjadi usang dalam jangka waktu 18 bulan. Dengan konsep ini, Intel ‘menuntut’ karyawan produksi untuk selalu berhasil menciptakan chip baru yang lebih canggih dan powerful dalam jangka waktu 18 bulan. Pada era 70-an, sudah wajar bagi karyawan Intel, terutama di bagian penelitian untuk bekerja lembur demi tuntutan filosofi perusahaan tersebut.

Grove yang merasa cocok dengan gaya Moore yang menuntut dan mendorong perkembangan, bekerja kompak dengan para pimpinan generasi pertama Intel pada masa tersebut, dan bisa ditebak: Selanjutnya Andrew Grove diajukan sebagai CEO secara mutlak tanpa adanya bantahan dari para eksekutif Intel lainnya!

 

Memimpin dengan Rasa Takut

via Market Strategies

Wall Street Journal pada tahun 2002 menulis: Andy Grove membantu mengembangkan filosofi di Intel Corp sebagai ‘konfrontasi kreatif’. Ini berarti bahwa tidak apa-apa jika di Intel saling berteriak dan memaki sesama teman, selama mereka dapat memecahkan masalah dengan cepat. Dengan gaya kepemimpinan seperti ini, Fortune pada tahun 1984 menganugerahkan gelar kepada Andrew Grove sebagai “Boss paling tangguh di Amerika”.

Dalam kehidupan pekerjaan sehari-hari, Grove akan mencabut alat bantu pendengarannya dan membantingnya ke atas meja jika ada jawaban dari insinyur dan eksekutif yang menjadikannya marah (info: Grove sebenarnya sembuh dari penyakit tuli yang dideritanya setelah beberapa operasi yang dilakukannya di usia 40-50 – Jadi dia tetap bisa mendengar meskipun tanpa menggunakan alat bantu pendengarannya). Craig Barret, seorang kolega New York Times dari Intel (yang kemudian menjabat sebagai CEO setelah Grove), mengatakan bahwa gaya manajemen Andrew Grove adalah: memukul kepalamu dengan kayu jika ada kesalahan.

Tapi karyawan Intel yang ‘bertahan’ setelah disemprot Grove selama bertahun-tahun, akhirnya mendapati bahwa perusahaan mereka berhasil meraih nilai pasar USD 500 juta pada tahun 2000. Beberapa ribu orang karyawan Intel menjadi jutawan karena nilai sahamnya yang ‘terbang’ dan hampir semuanya selalu menyebut Andrew Grove sebagai sosok yang memungkinkan ini terjadi.

Salah satu prestasi legendaris Andrew Grove di Intel adalah menyelamatkan Intel dari krisis beberapa kali. Pada akhir 1970-an, Jepang menyerbu dengan chip memori berkualitas tinggi, namun lebih murah. Alih-alih memotong biaya dengan ‘merumahkan’ karyawan, Grove meminta karyawan Intel bekerja ekstra dua jam sehari – tanpa gaji ekstra. Namun Grove menjanjikan kenaikan gaji akan segera menyusul bila Intel kembali menguasai pasar. Terpacu oleh hal ini, Intel berhasil menelurkan microprocessor i432 yang disebut-sebut ‘mengubah masa depan komputasi’.

via New York Times

Bukannya bersaing dalam chip memori, Intel melakukan transisi dari memory chip ke microprocessor. Ini didukung dengan berkembangnya dunia komputer pada awal 1980-an dengan Apple dan Microsoft sebagai tokoh utamanya. Microprocessor milik Intel segera mendukung 80 persen dari mesin baru. Intel sendiri menjalin kemitraan dengan Microsoft dan IBM untuk menyediakan perangkat komputer lengkap untuk digunakan konsumen. Kerjasama Intel dan Microsoft ini begitu populernya sehingga sering disebut sebagai “Wintel” – penguasa dunia komputer pada masa itu, yang bahkan meredupkan pamor IBM sebagai pembuat komputer, karena pada saat itu Intel menjual chip kepada perusahaan komputer mana saja yang menginginkan, sementara Microsoft akan menyediakan Operating System kepada perusahaan komputer mana saja.

via New York Times

Pada tahun 1994, krisis kembali melanda Intel setelah jutaan microprocessor Pentium diketahui cacat. Grove dan para teknisinya segera meyakinkan pelanggan bahwa kerusakan itu hanya memengaruhi proses komputasi yang paling canggih, tidak pada chip Intel secara umum. Namun tetap saja hal ini menimbulkan badai pada keuangan Intel. Media bersorak dan menjadikan ini sebagai tajuk utama karena pada akhirnya berhasil menekan sang raksasa.

Intel akhirnya setuju membelanjakan USD 475 juta untuk mengganti microprocessor mereka yang dianggap cacat. Langkah ini justru kemudian menaikkan pamor mereka karena dianggap sebagai perusahaan yang bertanggung jawab jika terjadi masalah. Chip Pentium dan Centrino kemudian berkibar dan menjadi processor yang laris di komputer Dell, Apple, atau Sony pada masa tersebut.

Ditanya soal keputusannya pada dua krisis besar tersebut, Grove menyatakan bahwa penting bagi sebuah perusahaan untuk mengambil keputusan keras dan mengambil tindakan dramatis. Ini adalah konsep Adapt or die (Beradaptasi atau mati).

Perusahaan pesaing mengeluhkan kekuatan Intel di ranah microprocessor ini. “Masalahnya bukan teknologinya, tapi paten yang mereka kuasai,” ujar Lim Hyung Kyu, kepala penelitian Samsung Electronics pada tahun 2004. “Apa pun yang coba kita lakukan harus melalui tahapan dasar yang semua patennya ternyata dimiliki Intel”. Pernyataan perusahaan yang kekuatannya nyaris menyamai satu negara tersebut menjelaskan betapa kuatnya posisi Intel dan warisan yang ditinggalkan oleh Grove (Ingat, Grove sudah bekerja di Intel sejak awal berdirinya) sehingga nyaris mustahil untuk digoyahkan.

Grove melayani Intel sebagai Chief Executive hingga tahun 1998. Dia tetap berada di posisi chairman dan tetap memberikan nasehat-nasehat manajemen kepada penerusnya hingga 2005. Dia sama sekali tidak melambatkan langkah perusahaan, bahkan saat Intel masuk era Internet. “Kita kini hidup di era Internet,” ujar Andrew Grove pada tahun 1997, puncak masa dotcom. “Ini adalah sebuah teritori baru dan dunia cyber ini setara dengan masa demam emas di Oklahoma dulu.”

Andy Grove sering menerima kritik atas gaya kepemimpinannya yang keras tersebut, namun itu tidak pernah mengganggunya. “Saya merasakan kehidupan yang indah,” Ujarnya dalam wawancara dengan Wired sekitar tahun 2001. “Apa pun yang akan ditulis orang-orang tentang saya 10 tahun kemudian, saya tidak peduli.” Kata Grove sambil tertawa. Sang Bapak Silicon Valley ini meninggal dunia pada usia 79 tahun.

via Charlie Rose

 

 

Referensi

Ibarra, Herminia. (2016). Intel’s Andy Grove and the difference between good and bad fearFinancial Times.

Kandell, Jonathan. (2016). Andrew S. Grove Dies at 79: Intel Chief Spurred Semiconductor RevolutionNew York Times

Rosenthal, Phil. (2016). What the late Intel boss Andrew Grove can teach about managing change. Chicago Tribune.

  Ubuntu 18.10, Kurang Apa Lagi..??  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.