via BGR

Kalau kamu mengikuti acara MWC 2019 di Barcelona beberapa waktu lalu, kamu mungkin ngiler menyaksikan banyaknya gadget baru yang keren seperti Samsung Galaxy Fold, Huawei Mate X, Samsung Galaxy S10, Sony Xperia 1, Nokia 9, HoloLens 2, dan banyak lagi lainnya. Khusus untuk perangkat generasi baru seperti HoloLens, Samsung Galaxy Fold dan Huawei Mate X, jika kamu berminat untuk membeli dan mencobanya, maka kamu akan menjadi pengguna generasi awal atau early adopter. Siapkah kamu menahan (kemungkinan) rasa sakitnya jadi early adopter?

Menurut Everett Rogers, seorang profesor studi komunikasi di University of New Mexico, ada lima tahapan adopsi teknologi yang membentuk kurva pemasaran. Dalam bukunya yang berjudul Diffusions of Innovations, Rogers menggambarkan bahwa early adopter adalah kelompok yang sangat penting bagi produk itu sendiri, karena ini akan menentukan usia produk tersebut ke depannya. Jumlah early adopter ini biasanya sangat kecil, namun memiliki pengaruh signifikan terhadap kelangsungan produk.

Menurut Rogers, ada lima tahapan adopsi teknologi. Pertama adalah inovator, yaitu mereka yang merancang dan menciptakan produk. Kedua adalah Early Adopter alias pengguna awal. Orang yang menggunakan produk tersebut untuk pertama kalinya. Mereka adalah orang yang paling tertarik terhadap produk ini. Menurut Rogers, Early Adopter secara umum merupakan kelompok usia muda yang trendi, serta memiliki pengetahuan teknologi yang lumayan. Di masa sekarang ini, Early Adopter umumnya adalah jurnalis dan Youtuber yang ingin mencoba produk baru di pasaran.

via Rogers Everett: Diffusion of Innovations (1962)

Kelompok mayoritas awal, yaitu tahapan berikutnya, biasanya adalah orang yang tertarik, namun bersikap skeptis terhadap produk. Mereka menanti pendapat Early Adopter yang sudah terlebih dahulu menggunakan produk. Jika pendapat Early Adopter sesuai dengan standarnya, maka biasanya kelompok mayoritas awal ini akan ikut serta menggunakan produk. Gambaran nyata di kehidupan sekarang adalah, biasanya kita menunggu review produk baru dari jurnalis dan Youtuber yang mengungkapkan ulasannya terhadap produk melalui website dan channel Youtube miliknya. Jika tanggapan terhadap produk positif, maka baru kita berani membeli produk tersebut. Ini menjadikan fase Early Adopter sangat krusial. Apakah Early Adopter senang mencoba produk baru? Nanti dulu. Rasa sakit yang diderita pengguna awal ini merupakan sesuatu yang nyata.

Kenapa ini terjadi? Karena merupakan produk generasi awal, biasanya produk ini sangat rentan. Jika penjualan tidak sesuai target atau tanggapan masyarakat ternyata tidak sesuai keinginan perusahaan, maka ada kemungkinan bahwa produk tersebut akan dihentikan. Contoh hal ini sudah sangat banyak. Microsoft Band misalnya. Produk gelang tangan olahraga dari Microsoft ini sepi peminat, padahal banyak orang yang memberikan tanggapan positif. Microsoft yang saat itu sudah dipegang CEO berkepala plontos yang tidak suka menghambur-hamburkan dana untuk produk yang tidak laku, langsung membatalkan kelanjutan produk ini.

Belum lagi fakta bahwa produk generasi pertama sebagian besar memiliki kekurangan. Tentu saja tidak mudah menjadi yang pertama dalam sebuah kategori. Selalu ada kasus penggunaan yang baru terlihat saat produk tersebut digunakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jika ini fatal, maka tentu saja akan memengaruhi pendapat pengguna terhadap produk dan bisa menghambat penjualan produk selanjutnya. Bukan hanya pada produk yang gagal, bahkan produk yang sukses seperti iPhone, iPad, Apple Watch, atau Microsoft Surface sekalipun, generasi pertama produk ini selalu menimbulkan ‘rasa sakit’ bagi penggunanya.

Kita ambil contoh iPhone, smartphone paling populer di seluruh dunia yang mengubah wajah smartphone di generasinya. Pengguna awal iPhone tentu saja mengalami banyak duka karena tidak adanya aplikasi yang mendukung aktivitas sehari-hari serta daya tahan baterai yang masih buruk. Butuh beberapa generasi bagi pengguna iPhone untuk akhirnya bisa tersenyum dan merasakan bahwa mereka benar-benar menggunakan sebuah perangkat premium yang luar biasa.

Surface, perangkat yang menciptakan generasi baru, yaitu 2-in-1, tentu saja mengalami banyak masalah ketika generasi pertama diluncurkan. Windows 8 masih belum optimal dalam mendukung Surface, belum lagi permasalahan teknis lain yang mengecewakan para pengguna awalnya. Setelah generasi Surface Pro 3, barulah Microsoft bisa tersenyum lega karena tidak ada kendala berarti bagi pengguna, dan pada akhirnya perangkat 2-in-1 diterima secara luas di masyarakat.

Terkadang sebuah produk bahkan gagal sama sekali melewati tahapan Early Adopter. Orang tidak berminat menggunakan produk tersebut sama sekali hingga akhirnya dibatalkan. Google Glass merupakan salah satu contohnya. Setelah sempat merilis perangkat kacamata pintar ini, Google akhirnya harus mengakui bahwa perangkat ini membawa banyak masalah, memiliki banyak kekurangan, dan tidak begitu menarik minat masyarakat.

Google Glass via Shutterstock

Kembali lagi ke Foldable Phone, kategori perangkat baru yang sepertinya akan jadi tren ke depannya. Apakah perangkat ini bisa sukses? Jawabannya bisa. Asalkan bisa melalui tahapan Early Adopter dengan sukses. Kemudian apakah sepadan bagi kita menjadi pengguna awal kategori perangkat baru ini? Jawaban ini saya kembalikan kepada kamu. Jika kamu adalah orang yang cukup penasaran mencicipi perkembangan teknologi, tidak keberatan ‘membuang’ uang untuk memiliki perangkat tersebut, maka mungkin kamu siap menjadi Early Adopter. Tentu saja kamu harus siap untuk ‘bersakit-sakit’ selama masuk dalam kelompok elit orang yang menggunakan kategori perangkat baru untuk pertama kalinya. Selamat jadi Early Adopter (Jika ada di antara kamu yang menginginkannya)!

 

 

Sumber: HowtoGeek

  Duel Klasik VIVO vs OPPO..!  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.