Home Editorial Kisah Silicon Valley #1: Peta Perang Digital 2017 – Apple, Google, Microsoft,...

Kisah Silicon Valley #1: Peta Perang Digital 2017 – Apple, Google, Microsoft, dan Facebook

“If you’ve lost the battle, one way to win is to move to new battlefield.” – Tim Cook

Generasi yang tumbuh dalam ledakan dan kemudahan internet menikmati kemudahan pemanfaatan berbagai fasilitas yang seakan tanpa batas membantu kita ‘membawa’ dunia hadir di sebelah kita. Namun tanpa kita sadari, sebenarnya di balik segala kemudahan era digital tersebut terdapat perang besar tak kasat mata yang melibatkan raksasa-raksasa teknologi. Berdasarkan nilai perusahaan tahun 2016, maka kita mendapatkan daftar peringkat perusahaan teknologi yang bertarung sebagai berikut:

  1. Apple Computers Inc. Nilai Pasar: USD 741,8 miliar
  2. Alphabet Inc. Nilai Pasar: USD 367,6 miliar
  3. Microsoft. Nilai Pasar: USD 340,8 miliar
  4. Facebook. Nilai Pasar: USD 231.6 miliar

Keempat raksasa ini terlibat dalam perang digital (tentu saja terkait bisnis) yang seringkali kejam dan tanpa kenal ampun. Sebagai konsumen utama produk-produk mereka yang bersliweran di hadapan kita dalam kehidupan sehari-hari, akan sangat bagus bagi kita menambah wawasan seputar situasi dunia digital saat ini. Siapa tahu ada pelajaran filosofis dan bisnis, atau sekedar prinsip yang dapat kita ambil untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, untuk itu, Winpoin akan menyajikannya dalam artikel lepas berseri dengan tagline: Kisah Silicon Valley.

Untuk episode pertama ini, Winpoin akan membahas karakteristik dan posisi empat besar raksasa teknologi: Apple, Google (Alphabet Inc), Microsoft, dan Facebook dalam perang digital skala global.

 

Apple Inc 

Generasi milenial (tahun 2000-an) mungkin lebih mengenal Apple sebagai perusahaan pembuat iPhone dan iPad, namun mereka yang tumbuh bersama era booming komputer rumahan lebih akrab dengan ‘Apple sang pembuat Mac’. Kalaupun CEO Apple saat ini, Tim Cook, seolah kehilangan arah dengan produk Mac yang sebenarnya merupakan breaking ground dari Apple, itu lain soal. Namun bagi pendiri sekaligus CEO pertama Apple, Steve Jobs yang ikonik, Apple adalah selalu sebuah perusahaan komputer.

Saat mendirikan Apple, Steve Jobs adalah penggemar berat teknologi yang memulai segalanya bersama sobat sekaligus tetangganya, Steve Wozniak, dari garasi rumahnya sendiri. Steve Jobs yang kharismatik, nyata-nyata lebih menunjukkan minat besar terhadap desain daripada pemrograman yang rumit. Kemampuannya yang tersohor adalah melihat sebuah perangkat secara menyeluruh di level konsumen. Dia mampu membayangkan bagaimana konsumen menggunakan produknya, serta bagaimana harus meletakkan posisi tawar agar produk tersebut terjual. Selain itu daya persuasifnya yang luar biasa seakan mampu menjadikan seseorang menghasilkan produk yang di luar bayangan orang itu sendiri.

Sepanjang sejarah berdirinya Apple, Steve Jobs mengalami pasang surut, sempat dipecat oleh perusahaan yang didirikannya sendiri, untuk kemudian kembali dengan gemilang bersama NeXT dan Pixar, menjabat kembali sebagai CEO Apple dan mengembalikan Apple ke masa kejayaannya setelah merugi lebih dari USD 1 miliar di rentang waktu 1997-1998. Jobs seakan mendefinisikan ulang, lalu mengubah struktur perusahaan tersebut tiga kali, dan setiap perubahannya, Apple semakin besar! Yang pertama adalah lini Mac/Macintosh yang selalu menawarkan inovasi baru. Meskipun gagal bersaing dengan kelompok OEM yang dibekingi Microsoft seperti Dell dan IBM, namun Mac menawarkan alternatif dan solusi, serta memiliki penggemar yang fanatik – nyaris seperti kultus agama. Kedua adalah saat produk iPod dari Apple mendulang kesuksesan, bahkan mengubah cara bisnis musik di seluruh dunia yang sedang kolaps akibat ancaman kebebasan berbagi secara digital melalui internet. Sedangkan yang terakhir adalah pasca 2007, yang mana menjadikan kita secara umum mengenal Apple sebagai produsen iPhone – Sebuah produk ponsel pintar yang mendahului zamannya, bahkan mengubah cara interaksi antara pengguna dengan ponsel pintar dengan perangkat layar sentuh yang brilian.

Kini, Apple berada di puncak dunia teknologi dengan nilai perusahaan nyaris dua kali lipat dibandingkan dengan Alphabet Inc (yang lebih akrab kita kenal sebagai Google) di posisi kedua. Apple lebih suka dikenal sebagai produsen hardware high end yang mengkhususkan diri memberikan produk dan pengalaman terbaik bagi penggunanya. Yup, produk dan pengalaman terbaik = harga yang fantastis. Dari sinilah Apple mendapatkan margin keuntungan luar biasa tinggi yang kemudian menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan bernilai paling tinggi di dunia.

 

Alphabet Inc

Perusahaan ini mengaku-aku baru berdiri pada tahun 2015, tapi kita tahu bahwa itu sebenarnya hanya alih nama dari Google Inc yang diprakarsai Larry Page dan Sergey Brin yang resminya (sebagai perusahaan) baru mulai beroperasi pada tahun 1998, dua puluh tahun setelah Steve Jobs merintis Apple. Kedua mahasiswa Stanford jenius tersebut tumbuh besar di era internet, sangat berbeda dengan dua raksasa yang sudah mapan saat itu: Microsoft dan Apple (terutama Microsoft, karena pada saat Google baru didirikan, Apple tengah berada dalam masa krisis sementara Microsoft adalah dewa yang menguasai hampir seluruh dunia teknologi).

Era baru menjadikan mereka sukses di bisnis yang nyaris tidak dipikirkan oleh Microsoft dan Apple saat itu: Mesin pencari. Google mungkin bukan yang pertama memiliki algoritma mesin pencari, tapi mereka yang pertama memiliki landasan bisnis yang jelas, tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan uang dari sebuah mesin pencari!

Bermodalkan semangat pemberontak terhadap kemapanan (tercermin dalam slogan yang dipegang teguh Larry Page dan Sergey Brin: Don’t be evil – Sang Iblis di masa itu tak lain dan tak bukan adalah Microsoft yang harus berkali-kali berurusan dengan pelanggaran anti-monopoli karena…. Jelas-jelas nyaris melakukan monopoli total terhadap sistem operasi yang menjadi landasan perangkat lunak), Google terus melakukan sirkus dalam celah-celah bisnis yang tak dipahami raksasa konvensional.

Membagikan paket software office gratis (Google Docs, Spreadsheet, dan sebagainya), membagikan Operating System ponsel gratis (Android), menyusun peta yang nyaris lengkap untuk setiap lekuk dunia yang kemudian dapat digunakan gratis, dan banyak lagi – Semua bermuara dalam satu inti: Meningkatkan dominasi mereka di dunia mesin pencari hingga saking dominannya, nyaris tak ada mesin pencari serelevan Google pada tahun ini.

Googling menjadi kata kerja yang umum untuk menggambarkan aktivitas pencarian (untuk remaja Indonesia, istilah ‘tanyakan saja ke Mbah Google’ menjadi pameo yang populer), Android menguasai 86% pangsa pasar sistem operasi ponsel, dan banyak lagi hal yang mencerminkan popularitas Google serta betapa mereka nyaris terlibat dalam banyak aspek kehidupan kita.

Setelah mengubah namanya menjadi Alphabet Inc, konon untuk memudahkan memanajemen dan menyatukan perusahaan-perusahaan yang tidak sejalan dengan bisnis inti Google – Tapi merupakan milik Google, raksasa mesin pencari ini menutup tahun 2015 dengan nilai fantastis sebesar USD 367,6 miliar. Bisnis utama mereka adalah mesin pencari fleksibel yang dapat diakses dari mana saja sepanjang memiliki koneksi internet yang mana mendatangkan iklan dalam nilai yang fantastis untuk dicatatkan dalam portofolio perusahaan.

 

Microsoft

Flashback ke tahun 1998, Bill Gates, bocah ajaib jenius yang memulai karir dari menulis operating system untuk dijual kepada MITS – Bahkan saat dia belum menulisnya – saat itu berusia 43 tahun. Saham Microsoft tahun itu melejit mencapai USD 250 miliar dan menjadikan Gates sebagai orang terkaya di dunia. Microsoft Windows saat itu menguasai 95% pangsa PC dunia dengan tingkat pertumbuhan 15-20% per tahun. Ini cukup untuk menggambarkan betapa dahsyatnya dominasi Microsoft di era 90-an bagi dunia komputer.

Namun dominasi itu tak melulu membawa kesan positif. Penguasaan nyaris total di bidang operating system (dan upaya merambah dominasi ke banyak bidang) memberikan cap sebagai korporasi yang rakus dan serakah. Microsoft menancapkan dominasinya tidak dengan ramah. Mereka mampu memburu, membeli, mereplikasi produk, dan menghancurkan para pesaingnya dengan tanpa ampun. Ada fase di mana banyak karyawan Microsoft malu bekerja di perusahaan raksasa ini karena citra buruk yang melekat.

Setelah lolos dari persidangan Anti-Monopoli yang terbesar yang pernah dialami Microsoft di tahun 2000, Bill Gates mengundurkan diri sebagai CEO Microsoft, menyerahkan tampuk pimpinan kepada Steve Ballmer, karyawan ke-13 angkatan awal Microsoft yang dikenal sebagai salesman kharismatik dengan antusiasme dan semangat meluap-luap tak tertandingi. Kalau kamu mengaku sebagai fanboy Microsoft, maka Ballmer adalah mbahnya para fanboy.

Bertolak belakang dengan Bill yang introvert dan sopan, meskipun tak ragu menikam, Ballmer menunjukkan sikap yang terbuka. Dia akan menggertak, menghajar, menghina dan menertawakan kompetitor terang-terangan. Di atas segala-galanya, Ballmer dikenang oleh banyak fans sebagai ‘pelindung’ benih-benih produk Microsoft. Pada Ballmer-lah staf Xbox mengadu saat divisinya akan dieliminasi – Ballmer memveto keputusan itu dan memutuskan Xbox tetap berjalan, Ballmer adalah yang paling depan mempertahankan Windows Phone meskipun tidak mendapatkan profit, hingga sempat meraih pangsa pasar yang lumayah pada tahun 2013 (3% dari total OS ponsel seluruh dunia), serta juga terlibat perang komentar terbuka dengan para petinggi perusahaan teknologi lain yang dianggapnya melecehkan Microsoft.

Namun sayangnya, setelah mempertahankan dan sempat melejitkan pendapatan Microsoft yaitu dari USD 25 miliar menjadi USD 70 miliar, dengan pendapatan bersih meningkat 215 persen ke USD 23 miliar, Ballmer menjadi sosok yang paling disorot atas terus menurunnya dominasi Microsoft melawan raksasa teknologi lainnya seperti Apple dan Google. Saham Microsoft mengalami penurunan drastis sementara Apple meroket. Ini fakta yang menyakitkan mengingat saat Microsoft jaya, Bill Gates bahkan seakan bisa menghancurkan Apple kapan saja (yang tentu saja tidak dilakukan untuk menghindari tuntutan undang-undang anti-monopoli). Microsoft di bawah Ballmer juga dianggap gagal mengantisipasi tren masa depan seperti smartphone, tablet, dan pemutar musik. Ini menjadikan Ballmer harus menyerahkan tahta kepada Satya Nadella pada tahun 2013.

Pengangkatan Nadella ini sekaligus berusaha melanggengkan budaya ‘CEO insinyur’ sebagaimana Gates pada masa awal. Harapan para petinggi Microsoft, Nadella sebagai seorang insinyur tidak lagi kehilangan kesempatan pada tren masa depan selanjutnya.

Sejauh ini, Nadella dianggap berhasil menjawab harapan tersebut. Microsoft tiba-tiba keren lagi! Microsoft saat ini memimpin di bidang Augmented Reality – bahkan nyaris tanpa saingan – dengan pengembangan Hololens yang semakin menunjukkan kematangan. Ini diharapkan menjadi medan perang masa depan yang akan dimenangkan Microsoft nantinya. Di bawah Nadella juga, Microsoft memimpin tren perangkat 2-in-1, tablet dan PC, yang seolah menjadikan lini Mac Apple seperti perangkat zaman purba. Xbox mampu bersaing seimbang dengan Sony Playstation yang merajai dunia game konsol sejak era 90-an, dan yang terutama: Mendominasi dalam teknologi cloud (beserta monetisasinya). Cloud adalah sapi perah Microsoft, tentu saja beserta software tradisional seperti Office dan Windows yang sudah sejak awal memang dominan dikuasai Microsoft.

Sebagai perusahaan tradisional era perkembangan PC, Microsoft mendapatkan keuntungan utamanya dari software, yaitu Windows dan Office yang digunakan 85% pengguna enterprise. Azure dan OneDrive juga produk cloud nomor satu di dunia enterprise.

Kini, tahun 2017, sudah hampir dua puluh tahun berlalu sejak Bill Gates dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia, hanya sekali pada tahun 2008 dia ‘disalip’ oleh Warren Buffet (yang menjadikannya berada di posisi 2 – Banyak orang yang rela mati untuk mendapatkan posisi ini), setelah itu secara berturut-turut namanya tetap tercatat sebagai orang terkaya di dunia versi Forbes. Microsoft adalah lembar kisah yang ditulisnya!

 

Facebook

Tepat di saat banyak orang mengira bahwa internet telah mapan dan sangat sulit untuk bersaing dengan trio Apple, Microsoft, dan Google, Facebook muncul menjungkalkan semua perkiraan. Berawal dari ‘buku tahunan online’ yang digagas Mark Zuckerberg pada tahun 2004, kini kita menyaksikan sebuah jaringan sosial media raksasa yang mengantarkan lulusan Harvard ini menjadi orang nomor lima terkaya di dunia versi majalah Forbes 2017.

Dilihat dari sudut mana pun, Zuckerberg tidak sejenius Bill Gates, Larry Page, atau Sergey Brin yang menulis kodenya sendiri. Seperti produknya: sebuah jejaring sosial, Zuck ahli mengakomodasi kemampuan para teknisinya untuk diselaraskan dengan visinya. Pendiri Facebook ini juga terkenal karena intuisi bisnisnya yang luar biasa tajam, nyaris tanpa cela. Dia dengan lihai menerka tren selanjutnya sembari terus memperbaiki kekurangannya pada bidang yang menjadi inti bisnisnya. Pembelian Oculus VR, WhatsApp, dan Instagram adalah dongeng kesuksesan yang mirip dengan saat Google mengakuisisi YouTube.

Bicara soal Google, Facebook memiliki kesamaan inti bisnis dengan raksasa mesin pencari itu. Facebook memperoleh kekayaannya dari iklan. Bagaimana Zuck merayu para pengiklan agar lebih suka beriklan di situsnya alih-alih Google? Kamu bisa melihat kelebihan Facebook adalah: organik. Sebagian besar pengguna layanan Facebook adalah orang sebenarnya dengan didukung data diri yang lengkap. Ini memudahkan pengiklan untuk menargetkan iklan mereka kepada orang yang benar-benar berminat. Contoh paling sederhananya, kalau kamu sering membaca situs teknologi seperti Winpoin, Windows Central, Pocketnow – Maka jangan heran kalau di laman Facebookmu akan kamu dapati iklan jual beli smartphone, PC, atau perangkat teknologi lainnya. Facebook memiliki software pemantau yang pada saat kamu login ke akun Facebook di browser, maka dia akan memperhatikan perilaku online-mu dan mengumpulkan data perilaku online tersebut, untuk kemudian menjadikan profilmu ditampilkan bagi pemasang iklan yang relevan. Sebenarnya ini kurang lebih sama dengan sistem Google, hanya saja Facebook lebih reliable karena dia memiliki data lengkap yang kamu masukkan!

Bagi Google, Facebook adalah musuh alami yang menyebalkan. Sejak awal Facebook ‘membangun dunia tersendiri’ dengan cara yang sederhana tapi efektif. Facebook memiliki stopper bernama robots.txt. Fungsinya adalah melarang crawler dari luar untuk masuk dan melakukan pengindeksan di Facebook. Saat pencarian oleh crawler milik Google dihentikan, maka tak ada cara lain untuk bisa mencari informasi dalam Facebook, selain harus masuk ke Facebook itu sendiri. Inilah sebabnya dengan pengguna yang kini mencapai 1,86 miliar terhitung 3 April 2017 yang lalu, Facebook menjadi magnet bagi para pengiklan. Upaya Google untuk mengimbangi Facebook dengan Google Plus pun tidak berhasil. Google Plus terlihat seperti ‘kuburan’ dibandingkan dengan ramainya Facebook.

Kesuksesan Facebook mengantarkan Zuckerberg ke posisi nomor 6 orang terkaya di dunia tahun 2016, dan meningkat ke posisi lima pada tahun 2017! Pendapatan utama bisnis Facebook adalah iklan – Menjadikan perusahaan bernilai USD 231,6 miliar ini berpotensi terlibat baku hantam brutal dengan Google. Media Sosial adalah lahan bermain Facebook. Secara agresif Zuck berusaha bernegosiasi untuk mengakuisisi Twitter dan seperti yang kamu saksikan – sukses membully  Snapchat besutan Evan Spiegel yang nilainya terus menurun akibat hantaman Facebook dari fitur-fitur yang sama dan lebih sempurna.

 

Ringkasan di atas baru pembukaan untuk kisah-kisah selanjutnya dari Silicon Valley. Seperti kalimat pembuka yang saya kutip dari Tim Cook di atas, mereka saling bersaing dan membuka medan perang baru tempat kemungkinan mereka dapat dominan dan berkuasa di dunia digital terbuka ini. Belajarlah dari mereka, siapa tahu kamu di masa depan akan berhadapan langsung dengan mereka untuk mengembangkan bisnismu sendiri!

  Video: Review DJI Osmo Mobile Indonesia  

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta