Satu dekade sebelum Apple merilis iPad, Bill Gates sudah memperkenalkan platform Tablet PC-nya sendiri. Perangkat ini menyertakan input pen, touchscreen, dan beberapa fitur lain yang tidak dimiliki perangkat seangkatannya. Microsoft memiliki visi bahwa perangkat komputasi di masa depan akan memiliki interface yang lebih alamiah dibandingkan keyboard dan mouse yang sudah merajai perangkat komputasi selama sepuluh tahun belakangan.

Ketika Apple memperkenalkan iPad pada tahun 2010, Steve Jobs menyatakan bahwa era “post-PC” telah dimulai. Apa itu era post-PC? Ini adalah era di mana komputasi perangkat tidak lagi di laptop atau komputer desktop (baik Mac atau Windows), akan tetapi di tablet. Jika kamu mencermatinya, sebenarnya Jobs menyampaikan apa yang pernah disampaikan Gates sepuluh tahun yang lalu dengan bumbu yang lebih bombastis. Dan memang karisma Steve Jobs sudah cukup untuk meyakinkan banyak orang mengenai apa yang dikatakannya, meskipun kadang dia salah. Narasi ini bergulir liar di kalangan pers dengan banyak jurnalis mengutip perkataan Jobs seakan menyisipkan ayat Kitab Suci dan industri komputer pun berguncang karena khawatir bahwa apa yang dikatakan pendiri Apple ini benar, yang mana berakibat ‘terhapusnya’ PC dan laptop oleh kecenderungan perilaku komputasi baru ini. Penjualan iPhone pun ikut meroket sehingga mendesak BlackBerry dan Nokia yang pada tahun itu sedang menguasai dunia ponsel.

Namun apakah memang benar bahwa tablet akan menjadi perangkat komputasi pengganti PC dan laptop seperti yang dikatakan Jobs? Benarkah prediksi Gates bahwa perangkat komputasi mengalami pergeseran ke interface yang lebih alamiah? Bergabunglah dalam perjalanan panjang ini karena beberapa seri mendatang saya akan menulis bagaimana Microsoft Surface mengubah pandangan dunia tentang komputasi, terbukti dengan masuknya produk ini ke lima besar PC/laptop paling laris di dunia.

Gelombang Digital

David D. Clark

Pada tahun 1999, seorang ilmuwan MIT, David D. Clark, mencetuskan frasa era post-PC, frasa yang nantinya lebih populer (dan sering dikira banyak orang pertama kali) diucapkan oleh Steve Jobs. Clark menggunakan frasa ini untuk menggambarkan situasi perangkat seperti tablet, televisi digital, radio streaming, dan perangkat lain dengan ‘gelombang digital’ – nyaris semuanya akan terhubung ke internet. Dalam wawancara di tahun 2012, Clark mengungkap bahwa istilah tersebut pada awalnya ‘menyindir’ teman-temannya di Intel, bahwa Intel meskipun Intel telah memenangkan perang PC mengingat bahwa mereka ambil bagian di sebagian besar hardware PC yang terjual di dekade 90-an, namun mereka perlu mewaspadai fenomena internet ini. Intel ternyata telat menanggapi peringatan itu. Ketika perangkat mobile menjadi mainstream pada tahun 2010 ke atas, kemudahan mengakses internet melalui perangkat mobile mulai menekan penjualan PC dan laptop. Jika sebelumnya, asumsi orang adalah menggunakan PC untuk akses internet, kini banyak yang beralih ke perangkat yang lebih kecil dan praktis.

PC berbasis Windows (sebagai dominator dunia PC dan laptop) pada saat itu menggunakan platform Intel (x86 atau x64), berada dalam posisi yang sulit. Jika mereka beralih ke platform ARM (Advanced RISC Machines) yang lebih ramah mobile, maka Microsoft akan menyinggung Intel, mitra seumur hidupnya. Namun Microsoft punya visi yang jelas bahwa dunia akan beralih ke perangkat berbasis sentuh, seperti halnya yang pernah diungkapkan Bill Gates pada awal tahun 2000-an, jadi sistem operasi Windows harus menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Tahun 2010 juga ditandai dengan terjualnya iPad dengan cukup baik. Perangkat ini menjadi penguasa segmen tablet tanpa mampu digeser Google yang dengan cepat melibatkan semua mitra OEM-nya untuk merilis tablet berbasis Android. Jika ini berlanjut, maka semua orang di dunia akan lupa bahwa Microsoft sebenarnya adalah pencetus utama tablet sebagai perangkat komputasi yang lebih ramah dan alamiah bagi pengguna.

Pada Januari 2011, Microsoft mengambil keputusan penting dengan memamerkan kepada dunia bahwa perusahaan yang bermarkas di Redmond ini akan terus maju ke depan, dan bahwa Windows akan mampu bersaing di era Post-PC. Pada acara Consumer Electronic Show, Microsoft mengumumkan dukungan bagi platform hardware System on a Chip (SoC) baru yang didukung Intel dan NVIDIA. Sebuah perangkat diperkenalkan dengan berbasis Windows 8 yang lebih ramah untuk layar sentuh. Dengan bangga Microsoft mengumumkan nama perangkat itu: Microsoft Surface.

via LiveSide

Dari Meja ke Tablet

“Kami memiliki visi dan keahlian untuk melaksanakan ini, ini proyek yang hebat”

Saat masih aktif di Redmond, Bill Gates sering menulis memo yang dikenal sebagai ‘Gates Notes’, yang mana sering dijadikan rujukan oleh para jurnalis. Memo ini juga sering mendapatkan pujian karena memberikan pemahaman kepada publik mengenai arah yang dituju Microsoft. Di salah satu memo tersebut, ada visi Gates bahwa semua bidang bisa dijadikan permukaan (surface) komputasi – nah, dari sinilah lahir sebuah merek.

Tentu saja pada saat itu, Microsoft belum punya pemikiran mengenai jadi apa Surface nantinya. Pada awalnya perusahaan ini mulai membangun apa yang disebut smart table. Inilah mengapa produk ini disebut ‘Surface’ (karena berawal dari permukaan meja). Di sini Microsoft mengembangkan sebuah layar yang memungkinkan beberapa pengguna secara bersamaan berinteraksi dengan hardware tersebut. Kalau alat tersebut hadir sekarang di tahun 2019 ini, mungkin tidak akan ada yang heran, akan tetapi prototype meja pintar ini sudah dibuat Microsoft pada sekitar tahun 2000. Sistem inilah yang kemudian menjadikan Microsoft bisa mengembangkan teknologi tingkat lanjut seputar layar sentuh (Microsoft merupakan salah satu pemegang paten terbanyak untuk perangkat mobile – semuanya berawal dari meja pintar ini).

Generasi pertama meja pintar yang dijual untuk umum dirilis pada tahun 2007. Smart table tersebut menggunakan kamera proyeksi Digital Light Processing (DLP), dengan didukung processor Intel Core 2 Duo, grafik Radion X1650, dan RAM 2GB; ini merupakan spesifikasi tertinggi sebuah komputer pada saat itu. Perangkat ini dijual dengan harga USD 10.000 – Otomatis tidak laku. Namun meja pintar ini menjadi salah satu landasan teknologi Microsoft di masa mendatang. Bahkan seakan jauh melampaui zamannya, ada beberapa fitur dari meja pintar ini yang belum menjadi mainstream hingga sekarang, salah satunya adalah meja ini bisa mengenali benda yang diletakkan di atasnya. Misalnya jika kita meletakkan ponsel, maka akan ada interface khusus yang memungkinkan kita berinteraksi dengan konten dalam ponsel melalui meja tersebut.

Meskipun tidak laku, Microsoft dengan berani kemudian merilis SUR40 pada Januari 2011, dengan bantuan Samsung sebagai penyedia layar. Meja generasi kedua ini lebih ringan dan dipatok dengan harga lebih murah, yaitu USD 8400. Meskipun tetap tidak laku, beberapa komponen di perangkat ini, seperti misalnya kamera Pixelsense dan sistem OS yang digunakan, menjadi landasan untuk produk tablet yang diluncurkan oleh Microsoft tak lama setelah itu.

Terjun ke Hardware

via Engadget

Untuk raksasa software seperti Microsoft, masuk ke bisnis hardware bukanlah hal yang sederhana. Selain melibatkan modal yang sangat besar, tentu saja harus memperhatikan reaksi mitra-mitra Microsoft, para perusahaan pembuat PC. Tentu saja ini membuat hubungan Microsoft dengan OEM menjadi goyah.

Kecemasan inilah yang menjadikan proyek Surface hampir saja tidak terjadi. Ballmer yang waktu itu menjabat CEO adalah orang yang ingin agar Microsoft terjun ke bisnis hardware, sementara Bill Gates ingin agar Microsoft tetap mempertahankan tradisinya sebagai pembuat software. Dewan direksi saat itu berada di belakang Gates dengan menyatakan bahwa Microsoft tidak perlu melakukan investasi yang tidak berfaedah ini. Namun Ballmer menekankan perlunya Microsoft untuk menjadi pemimpin di segala bidang, termasuk di depan Apple yang pada era itu semakin mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan paling inovatif di dunia dengan rilis iPod dan iPhone. Ballmer berargumen bahwa jika tidak mengambil keputusan, maka Microsoft akan ditelan oleh ‘ombak’ Cupertino yang sedang melaju kencang. Pada saat itu, ide membuat hardware sendiri memang kelihatan tidak logis. Microsoft menghasilkan uang, terutama dari Windows yang mana solusi ini ditawarkan kepada para mitra seperti Dell, HP, dan Lenovo. Namun persistensi Ballmer meluluhkan dewan direksi dan mereka menyetujui perusahaan mulai mengembangkan PC berbasis layar sentuh.

via Mashable

Setelah proyek ini disetujui, Microsoft kemudian menunjuk Steven Sinofsky untuk mengepalai proyek Windows 8 yang rencananya akan mengoperasikan perangkat baru besutan Microsoft tersebut. Selain Windows 8 umum, Microsoft juga mengembangkan versi produk ini yang berfokus pada produk mobile. Microsoft menamakannya Windows on ARM (WOA) dan ini dikembangkan secara rahasia untuk dikhususkan bagi hardware PC pertama Microsoft. Visi Microsoft adalah ‘masa depan komputasi’, sebuah perangkat yang bisa dengan nyaman digunakan sebagai PC, akan tetapi juga memungkinkan untuk digunakan sebagai tablet, yang merupakan perpanjangan smartphone yang sedang booming pada saat itu.

Hari-hari awal pengembangan Surface dilakukan dengan penuh kerahasiaan. Tim yang terpilih untuk bekerja tidak boleh menyampaikan sepatah kata pun mengenai proyek ini kepada anggota keluarga sekali pun. Bahkan kalangan eksekutif level C ke bawah tidak diberi tahu mengenai pengerjaan produk ini. Pemilihan tim khusus ini pun melibatkan prosedur wawancara berlapis. Anggota terpilih, selain memiliki skill yang mumpuni, juga harus memiliki karakter kepribadian yang loyal sehingga mereka tidak akan membocorkan hal ini kepada publik. Bahkan ada intimidasi berupa pemotongan gaji atau bahkan pemecatan dengan denda yang sangat besar bila sampai melanggar perjanjian dalam pekerjaan ini. Begitu seriusnya proyek ini sampai-sampai Microsoft melibatkan mantan anggota CIA dalam seleksi tim serta juga mengawasi orang-orang yang terlibat.

Konon, saking stressnya orang-orang yang bekerja di sana, suatu malam ada seorang anggota tim yang minum bir dengan sesama karyawan Microsoft lain dan secara tidak sengaja dia menyebutkan kata “Metro” – Nama modern UI yang akan digunakan oleh ‘perangkat masa depan’ ini. Sadar keceplosan, orang tersebut muntah-muntah hebat dan langsung sakit di hari berikutnya karena ketakutan bahwa dia telah membocorkan rahasia Microsoft dan harus menghadapi segala konsekuensinya (padahal kata ‘Metro’ itu tercetus tanpa konteks).

Steven Sinofsky – terlepas apa pun tanggapan publik terhadap Windows 8 – mengawal proyek ini dengan sangat cermat. Seperti yang diharapkan, dalam waktu yang singkat untuk pengembangan OS ini, Sinofsky benar-benar menunjukkan kinerja yang efisien dan menjadikan alur kerja berkesinambungan menuju hasil yang pasti. Dia adalah tipe micromanager klasik yang meskipun membiarkan orang-orang brilian bekerja dengan optimal, namun dia selalu ingin memegang kendali. Itulah mengapa Sinofsky sangat tepat dalam membangun hubungan antar-organisasi untuk satu tujuan.

Sementara Sinofsky sibuk dengan pengembangan OS, Panos Panay dan tim Surface mengembangkan dua produk: Surface RT, berbasis platform ARM, dan Surface Pro, yang merupakan tablet PC berbasis Intel yang lebih tradisional. Tadinya kedua produk ini akan diperkenalkan bersama-sama, namun karena adanya masalah dalam pengembangan Surface Pro, perangkat ini tertunda pengumumannya setahun kemudian.

Dirilisnya iPad pada tahun 2010 sangat menyakitkan bagi Sinofsky dan Microsoft. Apple mendapatkan pujian karena menciptakan sebuah perangkat tablet yang digadang-gadang sebagai ‘masa depan komputasi’ – sementara di saat yang sama, Sinofsky sedang mengembangkan perangkat yang kurang lebih serupa. Microsoft ketakutan bahwa jika produk ini diluncurkan, maka publik akan mengira bahwa Microsoft meniru-niru ide orang-orang Cupertino. PR mereka bertambah: Bagaimana cara mencitrakan perangkat ini sebagai sesuatu yang berbeda dengan produk Apple, dan di saat yang sama merupakan sebuah perangkat yang melebihinya.

Waktu terasa bergerak dengan cepat. Sinofsky dan Panay tahu bahwa perangkat ini tidak akan mengubah dunia dalam waktu semalam, namun harapan mereka, Surface akan mampu mendorong Microsoft dan industri PC secara keseluruhan ke sebuah arah yang baru!


Minggu depan kita akan mengikuti bagaimana proses pengembangan Surface secara lebih mendalam di Kisah Silicon Valley 113 – Menarik Perhatian Dunia dengan Surface.

Referensi

Sams, Brad. (2018). Beneath a Surface. Lean Publishing.

Bort, Julie. (2013). Microsoft Invented A Tablet A Decade Before Apple And Totally Blew It. Business Insider

  Review vivo S1 Pro — Apa yang Baru..??  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.