Steve Jobs dan Jony Ive via Incimages

Dalam wawancara yang mempertemukan Bill Gates dan Steve Jobs, pendiri Apple tersebut menyatakan bahwa, “Gil Amelio pernah diwawancarai dan mengatakan, Apple ini seperti kapal dengan lubang di dasarnya, air bocor dan masuk ke dalam. Tugas saya adalah menjadikan kapal tersebut mengarah ke arah yang benar.” Mendengar kata-kata Steve Jobs tersebut, Bill Gates tertawa terbahak-bahak hingga nyaris tersedak (karena jika kapal sedang tenggelam, arah satu-satunya adalah ke bawah).

Berpisah dengan Brunner

Robert Brunner

Tepat sebelum rilis ulang tahun keduapuluh Mac, Brunner yang telah lama bekerja sama dengan Ive, yang juga menjadi salah satu alasan Ive masuk ke Apple, memutuskan untuk keluar dari perusahaan ini. Sebagai orang yang jeli dalam membaca situasi, Brunner memang melihat Apple sedang dalam tren menurun. Produk-produk yang dilepas Apple ke pasaran, termasuk Newton MessagePad, dapat dikatakan gagal total. Brunner memutuskan untuk bergabung dengan Pentagram, sebuah firma desain internasional yang didirikan di London. Uniknya, Brunner bertemu dengan agensi ini saat dia sedang melakukan talent scout yang pada akhirnya menjadikannya mengajak kerja sama Tangerine dan membajak Jony Ive.

Pengunduran diri Brunner terlihat telah disiapkan dengan sangat matang. Di awal 1996, dia sudah mengambil cuti panjang. Dalam periode cuti Brunner ini, semua hal di divisi desain Apple berantakan. Semua orang merasa frustasi dengan kegagalan produk-produk yang dirilis. Brunner sendiri akhirnya resmi meninggalkan Apple di bulan Desember 1996.

Perginya Brunner menyisakan kekacauan dalam tubuh Apple. Muncul tekanan bahwa mereka harus cepat melakukan pencarian desainer baru yang memiliki nama besar. Ini merupakan pemikiran yang masuk akal mengingat sebagian besar desainer juga merencanakan untuk keluar dari perusahaan ini. Eksodus besar-besaran nampaknya sulit untuk dicegah. Namun Brunner sendiri menentang pendapat tersebut. Brunner menyatakan bahwa Apple sendiri sudah memiliki seorang desainer superstar, dia adalah wakil Brunner di tim desain: Jony Ive.

“Dia memiliki kualitas kepemimpinan yang baik dan tenang, dan dia sangat dihormati,” ujar Brunner. “Saya tidak ingin meremehkan seluruh desainer di sini, namun bagi saya tidak ada pilihan lain. Ive layak menjadi pimpinan.”

Bagi sebagian anggota direksi Apple, saran Brunner ini dianggap tidak logis karena Ive belum lama bekerja di sana dan terlihat minim pengalaman. Usianya sendiri baru dua puluh sembilan tahun. Namun Brunner kukuh dengan pendapatnya. “Dia adalah orang yang sangat konsisten, sangat kuat, dan sangat ambisius,” ujar Brunner berupaya meyakinkan. “Bukan jenis ambisi rapuh atau keinginan dangkal seperti kebanyakan orang. Ive adalah orang yang jika memutuskan untuk melakukan sesuatu, maka dia akan merasa harus melakukannya dengan sebaik-baiknya!”

Brunner juga menjabarkan bahwa Ive memiliki apa yang disebutnya sebagai ‘mentalitas spektrum’. “Dia adalah orang yang melihat gambaran besar, namun dia juga memahami gambaran tersebut hingga detail terkecilnya.”

Pada akhirnya, kerugian yang terus-menerus dalam tubuh Apple menjadikan dewan direksi sulit membantah usulan ini. Menyewa seorang desainer papan atas akan memboroskan banyak uang dan Apple sebisa mungkin ingin menghindari hal ini. Jony Ive pun dengan mulus menjabat sebagai pimpinan tim desain Apple. “Ini adalah salah satu rekomendasi terbaik yang pernah saya buat,” ujar Brunner bangga.

Kekacauan Terus-Menerus di Apple

via Cult of Mac

Tak peduli seberapa besar atau hebat Apple saat ini, Brunner tetap menganggap keluarnya dia dari Apple pada saat itu merupakan salah satu keputusan paling tepat dalam karirnya. Baru berapa hari Brunner resmi tidak menjabat sebagai pimpinan tim desain Apple, musim liburan sudah menghadang. Apple harus menyaksikan lini produk-produknya tidak laku terjual dan mencatatkan salah satu penjualan paling rendah dalam sejarah Apple. Ini memicu hal lain yang lebih parah: harga saham Apple terjun bebas secara dramatis. Padahal saat itu status Apple adalah perusahaan yang menguasai 10% pangsa pasar komputer di seluruh dunia, angka yang menjadikannya penjual komputer terbanyak setelah IBM.

Ini diperburuk dengan dirilisnya OS terbaru Microsoft, Windows 95 yang terjual laris gila-gilaan. Windows 95 dikritik sebagai contekan buruk dari OS Mac pada saat itu, namun lisensi OS ini dijual dengan murah dan dapat dijalankan di banyak PC yang produsennya bekerja sama dengan Microsoft. Semua mesin yang diinstal Windows 95 menjadi buruan para pengguna. Tren PC naik gila-gilaan. Sayangnya ini sama sekali tidak dinikmati oleh Apple yang dengan harga perangkat sangat mahal pada saat itu, apalagi dengan banyak cacat di mesinnya, benar-benar dijauhi pembeli.

Pada awal triwulan pertama 1996, Apple melaporkan kerugian sebesar USD 69 juta dan ‘merumahkan’ 1300 stafnya. Pada bulan Februari, dewan direksi memecat CEO Michael Splinder, yang tadinya mengambil alih posisi CEO dari tangan John Sculley (yang tenar karena ‘menumbangkan’ Steve Jobs dan menjadikan Jobs memilih keluar dari Apple). Sebagai pengganti Splinder, dewan direksi menunjuk Gil Amelio, seorang veteran dalam industri chip dengan reputasi sebagai seorang ‘pembalik kedudukan’ yang hebat. Akan tetapi bahkan seseorang dengan reputasi sebagus Gil Amelio tidak dapat berbuat banyak di Apple. Perusahaan ini kembali kehilangan USD 1,6 miliar dalam hitungan bulan dan pangsa pasarnya terus melorot dari 10 hingga 3 persen.

Secara internal, Apple mengalami keretakan besar. Para karyawan terpecah menjadi banyak kelompok yang masing-masing memiliki agenda sendiri-sendiri, dan seringkali ini menimbulkan konflik. Cara produksi di Apple seringkali tidak mencapai kesepakatan. Amelio melakukan pendekatan di mana pengembangan produksi dilakukan secara birokratis. Ketika sebuah produk baru diajukan, tiga dokumen persetujuan harus ditandatangani: dokumen marketing, dokumen engineering, dan dokumen user experience. Pertimbangan dari keputusan ini adalah karena marketing adalah divisi yang mengetahui keinginan pengguna, engineering adalah kelompok yang mengetahui kemampuan produksi, sedangkan user experience adalah kelompok yang memahami cara orang melakukan sesuatu. Ketiga dokumen persetujuan ini nantinya akan dikirimkan kepada Komite Eksekutif untuk disetujui. Namun pada praktiknya, tentu saja sangat sulit untuk mendapatkan kesepakatan dari tiga departemen tersebut mengingat semua orang memiliki keinginan dan kendalanya masing-masing. Product Designer Apple, Terry Christensen, menyatakan, “Banyak orang menganggap pendekatan Jobs sifatnya tiran dan salah arah, menjalankan perusahaan dengan menyalurkan keseluruhan proyek melalui satu orang, namun mereka tidak paham bahwa Jobs atau pimpinan visioner lain, dengan sukses berhasil menelurkan produk yang menunjukkan semua kekuatan dan kelemahan pembuatnya. Jobs menjadikan semua unit bisa bekerja bersama dalam satu proyek dengan satu suara bulat, karena ini adalah keputusan dan arahan Jobs sendiri.”

Situasi terasa lebih buruk bagi Jony karena Amelio hanya memiliki sedikit apresiasi untuk desain produk. “Tidak ada yang peduli terhadap kualitas produk karena kami hanya mencoba untuk memaksimalkan uang yang dihasilkan,” cerita Jony geram. “Yang mereka inginkan dari para desainer adalah model sesuatu yang kelihatan keren dari luar, kemudian para engineer akan membuatnya dengan biaya semurah mungkin. Saya begitu tersinggung sampai merencanakan untuk keluar juga.”

Namun sebelum Jony secara resmi mengajukan pengunduran diri, Jon Rubinstein masuk ke Apple. Dia baru saja direkrut sebagai head of hardware Apple setelah sebelumnya menjabat posisi yang sama di NeXT, perusahaan komputer yang didirikan Steve Jobs setelah keluar dari Apple! “Saya mengatakan kepada Jony bahwa kami akan berjuang untuk mengembalikan perusahaan ke tempat yang semestinya, dan bersama-sama kita akan menciptakan sejarah. Hal penting lain yang saya sampaikan kepada Jony adalah bahwa desain akan sangat dihargai di perusahaan ini ke depannya.” Demikian ungkap Rubinstein dalam sebuah wawancara. Perkataan Rubinstein ini nantinya akan terbukti sepenuhnya!

Steve Jobs Kembali ke Apple

Steve Jobs dan Gil Amelio via Apple Insider

Pagi hari 9 Juli 1997, beberapa puluh staf teratas Apple dipanggil untuk mengikuti rapat. Di auditorium markas besar perusahaan, nampak Gilbert Amelio, yang sudah menjabat sebagai CEO Apple selama 18 bulan, maju ke panggung yang telah disiapkan. “Dengan sangat sedih, saya ingin menyampaikan bahwa, ini adalah waktu bagi saya untuk berjalan lurus.” demikian salah satu ungkapan Amelio di panggung. Tidak banyak kata yang dia ucapkan. Direksi Apple telah memecatnya dan mengangkat Fred Anderson sebagai CEO sementara Apple. Namun yang mengejutkan adalah, ketika Steve Jobs naik ke panggung dan diperkenalkan sebagai ‘penasehat perusahaan’. Jabatan ini merupakan salah satu klausul saat Apple membeli NeXT dengan tujuan untuk mampu berkompetisi lebih serius dengan teknologi terkini.

Jobs kelihatan seperti gelandangan saat naik panggung. Dia mengenakan celana pendek dan sepatu sneaker, serta kaos yang sepertinya lama tidak dicuci. “Coba beri tahu saya apa yang salah dengan tempat ini,” ujar Jobs menantang audiens. Namun sebelum ada yang menjawab, Jobs sudah berapi-api melanjutkan, “Itu produknya! Produk kalian jelek! Sama sekali tidak menarik.”

Jony Ive saat itu duduk di pojok ruangan, menimbang-nimbang apakah dia harus mengundurkan diri dan pulang ke Inggris bersama istrinya. Apalagi sebelumnya, Jony sudah mendengar cerita bahwa Jobs sebenarnya tidak menginginkannya sebagai kepala desain Apple. Ketika isu bahwa Steve Jobs akan kembali ke Apple dengan posisi samaran sebagai ‘Penasehat Perusahaan’ mulai berhembus, Jobs dikabarkan sudah melakukan pendekatan pada Richard Sapper, orang yang merancang ThinkPad milik IBM, sebuah laptop yang legendaris hingga sekarang. Namun Sapper menolak meninggalkan IBM untuk perusahaan yang terlihat akan kolaps seperti Apple.

Namun ucapan Jobs benar-benar menggugah baginya. “Apple harus kembali ke akarnya!” Ujar Jobs di panggung, kelihatan santai, tapi jelas memberi tekanan berat pada setiap kata-katanya. “Tujuan kita ke depannya bukan menghasilkan uang, tapi membuat produk yang hebat!”

“Ketika saya sampai di sini, ada seribu satu macam produk.” Ujar Jobs geram. “Ini menakjubkan, tapi tidak masuk akal untuk saya. Lalu saya mulai menanyai orang-orang, mana yang harus saya beli, seri 3400 atau 4400? Ketika seseorang ingin upgrade ke seri 6500, kenapa tidak diusulkan seri 7300? Setelah tiga minggu saya di sini, tidak ada yang bisa memberikan penjelasan memuaskan! Lini produknya begitu rumit sehingga Apple harus mencetak flowchart untuk memberikan penjelasan kepada para pelanggan, apa perbedaan antar produk-produk Apple. Dan kalau karyawan Apple sendiri tidak tahu perbedaan produknya ataupun merekomendasikannya, bagaimana konsumen di luaran sana akan tahu?” Yang diungkap Jobs ini adalah fakta. Rentang produk Apple pada saat itu begitu banyak, mencakup komputer dan aneka periferal yang saling tumpang tindih. Jony mendengarkan setiap kata Jobs dengan perspektif dan semangat baru yang mulai muncul dalam dirinya. Dia sudah sering mendengar tentang orang ini, namun dia baru saja menyaksikan bahwa mungkin sebagian besar ‘legenda’ yang diceritakan kepadanya itu benar.

Beberapa saat setelah tampil berapi-api di podium, Jobs berkeliling Cupertino untuk memantau setiap divisi di Apple. Saat mengunjungi studio desain Apple, Ive berupaya mengambil hati Jobs dengan menunjukkan desain yang sedang dikerjakan di studio Apple. “Sialan!” ujar Jobs, “Kau selama ini kesulitan bekerja dengan efektif ya?!”

Jony tertegun. Itu bukan hinaan. Yang dimaksud Jobs adalah desainnya kelihatan segar dan menarik, namun terlihat sekali bahwa ini berbeda dengan tujuan perusahaan saat ini dan tidak ada yang memperhatikan hasil kerjanya.


Kisah Silicon Valley selanjutnya akan semakin seru dengan mengulas bagaimana Jobs dan Ive berkolaborasi dalam upayanya memperbaiki kekacauan yang terjadi di Apple pada era tersebut.

Referensi:

Kahney, Leander. (2013). Jony Ive: The Genius Behind Apple’s Greatest Products. Amazon.

Arlidge, John. (2014). Jonathan Ive, Designs Tomorrow. Time

Rosoff, Matt. (2015). Jony Ive carried a resignation letter in his pocket the first time he met Steve Jobs. Business Insider

Phelan, David. (2018). Jony Ive Interview: Apple Design Guru on How He Created the New iPad and The Philosophy Behind ItIndependent.

  Ini Fitur Canggih Banget..!  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.