via Guardian

Saya sering mengatakan ini, tapi orang jarang paham. Konsumen tidak tertarik pada game besar dengan grafik berkualitas tinggi, ataupun cerita yang epik. Hanya orang yang tidak paham bisnis game yang mendukung hal semacam ini. Game itu harus sesuatu yang mengasyikkan. Bukan hanya cerita ataupun grafik yang bagus.

Yamauchi mengungkapkan hal tersebut saat ditanya pendapatnya mengenai produsen game yang berlomba-lomba merilis game dengan grafik berkualitas tinggi dan menakjubkan. Game-game Nintendo yang grafisnya sederhana, tapi punya permainan yang mengasyikkan sepertinya adalah cerminan filosofi ini.

 

Masa Kelam Dunia Game

via Denofgeek

PS: Sisi lain video game crash  ini bisa kamu baca di Kisah Silicon Valley #76 – Stasiun untuk Bermain dari Sony.

Pada masa jayanya, pendapatan video game dan arcade di AS mencapai USD 11,8 miliar! Sebuah jumlah yang jauh melampui gabungan keuntungan industri film dan musik. Wajar jika para investor berharap banyak pada perusahaan game paling terkemuka di Amerika: Atari. Pada tahun 1982, Atari sukses menjual jutaan kopi Pac Man, video game terbaik mereka. Kerakusan mulai membayangi Atari. Mereka memproduksi konsol dalam jumlah berlebih dan berharap ini semua akan terjual. Faktanya: pasar kebanjiran video game, sehingga konsol milik Atari banyak menumpuk dan tidak terjual. Sementara itu biaya produksi yang sangat besar akhirnya menimbulkan kerugian bagi Atari. Video game mencapai titik jenuh dengan sangat cepat.

Peristiwa yang sering disebut sebagai “video game crash” ini menyebabkan kebangkrutan banyak perusahaan yang ikut menjual video game. Terlalu banyak konsol di pasar (karena dibanjiri oleh Atari), namun daya beli masyarakat dan tingkat pembelian tidak dapat mencapai jumlah pembelian yang sesuai. Muncul stigma bahwa video game sudah mencapai titik akhir. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari industri ini.

Namun Hiroshi Yamauchi, Presiden Nintendo yang saat itu sedang semangat-semangatnya ingin masuk pasar AS, tidak sependapat dengan pendapat banyak orang. “Minat orang akan game belum berakhir. Kita hanya perlu sebuah game yang tepat untuk menarik minat orang-orang.”

 

Game penyelamat dunia game?

Yamauchi beruntung memiliki talent yang sangat kreatif di perusahaannya. Shigeru Miyamoto, animator penuh ambisi yang memang bergabung dengan Nintendo karena mengagumi perusahaan tersebut, dengan senang hati menerima misi mustahil ini. Lebih dari yang diinginkan Yamauchi, konsep game yang dibuat oleh Miyamoto bahkan mengharuskan divisi teknologi bekerja keras menciptakan sebuah perangkat baru untuk dapat memenuhi permintaan Miyamoto. Sebelum tahun 1982 berakhir, Miyamoto menghadirkan Donkey Kong, sebuah game baru unik yang harus dimainkan di konsol unik juga. Pada awalnya, konsol ini dinamakan GameCom, sebelum muncul usulan dari istri Masayuki Uemura, eksekutif Nintendo agar diubah menjadi Famicom. Alat ini berwarna merah dan putih yang menarik perhatian. Tema warnanya adalah permintaan langsung dari Yamauchi.

Sebagian besar material pembentuknya adalah plastik, yang alasannya tidak mengejutkan: untuk memaksimalkan keuntungan. Meskipun demikian, komponen elektronik di dalamnya merupakan yang terbaik. Perusahaan bahkan melakukan pemeriksaan ulang berkali-kali untuk memastikan kualitas dan ketangguhan alat ini dalam pemakaian jangka panjang. Salah satu pengujian yang paling lama memakan waktu adalah tombol “Eject” yang berfungsi untuk mengeluarkan ‘kaset’ Nintendo. Nintendo menginginkan agar tombol ini bisa tahan selama mungkin dalam penggunaan untuk memuaskan pelanggan.

Meskipun demikian, tidak ada yang menduga bahwa perangkat ini bisa sebegitu aditifnya, terutama bagi anak-anak kecil. Dalam kasus servis untuk ‘kerusakan’ mesin yang terjadi, sebagian besar adalah perbaikan pada skema “Eject” untuk kaset Nintendo ini!

Secara keseluruhan, sistem kerja Famicom ini adalah menggunakan sebuah cartridge yang dirancang mirip seperti kaset recorder untuk ‘ditancapkan’ pada mesin yang disambungkan ke televisi. Dengan mesin ini, pengguna bisa bermain dengan nyaman di ruang tamu atau ruang keluarga. Mesin ini sebelumnya menangguk sukses di Jepang, dan tidak disangka-sangka, ternyata meraih keberhasilan serupa saat dibawa ke Amerika!

Pada awal kemunculannya di AS, alat ini dibully karena bentuknya yang kekanak-kanakan dengan warna yang mencolok. Namun ternyata ini membantu memberikan Nintendo citra yang berlawanan dengan konsol Atari yang berwarna hitam dan kelihatan futuristik. Konsol Atari mirip sesuatu yang berkesan canggih dan serius, sementara konsol Nintendo menjadikan orang penasaran dan ingin memainkannya.

Famicom memang menjadi sensasi. Penjualannya sangat dahsyat dan publik di Amerika terkesan oleh keberadaan video game rumahan yang inovatif ini. Namun Miyamoto belum berhenti. Pada 1985, Shigeru Miyamoto kembali memperkenalkan judul game baru yang fenomenal: Super Mario Bros! Game ini menjadikan Famicom sukses menjual 2,5 juta unit perangkat, dan itu hanya di Jepang saja! Di Amerika, Super Mario Bros terjual laris.

Dominasi Famicom ini bahkan menjadikan Nintendo pede. Mereka bahkan berani mengikat developer pihak ketiga seperti Square, Namco, Capcom, dan Konami agar tidak merilis gamenya untuk platform lain seperti Sega. Taktik ini sukses menghambat penjualan konsol lain selama bertahun-tahun sehingga Nintendo secara tradisional merajai ranah konsol hingga munculnya Sony PlayStation.

 

Nintendo Beralih ke Nintendo Switch

Pada tahun 2015, Satoru Iwata, Presiden Nintendo yang sudah menyukseskan WII meninggal dunia. Namun sebelum meninggal, dia sempat menyebut sebuah konsol yang sedang digodok Nintendo. Perangkat ini diberi kode NX. Perangkat ini direncanakan akan menjadi suksesor Wii U yang sedang berjuang untuk tetap relevan di tengah jepitan Sony PlayStation dan Xbox yang menarik minat gamer.

Pada Maret 2017, perusahaan merilis Nintendo Switch (Inilah buah dari rintisan Iwata sebelum meninggal). Orang-orang pada saat itu skeptis dengan langkah Nintendo ini. Dalam beberapa produk sebelumnya, Nintendo dapat dikatakan gagal. Sudah lebih dari satu dekade juga penjualan Nintendo tidak meraih popularitas yang diharapkan. Apalagi saat Switch dirilis, produk Smartphone sedang menjadi komoditi terlaris di dunia. Orang-orang kebanyakan bermain game menggunakan smartphone atau tabletnya. Namun Switch bukan sembarang konsol. Konsol ini dapat digunakan sebagai perangkat gaming portabel, atau dipasangkan pada televisi. Nintendo yakin bahwa perangkat ini bakal menarik perhatian para ‘gamer sejati’.

Terbukti bahwa para pecinta game langsung jatuh cinta pada orisinalitas, kemudahan memainkan perangkat ini, juga desainnya yang unik. Pada April 2018, Nintendo mengumumkan bahwa dalam tahun fiskal sebelumnya, Nintendo berhasil menjual 15 juta unit Switch dan lebih dari 63 juta kopi game. Nintendo terbantu oleh beberapa game klasik yang ‘didaur ulang’ ke Switch. The Legend of Zelda: Breath of the Wild terjual lebih dari 8 juta kopi dan meraih prestasi sebagai “Game of The Year”. Sementara itu Mario Kart, Super Mario, dan Splatoon meraih tingkat penjualan lebih dari yang diharapkan.

Melalui Switch, Nintendo sekali lagi memeluk para konsumennya, mulai dari mereka yang berusia muda, hingga orang dewasa yang ingin bernostalgia dengan game-game lama Nintendo! Dengan Switch, pendapatan Nintendo melejit dengan profit USD 9,5 miliar di tahun 2018, dua kali lipat dibandingkan tahun lalu!

Kini para gamer penasaran menantikan gebrakan apa lagi yang akan dilakukan oleh Nintendo dalam waktu dekat ini. Apakah ini akan berupa game? Apakah akan berupa perangkat baru?

via Kaorinusantara

 

 

 

Referensi

Gates, James. (2017). The Story of Nintendo, Kyoto’s Most Famous Company. The Culture Trip.

Gillete, Felix. (2018). The Legend of NintendoBloomberg.

McFerran, Damien. (2013). Feature: The History of Famicom. Nintendolife.

Lamble, Ryan. (2013). The 1983 videogame crash: what went wrong, and could it happen again? Denofgeek.

Nintendo. Nintendo History.

  Snapdragon PALING EXTREME  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.