via Vignette.wikia

“Mengalahkan kita untuk jangka waktu singkat, ini seperti orang biasa secara tidak sengaja mendapatkan poin dari seorang Shihan (Master Karate), dan Microsoft masih bukan pemegang sabuk hitam hingga sekarang. Seperti halnya operating system yang mereka buat, mungkin mereka akan datang dengan sesuatu yang bagus setelah tiga generasi rilisan konsol mereka” Demikian jawaban Ken Kusaragi ketika wartawan meminta pendapat mengenai keunggulan penjualan XBox atas Playstation 2 di AS. Kusaragi menekankan bahwa Microsoft bukan ancaman dan PlayStation 3 akan membuktikan bahwa ‘kemenangan XBox’ di angka penjualan hanya bersifat sementara saja.

Sejarah yang panjang memang membuktikan bahwa PlayStation sejak awal rilisnya selalu hadir sebagai pemenang atas konsol lain, baik dari segi teknologi maupun penjualan.

 

Video Game Crash 1983

via Comboed

Tahun 1983 adalah masa kelam yang legendaris bagi dunia video game. Saat itu terjadi resesi dalam skala besar di industri video game, utamanya di Amerika Utara. Penyebabnya adalah karena Atari, konsol paling populer saat itu (dengan gamenya yang sederhana tapi laris: Pong), merilis terlalu banyak versi konsol. Setiap konsol memiliki perpustakaan game sendiri-sendiri yang tidak bisa dimainkan di konsol lain. Selain banyaknya versi, biaya pembuatan yang menurun menjadikan output manufaktur sangat besar. Pasar kebanjiran konsol, sementara pada tahun tersebut, komputer rumah tangga mulai laris dan diminati banyak orang.

Lebih buruk lagi, Amerika mengalami inflasi pada tahun tersebut sehingga orang enggan membeli konsol untuk hiburan. Kesemuanya itu mengakibatkan banyak konsol yang menumpuk di gudang-gudang. Tidak laku selama berbulan-bulan. Bahkan di tingkat ekstrim setahun kemudian, banyak konsol yang harus dihancurkan karena biaya penyimpanannya lebih tinggi dibandingkan keuntungan penjualan konsol tersebut. Ini adalah situasi yang muram bagi industri video game.

Namun situasi di Amerika ini membawa berkah bagi produsen di Jepang. Saat Atari perlahan-lahan menuju ke kebangkrutan, tidak mampu memproduksi konsol game lagi akibat tekanan inflasi dan penjualan yang buruk, produsen asal Jepang, Nintendo, mulai naik daun pada 1986, tiga tahun setelah malapetaka industri game ini!

 

‘Pernikahan’ dan ‘Perceraian’ Sony dan Nintendo

via Arcadesushi

Setelah hancurnya pasar video game pada tahun 1983, Nintendo berupaya membangun kembali kejayaan video game dengan Nintendo Entertainment System. Salah satu pelopor konsol asal Jepang ini dengan cepat mendominasi industri video game. Saat mengembangkan Super Nintendo Entertainment System, konsol berbasis cartridge mereka yang kedua, Nintendo menandatangani perjanjian dengan Sony untuk memasok processor audio – hal yang menjadi spesialisasi Sony.

SNES via Rewindcollectable

Seiring Nintendo melanjutkan mengembangkan add on untuk SNES, termasuk angkatan pertama modem khusus Jepang, Sony mengembangkan tipe CD-ROM baru untuk komputer, yaitu CD-ROM/XA. tipe disc baru ini memungkinkan audio, video, grafik, dan data terkompresi untuk berjalan secara bersamaan. Dengan mengombinasikan elemen-elemen ini, maka game dapat menggunakan grafik dan audio lebih besar, yang dapat diakses oleh file data dari hanya satu disc saja.

Teknologi baru ini segera mendorong hubungan antara Sony dan Nintendo ke tingkat lebih lanjut. Nintendo mendekati Sony untuk mulai mengembangkan CD-ROM bagi Super Nintendo dengan rencana mengembangkan game berbasis CD untuk Super Nintendo di masa mendatang. Perjanjian ini disepakati pada tahun 1988.

via Engadget

Ken Kutaragi memiliki peran besar dalam upaya kerjasama Sony dan Nintendo ini. Pria yang lahir pada tanggal 8 Agustus 1950 di Tokyo ini bahkan meminta izin kepada para petinggi Sony untuk mendekati Nintendo guna menyukseskan kerjasama membuat CD-ROM untuk Super Famicon, konsol generasi terbaru Nintendo saat itu. Kutaragi memang memiliki rencana lain. Dia penasaran terhadap bagaimana sistem kerja Nintendo dan ingin menerapkannya ke divisi proyek pengembangan PlayStation yang sudah dirintisnya. Tim penelitian yang dimiliki Kutaragi sangat kecil, hanya terdiri dari 5 orang. Itulah mengapa dia berupaya memanfaatkan semua hal yang dapat digunakan, termasuk pengetahuan milik Nintendo. Ketika eksekutif Sony mengetahui proyek yang dikerjakan Kutaragi, sebuah sidang besar diadakan dan hampir saja Kutaragi dipecat. Norio Ohga, CEO Sony yang meneruskan era Morita dan Ibuka, membela Kutaragi habis-habisan, bahkan memintanya untuk melanjutkan proyek tersebut.

Kutaragi mengembangkan game dalam format grafik 3D polygon. Pada saat itu, tidak semua eksekutif Sony menyetujui proyek PlayStation. Ketidakpercayaan terhadap proyek ini begitu buruk hingga proyek dialihkan ke Sony Music pada tahun 1992 yang berjalan sebagai entitas berbeda dengan Sony. Selanjutnya Sony Music berganti nama lagi menjadi Sony Computer Entertainment, Inc (SCEI) pada tahun 1993.

Masalah timbul selama pengembangan PlayStation. Nintendo mengetahui bahwa Sony mengembangkan konsol sendiri. Hal ini tentu saja menyinggung Nintendo yang tadinya berharap agar Sony hanya membuatkan mereka CD-ROM untuk konsolnya. Bahkan lebih lanjut, Nintendo kemudian menuntut Sony setelah menemukan bukti-bukti bahwa memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh dari Nintendo untuk pengembangan teknologi konsol tersebut. Tuntutan ini diajukan ke pengadilan, bahkan meskipun produk Sony tersebut belum dirilis sama sekali. Saat itu pengadilan memenangkan Sony dan mengizinkan perusahaan tersebut melanjutkan produksinya.

 

Diselamatkan Penerbit dan Developer Pihak Ketiga

Sony memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk menciptakan sistem konsol berbasis disk dengan tampilan 3D pertama kalinya di dunia. Namun ada masalah dalam hal ini: Tidak seperti Nintendo dan SEGA yang sudah memiliki dukungan kuat dari developer game, Sony masih belum memiliki ekosistem pengembang sama sekali. Ini diperparah oleh fakta bahwa pengembangan video game untuk platform tertentu sangat mahal dan memerlukan waktu panjang. Akibatnya, para pembuat video game tidak berani berjudi dengan membuatkan game untuk platform baru. Mereka hanya berani mengeluarkan biaya untuk platform yang profitnya sudah terjamin.

Selama periode itu, Sony berkeliling untuk meyakinkan developer agar bersedia ‘berinvestasi’ dengan cara merilis game mereka dalam platform baru ini: disk. Pada saat itu, video game menggunakan cartridge dan tentu saja ini merupakan teknologi yang relatif baru. Sony meyakinkan para developer bahwa platform ini merupakan yang pertama di dunia dengan banyak kelebihan. Selain lebih praktis, kompak, disk juga lebih mudah dalam proses produksinya. Yang diperlukan hanya ‘master game’ dari developer tersebut untuk kemudian diperbanyak dan dimainkan di konsol.

via PlayStationmuseum

Pada akhirnya, Sony berhasil merilis PlayStation (yang kita kenal sebagai PlayStation Original) pada tahun 1994. Setahun setelahnya, Sony merilis konsol tersebut di Amerika dan Eropa. Tepatnya pada tanggal 9 September 1995. Perilisan konsol ini dilakukan di acara E3 1995 dengan harga USD 299.

Saat persiapan acara, Sony mengizinkan orang-orang melakukan pre-order untuk melihat animo masyarakat di Amerika dan Eropa. Angka penjualan pre-order memang tergolong bagus, yaitu 100.000 perangkat. Namun setelah perilisan di Amerika dan Eropa, popularitas sistem ini tidak tertahankan. Tercatat hingga PlayStation 2 rilis, Sony berhasil menjual 70 juta unit PlayStation di seluruh dunia!

Saking larisnya, demam Sony PlayStation ini sampai menjadikan konsol dengan sistem disk dari Nintendo dan Sega hampir tidak laku sama sekali. Setahun setelah rilis PlayStation, Nintendo masih berupaya merangsek dominasi instan Sony dengan Nintendo 64. Namun Nintendo masih terjebak dengan format cartridge, yang mana mulai ditinggalkan oleh developer yang kebanyakan mulai yakin bahwa disk adalah format masa depan. Sony berhasil meyakinkan para developer bahwa disk ini akan menggantikan cartridge yang disebutnya sebagai ‘teknologi masa lalu’. Tanpa dukungan developer, Nintendo masih memiliki kekuatan dengan memaksakan peran developer in-house mereka, sehingga Nintendo 64 rilis dengan perpustakaan game yang semakin kecil. Nintendo menderita kerugian besar-besaran karena ini.

Prestasi PlayStation ini menjadikan para eksekutif Sony mulai mengapresiasi kerja keras Ken Kutaragi. Nobuyuki Idei, CEO Sony setelah Norio Ohga, menaikkan jabatannya ke Deputy Executive President, dan selanjutnya menjadi Chairman atau pimpinan teratas Sony Computer Entertainment Inc.

 

Popularitas Sony PlayStation Tidak Tertahankan

via Playstation

Pada tahun 2000, Sony merilis PlayStation 2. Kehebatan konsol ini adalah backward-compatible yang berarti pengguna bisa memutar kaset-kaset PlayStation edisi sebelumnya di perangkat ini. Dengan bentuk yang lebih ramping dan menarik, dengan cepat PlayStation 2 meraih gelar sebagai konsol paling sukses di dunia! PlayStation 2 mencatat rekor sebagai konsol game tercepat yang meraih angka penjualan 100 juta unit, yang mana hanya memerlukan waktu 5 tahun setelah diluncurkan.

Meskipun terlihat nyaman di puncak kejayaan, dalam periode awal milenium inilah para pesaing Sony mulai menggeliat. Pada tahun 2001, Microsoft merilis XBox, sebuah konsol yang diharapkan untuk ‘menjaga prestise Amerika’ yang ironisnya tidak memiliki manufaktur konsol mumpuni meskipun memiliki komunitas developer game terbesar di dunia. Nintendo juga merilis GameCube, konsol game dengan bentuk unik yang diharapkan dapat mengembalikan kejayaan Nintendo. Format baru miniDVD juga mulai diperkenalkan pada era DreamCube ini.

SEGA, pesaing Sony lainnya, juga merilis konsolnya yang populer, DreamCast. Harapan SEGA, konsol ini dapat mengompensasi penjualan buruk SEGA Saturn yang mencapai titik terendah akibat dihajar oleh Sony PlayStation.

Pada April 2003, Ken Kutaragi, sang ‘bapak’ PlayStation ditunjuk sebagai Deputy President untuk Game Business Group dan Broadband Network milik Sony. Ini menjadikannya nyaman untuk mengeksekusi langkah PlayStation selanjutnya. Kutaragi berencana menggunakan PlayStation untuk memperkenalkan para pengguna ke lingkungan broadband sehingga konsol milik Sony ini nantinya akan dapat digunakan untuk membeli game, musik, berbelanja secara online, serta memberikan layanan interaktif. Peluncuran Sony PlayStation Portable atau PSP, adalah bagian dari visi ini. Pengguna PSP dapat membeli game, mendengarkan lagu, atau menikmati layanan yang diberikan oleh Sony. Lawan langsung PSP adalah Game Boy, perangkat milik Nintendo yang juga laris dan menjadi pemimpin untuk konsol genggam. Sayangnya, PSP tidak mampu menyalip popularitas Game Boy. Sementara itu di pasar konsol rumahan, Sony ditekan habis-habisan oleh XBox.

via Geek

Dalam tekanan itu, Sony berupaya untuk tetap memegang kendali dunia game konsol dengan meluncurkan PlayStation 3 pada 17 November 2006. PS3 adalah konsol pertama yang menggunakan teknologi motion-sensing, menyertakan Blue-Ray disc dan memiliki resolusi HD. Penjualan PS3 sangat bagus, tapi belum dapat melampaui pendahulunya. Dalam jangka waktu lima tahun, perangkat ini terjual hingga 80 juta unit.


Sony melakukan diversifikasi produksi ke banyak bidang. Salah satunya adalah smartphone yang populer sejak akhir 90-an. Ikuti perjalanan Sony selanjutnya di Kisah Silicon Valley #77 – Era Smartphone Sony

 

Referensi

Bellis, Mary. (2018). History of Sony PlayStation. Thought.

Cohen, D.S. (2018). History of the Sony PlayStation. Lifewire.

Tyson, Jeff. How PlayStation Works. Electronics.Howstuffworks.

Ken Kutaragi – Father of the PlayStation. ZDNet.

PlayStation Museum. Sony

Sony Corporate Info. Sony.

  Apa Kabar Windows Phone..??  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.