via New York Times

MENURUTMU AKU GILA?

Pertanyaan ini dilontarkan Elon Musk setelah sebuah makan malam di sebuah restoran seafood kelas atas di Silicon Valley. Ashlee Vance, penulis biografi Elon Musk mengenang bahwa saat itu pria yang disebut-sebut ‘revolusioner’ itu datang terlambat, mengenakan sepatu kulit, celana jins dan kaus polos. Tingginya sebenarnya hanya sekitar 170 cm, namun orang-orang sepakat bahwa kesan yang ditimbulkan oleh kharismanya menjadikan dia nampak lebih besar daripada itu. Pada makan malam ini, Musk sekaligus menyetujui Vance untuk menuliskan biografi dirinya setelah beberapa tahun Vance melakukan penelitian tentang pria ini dan meminta izin kepadanya untuk melakukan wawancara langsung agar dunia lebih memahami keunikannya. Makan malam yang akan dikenang oleh Vance selamanya.

 

Bocah Ajaib dari Afrika Selatan

via Business Insider

Mungkin pertama kali dunia mengenal nama Elon Reeve Musk – dalam kaitannya dengan teknologi – adalah pada tahun 1984. PC and Office Technology sebuah lembaga publikasi perdagangan Afrika Selatan, menerbitkan source code untuk video game dengan nama Blastar. Ini merupakan game sederhana di mana pemain harus menghancurkan pesawat alien yang membawa bom hidrogen dan mesin beam. Penulis source code tersebut adalah Elon Musk. Ini adalah zaman di mana PC masih dijalankan dengan DOS dan rangkaian command prompt. Kualitas Kode yang ditulis Elon Musk tersebut biasa saja, tidak menakjubkan, tidak mengherankan – kecuali satu hal: penulisnya masih berusia 12 tahun!

Lembaga penerbit majalah teknologi tersebut memberikan upah USD 500 untuk sang penulis. Inilah hal yang menjadikan bocah kecil tersebut mulai berpikir: ternyata programming menghasilkan uang. Nampaknya ‘kesuksesan’ inilah yang menjadikan Musk kecanduan akan ‘kesuksesan’ serupa. Mendapatkan uang dari teknologi!

Game itu sendiri menggambarkan bagaimana Elon Musk hidup dalam khayalan-khayalan unik. Dia menyukai cerita-cerita pahlawan antariksa, superhero, dan bahkan bercita-cita untuk dapat menemukan energi ‘bersih’ yang dapat menghidupkan bumi kembali dari segala kerusakannya. “Mungkin saya membaca terlalu banyak komik saat anak-anak,” ujar Musk dalam wawancaranya. “Dalam komik, tokoh-tokohnya selalu mencoba menyelamatkan dunia. Saya jadi yakin bahwa seseorang harus mencoba menjadikan dunia ini sebagai tempat yang lebih baik karena tidak mungkin kita memutar roda waktu untuk menghentikan kerusakan bumi.”

Pada umur 14 tahun, Musk menghadapi krisis pencarian identitas yang cukup merisaukan. Musk lahir pada tahun 1971 di Pretoria, Afrika Selatan. Dia tumbuh besar di lingkungan yang religius, sementara dia memiliki banyak sekali pertanyaan tentang dunia, luar angkasa, galaktika, bagaimana bumi bekerja, yang kesemuanya itu biasanya oleh lingkungannya ‘diserahkan’ pada kuasa Tuhan. Seperti halnya Steve Jobs dan para geek lain, Musk mulai membaca karya Douglas Adam: The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy. Buku ini memberikan inspirasi tersendiri bagi Musk. “Dari buku itu saya belajar bahwa hal yang paling susah adalah menemukan pertanyaan yang tepat. Setelah menemukan pertanyaan tersebut, maka jawabannya akan relatif lebih mudah. Saya sampai pada kesimpulan bahwa kita harus memiliki tahapan kesadaran diri tertentu untuk menemukan pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan pada diri sendiri.”

Lambat laun, Musk menyadari bahwa lingkungannya saat ini bukanlah lingkungan yang tepat untuk orang seperti dirinya. Meskipun sebagai orang kulit putih di Afrika Selatan, Musk memiliki banyak hak istimewa, akan tetapi dia menyadari bahwa dia harus ke tempat lain jika menginginkan pendidikan, ilmu pengetahuan, jawaban-jawaban atas pertanyaan filosofisnya, dan mungkin lebih lanjut: menggapai cita-citanya untuk ‘menyelamatkan dunia’ dan ‘menjadikan bumi sebagai tempat yang lebih baik’.

 

‘Memulai Hidup’ di Kanada

Tekad kuat untuk mencapai impian ‘menyelamatkan dunia’ tersebut menjadikan Elon semakin menggebu dan bersemangat untuk keluar dari Afrika. Terlebih lagi masa-masa SMA merupakan masa yang suram baginya. Elon bersekolah di Pretoria Boys High School. Sebagai anak dengan banyak impian dan imajinasi tinggi, dia langsung menjadi target bully teman-teman lainnya. Sebagai sekolah khusus laki-laki, olahraga dan maskulinitas sangat dipuja di SMA tersebut. Elon yang cenderung geek dan penyendiri tentu saja dianggap aneh dan langsung jadi sasaran bully. Masa SMA yang kelam itu menjadikannya makin ingin pergi. Kanada adalah tempat tujuan yang realistis baginya (sekaligus tentu saja batu loncatan untuk menuju ke Amerika Serikat, tanah impian bagi banyak orang). Kenapa Kanada? Jika dirunut silsilahnya, kakek Elon Musk berdarah Jerman, namun memiliki kewarganegaraan Kanada. Ibu Elon sendiri, sebelum menikah dengan Errol Musk, ayah Elon, tercatat sebagai warga negara Kanada. Ternyata kewarganegaraan tersebut bisa diwariskan kepada keturunannya. Jadi Elon memiliki hak untuk mengklaim kewarganegaraan jika dia menginginkan.

Kemungkinan tersebut menjadikan Elon bersemangat. Belum lagi fakta bahwa dia sangat mengagumi Amerika Serikat, Silicon Valley dengan segala kebesarannya. Tentu saja semua itu bisa dicapai dengan mudah jika dia berada di Kanada. Elon mengambil jalan yang nekad. Di usia tujuh belas tahun, setelah lulus dari Pretoria Boys High School, dia mengambil kerja sambilan untuk menabung uang. Sementara itu, dia juga mengajukan paspor Kanada ke Kedutaan Kanada di Afrika Selatan. Di Afrika Selatan, ada kewajiban bagi para pemuda untuk mengikuti wajib militer. Elon bersemangat untuk pindah sekaligus dengan niatan untuk menghindari kewajiban tersebut. Saat paspor dan visanya keluar, uang tabungan Elon hanya cukup untuk membeli tiket sekali jalan ke Kanada. Tanpa membuang waktu, dia langsung berangkat!

Kepergian Elon yang tanpa izin orangtuanya ini tentu saja tidak dipikirkan dengan matang dan modal nekat belaka. Saat itu bulan Juni 1989, Musk tiba di Montreal dan berupaya menghubungi pamannya yang tinggal di Montreal. Terkejutlah dia karena ternyata sang paman sudah pindah ke Minnesota. Hanya dengan bermodal tas berisi pakaian seadanya, Elon Musk berkeliling kota dan berupaya mencari anggota keluarga yang masih tinggal di sana. Untunglah salah seorang sepupunya bersedia menampung pelarian dari Afrika ini.

Selanjutnya Musk menghabiskan waktu di Kanada selama setahun berganti-ganti pekerjaan yang semuanya tidak berhubungan dengan teknologi. Dia sempat bekerja di toko sayuran, menebang kayu, menjadi buruh tani, dan bekerja serabutan di sebuah kota kecil, Waldeck. Untunglah pendidikannya tidak berhenti. Ibu dan saudara-saudaranya kemudian menyusul ke Kanada seraya meminta maaf kepada keluarga yang direpotkan di sana. Maye Musk, ibu Elon, kemudian memutuskan untuk tinggal di Kanada agar dapat menjamin pendidikan kedua putranya. Kimbal, saudara Elon, akhirnya juga ikut bersekolah di Kanada. Elon kemudian mendaftar kuliah di Queen’s University di Kingston, Ontario, pada tahun 1989. Saat itu sebenarnya dia lulus tes di Queen’s University dan University of Waterloo. Dia memilih Queen’s dengan alasan sederhana: Lebih banyak cewek cantik di Queen’s (Tapi terbukti di kemudian hari, di sini memang dia bertemu dengan Justine, wanita yang nantinya dia nikahi).

Elon dan Justine, via Dailymail

Pada musim panas 1994, Elon dan saudara laki-lakinya, Kimbal, melakukan semacam petualangan ke Amerika. Mereka mengendarai mobil BMW 320i menuju ke San Francisco. Saat itu web browser baru saja menjadi sesuatu yang populer dan Yahoo! sedang naik daun. San Francisco semakin kukuh menjadi kiblat dunia teknologi. Perjalanan mereka itu awalnya hanya sekedar ‘jalan-jalan’. Tapi seperti biasa, Elon tidak dapat menahan dirinya untuk ‘lebih dekat dengan impian’. Dia melamar untuk menjadi karyawan magang di beberapa startup di Silicon Valley. Kimbal panik dan meminta Elon untuk membatalkan niatnya tersebut dan ikut pulang dengannya ke Kanada. Tapi seperti biasa, kepala batu Elon menang. Dia mendapatkan kesempatan bekerja di Pinnacle Research Institute di Los Gatos. Musk diminta untuk ‘bantu-bantu’ oleh kelompok ilmuwan yang meneliti ultracapacitor. Imajinasi Elon membumbung tinggi di sini. Ketika para ilmuwan tersebut berfokus untuk menjadikan ultracapacitor mendukung komputer agar berjalan lebih cepat, Musk bahkan sudah membayangkan untuk membuat pedang laser, pistol laser, kendaraan hybrid, atau pendukung manajemen listrik dengan ultracapacitor. Musk jatuh cinta pada pekerjaannya di Pinnacle dan dia banyak memikirkan bisnis di masa depan berkat pengalamannya di Pinnacle.

Selain di Pinnacle, Musk juga ‘nyambi’ bekerja paruh waktu di Rocket Science Games, sebuah startup yang terletak di Palo Alto. Perusahaan kecil ini merancang video game, termasuk juga hardware seperti cartridge dan CD. Elon menyukai startup ini karena di sini dia bisa belajar bagaimana komponen-komponen kecil berpadu menyusun sesuatu yang besar (meskipun dalam hal ini konteksnya adalah video game). Di Rocket Science Games, Elon diminta untuk menulis driver untuk menjadikan joystick dan mouse berkomunikasi dengan berbagai komputer dan game. “Pada dasarnya, pekerjaan saya adalah mencari tahu bagaimana melakukan multi-tasking dengan peralatan yang disediakan, jadi Anda dapat membaca video dari CD sambil menjalankan game di saat yang sama. Ini pemrograman yang rumit, tapi benar-benar melatih saya.”

Bruce Leak via Alchetron

Di Rocket Science Games, Musk mendapat bimbingan dari Bruce Leak, ini adalah salah satu programmer legendaris yang ikut serta merancang QuickTime di Apple. “Dia punya energi yang tidak terbatas,” ujar Leak tentang Elon Musk. “Anak zaman sekarang tidak tahu masalah hardware atau bagaimana peralatan komputer bekerja, tapi dia punya latar belakang hacker dan tidak takut untuk mencari tahu. Ini hal yang penting!”


Berikutnya Elon Musk akan menjadi boss mafia. Tapi bukan mafia sembarangan. Ikuti perjuangannya di Kisah Silicon Valley #93 – Boss PayPal Mafia.

 

 

 

 

Referensi

Loudenback, Tanza. (2018). Elon Musk is worth about $23 billion and has never taken a paycheck from Tesla — here’s how the notorious workaholic and father of 5 makes and spends his fortune. Business Insider.

Vance, Ashlee. (2017). Elon Musk, Tesla, SpaceX and the Quest for a Fantastic Future

Weinberger, Matt. (2017). The incredible story of Elon Musk, from getting bullied in school to the most interesting man in tech. Business Insider

  Asli, Galaxy Fold Ini Keren Banget!  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.