Pertimbangan Sebelum Pake Muse AI

Sebelumnya saya sudah bagikan pengalaman saya menggunakan Muse AI dan ulasan kenapa Muse AI bisa sepopuler itu. Bagaimana banyak orang berbondong2 pake Muse AI sampai jumlah downloadnya menjadi yang tercepat sejak era ChatGPT rilis. Saat ini Muse AI menjadi aplikasi nomor satu di Apple App Store dan juga Google Play Store di US, menggeser aplikasi AI populer lain seperti ChatGPT, Claude, Gemini, bahkan juga Grok.

Di Indonesia yang belum resmi dirilis aja — penggunanya sudah sangat banyak.

Tetapi sebelum temen2 memutuskan untuk pake Muse AI, ada beberapa pertimbangan penting yang bisa temen2 pikirkan sebelum memutuskan pake Muse AI.

Bisnis Model

Banyak yang bilang kalo sesuatu itu gratis, kitalah yang jadi produknya. Untuk bisa menyediakan layanan seperti Muse ini cost nya sangat mahal. Dengan spesifikasi VM 2 vCPU AMD prosesor, 7.7GB RAM, 100GB home storage, dan 7.5GB root storage berbasis SSD, biaya Cloud VM nya saja bisa 200rb lebih per bulannya. Dengan 100 juta token gratis setiap minggu, biaya AI inference nya juga pasti tidak murah, terlepas routing model apapun yang dijalankan dibelakangnya.

Fakta bahwa kita bisa menikmatinya secara gratis artinya meta masih merugi. Tetapi mereka gak bisa merugi selamanya. Pasti ada bisnis model yang berjalan di belakangnya, dan cepat atau lambat semua akan dijalankan.

TONTON JUGA:

Ada beberapa bisnis model dibalik Muse ini yang sepertinya akan berjalan. Pertama adalah direct upgrade. Dimana kalo kita sebagai pengguna butuh limit lebih, kita bisa upgrade ke paket diatasnya. Saya cek di halaman upgrade nya, ada dua paket yang tersedia, 290 ribuan rupiah per bulan untuk 500 juta token per minggu dan 1,4 jutaan rupiah per bulan untuk 3 milar token per minggu.

Bisnis model lain untuk jangka panjang, Meta akan menarik fee transaksi dari setiap pembelanjaan yang dilakukan oleh Muse AI untuk pengguna. Muse AI ini bisa melakukan tugas untuk belanja dan bisa konek ke e-wallet juga, jadi suatu saat Meta akan menarik fee ke seller saat terjadi transaksi. Saat ini karena masih di US dan Kanada, Meta sudah bekerja sama dengan retailer seperti Walmart, Best Buy, dll — dan ketika sudah sampai di Indonesia bukan tidak mungkin akan bekerja sama dengan Shopee, Tokopedia, bahkan mungkin Alfamart dan Indomaret untuk pembelian otomatis yang dilakukan oleh pengguna melalui Muse AI, dan menarik fee ke partner2 ini di setiap kali terjadi transaksi.

Bisnis model lain yang sudah mulai dipikirkan meta adalah Confidential VM. Jadi sebagai pengguna gratis memang kita dikasih 1 VM gratis yang terpisah dari VM lainnya. Jadi sebenarnya data-data kita sudah aman dan private dari pengguna Muse AI lainnya. Tetapi Meta masih bisa mengakses VM kita untuk beberapa keperluan entah itu apa. Nah Confidential VM ini bakal menjadi extra add-on berbayar untuk dapet VM terenkripsi yang mana cuman kita yang bisa buka bahkan Meta pun tidak.

Lalu ada juga beberapa tanda-tanda yang mulai dikode oleh Meta, kemungkinan nanti akan ada monetization juga dari connector marketplace. Jadi setiap layanan yang pengen konek ke Muse Agent ini kan perlu menyediakan konektor, nah bisa jadi bakal ada fee untuk penyedia konektor ini. Ya mirip seperti bisnis model App Store dan Play Store yang juga mengambil fee dari setiap transaksi aplikasi, cuman bedanya ini untuk Muse konektor.

Jadi kita harus aware bahwa gratisnya Muse adalah kail untuk membiasakan kita pake AI agent. Mengubah habit kita biar terbiasa cari informasi, belanja, dan melakukan apapun menggunakan Muse agent. Begitu sudah terbiasa, baru deh bisnis model ini mulai dijalankan. Skema yang sama seperti di era bakar-bakar dana di awal2 masuknya e-commerce, transportasi online, dsb.

Privacy

Privasi juga jadi hal yang perlu kita pikirkan. Data-data di sosial media kita seringkali ditracking untuk iklan, dan meskipun Meta sendiri menyatakan bahwa data profile dan personal kita di Muse AI tidak konek dengan sistem iklan mereka, tetapi habit belanja, interest, dan detail personal kita datanya jelas bakal dimiliki Meta. Terlebih dibanding sosial media, AI agent seperti ini bisa lebih dekat dengan kita, karena memberikan kesan seolah-olah percakapan private yang membuat kita bisa lalai menjaga privasi yang ada.

Meskipun tidak sedikit orang yang merasa bahwa daripada bayar pake uang, mending bayar pake data. Itu juga yang terjadi saat kita pake Google Search, Gmail, sosial media, dsb.

Security

Hal lain yang menjadi perhatian adalah keamanan. Meta sendiri menyatakan bahwa resiko security masih nyata terjadi di ranah AI agent, seperti misalnya prompt injection dsb. Di Muse juga ada resiko yang sama.

Memang engineer meta mengusahakan maksimal keamanan Muse AI ini dengan mendesain infrastruktur yang secure, menambahkan agent khusus yang mereka kasih nama Sentinel yang tugasnya menjadi seperti security yang menolak berbagai aksi beresiko yang bakal dilakukan oleh agent, membuat Agent tidak bisa membaca password, API, dan data penting lainnya secara langsung, dsb.

Tetapi resiko kemanan masih sangat nyata, terutama dari prompt injection, terlebih AI agent juga masih merupakan teknologi baru sampai saat ini.

Limitasi

Lalu hal lain yang perlu jadi concern adalah limitasi Muse AI ini dibanding AI agent self hosted seperti OpenClaw, Hermes Agent, atau yang lainnya. Karena agent nya ada di VM milik meta yang di manage juga oleh meta, maka ada limitasi besar di bagaimana kita bisa mengakses dan memanage VM ini. Kita tidak mendapatkan akses langsung ke VM ini via SSH, tidak diberikan root access nya, tidak punya kebebasan yang sama dengan setup open source AI agent sendiri di rumah.

Setiap VM restart juga bakal otomatis wipe sistemnya, kecuali home storage yang memang dibuat persisten. Tetapi apa yang kita minta Muse AI install di sistemnya bisa hilang dan memulai lagi dari awal saat VM ini kena restart entah karena update dsb.

Docker belum jalan di VM ini, inbound access juga tidak ada, artinya kita gak bisa host services apapun didalamnya. Kecuali outbond access ke services di luar Muse VM menggunakan API, MCP, dsb. Itupun setiap akses outbond masih harus melewati Sentinel, misalnya Cloudflare yang di block by default oleh Sentinel ini.

Bandwidth cap nya juga terbatasi di 20Mbps. Lalu AI model, kita juga tidak bisa memilih sendiri, Meta yang akan routing AI model yang digunakan Muse secara otomatis. Pada intinya ya tidak sebebas pake Open Source dan ada resiko ekosistem locked-in, dimana kita akan tergantung di ekosistem Muse AI dan berbagai layanan Meta lainnya.

Permasalahan

Dan hal terakhir yang perlu jadi perhatian juga berbagai permasalahan yang masih bisa terjadi saat kita mempercayakan atau mendelegasikan aktivitas kita ke AI agent. AI agent seperti Muse AI ini masih jauh dari sempurna. Ada beberapa kekacauan yang terjadi sejak perilisan Muse AI, yang dialami oleh pengguna dan menjadi viral. Misalnya ada penjual di Facebook Marketplace yang menemukan bahwa Muse AI memberikan alamat dia ke pembeli dan memberikan diskon untuk COD tanpa mengabari dulu. Pembeli yang sudah datang pun akhirnya marah-marah karena gak ditemui oleh penjual, karena penjualnya memang sama sekali tidak tahu kalo ada janjian COD dengan pembeli. Akhirnya sang penjual pun dapat rating buruk di Facebook marketplace nya.

Lalu ada yang melaporkan juga bahwa Muse AI diam-diam membaca private iMessage nya tanpa ijin.

Dan meskipun aman saat konek ke layanan milik Meta sendiri seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan juga Thread — Muse AI menghadapi permasalahan yang sama seperti Agent Lainnya saat konek ke layanan pihak ketiga. Ada user yang melaporkan akun instacart mereka di ban setelah Muse AI mencoba login kesana. Amazon juga memblokir Muse AI untuk belanja di platform mereka, dan sesekali juga masih terjadi error di Muse AI karena compute power yang terlalu padat, seperti gagal searching, jawaban AI yang stuck, terpotong, dsb.

Coba Sendiri

Tetapi ini semua tidak harus menghentikan rasa penasaran kita buat nyobain AI agent baru dari Meta ini. Kalo temen2 memang penasaran dan pengen nyoba seperti apa rasanya pake Muse AI, langsung aja dicoba sendiri.

Tinggal daftar menggunakan VPN US, redeem kode LUZFFF untuk dapet extra 1B token nya, dan silakan di eksplorasi.

Tapi dari pengalaman saya saat daftar kemarin, kalo kita tidak hubungkan dengan akun Instagram atau Facebook (atau tidak memiliki kedua akun tersebut di smartphone kita saat melakukan pendaftaran), kita bakal diminta untuk memasukkan data payment seperti Visa dan Mastercard dari virtual debit card, credit card, dsb demi verifikasi usia. Ini juga harus teman2 perhatikan, terlebih kalo pake VPN gratisan, harus ekstra hati-hati karena data payment temen2 bakal dikirimkan lewat VPN ini.

Jadi jangan sembarangan pake VPN gratis yang gak jelas kalo mau daftar Muse AI ini. Pastikan VPN yang dipake yang aman tanpa log data. Dan seperti yang saya bilang, officialnya masih untuk US dan Canada saja. Jadi buat temen2 yang daftar dari Indonesia pake jalur VPN, resiko ditanggung masing2 ya. Kalo pengen jalur yang aman saran saya tunggu aja sampai Muse AI ini benar2 sudah resmi dirilis di Indonesia.

Bagi yang sudah pake Muse AI, silakan di share pengalaman pake AI agent gratis siap pakai dari Meta ini.


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya bergantung pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berkualitas secara gratis — jadi jika kamu menikmati artikel dan panduan di situs ini, mohon whitelist halaman ini di AdBlock kamu sebagai bentuk dukungan agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui dukungan di Saweria. Terima kasih.

Febian

Productivity addict. Geek by nature. Platform Agnostic.

Post navigation

Komentar

Memuat komentar…