Sudah beberapa kali Winpoin membahas tips asyik mudik bagi penggemar teknologi. Kali ini saya ingin berbagi sudut pandang personal saya saat mudik. Sebagai penggemar teknologi alias geek, pasti kamu semua tidak pernah lupa menyisipkan beberapa gadget kesayangan ke dalam backpack, lengkap dengan berbagai peralatan penunjangnya. Inilah barang-barang yang saya mudik dalam Lebaran 2019 ini.

Laptop

Pekerjaan saya sebagai ‘tukang ketik’ menjadikan saya tidak bisa jauh dari perangkat PC. Karena di kampung halaman saya tidak memiliki workstation lengkap seperti di Malang, maka tentu saja saya harus mengandalkan kemampuan laptop yang saya miliki. Seperti yang pernah saya ulas dulu, saya menggunakan Dell Latitude E7480. Saya menyukai layar FHD anti-glare-nya yang menjadikan saya nyaman mengetik tanpa terganggu cahaya matahari atau lampu, keyboardnya yang cukup nyaman untuk mengetik, dan daya tahan baterainya yang bisa mencapai 7-10 jam untuk pemakaian standar.

Laptop ini jadi andalan saya saat menangani pekerjaan di perjalanan atau di kampung halaman. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu juga terpaksa ‘mengusung’ laptop ke kampung halaman?

iPad

Sampai saat ini, saya masih menggunakan iPad 3 yang tentu saja sudah ketinggalan zaman. Namun ini sudah memadai untuk kebutuhan saya, yaitu membaca komik online, buku-buku digital, dan satu lagi kebutuhan utama saya: yaitu sebagai layar kedua saat menggunakan laptop. Pekerjaan saya terasa mudah dengan adanya ekstensi layar, dan iPad dengan aplikasi Dual Display sangat membantu saya dalam hal ini.

Kalau kamu juga membutuhkan monitor tambahan portabel untuk laptop atau PC kamu, maka kamu bisa mengikuti tutorial menjadikan iPad sebagai monitor sekunder yang pernah saya tuliskan di Winpoin.

Konsol

Setahun belakangan ini saya keranjingan konsol. Perlu saya akui bahwa sebelumnya saya sudah memainkan beberapa game di ponsel atau iPad, akan tetapi ternyata memang konsol menawarkan keasyikan tersendiri yang mungkin agak susah disamai oleh ponsel. Pilihan saya adalah Nintendo Switch, selain karena portabilitas yang fleksibel dan pengalaman bermain yang unik (dengan mudah berubah dari perangkat mobile menjadi konsol rumahan), juga karena tawaran ‘nostalgia’.

Pada waktu masih anak-anak, saya sempat mengalami masa kejayaan NES sebelum akhirnya Playstation menyerbu. Beberapa game lawas bisa dimainkan di Switch dengan cara berlangganan Switch Online (berbayar USD 20 setahun). Game yang tersedia di paket ini antara lain Super Mario 1-3, Excite Bike, Twin Bee, Baloon Fight, Yoshi, dan banyak lagi.

Tapi tentu saja saya juga menikmati game yang lebih modern. Akhir-akhir ini saya memainkan Diablo III Eternal, My Hero One’s Justice (ini dari anime My Hero Academia), dan tentu saja FIFA 2019. Apa game yang sedang kamu mainkan di konsol akhir-akhir ini?

Ponsel

Tahun 2018 lalu memang saya sempat menggunakan Android dan iOS bersama-sama. Akan tetapi awal tahun kemarin saya melepas perangkat Android saya, OnePlus 5T dan murni menggunakan iOS. Kestabilan dan keandalan OS-nya menjadi alasan saya untuk memilih platform ini. Karena sibuk dengan urusan pekerjaan, saya tidak punya banyak waktu untuk melakukan tweaking yang sangat dibutuhkan kalau kita memilih perangkat Android. Meskipun memiliki banyak keterbatasan, namun kestabilan dan kesederhanaan iOS sudah cukup mendukung aktivitas harian dan pekerjaan saya. Perangkat iOS terakhir yang saya gunakan sejak beberapa bulan lalu adalah iPhone XR. Meskipun banyak kritik terkait speknya yang di atas kertas memang ‘seperti spek perangkat dua tahun lalu’, namun saya bisa menjamin bahwa kamu tidak akan merasakan hitung-hitungan spek itu kalau sudah menggunakannya dalam pemakaian sehari-hari. Ini adalah perangkat yang cepat, nyaman digunakan, stabil, dan mumpuni dalam pemakaian umum.

Saat mudik tentu saja saya masih membawa Lumia 1020 kesayangan saya. Perangkat ini tidak pernah mengecewakan jika dibawa bertualang karena selalu menghasilkan foto-foto memorable yang membawa nuansa lokasi-lokasi yang saya kunjungi.

Headset

Dalam aktivitas mobile, saya suka menggunakan headphone. Salah satu alasannya adalah in-ear seringkali lebih cepat melelahkan telinga dibandingkan dengan headphone. Tapi ini pandangan subjektif saya, mungkin kamu penggemar in-ear dan tidak merasakan hal yang sama. Headphone dengan koneksi Bluetooth menjadi favorit saya untuk dibawa ke mana-mana karena tentu saja tas saya tidak dipenuhi gulungan kabel. Kalau tidak beranjak dari workstation rumahan atau tempat kerja, sebenarnya saya lebih menyukai headphone kabel dengan alasan kualitas audio yang lebih andal dan tentu saja saya tidak direpotkan oleh aktivitas charging.

Headphone yang saya gunakan saat ini adalah Jabra Move Style Edition yang sudah saya miliki selama tiga tahun belakangan ini. Menurut saya headphone ini cukup mumpuni untuk banyak kebutuhan dasar, apalagi daya tahan baterenya yang mencapai sekitar 7 jam (meskipun situs resminya menyatakan di atas 10 jam, sepertinya itu tidak benar), cukup untuk aktivitas saya jika dalam posisi mobile. Kualitas suara cukup oke, meskipun terus terang audiophile tidak akan terlalu terkesan oleh kualitas audio Jabra Move ini.

Kamu bisa mendapatkan Jabra Move dengan harga sekitar sejutaan.

Jika menginginkan alternatif headphone bluetooth yang lebih murah, kamu bisa menonton review Kepoin Tekno mengenai beberapa headphone Bluetooth.

Powerbank

Saya mudik dengan kereta, dan dalam jangka waktu 5-6 jam perjalanan, ada kemungkinan saya memerlukan daya cadangan untuk perangkat elektronik yang saya gunakan. Dalam perjalanan panjang, saya selalu mengandalkan Anker PowerCore+ 20100 mAh USB-C [A1371H12] (Begitu tulisan lengkap dari kerdusnya). Bukannya ingin promosi, tapi saya merasa puas menggunakan PowerBank dari Anker ini. Kecepatan chargingnya bagus dan ada sertifikasi khusus untuk pengelolaan dayanya. Intinya kamu tidak perlu khawatir akan terjadi apa-apa pada perangkat kamu kalau misalnya lupa mencabut kabel saat charging. Sistem pintar pada PowerBank ini akan langsung mematikan daya begitu penuh.

Terus terang harganya sedikit mahal dibandingkan Powerbank biasa (meskipun sepadan juga dengan kualitas yang ditawarkan). Tapi saya ada trik untuk mengakali masalah harga ini. Saya biasa membeli pernak-pernik Anker dari Anker Indonesia di Tokopedia. Nah, kalau ada perangkat yang kamu taksir, masukkan dulu ke dalam Wishlist. Anker Indonesia sering sekali secara random memberikan diskon gila-gilaan, bahkan bisa sampai 70%. Jadi belilah saat diskonnya mencapai 50% atau lebih untuk mendapatkan harga termurah!

Perlu alternatif lebih murah dengan segera? Febian barusan memberikan Rekomendasi PowerBank terbaik buat mudik. Mungkin kamu perlu memeriksanya, siapa tahu ada yang sesuai dengan anggaran dan kebutuhan kamu.

Aneka Kabel

Karena perangkat elektronik yang saya bawa cukup banyak, tentu saja saya perlu membawa juga aneka kabel untuk mengisi dayanya. Kabel milik saya beragam (dan sepertinya cukup lengkap), mulai dari USB-A, USB-C, Lightning, 16-Pin, dan beberapa tipe lainnya. Supaya tidak berantakan, saya menggunakan Grid It Organizer yang memang merupakan produk untuk menata kabel saat dibawa mobile. Kamu bisa mencari produk ini dengan mengetikkan kata kunci “Grid It” di toko online langganan kamu. Grid It organizer sangat membantu untuk menjadikan kabel-kabel bawaan kamu tetap tertata rapi dalam tas.

Backpack

Akhirnya sampai ke barang bawaan terakhir, yaitu tas yang mewadahi semua gadget elektronik dan peralatan pendukungnya. Oya, jika kamu adalah penggemar gadget yang sering membawa perangkat-perangkat kamu dalam sebuah tas, banyak dokter dan ahli kesehatan yang menyarankan untuk memilih tipe backpack. Alasannya adalah karena distribusi beban yang lebih merata sehingga tidak membebani tubuh secara tidak seimbang. Tas selempang atau yang populer dengan istilah messenger bag mengandalkan kekuatan salah satu bahu saja, sehingga pasti akan melelahkan satu sisi tubuh kita. Ini berdampak buruk untuk postur tubuh dan kesehatan bahu.

Backpack pilihan saya adalah Bobby Bizz dari XD Design. Perusahaan ini adalah pelopor tas anti maling dengan solusi unik tapi pintar, meletakkan retsliting di bagian punggung dalam dan melapisi tasnya dengan logam tipis, menjadikannya nyaris tidak mungkin disobek. Bukan hanya aman, backpack ini sangat nyaman dipakai di punggung. Fitur-fiturnya juga sangat cocok untuk orang yang menjalani gaya hidup digital.

Jika kamu tertarik untuk memiliki tas ini, kamu bisa mengunjungi toko online favorit kamu, karena saya belum menemukan toko fisik distributor produk ini di Indonesia. Saya sudah sekitar tiga tahun memakainya dan merasa puas terhadap kualitas produk perusahaan asal Belanda ini.

Sebagai catatan, desain tas mereka sudah banyak digunakan brand lain kok. Jadi kamu juga bisa menemukan tas dengan model serupa dengan harga yang agak miring dari brand lain.


Nah, itulah berbagai gadget dan alat pendukung yang saya bawa dalam perjalanan mudik tahun 2019 ini. Bagaimana dengan kamu? Saya yakin sebagai pecinta teknologi kamu pasti juga tidak lupa menyisipkan aneka gadget dalam tas kamu saat pulang. Bagikan kisah perlengkapanmu di kolom komentar!

  Upgrade Perlengkapan YouTube di 2020..!!  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.