Home Editorial Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

Mayoritas produk Open Source bisa digunakan gratis serta bebas dikembangkan dan dimodifikasi sesuai keperluan. Diatas kertas, tentu menggunakan produk Open Source bakal jauh lebih hemat dibandingkan dengan produk berbayar yang kita diharuskan membayar lisensi secara berkala.

Tetapi benarkah menggunakan Open Source bakal selalu menghemat biaya..??? Ternyata belum tentu.

 

Studi Kasus WinPoin — Mampu Menghemat Biaya di Berbagai Sisi

Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

Meskipun kita adalah Windows Portal di Indonesia, tetapi sebagai startup baru yang dikembangkan dengan budget sangat minim, WinPoin banyak bergantung kepada teknologi dan produk Open Source untuk menghemat biaya.

Dari sisi platform server misalnya, kita menggunakan Linux CentOS, Nginx web server, PHP, dan MySQL yang tentu semuanya berbasis Open Source.

Dari sisi platform website kita juga menggunakan WordPress yang juga Open Source.

Proses maintenance server juga biasa kita lakukan melalui Ubuntu OS karena lebih enak maintenance server dari Linux ke Linux daripada harus lintas platform.

Tetapi di sisi lain untuk kegiatan yang berhubungan dengan pembukuan, accounting, dan produktivitas kerja, WinPoin masih tergantung dengan teknologi berbayar seperti Microsoft Office, Windows OS, Corel Draw, dsb.

Meskipun dengan begitu kita harus mengeluarkan biaya untuk license, tetapi dari sisi produktivitas dan penghematan waktu masih lebih efisien menggunakan produk berbayar yang populer digunakan dan memiliki kompatibilitas luas.

 

Kesimpulan Studi Kasus WinPoin

Jadi dari studi kasus WinPoin ini, menggunakan produk Open Source di beberapa sisi sangat bisa menghemat biaya bulanan kita, sedangkan di sisi lainnya menggunakan produk premium berlisensi bisa lebih menghemat banyak waktu dan meningkatkan produktivitas kerja.

 

Studi Kasus Munich Jerman — Menggunakan OS Open Source (Linux) Lebih Mahal daripada OS Berbayar

Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

11 tahun lalu tepatnya pada tahun 2004, Munich memutuskan untuk tidak lagi menggunakan Windows di fasilitas publik dan pemerintahan mereka. Mereka memutuskan untuk bermigrasi ke Linux dan mengembangkan LiMux, distro Linux berbasis Ubuntu. (Baca juga: Munich Jerman Sangat Menyesal Menggunakan Linux dan Kembali Lagi ke Windows)

Tujuan utamanya bisa ditebak, yaitu untuk menghemat biaya agar tidak perlu lagi membayar lisensi Windows yang harganya memang tidak murah.

Sejak saat itu seluruh ATM, fasilitas publik, dan komputer pemerintahan di kota Munich langsung dimigrasi ke Linux, hingga akhirnya setelah 10 tahun berjalan mereka balik ke Windows lagi dan menyatakan menggunakan Linux sangatlah mahal bagi mereka.

Kenapa bisa begitu?

Ternyata hal itu dikarenakan mereka harus membayar banyak programmer untuk membuat custom software dan memaintenance OS tersebut. Komplain dari warga Munich juga menambah semakin besarnya biaya support dan waktu yang dikeluarkan pemerintah untuk membantu warganya.

Dan satu hal yang lebih mahal lagi adalah biaya pelatihan karyawan, serta banyaknya karyawan yang kesulitan untuk menggunakan sistem di kantor mereka. Misalnya saja untuk sinkronisasi email ke smartphone karyawan, maka administrator harus melakukan setting mail server eksternal terlebih dahulu dan ini cukup memakan waktu.

 

Kesimpulan Studi Kasus Munich Jerman

Alih-alih menghemat biaya, ternyata penggunaan Open Source di fasilitas publik dan pemerintahan malah membuat biaya membengkak. Hal ini terjadi karena Munich harus membayar banyak developer, biaya training karyawan, dan biaya support warga yang kesulitan.

 

Studi Kasus Pesaro Italia — Menggunakan Open Office Lebih Mahal Daripada Office 365

Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

Sejak tahun 2011 kota Pesaro Italia memutuskan untuk meninggalkan Microsoft Office dan beralih ke Open Office demi menghemat biaya.

Namun tahun kemaren mereka memutuskan untuk meninggalkan Open Office dan kembali memilih Office 365.

Alasannya karena terjadinya pembengkakan biaya di bidang training karyawan, support, maintenance, dan custom software.

Karyawan juga mengeluhkan sering menghabiskan hingga 15 menit sehari untuk berhadapan dengan masalah kompatibilitas setiap file dokumen yang mereka kerjakan, hingga secara total ribuan jam kerja habis setiap tahunnya untuk masalah ini.

Pemerintah Pesario Italia menyatakan bahwa dengan menggunakan Office 365 mereka bisa menghemat biaya hingga 80%, dari yang sebelumnya 3 jutaan menjadi 1.7 jutaan per tahun untuk setiap user. Biaya yang dihemat ini berasal dari biaya training, support, dan sebagainya.

 

Kesimpulan Studi Kasus Pesario Italia

Sama seperti di studi kasus Munich Jerman, Pesario Italia juga mengalami fenomena dimana menggunakan Open Source malah lebih mahal dibandingkan produk berbayar. Ini karena terjadinya pembengkakan di biaya training, support, maintenance, custom software, serta turunnya produktivitas.

 

Penjelasan Fenomena

Dari tiga studi kasus diatas, terlihat bahwa di satu sisi menggunakan produk Open Source sangat bisa menghemat budget, tapi di sisi lain bisa makin membuat boros budget.

Hal ini ternyata tergantung di area mana pengaplikasian produk Open Source ini digunakan dan siapa yang menggunakannya.

Jika yang menggunakan adalah kalangan bisnis, enterprise dan pemerintahan, dengan banyak karyawan non-techie dan aktivitas kantoran, maka penggunaan Open Source bisa jadi membuat biaya lebih membengkak. Hal ini karena biaya training, maintenance, support, dan custom software yang tidak murah.

Tetapi jika yang menggunakan adalah kalangan personal atau startup, dengan team dan karyawan yang lebih geeky, maka penggunaan produk dan teknologi Open Source bakal sangat membantu penghematan biaya secara keseluruhan.

 

Efek dari Budaya dan Kebiasaan

Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

Fenomena ini juga disebabkan oleh produk premium yang lebih membudaya dan digunakan secara luas. Bayangkan saja sejak pertama kali dikenalkan komputer, hampir di semua sekolah, kampus, dan tempat-tempat pelatihan kerja, produk dan platform yang digunakan mayoritas adalah produk premium yang notabene closed source.

Hal ini membuat pengguna komputer jauh lebih familiar menggunakan Microsoft Office daripada Open Office, lebih familiar menggunakan Windows daripada Linux, atau lebih familiar menggunakan Photoshop daripada GIMP.

Selain itu dari segi perusahaan dan enterprise, mayoritas juga menggunakan produk premium dan menjadikannya syarat keahlian yang harus dikuasai oleh karyawan. Hal ini membuat produk premium seolah menjadi standard perusahaan dan bisnis kelas enterprise, sehingga pengguna produk Open Source seringkali mengalami masalah kompatibilitas.

Jadi jangan heran jika akhirnya perusahaan besar sekelas Microsoft, Adobe, dan yang lainnya memiliki lisensi khusus dengan harga murah atau bahkan gratis untuk kalangan pelajar. Dari situlah ekosistem budaya dan kebiasaan pengguna untuk menggunakan produk premium bakal terus terjaga — selain karena support, fitur, dan teknologi produk berbayar memang cenderung lebih lengkap, mudah digunakan oleh awam, dan up-to-date dengan perkembangan jaman.

  Unboxing Orico Hardisk Docking Station  

Productivity addict. Geek by nature. Platform Agnostic.
  • Kåýäñ Æðjúst Çøý

    Kalau saya memakai produk opensource justru karena cinta sama microsoft, daripada pakai Windows / Ms Office bajakan yang merugikan Ms mending pakai Linux dulu sampai sanggup beli lisensi Windows / Ms officenya :)

  • nice editorial.

  • Aldi Novianto

    Ya, open souce memang buruk. Tapi kalau gak suka pakai open source, mending pake mac aja daripada Windows

    • Kurotsuki Kaitou

      Hahaha …. Lha Windows aja mbajak …. Kok disuruh pake Mac. Mana mampu beli hardwarenya…. :p

      • Aldi Novianto

        Keliatan banget miskin

        • Wira

          Bukan miskin gan, tapi budaya mbajaknya udah mengakar kuat…
          Seandainya ada app/game harganya 10 ribu, pasti tetep cari yg bajakannya… Haha kidding gan :p

          • betul jg kata om Wira, budaya / kebiasaan bajak pengaruhnya besar jg

            tidak jarang apps yang harganya 10rb jg dibajakin, meskipun kl beli sih mampu juga benernya

            mungkin krn prinsip “kalo bisa gratis ngapain bayar?” di area content digital benar2 sudah mendarah daging (termasuk juga utk software, apps, ebook, video tutorial, dll)

            padahal seandainya pembajakan minim, mungkin developer lokal dan content creator lokal bakal merilis berbagai apps / software / tutorial berkualitas dan handal

            kl sekarang kayaknya banyak yang pada lari ke market luar

            efek sampe kesitunya banyak tidak dipikirkan orang

          • Indra

            Btul

          • Kalau Saya Cari Yang Giveaway Atau Freeware Saja Biar Gak Ngebajak, Windows Pun Ngikut Dreamspark Biar Gratis

          • Indra

            Untung ane udah sadar gan..

          • 86% pengguna komputer indonesia ya gan make bajakan di dalamnya ada gue. hahaha

          • ADA BANGET GAN ORANG KAYA PAKE BAJAKAN DAN SENANG GRATISAN, BUDAYA SIAPA YANG BISA MENGELAK TOH?

            ADA ORANG GAN, KAYA, SPEK KOMPUTER MEJA NYA MONSTER, NGEBET RADEON R9 SAMPE RAM JUGA SENGAJA DIGEDE-GEDEIN, PAS DITANYA, EH DIA PAKE IDM CRACK, KOLEKSI ADOBE JUGA CRACK, POKOKNYA APA-APA CRACK TERUS PERNAH SAYA TANYA KENAPA GITU?

            DIA JAWAB “KENAPA HARUS BAYAR MAHAL-MAHAL KLO ADA YANG GRATIS, ITU NAMANYA KITA BEGO”

            LOH KOMPUTERNYA ITU APAAAAAAAAAAAAA, NGOMONG SEENAK JIDAT

        • Zulmi Kurniawan

          Makasiih. Kalo situ merasa kaya mending beliin mac buat kita atau orang yg lebih mrmbutuhkan. Bangga kok sama produk orang lain. Bangga tuh pake produk dalam negeri.
          Kalo elu kaya, cukup bayar developer tuk ngembangkan aplikasi atau sistem yg elu idam2kan. Orang Indonesia mampu kok. Elu nya aja yg udah kaya, pelit,fanatik, hidup pula. Jadi kapan mati?

          • Dante Niro

            Ayo gan BLANKON LINUXnya dicoba,,produk asli buatan anak negri..

        • Kurotsuki Kaitou

          Entahlah… Saya sih pake Windows-nya ori. OSX juga ori. Tapi banyak juga loh hurang kayah yang berlagak miskin sampe pake Windows bajakan… Padahal di rumah petentang-petenteng pake iPhone. :3

    • kl itu terserah usernya dan kebutuhannya apa, karena fanatisme teknologi udah gak jaman sekarang

      mana yg memudahkan pekerjaan kita itu yang dipake, krn platform cuman tools utk memudahkan aktivitas kita

      • buat tambahan bang feb, “fanatisme teknologi” itu terjadi pada anak remaja sekolahan sekarang dari studi kasus saya, mana yg paling bisa crack dan jago instal ini itu, bahas geek gak karuan.

        Kalau platform membuat kita ribet, jangan dipake dah, karena sifatnya pesawat sederhana, ease our life

        • Randhika

          Fanatisme Sempit dan Buta itu hanya terjadi di Google Android bro… kalo di Microsoft Windows Mobile/Phone, TIDAK ADA sama sekali. Kita nge-Fans berat sama Windows Phone, tapi kita juga tidak lupa mengkritik kekurangannya, memberi saran dan masukan yang membangun untuk membenahi kualitas produk mereka.

          Ketika ada keluhan dari User awam Windows Phone, bagi Fanatik Google Android, itu dianggap sebagai senjata untuk mengejek Windows Phone. Tetapi bagi Fans Berat Windows Phone justru malah ada inisiatif untuk membantu mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan/keluhan yang terjadi. Kelihatan jomplang sekali perbedaan IQ-nya…

    • Dante Niro

      Make MAC GOBLOCK susah bro ngopreknya,,

  • Wisnu Nugroho Dewantoro

    Kesimpulannya satu : Karena dari dulu, kita terbiasa menggunakan Produk Berbayar.

    Coba dari dulu kita diajarin Linux, mungkin sedikit yang bajak Windows :v

    • Hilary Duff

      Apalagi Sekarang. Microsoft Block Apps / Game Bajakan Di Win10. Mending Kalian Semua Downgrade Atau Move On Ke Linux Sampai Microsoft Benar2 Waras :v

      • Rabbil AR

        tnang psti bkalan ada trik nya biar ga ke detect bajakan
        org pinter di dunia banyak
        dan smua buatan manusia itu ga ada yg smpurna jd ga prlu takut hnya krna pke app bjakan

      • Wira

        Haha lebay amat

        • Hilary Duff

          Ane Gak Lebay Kok. Ini Cuma Opini Aja. Ane Berpikir Netral Gan. Gak Lebay :v

          • Wira

            Haha iya ente netral kok…

      • Mochammad Reza

        Hillary Duff pake apps bajakan,hahaha ✌

  • Agil Faisal Rahman

    tak selamanya yg bayar itu buruk… pasti selalu ada sisi kelebihannya… critical update yg rilis terus n banyak perbaikan otomatis yg bisa didapat klo menggunakan produk berbayar… pokoknya klo udah bayar ga rugi deh…

    • betul banget, tak selamanya yang bayar itu buruk..dan yang gratis itu bagus..begitu juga sebaliknya

      nice quote :)

      • Agil Faisal Rahman

        kebanyakan orang mikirnya ngapain mesti bayar klo ada yang gratis… padahal di balik yang dikeluarkan itu tersembunyi manfaat yang banyak… haseeeekkkk dah… mendadak bener akibat keselek preview terbaru…. :v

        • hahaha, minum dulu om :))

          • Agil Faisal Rahman

            studi kasusnya ga nahan abisan … hehehe

    • tambahan gue sih, klo bajakan itu dihantui sama “BLOKIR DARI PUSAT” wkwkkw

      • Agil Faisal Rahman

        nah iya bener tuh… jadi ngeri klo ngupdate ya… takut kedetect n ga bisa di pake lagi dah…

        • ujung2nya browsing lagi ke google, nyari2 serial key, beruntung klo dapat langsung, klo di website banyak unyat unyut nya mah, kelamaan :D

  • Kurotsuki Kaitou

    Dikombinasi ajah. Di sisi server, bisa pake open source karena biasanya yang megang emang udah pengalaman. Di sisi workstation, terutama non-IT, pake proprietary yang udah awam digunakan banyak orang. Hemat biaya training. :3

    • betul banget, strategi itu juga yang WinPoin pake sekarang..hehehe
      jd efisiensi biaya + efisiensi waktu bs tercapai semua

      win-win solution ^^

  • Hilary Duff

    Apalagi Sekarang . Mcrosoft Mulai Kurang Waras Yaitu Block Apps / Games Bajakan Di Win10. Tentunya Hal Ini Membuat Kecewa Pengguna Win10. Bahkan Membuat Usernya Rugi. Kalo Menurut Ane Sih. Sekarang Windows 10 Lebih Mahal dari OS Linux Yang Fully Free. No Blocked Apps & Games :v

    • Hilary Duff

      Dan. Ini Pun Benar2 Terjadi
      Sumber : Grup Windows 10 Indonesia

      • Ida Bagus Anom Sanjaya

        Ucapin. Met nah buri

      • Rabbil AR

        kyak ny itu ada problem kali dgn system nya
        pnya ane aman2 aja kok smpe skrg ga ada msalah pdhal update trus :)

      • Titoalvi

        Wah, ane juga maen NS3. beneran itu gan? Bahaya nih. Gk bsa maen lagi ane

        • Nurcahya

          itumah kesalahan sistemnya gan :v
          ane pake Windows 10, dan ane cek ane baru inget ada beberapa game bajakan :v yaitu DOA 5, Naruto Shippuden ultimate ninja revolution, Batman arkham asylum.
          semuanya lancar, gk ada yang kedeteksi bajakan.
          kalo soal Windows 10 gk bisa nginstall aplikasi bajakan itu lebih mengarah untuk aplikasi Modern Apps(aplikasi di Store), bukan Win32. soalnya semua aplikasi saya yang pak tani pada work :v

          • anak torrent nich kayaknya wkwkwkw

          • Nurcahya

            ane bukan anak Torrent Om :v
            game game bajakan di kasih temen, disuruh nyoba :v yaudah nyobain. sekalian pengen tau Gameplaynya gimana, dan nanti kalo di Steam ada diskon paling beli (tapi malah game DOA 5 kaga dapet diskon 70% mulu :v padahal kemarin summer sale berharap :v)

          • ia om, main bajakan dulu, kalo udah ketagihan beli di steam, kalo gak ya lanjutkan hahahahaha. ane gak mampu di spek kompi mau main game yang terbaru

          • Labib Muhammad

            Segera sebarkan, mas! Biar orang indonesia gak takut upgrade!

    • Nurcahya

      IDM ane pake Crack dan masih kebuka :p (satus satunya aplikasi bajakan di ane cuman IDM, Photoshop, ama Corel :v walo yang di pake cuman IDM) :v
      lagi pula, gk ada sistem yang bener bener aman gan.
      walo bilang Windows 10 gk bisa pake aplikasi bajakan sekalipun pasti nanti ada yang bisa ngebobol sistemnya
      No System is safe :v

      • IDM, Photoshop, ama Corel kok satu, ni anak indonesia banget, just kidd yya om, jangan marah #ampun

        • Nurcahya

          yang bener bener pake crack cuman IDM, Photoshop ama corel ane kaga pake crack, tapi tetep bajakan sih :v dan jarang ane pake :v kalo udah gk ada pelajaran Desain Grafis paling di apus :v

      • saya bela2in beli idm ke alfamart :D lisensi seumur hidup nih

    • Scarlet Nec’Arc

      kagak gan
      selama bukan punya si MS
      nggak bakal di block kok :D

    • 3widyan

      Block apps dan game bajakan yang dr Windows store aja gan, Microsoft gak mau kyk android aplikasi store bisa dibajak seenaknya. Kl pembajakan selain dari app store, itu bukan urusan&hak Microsoft untuk blokir.

  • Alvin

    Maaf keluar dari topik… Caranya jadi VIP member winpoin itu gimana sih?

    • Limit Breaker

      ente scroll ke atas dari kolom komen ini, arahkan mata ke kolom kanan, cari kotak kecil berbackground ungu, isikan nama + email agan, klik tombol gabung (warna ijo ya )

      • betul sekali, plus setelah daftar lgsg dapet bonus ebook gratis ^^

        • Z.A.Y

          * jangan lupa email konfirmasinya

  • Titoalvi

    Setuju ama kesimpulan winpoin, tapi misalkan kalo dari dulu kita udah dibiasain make opensource mungkin gk akan kyak sekarang. Kyaknya ini strategi perusahaan buat bikin produk mreka kalahin opensource dan mendominasi pasar. Hehe…

    • hehe..memang semua berawal dari kebiasaan dan familiaritas

      • betul min. kalo gue gak mau pindah ya karena adobe wkwkwkw cinta banget sama photoshop dkk

    • kayak android kan gan

  • Evha Maniezsweetsweet

    min kalo ane inslasi buat perusahaan pake crack di marahin sama atasan

    • haha..iya..perusahaan bs repot ntar kl lg ada inspeksi mendadak ^^

    • perusahaan duitnya bejibun

      kantor gue yang engginer make mac sama macbook, jadi pengen nyobain hehee

  • arg

    keren, thanks bro ;)

    • pengalaman pribadi, teman2, dan juga studi kasus dari berbagai negara bro
      btw kapan nih ngopi? udah lama gak kongkow :))

  • oelek boeloe

    Kayaknya emang harus di tempat dan di tangan yg tepat.

    #justthesimplething

  • Indra

    Yang penting mah ane ga ngebajak.. Kalo sanggup ya dibeli. Kalo ga ya pake opensource.. Legalitas itu penting..

  • wohhh aplikasi andalan dak di sebut sama mimin yaitu keluarga adobe yang harganya paling murah dari software lainnya. murah dari belakang wokokoko

    • bagaimana gak mahal om, itu kl beneran jago pake nya duit mengalir terus kayak air hujan…studi kasus lgsg cek aja http://graphicriver.net/

      panen raya yg jago pake software begituan, tebel banget kantongnya ^^

  • Tatank Adhiwidharta

    Ibarat mau makan, nah ada pilihan. Mau ke restoran atau warteg?
    Meski sama2 kenyang tapi yg mnjadi pembeda adalah nilai dan kepuasannya.

  • Bajakan~

  • ars

    ah aku mah apa
    OS ori
    sedangkan software sama game bajakan
    musik sama video juga bajakan
    .
    .
    .
    tapi ya sekarang saya udah sadar buat beli game ori
    #curhat

  • biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan produk open source dan premium, tergantung dari orang yang memakainya :D

  • Pake barang bajakan gak usah ngaku dan bangga, kalau memang perlu gak usah malu :)
    Kalau ada yang baik, ya jadilah baik :)

    (tapi buat agan yang gak punya uang banyak apa boleh buat, tapi kalo punya terus gak beli kan sama aja dengan gak)

    :) jadilah orang Indonesia yang bijak diantara 270 juta orang lainnya,,,bismillah~

  • Ichsan Amrin

    nice article guys!!

  • Inayatul Chiqmia

    ya itu memang efisiensi dalam uang dan waktu
    . tapi moral dan skill pun juga meningkat. dalam segi skill dalam pengunaan software open source membuat pengguna paham mengoperasikan file yang kompabilitas tinggi sehingga dapat dipakai dimana mana. sebenarnya yang menyulitkan itu raksasa IT yang menyulitkan dengan menggunakan target marketing yang mengarah pada psikologi sehingga persaingan dibidang ini bukan lagi peningkatan dibidang kompabilitas dikarenakan paten yang telah didapat seperti format docx ataupun PSD

    dalam masalah moral. membuat orang tidak berkegantungan pada miscrosoft sehingga tidak membuat sebagian orang sebagai mental sebagai pembajak pada pengguna end user kelas bawah maupun menengah dikarenakan membutuhkan fitur dan kemudahan yang membuat memaksa menggunakan secara tidak hak.

    dan untuk pelatihan dan biaya programmer itu adalah langkah yang baik bagi negara tersebut. bila menggunakan jasa trainer maupun programmer lokal maka membuat lapangan kerja baru, dan meningkatkan kualitas dari enduser maupun Kualitas sebagai Programmer.

    Perubahan rancangan undang undang itu dikarenakan strategi marketing dari raksasa IT yang tidak mendapat profit dari suatu peraturan yang berlaku, bila melihat pada suatu periode pemerintahan itu mungkin sebuah kerugian, tapi tidak melihat dari faktor yang lebih baik untuk mendukung perkembangan Teknologi lokal.

  • Wibisono Sastrodiwiryo

    “Ini karena terjadinya pembengkakan di biaya training, support, maintenance, custom software, serta turunnya produktivitas.” <- jika ini findings-nya maka judulnya yang bersifat menyimpulkan kurang akurat. karena sesungguhnya ini adalah risiko penerapan teknologi baru terlepas dari apakah dia opensource atau proprietary. gak ada penerapan teknologi baru yang terbebas dari efek chasm.