Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

Mayoritas produk Open Source bisa digunakan gratis serta bebas dikembangkan dan dimodifikasi sesuai keperluan. Diatas kertas, tentu menggunakan produk Open Source bakal jauh lebih hemat dibandingkan dengan produk berbayar yang kita diharuskan membayar lisensi secara berkala.

Tetapi benarkah menggunakan Open Source bakal selalu menghemat biaya..??? Ternyata belum tentu.

 

Studi Kasus WinPoin — Mampu Menghemat Biaya di Berbagai Sisi

Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

Meskipun kita adalah Windows Portal di Indonesia, tetapi sebagai startup baru yang dikembangkan dengan budget sangat minim, WinPoin banyak bergantung kepada teknologi dan produk Open Source untuk menghemat biaya.

Dari sisi platform server misalnya, kita menggunakan Linux CentOS, Nginx web server, PHP, dan MySQL yang tentu semuanya berbasis Open Source.

Dari sisi platform website kita juga menggunakan WordPress yang juga Open Source.

Proses maintenance server juga biasa kita lakukan melalui Ubuntu OS karena lebih enak maintenance server dari Linux ke Linux daripada harus lintas platform.

Tetapi di sisi lain untuk kegiatan yang berhubungan dengan pembukuan, accounting, dan produktivitas kerja, WinPoin masih tergantung dengan teknologi berbayar seperti Microsoft Office, Windows OS, Corel Draw, dsb.

Meskipun dengan begitu kita harus mengeluarkan biaya untuk license, tetapi dari sisi produktivitas dan penghematan waktu masih lebih efisien menggunakan produk berbayar yang populer digunakan dan memiliki kompatibilitas luas.

 

Kesimpulan Studi Kasus WinPoin

Jadi dari studi kasus WinPoin ini, menggunakan produk Open Source di beberapa sisi sangat bisa menghemat biaya bulanan kita, sedangkan di sisi lainnya menggunakan produk premium berlisensi bisa lebih menghemat banyak waktu dan meningkatkan produktivitas kerja.

 

Studi Kasus Munich Jerman — Menggunakan OS Open Source (Linux) Lebih Mahal daripada OS Berbayar

Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

11 tahun lalu tepatnya pada tahun 2004, Munich memutuskan untuk tidak lagi menggunakan Windows di fasilitas publik dan pemerintahan mereka. Mereka memutuskan untuk bermigrasi ke Linux dan mengembangkan LiMux, distro Linux berbasis Ubuntu. (Baca juga: Munich Jerman Sangat Menyesal Menggunakan Linux dan Kembali Lagi ke Windows)

Tujuan utamanya bisa ditebak, yaitu untuk menghemat biaya agar tidak perlu lagi membayar lisensi Windows yang harganya memang tidak murah.

Sejak saat itu seluruh ATM, fasilitas publik, dan komputer pemerintahan di kota Munich langsung dimigrasi ke Linux, hingga akhirnya setelah 10 tahun berjalan mereka balik ke Windows lagi dan menyatakan menggunakan Linux sangatlah mahal bagi mereka.

Kenapa bisa begitu?

Ternyata hal itu dikarenakan mereka harus membayar banyak programmer untuk membuat custom software dan memaintenance OS tersebut. Komplain dari warga Munich juga menambah semakin besarnya biaya support dan waktu yang dikeluarkan pemerintah untuk membantu warganya.

Dan satu hal yang lebih mahal lagi adalah biaya pelatihan karyawan, serta banyaknya karyawan yang kesulitan untuk menggunakan sistem di kantor mereka. Misalnya saja untuk sinkronisasi email ke smartphone karyawan, maka administrator harus melakukan setting mail server eksternal terlebih dahulu dan ini cukup memakan waktu.

 

Kesimpulan Studi Kasus Munich Jerman

Alih-alih menghemat biaya, ternyata penggunaan Open Source di fasilitas publik dan pemerintahan malah membuat biaya membengkak. Hal ini terjadi karena Munich harus membayar banyak developer, biaya training karyawan, dan biaya support warga yang kesulitan.

 

Studi Kasus Pesaro Italia — Menggunakan Open Office Lebih Mahal Daripada Office 365

Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

Sejak tahun 2011 kota Pesaro Italia memutuskan untuk meninggalkan Microsoft Office dan beralih ke Open Office demi menghemat biaya.

Namun tahun kemaren mereka memutuskan untuk meninggalkan Open Office dan kembali memilih Office 365.

Alasannya karena terjadinya pembengkakan biaya di bidang training karyawan, support, maintenance, dan custom software.

Karyawan juga mengeluhkan sering menghabiskan hingga 15 menit sehari untuk berhadapan dengan masalah kompatibilitas setiap file dokumen yang mereka kerjakan, hingga secara total ribuan jam kerja habis setiap tahunnya untuk masalah ini.

Pemerintah Pesario Italia menyatakan bahwa dengan menggunakan Office 365 mereka bisa menghemat biaya hingga 80%, dari yang sebelumnya 3 jutaan menjadi 1.7 jutaan per tahun untuk setiap user. Biaya yang dihemat ini berasal dari biaya training, support, dan sebagainya.

 

Kesimpulan Studi Kasus Pesario Italia

Sama seperti di studi kasus Munich Jerman, Pesario Italia juga mengalami fenomena dimana menggunakan Open Source malah lebih mahal dibandingkan produk berbayar. Ini karena terjadinya pembengkakan di biaya training, support, maintenance, custom software, serta turunnya produktivitas.

 

Penjelasan Fenomena

Dari tiga studi kasus diatas, terlihat bahwa di satu sisi menggunakan produk Open Source sangat bisa menghemat budget, tapi di sisi lain bisa makin membuat boros budget.

Hal ini ternyata tergantung di area mana pengaplikasian produk Open Source ini digunakan dan siapa yang menggunakannya.

Jika yang menggunakan adalah kalangan bisnis, enterprise dan pemerintahan, dengan banyak karyawan non-techie dan aktivitas kantoran, maka penggunaan Open Source bisa jadi membuat biaya lebih membengkak. Hal ini karena biaya training, maintenance, support, dan custom software yang tidak murah.

Tetapi jika yang menggunakan adalah kalangan personal atau startup, dengan team dan karyawan yang lebih geeky, maka penggunaan produk dan teknologi Open Source bakal sangat membantu penghematan biaya secara keseluruhan.

 

Efek dari Budaya dan Kebiasaan

Studi Kasus: Menggunakan Open Source Tidak Selalu Lebih Hemat Dibandingkan Produk Berbayar

Fenomena ini juga disebabkan oleh produk premium yang lebih membudaya dan digunakan secara luas. Bayangkan saja sejak pertama kali dikenalkan komputer, hampir di semua sekolah, kampus, dan tempat-tempat pelatihan kerja, produk dan platform yang digunakan mayoritas adalah produk premium yang notabene closed source.

Hal ini membuat pengguna komputer jauh lebih familiar menggunakan Microsoft Office daripada Open Office, lebih familiar menggunakan Windows daripada Linux, atau lebih familiar menggunakan Photoshop daripada GIMP.

Selain itu dari segi perusahaan dan enterprise, mayoritas juga menggunakan produk premium dan menjadikannya syarat keahlian yang harus dikuasai oleh karyawan. Hal ini membuat produk premium seolah menjadi standard perusahaan dan bisnis kelas enterprise, sehingga pengguna produk Open Source seringkali mengalami masalah kompatibilitas.

Jadi jangan heran jika akhirnya perusahaan besar sekelas Microsoft, Adobe, dan yang lainnya memiliki lisensi khusus dengan harga murah atau bahkan gratis untuk kalangan pelajar. Dari situlah ekosistem budaya dan kebiasaan pengguna untuk menggunakan produk premium bakal terus terjaga — selain karena support, fitur, dan teknologi produk berbayar memang cenderung lebih lengkap, mudah digunakan oleh awam, dan up-to-date dengan perkembangan jaman.

  Ubuntu 18.10, Kurang Apa Lagi..??  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.