Kenapa Health SSD Bisa Turun Cepat? Ini Penyebabnya

Apakah kamu sudah menggunakan SSD dalam waktu cukup lama, jika iya mungkin kamu pernah melihat angka Health di CrystalDiskInfo atau HDSentinel perlahan turun. Awalnya 100%, kemudian menjadi 99%, 95%, atau bahkan lebih rendah.

Hal ini tentu membuat khawatir. Apakah SSD mulai rusak atau bagaimana? apalagi di saat harga SSD saat ini sedang tinggi tinggi nya, jelas saya yang juga mengalaminya menjadi cukup paranoid dong.

Tapi ternyata setelah saya cari lebih dalam, jawabannya sih belum tentu SSD ini mulai rusak ya, karena berbeda dengan battery health pada smartphone, health SSD bukan angka yang bisa diterjemahkan secara sederhana sebagai “sisa umur SSD”.

Nilai tersebut berasal dari data S.M.A.R.T. dan perhitungan firmware berdasarkan penggunaan NAND flash.

TONTON JUGA:

SSD Memang Punya Umur

Nah hal ini sih jelas ya, karena SSD menggunakan NAND flash yang memiliki jumlah siklus program/erase (P/E) terbatas setiap kali data ditulis, dihapus, atau ditulis ulang di SSD, sebagian endurance NAND digunakan.

Karena itu, SSD memiliki rating TBW (Terabytes Written) yang menunjukkan perkiraan jumlah data yang dapat ditulis selama masa endurance yang ditentukan, semakin banyak data yang ditulis, semakin banyak pula endurance yang digunakan.

Namun kadang, jumlah data yang ditulis ke NAND bisa lebih besar daripada yang terlihat di Windows.

Ada yang Namanya Write Amplification

Nah misalnya nih, kamu menulis file sebesar 10 GB, Controller SSD tidak selalu hanya menulis 10 GB ke NAND, dimana SSD bisa melakukan pemindahan data, garbage collection dan penulisan ulang block agar penyimpanan tetap efisien.

Akibatnya, data yang benar-benar ditulis ke NAND dapat lebih besar, apalagi aktivitas seperti Windows Update, instalasi game, virtual machine, Docker, compiling, cache aplikasi dan editing video dapat menghasilkan write activity yang cukup tinggi tanpa kita sadari.

SSD Hampir Penuh Juga Bisa Berpengaruh

Selain itu, SSD yang terus-menerus hampir penuh dapat membuat controller bekerja lebih keras untuk mengatur block dan melakukan garbage collection.

Karena itu, sebaiknya jangan selalu menggunakan SSD sampai kapasitasnya nyaris habis, menyisakan ruang kosong memberikan ruang bagi controller untuk mengelola data dengan lebih leluasa.

Dan jika kamu pakai RAM terbatas dan SSD dipakai sebagai Virtual Memory / SWAP, jelas ini juga bisa berpengaruh pada TBW dan health SSD jika dilakukan dalam jangka waktu yang panjang.

Selain itu, ada satu hal yang juga perlu diperhatikan bahwa NVMe modern memang sangat cepat, tetapi controller juga bisa menghasilkan panas cukup tinggi, hal ini semakin terasa pada laptop dan mini PC yang memiliki ruang pendinginan terbatas.

Sehingga saat melakukan transfer file besar, instalasi game atau workload berat, temperatur SSD dapat meningkat dan menyebabkan thermal throttling, nah temperatur tinggi yang berlangsung terus-menerus juga bukan kondisi ideal untuk umur SSD.

Health 90% Bukan Berarti SSD Tinggal 10%

Nah selain itu, ada satu hal yang mungkin paling sering disalahpahami, jika CrystalDiskInfo menunjukkan Health: 90% bukan berarti kapasitas SSD berkurang 10% atau SSD tinggal memiliki umur 10%.

Health tersebut merupakan estimasi endurance, bukan countdown menuju kegagalan, karena itu SSD dengan health 80% belum tentu akan mati lebih cepat daripada SSD lain dengan health 90%.

Namun yang penting adalah melihat data S.M.A.R.T. secara keseluruhan, kita bisa memperhatikan beberapa parameter seperti:

  • Total Host Writes
  • Percentage Used
  • Temperature
  • Critical Warning
  • Media and Data Integrity Errors
  • Unsafe Shutdowns

Dan lainnya, dan jika health turun tetapi tidak ada error, critical warning, corrupted files atau masalah koneksi, belum tentu ada masalah serius.

Jadi, Haruskah Khawatir?

Sejujurnya sih jangan terlalu khawatir, karena penurunan health merupakan sesuatu yang normal selama SSD digunakan, yang perlu diperhatikan adalah seberapa cepat penurunannya dan apakah muncul indikator masalah lainnya.

Misalnya health turun beberapa persen setelah digunakan cukup lama, tetapi SSD tetap stabil dan tidak menunjukkan adanya error, nah kondisinya jelas tentu berbeda dengan SSD yang health-nya turun drastis sekaligus mulai mengalami media errors atau sering menghilang dari sistem.

Tapi bagaimanapun sih, yang paling penting, tetap lakukan backup data penting, karena bahkan SSD dengan health 100% pun tetap bisa mengalami kegagalan secara tiba-tiba.

Kesimpulan

Jadi, jangan langsung menganggap SSD bermasalah hanya karena angka health turun ya guys, santai saja, karena jumlah write, write amplification, kapasitas kosong, temperatur dan workload semuanya dapat memengaruhi endurance SSD.

Health hanyalah salah satu indikator, untuk mengetahui kondisi SSD sebenarnya, lihat data S.M.A.R.T. secara keseluruhan, bukan hanya satu angka persentase saja, dan jika SSD masih stabil, tidak mengalami error dan SMART tidak menunjukkan peringatan kritis, penurunan health belum tentu menjadi alasan untuk panik.

Dalam kasus saya, selama saya menggunakan GEEKOM A5 ini, SSD sekarang sudah turun ke 88%, ini jelas sangat cepat banget turunnya, dari analisa saya, ini juga dipengaruhi suhu mini PC yang jelas tidak sebaik PC, beberapa kali unsafe shutdown karena mati lampu atau power adapter yang sebelumnya bermasalah, hingga penggunaan berlebih akibat RAM yang cepat habis dan penggunaan mini PC ini sebagai server yang berjalan 24/7.

Tapi meskipun turun dan sekarang sudah 88%, itu bukan masalah karena hingga saat ini tidak ada error, tidak ada anomali dan tidak ada hal apapun yang mengurangi performa dan kestabilan SSD.

Jika ada update lain, mungkin akan saya update di artikel terpisah guys, tapi intinya sih jangan khawatir, dan jika kamu ada dana lebih, pastikan kamu beli SSD dengan merek besar saja, misalkan Samsung, Seagate, WD atau apapun itu yang biasanya menawarkan garansi yang lebih baik, kenapa? karena jujur aja, saya juga menggunakan SSD dengan merek yang mungkin bisa dibilang baru dan murah, nah kadang merek dan harga jelas berpengaruh pada umur dan health si SSD.

Referensi : Western Digital, Kingston, SanDisk, AWS, QNAP, Intel


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya bergantung pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berkualitas secara gratis — jadi jika kamu menikmati artikel dan panduan di situs ini, mohon whitelist halaman ini di AdBlock kamu sebagai bentuk dukungan agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui dukungan di Saweria. Terima kasih.

Gylang Satria

Tech writer yang sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux, dan Samsung S24. Punya pertanyaan atau butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

Post navigation