Home Editorial Kisah Silicon Valley #24 – Perang Smartphone – Perang Dominasi Pasar Smartphone

Kisah Silicon Valley #24 – Perang Smartphone – Perang Dominasi Pasar Smartphone

via engadget

Redmond Campus mendadak gempar! Rombongan orang dengan outfit yang dominan hitam berparade dengan meriah, lengkap dengan marching band dan mobil hias. Belum pupus kekagetan masyarakat di sekitar, kelompok dengan aneka kostum unik melakukan flash mob dengan menarikan Thriller dari Michael Jackson yang ikonik tersebut.

Apa yang terjadi?

Rupanya Microsoft sedang melakukan perayaan masuknya Windows Phone 7 ke tahap RTM (Release to Manufacture) dengan teatrikal parade kematian ‘mengantarkan iPhone dan BlackBerry ke kuburan’. Sebuah pesan yang kuat bahwa OS mobile terbaru mereka siap bersaing dan akan menyalip eksistensi OS mobile lain yang sudah mapan di pasar!

via Business Insider

Perwakilan resmi dari Tim Windows Phone 7 membuat pernyataan resmi sehari setelah parade tersebut: “Kami mendengar banyak komentar online tentang pesta yang dilakukan tim Windows Phone untuk merayakan selesainya Windows Phone 7. Pesta ‘pengiriman’ ini adalah hal yang umum dalam industri kita. Ini adalah cara yang hebat untuk tim yang sudah bekerja lembur untuk menciptakan produk dahsyat agar melepaskan ketegangannya dan sedikit bersenang-senang. Acara ini mencakup musik, permainan, makan-makan, dan parade ringan ke lapangan bola tempat pesta berlangsung. Parade ini diiringi marching band dari anggota tim Windows Phone, roller skater, sepeda roda satu, kostum, dan aneka makanan rumahan. Ini menyenangkan dan tidak ada pesaing yang benar-benar disakiti dalam pesta ini.”

 

Lomba Aneka OS Mobile

via Independent

Bisnis ponsel, terutama smartphone memulai evolusinya yang sangat cepat. Pada awal tahun 2007, lima produsen ponsel teratas, yaitu Nokia, Motorola, Samsung, Sony Ericsson, dan LG menjual 85 persen dari keseluruhan ponsel. Smartphone saat itu hanya kurang dari 7 persen (Perlu diperhatikan bahwa sebelum era iPhone dan Android pun sudah ada smartphone dengan OS BlackBerry, Symbian, dan Windows Mobile).

Sebenarnya Android berkembang karena popularitas Google. Dalam hal hardware, belum ada hal istimewa yang ditawarkan. Android pertama, G1 yang dikembangkan HTC, masih menggunakan keyboard dan fungsionalitas layar sentuh yang terbatas. Namun sejak triwulan keempat tahun 2009, Android mulai melejit. Angka penjualan di seluruh dunia dari Gartner untuk periode itu menunjukkan bahwa ponsel Android terjual sedikit di atas 4 juta unit. Tujuh persen dari total smartphone yang terjual pada periode tersebut namun yang hebat: Angka ini sudah menyamai penjualan perangkat Windows Mobile (Perlu dicatat bahwa pada periode itu Windows Mobile memecahkan rekor penjualan mereka sepanjang masa)!

via Gizmodo

Microsoft bukannya tidak menyadari bahaya tersebut. Bahkan bisa dibilang mereka tidak terlambat meresponnya. Ballmer menyadari bahwa mungkin benar dia meremehkan iPhone karena Apple bermain di pasar high end (dengan harga di atas USD 500), namun ponsel Android yang dijual di kisaran USD 200? Ini ancaman nyata bagi Windows Mobile! Ballmer memerintahkan agar OS Windows Mobile ditulis ulang sehingga memadai untuk layar sentuh (Untuk selanjutnya OS baru ini disebut Windows Phone). Andy Lees yang saat itu memimpin proyek Pink, sebuah upaya Microsoft untuk mengembangkan OS mobile secara radikal, menyetujui perombakan user interface yang untuk selanjutnya disebut dengan Metro.

via Supersite

Proyek ini agak molor sehingga menimbulkan sedikit jeda dari rilis Windows Mobile 6.5 hingga perangkat baru yang kemudian disebut Windows Phone 7. Dunia teknologi tak berhenti berputar. Apple berhasil meyakinkan banyak developer untuk iPhone 3G yang mulai mendapatkan massa tersendiri. Perlahan-lahan iPhone – meskipun tidak signifikan mengambil pangsa pasar ponsel, mendatangkan keuntungan terbesar sepanjang sejarah bagi Apple.

via eBay

Bagaimana dengan Symbian dan BlackBerry OS yang saat itu meraja? Nokia dan RIM tampaknya terlalu yakin pada kekuatan mereka sehingga tidak melakukan perombakan yang signifikan. Nokia menyesuaikan dengan mengadopsi layar sentuh, namun tetap dengan bangga menggunakan Symbian. Namun developer kelihatannya adalah kuncinya. Perlahan-lahan smartphone milik Nokia kehilangan momentum dan tidak mendapatkan aplikasi menarik sebagaimana halnya Android dan iOS yang berkembang. Padahal saat itu dari segi harga, ponsel Nokia yang dibandrol di kisaran USD 500 ke atas bersaing dengan iPhone di pasar high end – Hanya saja perlahan-lahan konsumen berpaling ke si pendatang baru. Nokia pun mulai menekan CEO-nya, Olli-Pekka Kallasvuo untuk melakukan perubahan yang lebih cepat. Kallasvuo menjawab tegas tuntutan direksi: “Dukung saya, atau pecat saya sekarang juga”. Seperti umumnya perusahaan: Direksi menang. Kallasvuo angkat koper dari Nokia.

Kallasvuo digantikan oleh Stephen Elop, orang Kanada yang merupakan mantan Kepala divisi Office Microsoft. Elop akrab dengan Nokia karena pernah bernegosiasi untuk menghadirkan aplikasi Office di ponsel Nokia. Hadir di Nokia, Elop menghadapi segudang PR. Yang utama, Direksi menuntutnya untuk dapat mengambil alih pangsa Ponsel kelas atas dari iPhone. Sejatinya Nokia punya modal untuk itu. Mereka unggul dalam teknologi mobile untuk kamera dan audio.

 

Microsoft Merangkul Nokia

via My Nokia Blog

Saat menganalisis situasi Nokia, Elop mengambil kesimpulan yang mengejutkan. Dia menyimpulkan bahwa Symbian adalah zombie! Symbian tidak akan menarik cukup banyak developer untuk menyaingi iOS atau Android. Di masa yang akan datang, dia memprediksikan OS ini akan mati. Sebenarnya Nokia memiliki OS alternatif, yaitu MeeGo yang dikembangkan bersama dengan Intel. Namun Elop menganggap OS ini juga belum siap untuk menarik minat developer. Pada akhirnya hanya tersisa satu pilihan: Gunakan operating system pihak ketiga! Apple dan RIM pasti tidak akan mengizinkan perusahaan lain menggunakan OS-nya. Opsinya tinggal Google dan Microsoft.

Nokia berupaya membeli lisensi Windows Phone dari Microsoft untuk bisnis ponselnya, namun dengan harga yang jauh lebih murah dengan alasan ‘situasi’ (Google menawarkan Android secara gratis dan ini jelas kesempatan emas). Ballmer menyadari bahwa Nokia bermain dua kaki. Mereka pasti akan berusaha untuk merilis ponsel dengan OS milik Microsoft, lalu juga dengan Google, untuk membandingkan mana yang lebih mendapatkan traksi. Ballmer tidak menyukai cara semacam itu. Namun Elop mengancam Ballmer. Nilai saham Nokia jauh lebih tinggi, jika Nokia beralih ke Android, maka jelas Windows Phone akan habis.

Namun tim perunding milik Ballmer melihat kelemahan Nokia. Raksasa Finlandia ini kekurangan uang kas. Mereka kaya lisensi dan memiliki nilai saham yang tinggi, namun tidak punya uang tunai untuk menjalankan sebuah bisnis skala besar. Ini dijadikan andalan bagi Microsoft untuk melakukan perundingan dengan Nokia di London, 9 Februari 2011. Hasil perundingan: Windows Phone Nokia akan membangun ‘ekosistem ketiga’ di pasar ponsel bersanding dengan Apple dan Android. Saat ditanya wartawan kenapa dia tidak menyebut RIM, Elop dengan percaya diri menyatakan bahwa BlackBerry adalah masa lalu. Hanya tinggal menunggu waktu saja pangsa pasar mereka akan makin menyusut dan mati. Mungkin ini adalah satu dari sedikit hal yang benar terjadi dalam perkiraan Elop.

 

Perang Paten

via Gizmodo

Tak lama setelah iPhone diluncurkan ke pasar, Nokia mengajukan sejumlah kasus pelanggaran paten. Apple dituduh melanggar hak kekayaan intelektual Nokia dalam touch screen dan segudang unsur lain dalam penggunaan teknologi mobile. Paten milik Nokia seluruhnya terkait hardware dan pemrosesan. Apple menyerang balik dengan serangkaian paten dan klaimnya sendiri, sambil juga berupaya supaya paten Nokia dibatalkan karena tidak relevan atau bahkan tidak bisa dipatenkan. Juni 2011, diraih keputusan pengadilan bahwa Apple akan melakukan pembayaran dan royalti berkesinambungan, serta akan melakukan cross-patent dengan Nokia.

Jobs juga dengan cepat belajar dari situasi ini. Dia menggunakan hak paten untuk menyerang Android yang mulai ‘menjiplak’ iPhone. Misalnya elemen pinch to zoom dan interface Android yang menurutnya merupakan ‘jiplakan rendahan dari iPhone’. Kalimat Jobs yang terkenal dalam hal ini adalah: “Saya akan berjuang sampai titik darah penghabisan, dan saya akan menguras seluruh harta Apple sebesar USD 40 miliar di bank untuk meluruskan kesalahan ini.” Bahkan dalam biografinya yang ditulis Walter Isaacsson, Jobs menyatakan, “Saya akan menghancurkan Android, karena Android adalah produk curian. Saya siap meluncurkan perang termonuklir dalam hal ini!”

Sementara itu, Microsoft yang memiliki banyak paten perangkat lunak bersikap lebih kalem karena Google juga menanggapinya dengan ‘jinak’. Ponsel Android banyak yang menggunakan paten milik Microsoft dan akibatnya pada Oktober 2011, Microsoft menandatangai kesepakatan dengan 10 produsen Android yang harus membayar lisensi atas patennya. HTC harus membayar USD 5 per ponsel yang terjual, sementara itu Samsung harus membayar USD 8 per ponsel Android (meskipun ada juga yang menyatakan bahwa beban Samsung mencapai USD 15 per ponsel). Google menyebut tuntutan Microsoft tersebut sebagai ‘pemerasan’, namun mereka tak dapat berbuat apa-apa. Ini melahirkan sebuah situasi yang unik: Keuntungan per ponsel Android yang terjual untuk Microsoft lebih besar daripada keuntungan per ponsel Android yang terjual bagi Google. Kita tahu sebabnya: Google banyak menggratiskan teknologinya dan hanya mencari keuntungan dari iklan dan search engine di setiap ponsel Android, sementara Microsoft sekali lagi berhasil membuktikan diri sebagai perusahaan yang rakus dalam hal mencari untung.


Perang Smartphone akhirnya mendekati fase matang, sedihnya: Tidak banyak OS yang tersisa. Ikuti selanjutnya Kisah Silicon Valley #25: Perang Smartphone – Dua Kuda Balap Tersisa.

 

Referensi

Arthur, Charles. (2013). Digital Wars – Apple, Google, Microsoft, dan Pertempuran Meraih Kekuasaan atas Internet. PT. Elex Media Komputindo

Savov, Vlad. (2010). Microsoft Celebrates Windows Phone 7 RTM with Funeral Parades for BlackBerry and iPhone. Engadget.

 

  Cara Mematikan Update Windows 10  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.

Penulis Winpoin yang paling sering minta dimaklumi kalau lagi lama nggak nulis | Dengan senang hati menjawab pertanyaan seputar Windows Phone lewat akun Twitter @kikisidharta