Banyak orang yang menyamakan tingkat ambisi Elon Musk seperti Steve Jobs dan Bill Gates. Steve Juvertson, investor Tesla yang mengenal Gates dengan baik dan pernah bekerja untuk Steve Jobs, menyatakan pendapatnya terkait perbandingan ini, “Elon memiliki apresiasi mendalam terhadap teknologi, sikap sebagai seorang visioner, dan determinasi untuk mengejar sesuatu dalam jangka panjang – seperti halnya yang dimiliki oleh Jobs dan Gates. Dia memiliki kepekaan terhadap citarasa konsumen seperti halnya Jobs, namun memiliki kemampuan untuk mempekerjakan orang-orang terbaik di area yang menjadikan dia nyaman seperti Bill. Anda akan merasa bahwa jika Bill dan Steve memiliki anak dari persilangan genetika, maka dia adalah Elon Musk. Seperti Jobs, Elon tidak punya toleransi untuk pemain kelas C atau D. Tapi dia lebih ramah daripada Jobs, dan lebih cepat dalam melakukan perbaikan dibandingkan Bill Gates.”

Meskipun demikian, ada satu hal yang membedakan motif Elon dibandingkan kedua tokoh Silicon Valley tersebut. Elon jelas menyukai uang. Namun terlihat dari semua keputusannya, bahwa uang ini merupakan sarana yang dia manfaatkan untuk mencapai sebuah tujuan yang lebih besar, lebih daripada menjual barang kepada konsumen. Dia ingin merevolusi dunia!

 

Mainan Baru Elon Musk: SolarCity

Rive bersaudara tumbuh di Afrika Selatan, sama halnya dengan sepupu mereka, Elon Musk. Mereka juga berbagi impian yang sama dengan sang sepupu untuk menjadikan bumi ini lebih baik. Pada tahun 2004, Lyndon, Peter, dan Russ Rive sering bepergian bersama Elon ke Black Rock, sebuah padang pasir ternama di Amerika Utara. Mereka menikmati berkemah bersama sambil melakukan ‘brainstorming’ untuk penelitian teknologi atau bisnis mereka selanjutnya. Elon mengetahui bahwa sepupu-sepupunya ini memiliki tujuan yang besar, namun dia tidak pernah mendorong mereka untuk membahasnya. Dia ingin agar mereka berupaya dengan maksimal terlebih dahulu dengan visi-visinya. Saat berada di padang pasir dengan sinar matahari yang menyengat bersama lautan pasir, Lyndon mencetuskan ide bahwa dengan panas seperti ini seharusnya daerah ini bisa diubah menjadi kota dengan sinar matahari sebagai sumber daya.

Rive bersaudara akhirnya memutuskan untuk menjadi ahli di bidang industri panel solar atau energi matahari. Mereka mempelajari bidang ini dan rajin mengikuti acara konferensi Solar Power International. Mereka bukan saja ingin menjadi ahli di bidang energi sinar matahari, namun lebih dari itu mereka ingin berbisnis di bidang panel surya.

Di masa itu, tidaklah mudah untuk mendapatkan panel surya untuk rumah. Konsumen harus proaktif mencari panel surya dan meminta seseorang untuk memasangkannya. Ide dari Rive bersaudara adalah menjadikan prosedur ini lebih mudah, sehingga orang akan gampang menyediakan panel surya untuk kebutuhan rumah tangga. Pada tahun 2006, mereka kemudian mendirikan perusahaan yang diberi nama: SolarCity. Tidak mau bersusah payah mendirikan manufaktur panel surya, SolarCity justru membeli banyak panel surya dari produsen untuk kemudian dirakit dan ditawarkan kepada konsumen, dengan software dari mereka sendiri. Enam tahun kemudian, SolarCity menjadi perusahaan ‘tukang pasang’ panel surya terbesar di AS!

Dari mana dana awal untuk melakukan pembelian produk panel surya tersebut? Tidak mengherankan, dana terbesar mereka mengalir dari sepupunya sendiri, Elon Musk, yang memutuskan untuk menjadi investor utama perusahaan tersebut karena visinya untuk menciptakan energi yang ramah lingkungan. Elon sependapat bahwa untuk saat ini, energi matahari adalah yang paling sesuai untuk membantu bumi yang sudah terlalu lama mengeksploitasi bahan bakar migas. Elon bahkan membiayai penelitian untuk menjadikan pemanfaatan energi surya semakin efektif.

Pada tahun 2014, SolarCity mengakuisisi pembuat panel surya bernama Silevo sebesar USD200 juta. Bisa ditebak, Elon berada di balik pembelian ini. Dialah yang bernegosiasi langsung dengan Silevo setelah mendengar kabar bahwa sel baterai buatan Silevo 18,5 persen lebih efisien dalam mengubah cahaya menjadi energi. Dengan mengakuisisi Silevo, SolarCity mampu memproduksi panel surya sendiri dan ini tentu saja menjadikan perusahaan ini semakin kuat. Pada akhir 2015, tercatat bahwa SolarCity memasang solar panel yang menghasilkan daya hingga 2 gigawatt di seluruh Amerika Serikat.

 

Sistem Transportasi Sekejap

via nbc news

Pada tahun 2012, Elon benar-benar menjadi daya tarik Silicon Valley berkat ketiga perusahaan sukses yang dibidaninya: SpaceX, Tesla, dan SolarCity. Ketiganya masuk masa ‘panen’ sehingga Elon tinggal menikmati profit yang dihasilkan ketiga perusahaannya tersebut. Roket-roket yang diluncurkan oleh SpaceX, bahkan bantuan yang diberikannya kepada NASA membuktikan bahwa Elon Musk bukan pengusaha sembarangan. Dia mampu menyelesaikan tugas yang palingsulit sehingga orang-orang ramai ikut serta memberikan investasi ketika Elon Musk memulai sebuah proyek atau memberi perhatian terhadap perusahaan tertentu. Dan seperti biasa, Elon yang tidak pernah puas, kembali mencetuskan sesuatu yang menarik. Kali ini dia menjelaskan idenya mengenai sistem transportasi futuristik di masa depan yang dapat mengirimkan manusia melalui tabung berkecepatan ratusan mil per jam melalui jalur sebuah lorong panjang. Elon menyebut kendaraan transportasi massal ini sebagai Hyperloop.

Sistem Hyperloop ini dikerjakan oleh SpaceX. Elon memanfaatkan ilmuwan-ilmuwan jenius di SpaceX untuk melakukan penelitian untuk keperluan produksi Hyperloop. Masalah baru timbul: Siapa yang harus membuat infrastruktur untuk sistem Hyperloop ini? Tidak ada perusahaan di AS yang cukup gila untuk mengikuti visi Elon dalam mengembangkan sebuah terowongan bagi Hyperloop ini. Apa yang dilakukan Elon? Seperti biasa, tidak dapat menemukan perusahaan yang bersedia bekerjasama dengannya, Elon mendirikan perusahaan konstruksi yang tujuannya untuk membangun terowongan bagi Hyperloop. Nama perusahaan ini cukup unik: Boring Company

Proyek Boring Company saat ini adalah membangun terowongan hyperloop dari Washington D.C ke New York. Entah bagaimana caranya, Elon berhasil meyakinkan para pemangku kekuasaan kedua negara bagian untuk memungkinkan proyeknya ini berhasil. Jika Hyperloop berhasil diselesaikan, maka orang bisa menempuh jarak dari Washington ke New York hanya dalam setengah jam!

 

Baterai Terbesar di Dunia

via reneweconomy

Tidak dapat disangkal bahwa Elon adalah salah satu orang paling sibuk di dunia. Karena itu aktifnya Elon di medsos adalah sebuah anomali yang unik. Bukan sekedar twit omong kosong, suatu hari pendiri Atlassian Software, Mike Cannon-Brookes ‘menantang’ Elon untuk membuatkan baterai bagi Australia Selatan yang kekurangan energi bersih. Elon menjanjikan bahwa baterai sebesar 100 MW ini akan siap dalam 100 hari untuk dikirimkan kepada pemerintah Australia Selatan. Area tersebut mengalami kesulitan energi setelah badai petir menghantam Queensland dan New South Wales, sehingga banyak sumber listrik yang mati dan tidak dapat mengalirkan daya listrik.

Berawal dari twit yang terkesan omong kosong itu, Pemerintah Australia kini memiliki baterai terbesar di dunia yang dapat menghadirkan daya hingga 2500 megawatt untuk wilayah Australia Selatan. Ini merupakan kapasitas daya yang cukup untuk lebih dari 30.000 rumah!

Tesla sendiri memanfaatkan tindak amal tersebut sebagai promosi. “Selesainya baterai lithium-ion terbesar di dunia ini dalam jangka waktu yang singkat menunjukkan bahwa solusi energi yang efektif dan berkelanjutan sangatlah memungkinkan!


Elon Musk hingga sekarang masih melanjutkan ‘hidup di dalam mimpi-mimpi’-nya. Namun bedanya, dia bukan seseorang yang sekedar bermimpi. Dia mewujudkannya. Perusahaan-perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah merupakan perwujudan visi dan kecintaannya terhadap upaya untuk menemukan energi bersih dan kemungkinan untuk menjelajahi antariksa di masa mendatang!

 

 

Referensi

Loudenback, Tanza. (2018). Elon Musk is worth about $23 billion and has never taken a paycheck from Tesla — here’s how the notorious workaholic and father of 5 makes and spends his fortune. Business Insider.

Vance, Ashlee. (2017). Elon Musk, Tesla, SpaceX and the Quest for a Fantastic Future

Weinberger, Matt. (2017). The incredible story of Elon Musk, from getting bullied in school to the most interesting man in tech. Business Insider

  Emang Bener Kameranya Bagus..??  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.