
Jika belakangan ini kamu merasa bahwa harga laptop dan PC terus naik, ternyata dampaknya bukan hanya dirasakan pembeli saja guys, karena pedagang komputer juga mulai mengeluhkan penjualan yang semakin lesu karena banyak konsumen menunda pembelian.
Nah jadi, akhir akhir ini saya mencoba mencari perangkat baru untuk menggantikan Asus K401UQK yang saya biasa pakai, bukan karena laptop ini sudah tidak layak pakai, namun saya rasa performanya jauh dibawah apa yang saya butuhkan, terutama dalam hal multitasking, meskipun RAM cukup, tapi CPU terasa berat dan usage selalu 100% ketika membuka beberapa aplikasi.
Ketika main ke salah satu Mall yang biasa jualan perangkat PC dan Laptop di Kota Bandung, rasanya toko toko yang dulu ramai pembeli kini terasa sepi, bahkan beberapa toko juga sudah mulai tutup, apakah ini karena memang kondisi ekonomi yang sedang tidak baik baik saja?
Bahkan berdasarkan laporan CNBC Indonesia, sejumlah penjual komputer mengaku penjualan laptop kini jauh lebih sulit dibandingkan beberapa waktu lalu. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih ditambah harga perangkat yang terus meningkat membuat daya beli masyarakat ikut melemah.
Tapi Kenapa?
Jadi, sebenarnya fenomena ini cukup mudah untuk kita pahami, apalagi jika kamu sering membaca artikel artikel teknologi mengingat dalam beberapa bulan terakhir ini, industri PC memang sedang menghadapi kenaikan biaya produksi akibat harga komponen yang melonjak, terutama memori (RAM) dan storage.
Baca Juga : Dampak AI, Harga Laptop Bisa Naik Hingga 40%
Belum lagi lagi krisis pasokan memori yang dipicu tingginya kebutuhan industri AI membuat harga DDR4, DDR5, hingga SSD terus mengalami kenaikan. Akibatnya produsen mau tidak mau harus menaikkan harga jual laptop maupun PC.
Bagi pedagang komputer, kondisi ini tentu bukan kabar baik, karena laptop atau PC merupakan produk dengan nilai transaksi yang cukup besar. Dan ketika harga naik hingga puluhan persen, keputusan membeli menjadi jauh lebih lama, sehingga banyak calon pembeli akhirnya hanya datang untuk melihat-lihat atau membandingkan harga, lalu menunda pembelian sampai kondisi pasar membaik.
Di sisi lain, stok yang sudah dibeli distributor dengan harga tinggi juga membuat ruang untuk memberikan diskon menjadi semakin sempit.
Bukan Hanya di Indonesia
Nah sebelum kita menyalahkan pemerintah, perlu diingat bahwa fenomena ini ternyata juga terlihat secara global karena menurut data Omdia, pengiriman PC dunia pada kuartal kedua 2026 turun sekitar 3,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Salah satu penyebab utamanya adalah lonjakan harga komponen seperti memori dan storage yang membuat harga perangkat ikut meningkat
Selain itu IDC juga mengingatkan bahwa kenaikan harga komponen sempat mendorong pembelian lebih awal pada awal tahun, sehingga permintaan pada paruh kedua 2026 diperkirakan akan melambat.
Nah Kapan Harga Akan Normal?
Sayangnya belum ada jawaban pasti dalam waktu dekat, bahkan kabarnya Harga RAM DDR4 Diprediksi Naik 50%! hingga tahun 2028.
Jadi pertanyaannya, apakah saya jadi membeli laptop baru?, jawabannya tidak, setidaknya untuk sekarang karena ternyata laptop incaran saya harganya malah naik bahkan hingga 2 juta dibandingkan pertengahan tahun 2025 lalu. Atau saya harus melirik pasar second? saran laptop second bagus yang badak guys.
Nah apakah kamu berencana upgrade perangkat dalam waktu dekat? komen dibawah guys.
Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya bergantung pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berkualitas secara gratis — jadi jika kamu menikmati artikel dan panduan di situs ini, mohon whitelist halaman ini di AdBlock kamu sebagai bentuk dukungan agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui dukungan di Saweria. Terima kasih.
