Lumia 535

Untuk kamu yang rajin mengikuti anime musiman, mungkin tidak asing dengan Charlotte yang sedang tayang musim ini. Sedikit overhype karena berasal dari rumah produksi yang sama dengan Angel Beats yang sempat populer dua tahun yang lalu, Charlotte mengisahkan tentang remaja-remaja dengan kekuatan supernatural yang konon akan hilang setelah mereka dewasa. Oke, karena di sudut sana pimpinan Winpoin sudah teriak protes karena ini portal Windows dan Windows Phone, bukan anime – kita langsung saja ke intinya. Salah satu karakter di serial yang sedang naik tayang ini, Joujirou Takajou, benar-benar mengingatkan saya pada Lumia 535. Tampil seperti pemuda polos yang biasa-biasa saja, cowok ini memiliki kekuatan bergerak dengan kecepatan tinggi. Keren? Oke, kekuatan ini ada cacatnya, yaitu dia tidak bisa berhenti sesuai keinginan – sehingga si kacamata ini harus berakhir babak belur karena menabrak sesuatu, jatuh, atau nyungsep kemana-mana. Familiar sekali bukan, dengan sebuah smartphone yang kadang susah membedakan kita ingin menggulir atau melakukan tap, mengetuk sekali atau dua kali?

Sekedar itu saja? Jika kamu mengikuti show ini, kamu pasti juga tahu bahwa Takajou memiliki tubuh kekar dan daya tahan yang luar biasa, seakan tak bisa mati. Lumia 535? Izinkan saya menceritakan pengalaman saya dengan device pertama yang berlabel Microsoft ini.

 

Lumia 535

Untuk teman-teman Winpoin yang sudah lama mengenal saya, pasti tahu saya hobi gonta-ganti perangkat (dan semuanya Windows Phone). Jadi beberapa bulan lalu saya memutuskan untuk menggunakan lagi Lumia 535 yang sempat lama ‘digudangkan’ karena saya tidak tahan oleh masalah layar over-sensitif yang menjadikannya tidak nyaman digunakan. Salah seorang sobat kru Winpoin, Ambrizal, membocorkan info dari Microsoft bahwa sebenarnya masalah layar ini dapat diatasi dengan melakukan klaim perbaikan ke MS Store. Namun saat itu Nokia Care Center lokal di kota saya (Malang), tengah dalam masa transisi (pergantian dari Nokia ke Microsoft) sehingga tidak menerima perbaikan atau klaim garansi apa pun. Terpaksa saya menunggu transisi selesai.

Malang nian nasib saya (sudah tinggalnya di Kota Malang, nasibnya malang lagi)… Ketika saya tengah asyik mengendarai motor menuju ke sebuah event bunkasai salah satu SMA di Malang, Lumia 535 kesayangan menyembul keluar dari saku jaket, lalu jatuh di tengah jalan raya yang padat. Waktu itu saya langsung menyadari perangkat saya jatuh karena sedang asyik mendengarkan musik dari earset (bahkan saya masih ingat jelas bahwa saat itu Xbox music sedang memutar Oracion yang dinyanyikan si imut Ai Kayano)!

Upaya saya yang langsung melompat turun untuk menyelamatkan ponsel debut Microsoft ini gagal. Di depan mata saya harus menyaksikan dua buah mobil melindas perangkat kesayangan saya ini – bahkan saya gagal menyetop satu motor yang ikut menggoreskan alur bannya ke back cover Lumia yang terbaring menelungkup di atas aspal!

Lumia 535

Ketika berhasil mengambil Lumia 535 saya, yang tersisa hanyalah nyala lemah (iya, itu masih kondisi nyala! Hanya saja sudah tidak merespon ‘sentuhan’ sama sekali) dan bagian ‘wajah’ yang hancur lebur. Saya bergegas menuju NCC, namun permintaan saya untuk memperbaiki perangkat tersebut tetap ditolak, sedangkan semua tempat servis yang saya datangi semua menyatakan tidak memiliki stok hardware untuk Lumia 535.

Saya terpaksa menunggu dalam jangka waktu yang tak tentu. Sebagai pengganti, karena perangkat favorit saya yang lain, Lumia 820 juga mengalami kerusakan layar, maka saya menggunakan Lumia 532, yang cukup mengasyikkan juga.

Tumbuh harapan baru ketika beberapa bulan kemudian, saya menerima SMS dari Nokia Care Center (sepertinya langganan lama mendapatkan SMS ini).

Lumia 535

Salut untuk pelayanan Nokia yang sampai bersedia memberikan info ketika service center mereka mulai bekerja kembali! Saya pun bergegas menghela motor tua saya menuju Nokia Care Center Malang. Setelah pemeriksaan beberapa saat, Lumia 535 saya hanya divonis…. ganti layar! Saya sempat melongo karena saya menyaksikan sendiri bagaimana perangkat ini dianiaya oleh dua monster beroda empat ditambah sebuah motor biadab yang secara literal melindas, menggencet, dan meremukkan perangkat saya di atas aspal panas! Meskipun sedikit tak yakin bahwa tidak ada kerusakan lain, saya mempercayakan perangkat saya kepada Nokia Care Center – dalam hati saya sudah siap mental jika ada kerusakan lainnya.

Lumia 535

Butuh waktu lebih dari sebulan, namun pada akhirnya, Lumia 535 yang saya titipkan ke Nokia Care Center dapat diambil kembali!

Lumia 535

Pada saat mengambil ponsel saya yang usai menjalani ‘perawatan’, ekspektasi saya tidak begitu tinggi. Dalam hati saya ragu, benarkah sebuah device yang sudah diinjak-injak monster-monster dengan berat di atas 500-an kilo tidak akan mengalami masalah lain? Namun keraguan itu sirna setelah dua hari pertama menggunakan kembali smartphone ini!

Semua fungsi normal, saya dapat menelepon, mengirim SMS, mengakses internet, bermain game, memutar musik tanpa ada penurunan kualitas suara dibandingkan dengan sebelumnya. Bahkan saya mendapatkan bonus yang mengejutkan: permasalahan layar yang cenderung terlalu sensitif hilang! Iya.. Hilang-lang! Disappear.. Gone.. Vanished.. Tanpa jejak.. Sampai saya lupa rasanya melakukan scroll lalu tak sengaja masuk aplikasi tertentu!

 

Kesimpulan

Dari cerita saya yang ngalor ngidul nggak jelas di atas (bahkan mungkin bakal banyak pembaca Winpoin yang langsung menuju bagian “kesimpulan” karena malas membaca dongeng saya), ada dua kesimpulan yang dapat saya tarik.

Pertama, build quality ala Nokia (yang sekarang dibeli Microsoft) bukan pepesan kosong belaka. Lumia 535 saya adalah saksinya! Balik ke anime Charlotte yang saya jadikan prolog, ini mengingatkan saya pada Takajou yang memiliki ketahanan tubuh luar biasa sehingga tetap sehat (atau cepat sembuh) meskipun menghantam tembok atau jatuh dari lantai tiga gedung sekolah.

Kedua, ini yang penting, semakin jelas bahwa masalah touch yang menjadikan pengguna Lumia 535 di seluruh dunia mengamuk bukanlah kesalahan software! Ini jelas merupakan masalah hardware! Beberapa portal diskusi Windows Phone memang mencurigai ini dikarenakan kurang sinkronnya komponen layar Lumia 535. Terbukti bahwa setelah mengalami penggantian hardware (layar), Lumia 535 tak pernah mengalami masalah lagi! Lebih dahsyat lagi, saya bisa bermain game atau mengetik pesan teks dengan akurat dalam kondisi HP tertancap charger, teman-teman pengguna Lumia 535 tahu bahwa ini adalah hal yang nyaris mustahil dilakukan!

Dari pengalaman saya, solusi apa yang bisa dilakukan? Saya tidak ingin memprovokasi, tapi mungkin teman-teman dapat meminta penggantian layar seperti yang saya lakukan. Kalau Nokia Care menolak klaim garansi terkait hal ini, mungkin teman-teman bisa sedikit ‘memecah celengan’ dan merelakan sekitar Rp 700.000 untuk membeli layar baru dari Nokia Care. Jujur saya tidak berani memastikan bahwa ini akan ‘menyehatkan’ layar Lumia 535 teman-teman, tapi berkaca pada pengalaman saya sendiri, it works!

Demikian sedikit share pengalaman dari saya, semoga teman-teman dapat mengambil hikmah yang paling utama yaitu: Nao itu imut banget! *kabur disambit pembaca se-Winpoin*

Nao

 

 

 

 

  Review Zoom H1  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.