Ke mana saja kita melangkah, sepanjang kita membawa smartphone atau perangkat komputasi, iklan seakan mengikuti kita. Lebih parah lagi, iklan-iklan ini seakan tahu apa yang kita inginkan. Kadang-kadang bahkan rasanya kita baru saja berniat untuk beli smartphone baru, tiba-tiba halaman Facebook kita lewat sisipan iklan smartphone idaman. Kebetulan? Sebagian besar ini terjadi karena kehebatan dua raksasa iklan Silicon Valley, Google dan Facebook dalam ‘menambang’ aktivitas pribadi kita secara online, sehingga mereka seakan dapat memperkirakan apa yang akan kita pikirkan selanjutnya untuk sasaran target iklan!

Menurut Tristan Harris, mantan penilai etika desain di Google dan co-founder Center for Humane Technology, perusahaan-perusahaan ini bukan hanya semakin baik dalam memprediksikan langkah kita selanjutnya, tapi juga cukup memahami kita untuk membantu algoritme yang mereka buat tiba pada kesimpulan yang sama. Kesimpulan ini diperoleh dari pengalaman online masa lalu atau dengan melakukan ekstrapolasi terhadap pola perilaku konsumen, bahkan sebelum kita menginginkan sesuatu yang spesifik.

Tahun 2018 yang lalu, Facebook dan Google mengizinkan penggunanya untuk mendownload data yang telah mereka kumpulkan berdasarkan aktivitas online pengguna. Dari situ terungkap betapa lengkap dan detailnya kedua perusahaan ini dalam upaya memantau aktivitas penggunanya. Facebook dan Google dapat mengetahui di mana kamu berada (berdasarkan lokasi login), berapa lama kamu menempuh perjalanan, dan banyak detail data lainnya yang memang kemudian dimanfaatkan untuk menyempurnakan algoritme yang ujung-ujungnya adalah untuk menciptakan penargetan iklan setepat mungkin!

Di satu sisi, ini merupakan pencapaian yang menakjubkan. Akan tetapi saat platform media sosial seperti Facebook dan YouTube kemudian menjadi alat untuk penyebaran pesan kekerasan di negara-negara berkembang, serta menjadi alat bagi ekstremis yang ingin memopulerkan aksi terornya, maka algoritme ini bakal menjadi alat yang berbahaya. Contoh nyatanya, algoritme YouTube dan Facebook akan mempromosikan konten-konten yang cenderung disukai orang-orang tersebut, sehingga malah menjadikan mereka semakin terpapar oleh pengaruh kekerasan dari sumber-sumber online.

Sayangnya, hal ini sulit dihindari karena model bisnis perusahaan-perusahaan itu sendiri. Saham Google dan Facebook bergantung pada seberapa akurat prediksi yang mereka buat untuk dimanfaatkan sebagai penargetan iklan yang spesifik. Ini mendorong kedua raksasa Silicon Valley ini semakin meningkatkan teknologi tracking miliknya untuk mampu melacak dan merekam preferensi seseorang secara spesifik.

Ancaman platform internet terhadap privasi individu memang merupakan sesuatu yang nyata. Akan tetapi pada akhirnya, bergantung pada keputusan pengguna juga, apakah bersedia menerima konsekuensi ini. Penegak hukum di seluruh dunia juga sudah berusaha untuk semakin meningkatkan perangkat peraturan yang ditujukan untuk menjaga privasi seseorang dari paparan online.

Sumber: TheNextWeb

  Duel Klasik VIVO vs OPPO..!  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.