Beberapa hari lalu saya sempat membahas mengenai bug yang saya temukan ketika menggunakan Microsoft Edge di elementary OS,
Baca Juga : Microsoft Edge dan Dock elementary OS Tidak Sinkron? Ini yang Saya Temukan
Nah saya mengira masalah tersebut hanya bug kecil yang bisa saya abaikan, bahkan saya sempat mencoba berbagai cara untuk memperbaikinya, mulai dari mengecek WM_CLASS, memperbaiki launcher .desktop, menambahkan StartupWMClass, hingga membuat script otomatis agar Dock Pantheon bisa mengenali Edge dengan benar.
Sayangnya, masalahnya ternyata tidak berhenti sampai di situ, masih ada glitch pada window control, ada bug pada Vertical Tabs yang bertabrakan dengan indikator workspace, dan beberapa hal kecil lain yang mungkin terdengar sepele, tetapi cukup mengganggu jika digunakan setiap hari.
Karena itulah, akhirnya saya memutuskan sesuatu yang cukup sederhana, saya kembali ke Firefox.
Bukan Karena Firefox Lebih Cepat
Nah keputusan ini sebenarnya bukan karena Firefox lebih cepat, bukan juga karena Edge jelek, namun justru sebaliknya, jika kita bicara fitur, Microsoft Edge menurut saya masih menjadi salah satu browser Chromium terbaik saat ini, sinkronisasi akun Microsoft berjalan sangat baik, Workspace sangat berguna dan Vertical Tabs juga masih menjadi fitur favorit saya.
Tetapi semua kelebihan itu menjadi kurang berarti ketika browser tersebut tidak mampu berintegrasi dengan desktop environment yang saya gunakan dan di Linux, integrasi seperti ini justru sangat penting.
Dan disinilah alasan kenapa saya memilih Firefox, karena di elementary OS hampir semuanya langsung bekerja sebagaimana mestinya, ikon di Dock tampil normal, window control terlihat rapi, tidak ada launcher ganda, tidak ada glitch pada workspace, dan saya juga tidak perlu lagi memperbaiki launcher atau konfigurasi secara manual.
Jujur saja, pengalaman seperti inilah yang akhirnya membuat saya lebih nyaman menggunakan Firefox, karena semuanya langsung berjalan sebagaimana yang diharapkan tanpa harus terus-menerus berurusan dengan bug kecil setiap hari.

Selain itu, polling kemarin membantu saya mengambil keputusan karena saya mendpatkan cukup banyak masukan, ada yang menyarankan Firefox, banyak juga yang merekomendasikan Brave, bahkan tidak sedikit pula yang mengajak mencoba Zen Browser, Floorp, bahkan browser-browser yang sebelumnya belum pernah saya lirik.

Dan setelah membaca berbagai komentar dan mencoba beberapa browser tersebut selama beberapa hari, akhirnya saya memutuskan untuk kembali menggunakan Firefox sebagai browser utama.
Akhirnya Saya Hapus Total Microsoft Edge di Linux
Karena sudah memutuskan untuk berpindah ke Firefox, akhirnya saya memilih untuk menghapus Microsoft Edge sepenuhnya dari sistem. Dan bukan hanya menghapus aplikasinya, tetapi juga membersihkan seluruh konfigurasi, launcher, cache, repository, hingga key Microsoft yang sebelumnya terpasang di sistem.

Tapi apakah saya akan kembali menggunakan Edge di Linux ini?, jawabannya kemungkinan iya, kenapa? saya tetap suka Microsoft Edge, karena memang integrasinya yang sangat baik, dan fitur Memory Saver nya yang cukup saya suka dan jika suatu saat Microsoft memperbaiki berbagai bug tersebut, bukan tidak mungkin saya akan kembali menggunakannya dan bahkan di Windows 11 saya masih menggunakan Edge sebagai browser utama.
Di Windows browser utama Edge > Firefox dan Zen sebagai browser kedua, sementara di elementary OS ini, Firefox jadi yang utama dan Zen sebagai browser kedua.
Kenapa saya tidak melirik Chrome?, entah kenapa ya, jika dibandingkan dengan browser lain, Chrome masih boros memory, jadi saya sudah tidak pakai browser tersebut lagi. Dan dari hasil polling kemarin, ada satu browser yang menarik untuk saya coba, Brave Origin, mungkin nanti saya coba.
Pada akhirnya, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk teman-teman pembaca WinPoin yang sudah meluangkan waktu mengisi polling, memberikan komentar, berbagi pengalaman, hingga merekomendasikan berbagai browser Linux.
Jujur saja, artikel polling tersebut awalnya saya buat karena memang sedang bingung menentukan browser utama, dan tidak menyangka respons yang diberikan begitu banyak serta sangat membantu saya mengambil keputusan, dan mungkin beberapa waktu ke depan saya juga akan mencoba browser-browser lain yang direkomendasikan, termasuk Brave, Floorp, maupun browser menarik lainnya.
Jadi kalau nanti ada review atau pengalaman baru, tentu akan saya bagikan lagi di WinPoin
Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya bergantung pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berkualitas secara gratis — jadi jika kamu menikmati artikel dan panduan di situs ini, mohon whitelist halaman ini di AdBlock kamu sebagai bentuk dukungan agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui dukungan di Saweria. Terima kasih.
