Flathub Ternyata Tidak Berlebihan! 73% Aplikasi AI yang Ditolak Kini Sudah Mati

Sedikit kita bahas terkait ekosistem Linux lagi, jadi beberapa waktu lalu, Flathub membuat keputusan yang cukup kontroversial dengan menolak aplikasi yang dianggap terlalu bergantung pada AI atau yang sering disebut sebagai “AI slop”.

Nah keputusan tersebut tentu menuai perdebatan, ada yang menganggap Flathub terlalu keras dan menghambat inovasi, sementara yang lain menilai langkah tersebut memang diperlukan demi menjaga kualitas aplikasi Linux.

Dan menariknya, data terbaru justru menunjukan bahwa keputusan Flathub tersebut mungkin memang sudah tepat sejak awal, kenapa? nah mari kita bahas.

Mayoritas Aplikasi AI Ternyata Sudah Ditinggalkan

TONTON JUGA:

Jadi kawan kawan, baru baru ini Developer Linux sekaligus pembuat aplikasi Tuba dan Turntable, Evangelos Paterakis, mencoba menelusuri nasib aplikasi-aplikasi yang sebelumnya ditolak Flathub karena terlalu banyak menggunakan kode hasil AI.

Dan hasilnya cukup mengejutkan, dari 120 Repository aplikasi yang ditolak, hanya 32 yang masih aktif dan 88 sudah ditinggalkan. Nah berarti, mayoritas aplikasi yang sempat diperdebatkan kemarin ternyata hanya hidup beberapa bulan sebelum akhirnya ditinggalkan begitu saja. Cukup ironis bukan?

Menariknya, Paterakis juga mengakui bahwa penelitiannya bukan penelitian ilmiah yang sangat ketat, namun angka tersebut tetap memberikan gambaran bahwa project AI yang muncul ternyata tidak memiliki komitmen jangka panjang.

Padahal, sebelumnya ada anggapan bahwa Flathub sedang “menghalangi masa depan” Linux dengan melarang aplikasi hasil AI dan yang terjadi justru sebaliknya, karena sebagian besar aplikasi tersebut bahkan tidak sempat berkembang menjadi proyek yang benar-benar dipelihara.

Masalah Utamanya Bukan AI, Tapi Maintainer

Jadi, Flathub sendiri sebenarnya sejak awal tidak mengatakan bahwa aplikasi AI pasti buruk, masalah utamanya justru ada pada proses review, karena banyak developer hanya meminta AI menghasilkan ribuan baris kode tanpa benar-benar memahami isinya, akhirnya para reviewer Flathub harus memeriksa kode yang bahkan pembuatnya sendiri belum tentu mengerti.

Dan yang lebih parah lagi, ketika reviewer meminta perbaikan, sebagian developer hanya kembali bertanya ke AI dan mengirimkan hasil baru tanpa benar benar memperbaiki akar masalahnya, akibatnya, proses review menjadi jauh lebih berat bagi para sukarelawan yang menjaga kualitas Flathub.

Vibe Coding Memang Menyenangkan Namun Banyak Yang Lupa Hal Ini…

Nah saat ini tentu istilah Vibe coding memang semakin populer, dengan bantuan AI, bahkan orang yang tidak mengerti teknologi pun bisa membuat aplikasi hanya bermodalkan ide dan beberapa prompt saja.

Namun sayangnya, banyak yang tidak sadar bahwa membuat aplikasi hanyalah langkah pertama, yang jauh lebih sulit jelas adalah memperbaiki bug, menambahkan fitur baru, menjaga kompatibilitas, menjawab laporan pengguna dan merawat project selama bertahun tahun.

Dari sanalah banyak project AI mulai berguguran, memang benar, AI bisa membantu banyak hal termasuk hal yang saya bahas sebelumnya, namun tanpa ada fundamental yang kuat, project bisa berakhir ditengah jalan dan hanya sebatas jadi saja.

Selain itu, ada hal menarik lain juga disampaikan oleh Thom Holwerda dari OSNews, menurutnya, jika AI benar-benar membuat developer bisa lebih fokus pada inovasi seperti yang selama ini dipromosikan, seharusnya kita sudah mulai melihat banyak aplikasi Linux yang benar-benar revolusioner.

Namun kenyataannya, sebagian besar aplikasi AI yang bermunculan masih berkutat pada hal-hal sederhana seperti Pomodoro timer, Aplikasi catatan, Chat AI wrapper, Music player dan Utility kecil.

Belum banyak aplikasi kompleks atau benar-benar inovatif yang lahir dari gelombang AI tersebut.

AI Tetap Hanyalah Alat

Nah tentu bukan berarti AI ini buruk, karena AI tetap menjadi alat yang sangat membantu, bahkan kini sudah menjadi bagian dari workflow banyak developer.

Namun data ini menunjukan satu hal yang cukup menarik, yaitu AI memang bisa membantu seseorang membuat aplikasi jauh lebih cepat, tetapi AI tidak bisa menggantikan komitmen untuk merawat sebuah proyek.

Karena pada akhirnya, kualitas software bukan hanya ditentukan dari seberapa cepat dia dibuat, namun juga seberapa lama ia dipelihara.

Nah bagaimana menurutmu mengenai hal ini? komen dibawah guys.

Via : Evangelos Paterakis,


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya bergantung pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berkualitas secara gratis — jadi jika kamu menikmati artikel dan panduan di situs ini, mohon whitelist halaman ini di AdBlock kamu sebagai bentuk dukungan agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui dukungan di Saweria. Terima kasih.

Gylang Satria

Tech writer yang sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux, dan Samsung S24. Punya pertanyaan atau butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

Post navigation