Kenapa Animasi Virtual Desktop Windows Tidak Semulus Linux dan macOS?

Sebagai pengguna Linux dan Windows, saya aktif menggunakan fitur yang namanya Virtual Destop atau Virtual Workspace, dimana setiap desktop bisa saya pisah untuk membuka beberapa aplikasi atau pekerjaan berbeda.

Nah membahas hal tersebut, meskipun memang selama beberapa tahun terakhir ini fitur Virtual Desktop di Windows 11 memang mengalami banyak peningkatan, namun masih banyak pengguna yang merasa animasi perpindahan desktop virtual di Windows belum semulus macOS ataupun distro Linux modern seperti GNOME dan KDE Plasma.

Jujur ini yang paling sering saya rasakan saat ini, ketika pindah dari ElementaryOS ke Windows, merasakan transisi pindah virtual desktop rasanya jomplang banget, di Windows itu laggy dan tidak semulus di Linux yang saya pakai.

TONTON JUGA:

Bahkan pada perangkat dengan spesifikasi tinggi dan refresh rate 144Hz sekalipun, perpindahan workspace di Windows terkadang masih terasa patah, kurang responsif, atau memiliki delay kecil yang cukup terasa. Tapi ini kenapa sih?

Virtual Desktop Windows itu Masih Baru

Nah banyak yang mungkin tidak sadar bahwa konsep virtual desktop di Windows itu sebenarnya adalah hal yang baru dan mulai serius dikembangkan di era Windows 10.

Berbeda dengan Linux dan Mac yang menjadikan workspace virtual sebagai bagian inti dari pengalaman desktop selama bertahun tahun, Microsoft memang cukup lambat menghadirkan fitur ini secara matang.

Imbasnya jelas, implementasi Virtual Desktop di Windows terasa seperti fitur tambahan di atas sistem lama, bukan bagian fundamental dari arsitektur desktop sejak awal.

Jadi, hal ini membuat animasi perpindahan desktop sering kali terasa kurang natural, tidak sepenuhnya real-time dan kadang seperti sekadar efek transisi biasa.

Masih Banyak Bawa Komponen Legacy

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, salah satu penyebab utama adalah karena Windows harus mempertahankan kompatibilitas dengan aplikasi lawas.

Jadi, sistem compositor Windows bernama Desktop Window Manager (DWM) harus menangani banyak jenis aplikasi sekaligus, mulai dari aplikasi Win 32 klasik, UWP, Electron, aplikasi Enterprise lama dan lainnya semua berjalan di satu sistem rendering yang sama.

Baca Juga : Tips Menggunakan Virtual Desktop Windows 10

Sementara itu, macOS memiliki ekosistem yang jauh lebih tertutup sehingga Apple bisa mengoptimalkan animasi secara menyeluruh antara hardware dan software. Untuk kasus Linux, desktop modern juga memiliki keuntungan karena desktop environment seperti GNOME atau KDE Plasma bisa fokus pada compositor tertentu tanpa terbebani kompatibilitas puluhan tahun seperti Windows.

Filosofi Yang Memang Berbeda

Jika dibandingkan Apple yang lebih fokus pada pengalaman premium dengan hardware yang sudah mereka kontrol sendiri, Microsoft lebih memprioritaskan stabilitas sistem, kompatibilitas aplikasi dan kebutuhan enterprises, mengingat Windows digunakan di jutaan kombinasi hardware berbeda, sehingga Microsoft harus memastikan sistem tetap stabil di perangkat low-end maupun high-end.

Nah oleh karena itulah transisi perpindahan antara Virtual Desktop di Windows itu lebih lambat dan terasa tidak sebagus Mac atau Linux, karena memang bagian ini bisa dibilang hanya fitur tambahan yang hadir mulai Windows 10 dan belum sepenuhnya menjadi fondasi utama pengalaman desktop seperti pada macOS maupun desktop Linux modern seperti GNOME, sehingga Microsoft masih harus menyesuaikan banyak komponen lama, kompatibilitas aplikasi, hingga sinkronisasi compositor yang membuat animasinya terkadang terasa kurang responsif, tidak terlalu fluid, dan memiliki latency kecil yang cukup terasa terutama bagi pengguna yang terbiasa memakai sistem dengan animasi workspace yang lebih modern.

Sejujurnya saya berharap bahwa fitur ini dikembangkan menjadi lebih baik, terutama transisi antar virtual desktop yang semoga saja bisa dibuat lebih mulus dan nyaman.

Tapi bagaimana menurutmu? komen dibawah guys.


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya bergantung pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berkualitas secara gratis — jadi jika kamu menikmati artikel dan panduan di situs ini, mohon whitelist halaman ini di AdBlock kamu sebagai bentuk dukungan agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui dukungan di Saweria. Terima kasih.

Gylang Satria

Tech writer yang sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux Ubuntu, dan Samsung S24. Punya pertanyaan atau butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

Post navigation