
Sebelumnya kita sudah membahas mengenai Project Zenith yang kabarnya akan menjadi sistem operasi Windows 11 khusus developer.
Baca Juga : Microsoft Perkenalkan Project Zenith, Windows 11 Khusus untuk Developer
Tapi, apakah itu benar-benar sebuah versi Windows 11 khusus? Dan apakah Project Zenith memang menawarkan sesuatu yang benar-benar baru untuk para developer?
Nah, ternyata jawabannya tidak sesederhana itu guys. Project Zenith memang ditujukan untuk developer, tetapi Microsoft menjelaskan bahwa ini bukan merupakan edisi atau SKU baru dari Windows 11, dimana bisa dibilang Project Zenith lebih tepat disebut sebagai pengalaman Windows yang telah dikonfigurasi khusus untuk perangkat kelas developer.
Bukan Windows 11 Versi Baru
Nah jadi, Project Zenith bukanlah Windows 11 Developer Edition seperti yang mungkin dibayangkan sebagian pengguna.
Microsoft tidak membuat versi Windows baru yang terpisah seperti Windows 11 Home atau Windows 11 Pro, namun sebaliknya Project Zenith merupakan Windows 11 yang sudah dikonfigurasi dengan sejumlah pengaturan dan tools yang dianggap sesuai untuk kebutuhan developer.
Microsoft menyebut pengalaman ini sebagai “ready-to-code” dan “distraction-free Windows experience”. Artinya, ketika pengguna mendapatkan perangkat Project Zenith, sejumlah tools dan pengaturan penting sudah tersedia sehingga developer dapat langsung mulai bekerja tanpa harus melakukan konfigurasi dari awal.
Namun tentu dong, justru itulah yang membuat banyak orang bertanya, termasuk saya sendiri, yaitu apa sih yang membuat project zenith ini berbeda?
Apa yang Membuat Project Zenith Berbeda?
Nah, jika dilihat lebih jauh, sebenarnya ada beberapa hal yang membedakan Project Zenith dengan Windows 11 biasa. Salah satunya tentu saja adalah sejumlah tools pengembangan yang sudah tersedia secara langsung.
Microsoft menyiapkan berbagai aplikasi dan tools yang cukup familiar bagi para developer, mulai dari Visual Studio Code, GitHub Copilot, PowerToys, hingga berbagai tools untuk kebutuhan terminal dan source control.
Selain itu, Microsoft juga sudah menyiapkan sejumlah bahasa pemrograman dan runtime, seperti Python 3.14+, uv, NVM, Node 24+, WSL 2 dengan Ubuntu, hingga .NET 10.
Jadi secara sederhana, ketika pengguna mendapatkan perangkat dengan Project Zenith, mereka tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk memasang berbagai tools dasar tersebut satu per satu.
Namun tentu, itu sih hal yang biasa karena pada dasarnya semua tools tersebut juga bisa diinstal secara manual di Windows 11 biasa.
Ada Sejumlah Pengaturan Windows yang Diubah
Nah disinilah letak menariknya, karena selain menyediakan berbagai tools untuk developer, Microsoft juga melakukan beberapa penyesuaian pada Windows 11.
Misalnya, File Explorer akan menampilkan ekstensi file secara default. Detail pane juga akan diaktifkan, sementara full path dari lokasi file akan ditampilkan pada title bar.
Kemudian, beberapa fitur yang mungkin dianggap kurang penting untuk kebutuhan developer juga akan dinonaktifkan. Contohnya seperti recently used files dan sync provider tips di File Explorer.
Selain itu, Microsoft juga mengaktifkan Command Palette untuk Start dan Search, serta menonaktifkan Start menu tips dan beberapa notifikasi.
Sekilas memang terlihat seperti Windows 11 yang lebih bersih dan lebih fokus untuk bekerja.
Namun lagi lagi sebenarnya kustomisasi tersebut masih bisa kita atur manual dari Settings, next mungkin kita coba jelaskan caranya.
Persyaratan Gila
Nah disamping tool dan pengaturan yang sebenarnya bisa kita atur dan tambahkan sendiri di Windows 11 biasa, ada satu hal yang justru menjadi pembeda, dimana Project Zenith ini memiliki persyaratannya yang tidak main main,
Microsoft menetapkan bahwa perangkat Project Zenith harus memiliki setidaknya 64GB unified memory dan memory bandwidth lebih dari 250GB/s.
Dengan spesifikasi tersebut, Microsoft mengklaim perangkat Project Zenith dapat menjalankan model AI lokal dengan lebih dari 30 miliar parameter.
Tujuannya tentu cukup jelas guys. Microsoft ingin menyediakan perangkat yang mampu menjalankan model AI secara lokal tanpa harus selalu bergantung pada layanan cloud.
Tapi tentu, ada pertanyaan lain yang muncul, apakah semua developer butuh kemampuan untuk menjalankan model AI dengan lebih dari 30 miliar parameter?
Menurut saya sih tidak, karena baik developer web, backend, mobile, atau bahkan network automation belum tentu membutuhkan hardware dengan spesifikasi setinggi itu.
Bahkan dalam kasus nyata, banyak developer yang masih bekerja dengan perangkat RAM 16GB atau 32GB dan tetap dapat menjalankan workflow mereka dengan sangat baik.
Jadi, membatasi pengalaman Windows yang disebut “distraction-free” berdasarkan spesifikasi hardware tertentu terasa sedikit aneh saja, tapi bagaimana menurutmu? komen dibawha guys, apakah Project Zenith benar-benar menawarkan sesuatu yang baru, atau sebenarnya hanya Windows 11 biasa yang sudah dipasangi sejumlah tools dan konfigurasi khusus untuk developer?
Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya bergantung pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berkualitas secara gratis — jadi jika kamu menikmati artikel dan panduan di situs ini, mohon whitelist halaman ini di AdBlock kamu sebagai bentuk dukungan agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui dukungan di Saweria. Terima kasih.
