Home Editorial Windows Mixed Reality, Akankah Populer di Indonesia?

Windows Mixed Reality, Akankah Populer di Indonesia?

5 Kelebihan Windows Mixed Reality yang Sebaiknya Kamu Ketahui
images via cnbc

Salah satu fitur utama yang ada di Windows 10 dan tidak ada di versi Windows sebelumnya adalah Windows Mixed Reality. Bagi kamu yang belum tahu, Windows Mixed Reality adalah teknologi untuk menggabungkan dunia nyata dan virtual dengan mengkombinasikan teknologi AR dan VR — yang dalam penggunaannya bisa digunakan di gaming, virtual travel, streaming, dsb.

Pertanyaannya, apakah Windows Mixed Reality bisa populer dan menjadi trend di Indonesia?

Untuk membantu kamu dalam menjawab pertanyaan ini, WinPoin menyajikan beberapa detail analisa.

 

Butuh Budget Ekstra

Inilah Dell Visor: Headset Windows Mixed Reality Seharga 4.7 Jutaan

Untuk bisa menikmati Windows Mixed Reality secara optimal, ada tiga perangkat utama yang diperlukan. Pertama adalah PC Windows 10 yang mendukung Windows Mixed Reality. Tidak semua PC Windows 10 mendukung Windows Mixed Reality. Ada spesifikasi minimum yang diperlukan, sehingga untuk menikmati teknologi ini, kamu wajib memiliki PC dengan persyaratan specs yang tergolong menengah keatas. Kalo sudah punya PC dengan specs mumpuni, hal ini bukan sebuah masalah. Tetapi jika ternyata specs PC kamu dibawah keperluan minimum yang ditentukan, mau tidak mau kamu harus upgrade atau beli PC baru. (Baca: Apakah PC Kamu Support Windows Mixed Reality? Uji Pake Aplikasi ini!)

Kedua, kamu perlu headset Mixed Reality, dan kelebihan dari Mixed Reality adalah harga headset nya yang terbilang murah jika dibandingkan dengan headset AR atau VR saat ini. Selain itu berbagai brand OEM terkenal di Indonesia turut memproduksi headset ini, misalnya saja ASUS, Acer, HP, dan Lenovo. (Baca: Inilah Windows Mixed Reality Headset Besutan Acer, ASUS, hingga Lenovo)

Ketiga, kamu perlu Motion Controller. Motion Controller membuat kamu bisa berinteraksi dengan dunia maya tempat kamu berada. Harga headset Mixed Reality yang sepaket dengan Motion Controller saat ini berkisar di rentang 5-6 jutaan rupiah.

Jadi kini kamu sudah tahu bahwa Windows Mixed Reality tidak bisa dinikmati begitu saja. Kamu perlu punya PC dengan specs mumpuni yang mendukung Windows Mixed Reality, serta membeli headset MR dan Motion Controller.

 

Keunggulan

Meskipun ada beberapa perlengkapan yang kamu perlukan dan semuanya mengharuskan kamu untuk merogoh kocek lebih, tetapi Windows Mixed Reality memiliki beberapa kelebihan dibandingkan solusi AR dan VR saat ini. (Baca: 5 Kelebihan Windows Mixed Reality yang Sebaiknya Kamu Ketahui)

Pertama, setup nya mudah. Kedua, perlengkapan Mixed Reality masih lebih murah dibanding AR dan VR saat ini. Ketiga, dengan reputasi Windows sebagai platform gaming terbaik, Microsoft menjanjikan game dan konten MR yang melimpah.

Dan keempat, pilihan hardware bakal melimpah dengan adanya berbagai brand yang memproduksi perangkat MR — meskipun untuk saat ini keberadaan perangkat MR di Indonesia masih sangat langka (bahkan hampir tidak ada) di pasaran. Sebagai informasi, Mixed Reality kini sudah bisa dicoba di berbagai Microsoft Store, tetapi karena tidak ada Microsoft Store di Indonesia, teknologi ini masih belum bisa kamu cicipi di Indonesia.

 

Fokus Konsumer Indonesia

7 Hal Menarik Seputar Razer Phone: Smartphone untuk Gamer Berteknologi PC

Jika kita perhatikan, sampai saat ini fokus konsumer di Indonesia masih tertuju pada smartphone dan teknologi mobile. Berbagai hal baru seputar smartphone masih menjadi antusias utama, dibandingkan teknologi baru di PC.

Hal ini selaras dengan data statistik yang menunjukkan bagaimana penjualan PC terus menurun, sedangkan penjualan smartphone terus meningkat — serta selaras juga dengan terus menurunnya perputaran uang di desktop gaming, dan meningkatnya perputaran uang di mobile gaming.

Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa AR / VR / MR adalah masa depan. Semua perusahaan raksasa teknologi sedang mengembangkan ini, baik Microsoft, Google, Apple, bahkan hingga Facebook.

 

Kompetitor

Windows Mixed Reality, Akankah Populer di Indonesia?

Analisa terakhir, Windows Mixed Reality yang dikembangkan Microsoft ini, meskipun berada di ranah PC, tetapi mendapatkan kompetisi juga dari Apple dan Google di ranah mobile.

Bagaimana bisa? Apakah kompetisi tersebut relevan?

Seperti yang kamu tahu, Apple kini punya ARKit dan Google punya ARCore. Keduanya berupaya membawa Augmented Reality ke perangkat yang menjadi fokus utama konsumer saat ini: smartphone!

Sebenarnya memang ARKit dan ARCore berada di ranah kompetisi yang berbeda dengan Mixed Reality, karena yang satu fokus di smartphone (mobile) dan yang lain fokus di PC. Tetapi dengan trend mobile yang terus meningkat dan berbanding terbalik dengan PC, ditambah fokus konsumer yang sampai saat ini masih terpaku di smartphone, bisa menciptakan gangguan tersendiri bagi Windows Mixed Reality.

Pertama, ARKit / ARCore bisa membuat developer lebih tertarik mengembangkan aplikasi AR untuk mobile, alih-alih aplikasi Windows Mixed Reality untuk desktop. Kedua, konsumen bisa lebih tertarik menikmati experience AR melalui smartphone, daripada menikmati Mixed Reality melalui PC. Ketiga, OEM / pabrikan juga bisa lebih tertarik memproduksi smartphone yang support AR dibandingkan memproduksi perangkat MR jika memang market menghendaki demikian. (Baca juga: 7 Hal Menarik Seputar Razer Phone — Smartphone untuk Gamer Berteknologi PC)

Pertanyaan Utama

Setelah berbagai analisa diatas, kini kita kembali kepada pertanyaan utama.

Akankah Windows Mixed Reality populer dan menjadi trend di Indonesia?? Ataukah fitur ini bakal terpendam oleh hype ARKit dan ARCore yang tengah dikembangkan Apple dan Google di ranah mobile?

WinPoin menantang kamu untuk memberikan jawaban dan prediksi sesuai dengan analisa kamu sendiri. Sampaikan jawaban kamu beserta alasannya di kolom komentar dibawah ini.

  Buka Bungkus Kartu Perdana Jaman Old!  

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.

Productivity addict. Geek by nature. Platform Agnostic.